Licik!
Trik yang digunakan Shadow benar-benar licik. Jika Randika mutuskan untuk ngejarnya dan mbunuhnya maka boneka ginseng itu akan mati. Sekarang karena luka yang diderita Shadow karena gigitan hiu itu sudah hampir sembuh, dia tidak terlalu mbutuhkan boneka ginseng tersebut. Terlebih, karena sekarang identitasnya telah ketahuan, dia tidak bisa mbawa terlalu banyak beban.
Setelah benaknya berpikir dengan keras dalam waktu singkat, Randika mutuskan untuk nyelamatkan boneka ginseng. Hal ini dimanfaatkan Shadow dengan baik.
PRANG!
Jendela kaca itu hancur berantakan dan Shadow langsung lompat turun.
"Ares, nantikan pembalasanku! Aku akan mbunuh orang-orang yang kau sayangi satu per satu! Hahaha!"
Tawa jahat Shadow nggema di ruangan kecil itu, sedangkan Randika berhasil nyelamatkan boneka ginseng.
Sendirian di ruang kosong ini, Randika ngerutkan dahinya.
Boneka ginseng yang ada di tangannya masih dalam keadaan setengah sadar, tetapi perlahan dia mulai ndapatkan kesadarannya kembali. Terlebih lagi, pelukan Randika benar-benar hangat yang mbuatnya nyaman dan nyadari bahwa Randika ada di pihaknya.
Pada saat yang sama, Elva dan Safira tiba di ruangan kosong ini.
"Dia berhasil larikan diri." Randika noleh ke arah reka dan lanjutkan. "Orang itu adalah Shadow."
"Elva, apa kamu bisa nyuruh anak buahmu untuk lacak markas Shadow?" Randika natap Elva.
Elva langsung ngangguk. "Jangan khawatir, tidak akan ada tempat yang aman baginya di kota ini."
Safira nghampiri Randika dan berusaha nghiburnya. "Kak, kamu tidak usah terlalu khawatir. Jika dia berani macam-macam denganmu, dia akan njadi musuh Arwah Garuda."
Randika tersenyum, tetapi kerutan di dahinya masih belum nghilang. Jika Shadow ngejarnya maka dia tidak perlu khawatir seperti ini. Dengan kekuatannya, dia bisa mbunuh Shadow tanpa perlu bersusah payah. Tetapi kalau dia ngincar orang-orang di sekitarnya, itu baru sebuah masalah.
Banyak orang yang Randika sayangi dan dia sama sekali tidak tahu mana yang akan diincar oleh Shadow. Bisa saja Yuna yang ada di Jepang, bisa saja Hannah yang ada di asramanya.
Kejadian yang mbuatnya bersembunyi di Indonesia kembali terulang, dia benar-benar mbenci perasaan tidak berdaya seperti ini. Karena tidak ada petunjuk, Randika hanya bisa bersiap dan nghadapi ancaman ini dengan penuh waspada.
"Eh lucu sekali, benda apa yang ada di tanganmu itu kak?" Safira nyadari sosok boneka ginseng yang beristirahat dengan tenang di tangan Randika.
Boneka ginseng itu mbuka matanya dan langsung terkejut ketika lihat sekelilingnya, sepertinya dia tidak tahu apa yang telah terjadi pada dirinya. Namun, ia kembali tertidur lagi.
"Ini adalah boneka ginseng, coba kamu pegang." Randika nyerahkan boneka itu pada Safira. lihat boneka itu beristirahat dengan tenang di pelukannya, Safira benar-benar nyukainya.
Perempuan pada dasarnya nyukai benda-benda lucu seperti ini, terlepas bahwa boneka ginseng ini rupakan makhluk supernatural. Karena Safira ndalami ilmu pengobatan, dia sedikit miliki pemahaman ngenai boneka ini.
Randika lalu njelaskan pada Elva apa yang dia ketahui ngenai Shadow, sedangkan Safira masih nimang boneka ginseng itu. Sepertinya Safira berandai-andai njadi seorang ibu dan ini mbuat Elva ngerutkan dahinya.
"Kalau begitu misi hari ini telah selesai, aku akan ngabarimu jika aku miliki informasi." Elva natap dingin Randika.
Randika ngangguk dan tersenyum pada Elva. "Terima kasih atas bantuanmu."
Tubuh Elva njadi kaku. ndengar terima kasih dari Randika itu mbuatnya senang dalam hati.
Sejujurnya, Elva tidaklah sedingin dan secuek itu. Hatinya masih sama dengan gadis-gadis polos biasanya. Dia akan nangis apabila sedih, dia akan marah apabila digoda, dia akan nyendiri jika rasa bersalah, bagaimanapun juga, dia adalah seorang perempuan.
Pada saat ini, boneka ginseng itu terbangun dan mbuka kedua matanya yang besar. Hal pertama yang ia lihat adalah Randika dan Safira, ia terus ngedipkan matanya.
"Kak, dia bangun!" Kata Safira sambil terkejut.
"Ma, ma"
Pada saat ini, boneka ginseng ini ngeluarkan suara seperti manggil seorang ibu ketika dirinya natap Safira. Wajahnya tersenyum pada perempuan yang luknya dengan lembut itu.
Mama?
Elva benar-benar tercengang pada makhluk ajaib satu ini, benar-benar luar biasa.
Boneka ginseng ini sama sekali tidak takut pada Safira, setelah sadar ia langsung manjat hingga ke pundak Safira dan duduk dengan tenang di sana. Sambil ngulang kata-kata 'mama', dia luk pipi Safira.
"Kak, dia benar-benar lucu!" Safira mau tidak mau rasa bahagia.
Randika nghela napas dan natap Safira. "Saf, aku rasa ini masalah yang cukup besar."
"Kok bisa?"
Safira terlihat bingung dan natap Randika. Wajah Randika njadi serius lalu berkata padanya. "Jika boneka itu manggilmu ibu, maka aku juga akan dipanggilnya ayah!"
Ketika ndengar gombalan receh ini, Elva nggelengkan kepalanya sambil nghela napas. Dia berpikir bahwa gombalan Randika benar-benar payah, sedangkan Safira sudah tersipu malu.
"Kak, kamu belum pernah mberi hormat pada bumi dan langit. Ketika kamu sudah lakukannya, baru kamu bisa njadi ayahnya." Kata Safira dengan wajah rah, sedangkan Elva sudah kehabisan kata-kata. Kenapa Safira ini selalu luluh sama Randika?
"Saf, kita sebaiknya segera pergi." Kata Elva yang berdiri di samping.
"Tunggu sebentar, aku masih tidak ingin pulang." Kata Safira dengan wajah lasnya.
Randika lalu noleh ke arah Elva dan tertawa, "Kamu jangan cemburu seperti itu, aku bisa mbagi cintamu untukmu kok. Apa kamu juga ingin nggendong bayi kita secepatnya?"
"Apa katamu?" Elva ngerutkan dahinya, nada suaranya sudah seperti orang yang ngajak ribut.
Benar-benar tidak tahu diri, bisa-bisanya pria ini berkata seperti itu?
Randika terlihat sedih, seakan-akan bertanya dengan matanya : Apa kamu lupa mon intim kita yang panas selama ini?
"Omong-omong, kakek latih seorang murid bernama Indra dan tempat tinggalnya cukup dekat dari rumahku. Boneka ginseng ini tinggal bersama Indra, jadi jika kamu kangen kamu bisa nengoknya kapan saja." Kata Randika.
Safira tersenyum. "Kak, aku sudah tahu ngenai Indra sejak lama. Kakek ketiga ngabariku ketika aku neleponnya."
Randika nggaruk-garuk kepalanya. Dasar kakek sialan, reka tidak pernah neleponku!
Pada akhirnya, Elva mbawa Safira kembali dan boneka ginseng pergi ngikutinya. Lagipula, maksa boneka ginseng itu kembali bersamanya sama saja dengan mustahil jadi Randika hanya bisa lihat boneka ginseng itu pergi bersama Safira. Cuma tinggal masalah waktu saja hingga boneka itu kembali ke Indra.
Randika juga segera kembali ke rumahnya. Karena hari sudah malam, dia mbuka pintu dengan pelan. Ketika dirinya masuk, dia lihat Hannah yang sedang duduk di sofa.
"Lho kak, tumben kamu baru pulang?" Hannah sedang nggigit apel. Penampilannya sekarang mbawa kesegaran, kaos putih yang dipakainya sedikit terbuka dan rambutnya terkuncir di belakang. Untuk bagian bawahnya, dia makai celana olahraga pendek yang hampir tidak nutupi pahanya sama sekali.
Sepertinya adik iparnya itu baru selesai mandi.
Randika natap lekat-lekat paha Hannah yang begitu putih dan mulus. Hannah dari awal mang perempuan cantik, setara dengan kakaknya Inggrid dan Viona. Namun, kalau masalah kaki, sepertinya Hannah ngalahkan reka karena kakinya lebih putih.
"Kak, apa kakak bisa mijat kakiku?" Kata Hannah sambil nggoyang-goyangkan kakinya di udara.
Reviews
All reviews (0)