Font Size
15px

Para bapak pebisnis kaya ini lototi Viona dengan tatapan sum reka, terutama ketika reka lihat betapa besar dada miliknya itu.

"Pak Aldo mang hebat kalau masalah beginian ya." Yang lainnya ikut tertawa. "Bukannya bapak sedang berhubungan dengan sekretarismu yang sexy itu?"

Aldo langsung tersenyum pahit. "Ah tidak kok."

"Aduh pak Aldo ini pura-pura bodoh. Anda harus dihukum ntraktir kita minum malam ini." Yang lainnya ikut tertawa dan kembali minum. Di level seperti ini, cerita perselingkuhan adalah hal yang wajar.

Di negara mana pun, kejadian-kejadian seperti ini mang dianggap lumrah. Khususnya para sekretaris dari para bos ini biasanya njadi bahan pelampiasan nafsu reka. Tetapi tentu saja, uang ataupun barang mahal yang berrek njadi kompensasi atas kerja keras reka. Yang lebih kejam lagi adalah biasanya reka mbuat mabuk perempuan yang reka incar dan mperkosanya ketika dia tidak sadarkan diri. Dengan bermodalkan HP, reka akan rekam kejadian itu dan mbuatnya njadi bahan perasan sehingga perempuan itu akan terus layani reka secara sukarela.

"Kalian ini mang bajingan semua. Oi pelayan, tambahkan satu botol lagi." Aldo lambaikan tangannya dan minta sebotol Jack Daniel.

Temannya yang bernama Billy terus natap Viona tanpa henti. Matanya sama sekali tidak bergerak.

"Pak Billy sepertinya naksir sama perempuan itu ya? Matanya sampai tidak bergerak hahaha." Aldo tertawa. "Sudah cekoki perempuan itu alkohol, nanti kalau mabuk tinggal dibungkus pulang."

"Dia mang cantik." Sosok Viona sama sekali tidak bisa lepas dari tatapan mata Billy. Pria kaya ini hanya bisa ngutuk Randika dalam hatinya.

"Tetapi sepertinya perempuan itu sudah punya cowok, kurasa tidur dengannya sudah mustahil." Kata salah satu dari temannya.

"Aduh kalian ini kurang paham dengan masalah-masalah seperti ini." Aldo negak minumannya lalu lanjutkan. "Anak-anak muda jaman sekarang itu bisa dibeli dengan uang, tinggal sebut nominal reka rela mbuka kaki reka lebar-lebar." Aldo tertawa dan noleh ke arah Billy. "Bagaimana pak? Mau tidak sama perempuan itu? Kalau tidak perempuan itu buatku lho."

"Siapa bilang aku tidak mau?" Billy tertawa. "Sepertinya aku juga butuh simpanan yang baru."

Aldo lalu tersenyum. "Kalau begitu, kontrak bisnis yang kita bicarakan kemarin tolong segera ditanda tangan ya pak."

"Hahaha bisa saja pak Aldo ini, sudah kuduga ada udang di balik batu." Para bapak ini tertawa keras sedangkan para pengawal reka berdiri tegak di samping ja.

Billy nggelengkan kepalanya sambil tersenyum pahit. "Baiklah, baiklah, tetapi aku ingin perempuan itu tidur denganku malam ini."

"Cepat suruh perempuan itu datang kemari. Ingat, jangan pakai kekerasan." Kata Aldo pada pengawalnya.

"Baik."

Pengawal itu nyanggupi dan berjalan nghampiri Viona.

Pada saat ini, Viona dan Randika masih bersra-sraan. Viona bersandar di pundak Randika sambil minum minumannya.

"Enak juga ya yang kamu pesan." Wajah Viona mulai rah karena alkohol.

Randika ingin lanjutkan mon sra reka, tetapi tiba-tiba dia ngerutkan dahinya.

Dari jauh, ada seorang berbadan besar yang berjalan nghampiri janya.

"Selamat malam, bosku ngundang Anda untuk minum bersama." Kata pengawal itu pada Viona.

Viona terkejut ketika ndengarnya, dia tidak tahu harus berbuat apa.

"Randika, ini."

"Tenang saja, aku ada di sini." Randika tersenyum dan nggenggam tangan Viona. Dia lalu noleh ke arah pengawal itu dan ngatakan. "Kita tidak butuh minuman gratis, katakan bosmu kalau kami nolaknya."

Orang yang paling dibenci oleh Randika adalah orang-orang seperti ini. Hanya karena reka miliki uang yang lebih, reka ngira bisa mbeli apa pun yang ada di dunia ini termasuk perempuan. Namun, reka tidak akan nyentuh ataupun nyinggung orang yang lebih kuat daripada reka. Jadinya reka ngincar orang-orang kecil, kejadian seperti ini sangat sering terjadi di belahan dunia mana pun.

Sedangkan untuk Randika, skipun miliki kekayaan dan kekuatan yang limpah saat dirinya mbangun pasukannya, dia sama sekali tidak ngganggu orang yang lebih lemah ataupun takut pada orang yang lebih kuat dari padanya. Dan hal ini juga berlaku pada pasukannya, reka tidak pernah nyerang orang-orang yang tidak bersalah.

Namun sekarang, Randika mau tidak mau njadi marah setelah direhkan seperti ini.

Pengawal itu natap tajam para Randika. Dengan ekspresi dinginnya, pengawal itu ngatakan. "Kau tidak layak njawab untuk nona ini. Bosku mberi undangan ini untuk nona ini bukan untuk kalian berdua. Kusarankan kau untuk pergi."

"Kau tahu apa yang paling kubenci di dunia ini?" Kata Randika dengan nada serius. "Aku benci orang yang berani nyuruhku skipun sebenarnya dia itu lemah. Orang-orang bodoh seperti itu biasanya sudah njadi mayat keesokan harinya."

Pengawal itu njadi marah. "Kau benar-benar orang miskin yang lancang, sampah sepertimu tidak layak untuk hidup. Pergilah dari sini sebelum kusikat habis."

Di lain sisi, para pebisnis kaya itu natap pengawal Aldo dan Randika sambil tertawa.

"Wah sepertinya pacarnya itu punya nyali untuk lawan." Kata Billy sambil tertawa.

Aldo juga tersenyum. "Tidak masalah, pengawal itu adalah pengawal pribadiku. Jika dia tidak becus lakukan pekerjaan semudah ini, akan kutendang keluar dia besok."

Namun setelah kata-katanya itu selesai, suara teriakan tragis terdengar dari arah ja Randika. Ketika reka noleh, reka lihat pengawal pribadi milik Aldo itu berlutut satu kaki sambil ngerang kesakitan.

"Apa yang sedang terjadi?" Para pebisnis kaya ini terlihat bingung.

Randika natap dingin pengawal milik Aldo tersebut. Dia lintir dengan erat tangan si pengawal itu hingga dia sampai berlutut. Dengan mudah, Randika matahkan lengannya itu dan mbuatnya kesakitan.

Viona yang berdiri di belakang Randika itu terlihat ketakutan. Randika lalu nenangkan Viona sebentar lalu natap Aldo dan teman-temannya.

Pada saat ini, para pebisnis ini nyadari tatapan mata Randika. reka semua rasa darahnya ndidih.

"Anak muda itu benar-benar kurang ajar." Billy njadi marah.

"Pak Billy tidak usah khawatir, serahkan masalah ini padaku. Biarkan aku yang ndidik generasi muda itu." Kata Aldo sambil tertawa. Kedua pengawalnya yang lain segera nghampiri Randika. Karena rasa solidaritas, para pebisnis yang lain juga ngirim pengawal reka untuk mbantu.

Dalam sekejap, 8 orang pengawal sudah berjalan nghampiri Randika.

Orang-orang di dalam bar ini sudah mulai ketakutan, kecuali yang sedang nari di lantai dansa. Tatapan mata semua orang sekarang sedang tertuju pada Randika.

"Orang itu bodoh apa tolol? Bisa-bisanya dia nyinggung orang berkuasa seperti itu."

"Tapi jarang-jarang lho kita lihat orang dihajar seperti ini, mungkin nanti kita bisa rekam kejadian ini dan njadi terkenal!"

"Aku rasa videomu nanti malah dijadikan bukti kasus pembunuhan."

Para pengunjung ini sudah mberikan rasa belasungkawa dalam hati reka untuk Randika. Seorang diri nghadapi 8 orang berbadan besar seperti itu, yang ada hanyalah kematian!

Randika nendang pengawal yang masih ngerang kesakitan itu. Namun karena suasana hati Randika sedang buruk, pengawal itu sudah tidak sadarkan diri hanya dengan satu tendangan itu.

"Vi, duduk dan jangan bergerak." Kata Randika sambil tersenyum.

"Baiklah." Viona ngangguk. lihat Randika yang hendak maju ke dan perang, Viona tiba-tiba nariknya. "Hati-hati."

Randika tersenyum dan berkata padanya. "Jangan khawatir."

Randika berjalan maju dan nghampiri 8 pengawal itu. Ketika reka berhadap-hadapan, para pengawal ini tidak banyak omong dan langsung layangkan pukulannya. Delapan tinju yang terlihat besar dan berat itu ngarah pada Randika.

Dalam benak para pengawal ini, reka tahu bahwa lawannya kali ini adalah bukan orang sembarangan karena sebelum ini dia berhasil ngalahkan temannya. Dikenal sebagai pengawal terbaik Aldo, reka belum pernah lihat pengawal satu itu babak belur seperti itu.

Jadi hanya ada satu kesimpulan, lawan reka kali ini bukanlah orang lemah.

Tebakan reka bisa dikatakan tidak sepenuhnya salah, kekuatan Randika bukanlah kuat lainkan sudah berada di level ngerikan.

Randika sama sekali tidak nghindari 2 pukulan pertama yang layang ke arahnya, malahan kedua tinjunya ngarah ke tinju lawannya itu. Kemudian ekspresi 2 pengawal itu berubah njadi kesakitan, seolah-olah tangannya telah mbentur baja.

KRAK!

Tulang jari kedua pengawal itu langsung remuk tanpa sisa, reka hanya bisa ngerang kesakitan di lantai.

Tinju lawannya itu benar-benar ngerikan!

Para pengunjung bar sudah terkejut bukan main. Bagaimana bisa pemuda itu kuat seperti itu? Lawannya bukanlah orang sembarangan lainkan pengawal pribadi seorang bos!

Namun, kejutan ini masih belum selesai.

Dua pengawal lainnya hendak nyerang Randika dari samping, tetapi Randika dengan mudah matahkan tulang rusuk reka dengan sebuah tendangan. Kedua pengawal itu hanya bisa terpental dan mbentur tembok.

natap empat lawannya yang tersisa, Randika sudah seperti serigala yang nerjang ke arah gerombolan domba. reka berempat hanya bisa rasakan hembusan angin kencang yang lewati reka sebelum rasa sakit nyelimuti reka dan ngambil alih kesadaran reka.

Hampi secara bersamaan, keempat orang itu pingsan tak sadarkan diri. Dalam sekejap, Randika berhasil ngalahkan 8 pengawal berbadan besar itu.

Para pengunjung di bar sudah kehabisan kata-kata untuk berkontar, hanya suara musik saja yang masih dapat terus terdengar.

Apa reka tidak salah lihat?

Satu lawan delapan, apa dikira ini film action Hollywood yang karakter utamanya selalu nang itu?

"Luar biasa!" Teriak salah satu orang.

"Sudah diam saja, jangan noleh ke sana. Nanti kita malah terseret." Temannya ngingatkan agar tidak terlibat masalah rumit seperti ini.

Namun, tatapan mata reka tidak bisa lepas dari Randika. Terlebih, sekarang Randika berjalan nghampiri para pebisnis kaya itu.

Orang-orang ini mulai ketakutan ketika lihat Randika, keringat dingin di dahi reka sudah ngucur deras.

reka tidak nyangka akan bertemu orang sengerikan ini, Aldo dengan cepat angkat bicara. "Berani-beraninya kau berbuat jahat seperti itu pada pengawal kami dan masih nunjukan batang hidungmu itu?"

Namun, Randika sama sekali tidak njawab. Dia terlihat ngangkat tangannya tinggi-tinggi dan layangkan sebuah pukulan tepat di wajah Aldo dan mbuatnya terpental hingga terjatuh di lantai dengan keras.

Awalnya teman-temannya ini juga ingin lampiaskan kemarahannya pada Randika, tetapi lihat Aldo yang dipukul tanpa ampun, nyali reka njadi ciut.

Sepertinya orang yang reka usik ini bukan orang sembarangan.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 254: Tipe Orang yang Paling Dibenci oleh Randika on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

All MILFs are Mine cover
Similar genre

All MILFs are Mine

Night_phantom ·Harem

*Caution* *TABOOCONTENT* *STRONGSEXUALCONTENT* THISCONTENTISVERYHARMFULFORANORMALPERSON'SMIND. __________________________________ LeonisaMILFlover,...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.