Font Size
15px

Randika dengan cepat nghampiri Safira dan Elva yang berdiri di depan gedung.

"Sudah lama tidak bertemu kak!"

lihat Randika yang berjalan nghampirinya, wajah Safira sudah terlihat sangat bahagia. Sedangkan Elva tetap terlihat dingin dan acuh tak acuh. Tanpa narik perhatian, Randika ncuri pandang pada sosok Elva yang berpakaian kasual itu. Kali ini, dia tidak ngikat dadanya sedemikian rupa sehingga terlihat besar, benar-benar nggoda!

"Cih." Elva nyadari tatapan tajam Randika yang diam-diam itu dan berdecak, dia sebenarnya malas bertemu dengan pria sum ini.

Randika lalu berkata pada Elva sambil tersenyum. "Aku sudah lama tidak lihatmu, ternyata selama ini kamu lakukan operasi pembesaran dada toh."

Elva mau tidak mau natap tajam Randika sambil makinya di hatinya, sedangkan Safira sudah nahan tawanya sejak tadi.

"Sudah, sudah, cukup bercandanya kak, lebih baik kita segera masuk."

Randika ngangguk dan masuk bersama Safira dan Elva di sarang lawan barunya ini.

Di dalam bar, Richard sedang minum-minum dan bercanda ria dengan teman-temannya. Berbagai botol alkohol mahal seperti Konyak, vodka, dan berbagai macam cocktails sedangkan di tangan reka terlihat sedang gangi kartu.

"Aku naikkan taruhannya njadi 200 ratus ribu."

"Sial, buka 3 kartu saja mahal sekali! Aku keluar."

"Aku juga keluar."

"Aku all in!" Kata Richard.

"Aku ikut, tunjukan kartumu."

"Makan nih, As dan King wajik!" Kata Richard sambil tersenyum.

"Eits tunggu dulu." Temannya lalu mperlihatkan kedua kartunya.

"Sialan! Bisa-bisanya kamu pocket As!"

"Hahaha, Richard kalah lagi." Semuanya tertawa selagi Richard mbanting kartunya yang sudah tidak ada harapan. Sambil nggelengkan kepalanya, Richard ngambil gelasnya dan negaknya dalam satu tegukan.

Di samping para pemuda kaya ini, terlihat beberapa perempuan cantik dengan baju yang sedikit terbuka. Perempuan yang duduk di samping Richard luknya dan ngelus kepalanya, berusaha nghiburnya yang barusan saja kalah Poker.

"Sudah ayo lanjut, siapa yang ngocok kartunya sekarang?" reka kembali bermain dan ninggalkan Richard.

Setelah kartu dibagikan, berbagai macam trik seperti pura-pura gelisah atau wajah tanpa ekspresi terlihat semuanya. Sepertinya reka bermain dalam skala kecil skipun kekayaan reka bisa mbeli bar ini dengan mudah. Di sekitar reka, terdapat pengawal berbadan besar yang berdiri dengan sangar.

Di bar ini, bukan hanya Richard dan teman-temannya yang duduk dengan minuman wah seperti ini, tetapi seluruh Inferno bar ini rupakan tempat perkumpulan orang kaya. Banyak orang berkuasa yang bersenang-senang di bar ini.

Oleh karena itu, penjagaan dan keamanan di tempat ini sangatlah kuat. Ada lebih dari 10 orang petugas keamanan di setiap pintu masuk ataupun keluar. Terlebih lagi, petugas yang berada di dalam ruangan juga tidak kalah banyak.

Pada saat yang sama, pemilik bar ini juga mbayar preman-preman dan polisi yang ada di sekitarnya sehingga tempat ini bisa dikatakan sangat aman.

Oleh karena itu, tempat ini bisa dikatakan miliki servis dan pelayanan yang jarang ada di bar-bar pada umumnya. Mulai dari narkoba, perempuan, tempat berjudi dll.

Richard dan temannya terus bermain kartu sambil minum, tetapi terdengar suara ribut di pintu masuk. Terdengar orang yang berteriakan dan suara orang berkelahi.

"Apa ada penggerebekan?" Temannya natap ke arah pintu dengan penasaran, tetapi dia sama sekali tidak bisa lihat apa yang sebenarnya sedang terjadi.

"Aduh santai saja, tidak mungkin bar ini mbiarkan ada polisi yang nggerebeknya." Temannya tertawa dan diikuti para perempuan yang reka rangkul. Bisa dikatakan bahwa hal seperti itu tidak akan mungkin terjadi ngingat betapa mahalnya si pemilik bar mbayar para polisi.

lihat teman-temannya nertawai dirinya, pemuda ini ngangguk tetapi dalam hatinya dia masih rasa gelisah. Ketika dia berusaha ndengar lebih jelas suara keributan tadi, sudah tidak ada suara dari arah pintu masuk.

"Sudah jangan khawatir, atau kamu cari alasan biar tidak main? Aku tidak akan mbiarkanmu pulang kalau belum dalam keadaan mabuk."

"Oya Richard, kenapa kamu tidak mbawa adik perempuanmu hari ini? Aku sudah lama tidak lihat wajahnya." Kata salah satu teman Richard.

Wajah Richard terlihat buruk. "Kalau kau mau ngajaknya tidak masalah asalkan kalau kamu punya keberanian ngajaknya."

ndengar hal ini, temannya itu nciut dan tidak mbahasnya lagi.

Richard mang punya adik perempuan. Dia mang terlihat seperti anak kecil tetapi dia miliki dada yang besar, benar-benar impian semua lelaki.

Namun, otak adik perempuannya ini sedikit bermasalah. skipun penampilannya mbuat semua orang tergila-gila, teman-temannya ini tidak ada yang pernah berhasil ndapatkan hatinya. Malahan, teman-temannya Richard ini digunakan sebagai bahan jail adiknya itu. Temannya yang barusan bertanya itu pernah diikat di bagian depan mobil dan adiknya mbawa mobil itu hingga ke kota sebelah.

Kemudian karena trauma, temannya itu tidak mau keluar rumah selama sebulan penuh. Sejak hari itu, dia sedikit rinding ketika ndengar nama adik perempuan Richard. Tetapi ngingat dada dan wajah cantiknya, temannya itu masih belum nyerah untuk ndapatkan hatinya.

Richard nggelengkan kepalanya, kepalanya pusing jika berurusan dengan satu-satunya saudara yang dia punya itu. Bagaimana bisa orang masih nyukainya jika perilakunya buruk seperti itu?

Adiknya adalah malaikat berhati iblis!

reka terus bermain poker dengan gembira, tetapi tiba-tiba, ada suara teriakan yang keras. Kali ini, semua orang dapat ndengar teriakan ini dengan jelas dan tatapan semua orang tertuju pada pintu masuk.

Richard dan teman-temannya mulai nahan napas reka, apakah polisi benar-benar nggerebek tempat ini?

Tidak butuh waktu lama untuk semua orang dapat lihat seorang petugas keamanan bar ini layang dan ndarat di lantai dengan keras. Kemudian dari arah pintu masuk terlihat 3 orang berjalan masuk.

Mata Richard terbelalak, rupanya dia bertemu lagi dengan Randika!

Benar, tadi pagi dia bertemu dengan orang yang lebih tangguh dari pengawal pribadinya itu tetapi dia tidak akan nyangka akan bertemu dengannya malam hari ini.

Terlebih lagi, Randika berdiri bersama dengan 2 perempuan super cantik. Keduanya berbeda dengan perempuan-perempuan yang pernah dilihatnya selama ini. Keduanya terlihat perempuan yang mandiri dan kuat, tidak seperti perempuan yang manja dan ngincar hartanya selama ini.

Teman-temannya itu juga natap Safira dan Elva dengan mata kagum. Siapa pria itu sampai-sampai bisa didampingi 2 malaikat secantik itu? Kecantikan reka hampir nyamai adik perempuannya Richard.

Pada saat yang sama, banyak petugas keamanan yang nerjang maju ke arah Randika.

"Siapa kamu!" Tanya salah satu dari petugas itu.

"Buang-buang waktu saja." Randika nggelengkan kepalanya. Sesudahnya dia selesai berbicara, dia nerjang maju. Semua orang terkejut karena sosok Randika tiba-tiba nghilang dari pandangan reka. Tiba-tiba sosok Randika sudah berdiri di belakang para petugas itu dan satu per satu dari reka mulai terkapar di lantai.

Richard dan teman-temannya terpukau lihat adegan ini, reka sama sekali tidak tahu apa yang dilakukan pria itu barusan.

Pada saat ini, tatapan mata Richard berbinar-binar. Dugaannya benar, pria ini bukanlah pria sembarangan. Apa pun yang terjadi, dia harus njadikan pria itu payungnya!

Terlebih lagi, Randika bisa ngenalkan 2 perempuan cantik itu padanya!

Ketika Randika ingin ngatakan bahwa keadaan sudah aman, dari arah belakangnya terdengar hentakan kaki yang kuat. Beberapa orang bertato datang nghampirinya, reka adalah jagoan bela diri yang dipekerjakan oleh pemilik bar ini.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 258: Inferno Bar on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.