Font Size
15px

Para jagoan bela diri itu natap Randika lalu tertawa sambil nggelengkan kepala reka.

"Kau datang ke tempat yang salah bocah."

Semua orang termasuk teman-teman Richard sudah nggelengkan kepalanya ketika lihat Randika yang terkepung itu.

"Sayang sekali dua perempuan cantik itu harus babak belur. reka tidak tahu bahwa tempat ini dijaga oleh Jay si anjing gila."

"Siapa itu?" Orang di sampingnya bertanya padanya.

Orang itu lalu berkata pada temannya yang penasaran. "Saat Jay si anjing gila itu sedang nganggur, dia pernah mutilasi 20 orang ahli bela diri dalam sehari hanya untuk bersenang-senang."

"Hiss!"

ndengar kata-kata temannya itu, dia nghembuskan napas dingin. mbunuh 20 orang ahli bela diri hanya untuk nghabiskan waktu luangnya? Benar-benar gila!

Namun, setelah lihat orang yang berwajah bengis yang sepertinya pemimpin dari para jagoan itu, semua orang rinding.

Wajah Jay si anjing gila sudah benar-benar nakutkan, seakan-akan mandang wajahnya sudah berurusan dengan si malaikat pencabut nyawa itu sendiri. Tidak heran kenapa Inferno bar ini selalu aman dari masalah, siapa yang mangnya berani berurusan dengan orang sebengis itu?

natap Randika dan kedua perempuan cantik itu, semua orang sudah ngucapkan belasungkawa reka.

Richard natap Randika, dia juga sudah ndengar reputasi Jay. Namun, kemampuan Randika juga tidak kalah hebatnya, kejadian pagi tadi masih lekat di benaknya dengan jelas.

Elva ndengus dingin dan berkata pada Randika. "Serahkan orang-orang ini padaku."

Kemudian Elva berjalan maju secara perlahan.

"Oh? Aku tidak nyangka kamu akan numbalkan temanmu yang cantik ini." Jay tersenyum ngejek ke arah Randika, tatapan matanya sudah nelanjangi Elva khususnya dadanya yang besar itu.

Elva yang berwajah dingin itu tiba-tiba tersenyum. Sejak awal, Elva mang terkenal sebagai orang yang dingin dan sekarang dia tersenyum tulus yang mbuat kecantikannya berlipat ganda. Bahkan seorang Jay sekalipun luluh dengan senyuman itu.

Namun, senyuman itu tiba-tiba nghilang. Tatapan mata Elva kembali dingin dan sudah lancarkan sebuah tendangan. lihat tendangan itu tepat di bawah matanya, ekspresi Jay segera berubah.

"Ah!"

Jay berteriak kesakitan ketika dia berguling di lantai sambil gangi wajahnya. Para bawahannya nelan air ludahnya dan keringat dingin mulai mbasahi punggung reka. lihat bos reka berguling kesakitan di lantai, reka rasa bahwa lawan kali ini tidak bisa direhkan.

Randika natap kejadian ini sambil ngangguk-angguk. Kaki putih dan mulus itu ternyata bisa njadi senjata yang ngerikan juga, pikirnya.

lihat Jay yang dikenal sebagai anjing gila berguling di lantai, Elva ndengus dingin dan nyuruhnya untuk cepat berdiri. Pertarungan yang seperti ini belum cukup redakan darahnya yang ndidih.

Pada saat yang sama, para bawahan Jay juga nerjang ke arah Elva. Dalam sekejap, reka telah ngepung Elva dari segala arah. Tetapi, Elva tidak dapat dikalahkan begitu saja. Dengan ngandalkan kecepatan, dia bergerak ke arah musuhnya dan masuk di tengah-tengahnya. Kecepatannya benar-benar sulit diikuti oleh mata telanjang, setiap kali Elva bergerak maka akan ada orang yang tergeletak kesakitan.

Para bawahan Jay tumbang satu per satu dan Elva tidak nunjukan emosi apa pun. Tidak butuh waktu lama baginya untuk lumpuhkan semua ancaman yang ada.

Setelah mbenarkan bajunya, Elva natap para pria yang terkapar dan ndengus dingin. Hal ini mbuat semua jagoan ini rinding.

"Wow, perempuan itu kuat!" Richard terkejut. Dan pada saat yang sama, Randika dan Safira berjalan nghampiri Elva.

Tujuan reka hari ini adalah nemukan dalang dari penculikan boneka ginseng. Informasi yang didapatkan oleh Arwah Garuda ngatakan bahwa Inferno bar rupakan markas dari si dalang, reputasinya sebagai organisasi intelijen nomor 1 Indonesia bukanlah omong kosong.

Organisasi yang berisikan orang-orang elit ini njadi kartu As tersembunyi milik perintah, tidak ada yang ngetahui siapa saja yang njadi anggota organisasi misterius ini.

Namun pada saat ini, Randika ngerutkan dahinya. Dari arah ja bar, satu per satu senapan serbu mulai mbidik ke arahnya. Dan tanpa peringatan sama sekali, senapan-senapan itu ngeluarkan pelurunya tanpa henti.

DOR! DOR! DOR!

Rentetan tembakan itu kakan telinga semua pengunjung yang ada di bar, semuanya segera berlindung di bawah ja.

"Ah!"

Namun, kebanyakan dari reka njadi panik dan berusaha nyelamatkan nyawa reka. Richard berhasil nemukan tempat sembunyi yang cukup bagus dan dia masih bisa lihat aksi Randika dengan jelas. Wajahnya sama sekali tidak nunjukan rasa takut, dia sudah lama ndambakan adegan berdarah seperti ini. Dia tidak nyangka bahwa hari ini impiannya akan tercapai.

Randika, pada detik dia lihat senapan-senapan tersebut, dengan cepat dia ndorong Elva dan Safira ke tempat yang aman, sedangkan dirinya langsung nerjang ke arah peluru-peluru tersebut.

Apa dia sudah gila?

Apa dia tidak lihat banyaknya senjata yang ditembakkan?

Richard benar-benar terkejut, tetapi setelah itu, dia benar-benar seperti orang bodoh. Apa Randika masih seorang manusia?

Dia lihat Randika dengan mudah nghindari rentetan peluru yang padat itu dan semakin dekat dengan para penembaknya. Tidak ada satupun peluru yang nggores Randika sama sekali!

Richard nggosok matanya dengan kuat, apakah ini adalah mimpi? skipun dia tahu Randika itu bukan sembarangan orang, dia tidak nyangka bahwa dia adalah seorang Superman?

Sejujurnya, apa yang dilihat Richard dan para penembak itu hanyalah ilusi dari bayangan Randika. Sudah lama Randika berada di belakang para musuhnya tanpa ada yang ngetahuinya. Ketika bayangan itu nghilang, Randika mulai nghajar musuhnya satu per satu.

Para penjaga yang masih mbidik ke arah bayangan itu, tidak nyangka akan ndapatkan serangan ndadak seperti ini.

skipun dalam situasi hidup dan mati seperti ini, Randika masih dapat berpikir dengan jernih dan dia nyadari sesuatu yang mbuat suasana hatinya njadi buruk. Senjata-senjata ini, orang-orang ini, reka bukan orang lokal!

Malahan, wajah-wajah ini dia pernah lihatnya ketika dia nyerang markas Bulan Kegelapan di Tokyo!

Tidak butuh waktu lama untuk Randika lumpuhkan semua orang ini.

Tanpa ragu-ragu, Randika dengan cepat nuju lantai 2. Sentara Elva dan Safira nyusulnya setelah mastikan tidak ada ancaman tambahan.

Kejadian ini mbuat para pengunjung bar ini bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang terjadi.

"Siapa reka sebenarnya?"

Semua pengunjung di tempat ini adalah orang kaya ataupun orang berpengaruh dari kota ini tetapi reka tidak pernah lihat ataupun ngalami kejadian yang ngejutkan jiwa seperti ini. Apalagi senapan-senapan itu, reka tidak pernah lihatnya. Senjata api di Indonesia sangatlah dilarang dan tidak sembarangan orang boleh miliki senjata, kalaupun boleh itu hanya sebatas pistol bukan senapan serbu.

Richard, yang baru sadar dari keterkejutannya, terkejut ketika lihat Randika sudah tidak ada. Dia telah mbulatkan tekadnya!

Dia harus mbuat Randika njadi sekutunya. Dia tidak nyangka akan ada orang seperti ini di kota Cendrawasih, bayangkan apa yang akan bisa dicapainya jika miliki sekutu sekuat itu!

Di sisi lain, di lantai 2 rupakan kantor dan gudang dari bar jadi pengunjung tidak diperkenankan naik ke atas.

Boneka ginseng itu diikat di udara dan dupa yang dibakar diletakkan tepat di bawahnya. Di hadapannya, terlihat sosok perempuan berbaju serba hitam sedang gang pisau. Kemudian perempuan tersebut nggores tangan si boneka ginseng dan nelan darahnya yang keluar.

"Sensasi ini, kekuatan ini, hahaha, dengan darah ini aku pasti akan mbalaskan dendamku! Selama aku bisa pulih dari lukaku, aku akan mbalaskan dendamku! Kita lihat seperti apa wajahmu ketika orang-orang yang kau sayangi itu mati nderita di tanganmu."

Tatapan mata perempuan tersebut benar-benar dingin, sedangkan wajah boneka ginseng itu makin pucat. Sepertinya darahnya dihisap perlahan oleh penculiknya itu.

Setelah nelan darah boneka ginseng beberapa hari ini, keadaan tubuh perempuan ini jauh lebih baik.

"Selama aku mpunyaimu, aku akan sembuh total dan kekuatanku akan bertambah. Selama aku milikimu, aku tidak terkalahkan!" Perempuan itu tertawa, suara tawanya tiap detik makin keras dan nggema di seluruh ruangan.

Namun tiba-tiba, pintu ruangannya didobrak dan seseorang berjalan lewatinya.

Sosok orang itu terlihat gagah dan kokoh, serta mancarkan aura yang ngerikan. lihat musuh yang masuk ke ruangannya, perempuan itu sudah bersiap untuk lari bersama boneka ginseng.

Randika dengan cepat nganalisa ruangan yang dia masuki, dia harus mastikan rute kabur yang mungkin akan dipakai oleh musuhnya ini. Dia tidak akan mbiarkannya lari lagi seperti sebelumnya.

Tanpa berpikir panjang, perempuan itu gang erat boneka ginseng di tangannya dan berlari nuju jendela ruangan, siap untuk lompat turun. Namun, tiba-tiba, kakinya digenggam erat dan dirinya diseret kembali ke dalam ruangan.

Rupanya Randika berhasil nangkap kaki lawannya dan lemparkannya ke tembok.

"Kau tidak bisa kabur." Wajah Randika terlihat serius ketika natap perempuan tersebut.

Lawannya itu tidak berkata apa-apa, dia hanya ngangkat tangannya yang gang boneka ginseng. Boneka ginseng yang sepertinya sudah sadar itu segera ronta-ronta dan berusaha kabur.

Randika ngerutkan dahinya. Kekuatan lawannya itu jauh di bawah dirinya tetapi nyelamatkan boneka ginseng di tangan lawannya itu rupakan perkara yang tidak mudah.

"Kenapa? Takut kau kehilangan barang berharga ini?" Perempuan itu tertawa. "Aku tidak heran kenapa kau begitu takut kehilangannya, aku sudah ncicipi darahnya beberapa hari ini dan tubuhku benar-benar ngalami peningkatan."

"Siapa kamu?" Nada suara Randika terdengar dingin.

"Kau masih belum sadar siapa aku? Kau kejam sekali tuanku tersayang." Nada suara perempuan tersebut terdengar sedih.

Randika ngerutkan dahinya, tidak mungkin.

Pada saat ini, perempuan tersebut kembali nerjang ke arah jendela ketika lihat keraguan di wajah Randika. Randika sendiri berhasil bereaksi tepat waktu dan ncegahnya. reka bertukar beberapa pukulan, lawannya kali ini nggunakan trik kotor seperti panah beracun ataupun pisau yang disembunyikannya di balik baju.

Setelah beberapa saat, Randika layangkan pukulan tepat di wajah lawannya dan nghancurkan topeng yang dia kenakan. Dalam sekejap wajah yang familiar itu segera nuhi mata Randika.

Shadow!

Ternyata dugaannya benar!

"Terkejut? Kau kira aku sudah mati bukan?" Shadow tertawa. "Aku tidak akan lupakan apa yang telah kau lakukan padaku hari itu, aku akan mbuatmu mbayarnya!"

"Mau berapa kali pun, aku tetap akan mbunuhmu! Dan jangan harap kau bisa keluar dari sini hidup-hidup." Kata Randika dengan nada dingin.

Kali ini, Randika harus mastikan Shadow tidak ngganggunya lagi di dunia ini.

"Aku akan mbuat hiu-hiu itu makan mayatmu." Kata Shadow dengan tatapan benci. "Sebelum itu aku akan nyiksamu dan mbunuhmu!"

Pada saat ini, suara orang berlari dapat terdengar dari arah belakang. Sebentar lagi Safira dan Elva akan tiba.

lihat bala bantuan musuh yang datang, Shadow tidak ragu-ragu kembali ncoba untuk kabur.

"Kau kira bisa kabur?"

Wajah Randika terlihat serius, dia nerjang maju ke arah Shadow.

Namun, Shadow tiba-tiba lempar boneka ginseng itu ke udara dan nembakan beberapa panah beracun ke arahnya!

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 259: Wajah yang Familiar on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.