Apa?
Randika berhenti berjalan sejenak, sepertinya dia salah lihat. Barusan apakah Viona setuju untuk lakukannya?
lihat wajah rah Viona, Randika rasa bahwa sosok cantiknya ini makin cantik dan spesial. Sepertinya lebih baik dia sekarang mbawanya ke hotel daripada ke bar.
Tidak, tidak, tidak! Ingat Randika, quality needs ti! Bangun dulu suasananya baru nikmati mon intim tersebut dengan tangan terbuka.
Randika, yang tersenyum lebar, ngelus pipi Viona dengan tangannya. reka berdua saling bertatapan dan tersenyum bahagia.
reka tidak nyangka bahwa bahagia itu sederhana, lihat orang yang dicintai senang maka kita akan ikut senang!
Randika sendiri rasa bahwa dia sudah selangkah maju nuju tujuan akhirnya.
Apa tujuan akhirnya?
Tentu saja, kerajaan harem! Dia ingin ketika dia mbuka matanya di pagi hari, ada perempuan cantik di kedua lengannya dan 3nya lagi nyiapkan sarapannya selagi dia 'berolahraga' sambil nunggu makanannya.
Hehehe, kita selangkah lebih maju kawan!
Randika dan Viona tidak langsung pergi ke bar, reka makan malam terlebih dahulu. Keduanya nikmati makan malam ini bagaikan suami istri. Randika tidak pernah lepas tangan Viona selain saat makan. Viona sendiri nikmati mon bahagia ini dengan puas, dia benar-benar beruntung bisa bertemu dengan pria semacam Randika.
Setelah makan malam, waktu sudah nunjukan pukul 7 malam jadi Randika langsung ngajak Viona ke bar. Setelahnya reka mbuka pintu masuk, suara musik yang ledak-ledak langsung kakan telinga reka.
Sesampainya dia di bar, Viona nggenggam erat tangan Randika sambil noleh ke kanan dan ke kiri. Dia benar-benar penasaran. Ketika dia lihat begitu banyak orang nari di lantai dansa, tatapan matanya berbinar.
"Ran, ayo kita nari." Kata Viona sambil nyeret Randika.
Semua orang nggerakan tubuh reka. Viona yang berdada besar itu terlihat ncolok ketika dadanya itu bergerak ke sana kemari. Untungnya saja, Randika berhasil ngusir para pria sum yang mberanikan diri untuk ndekati Viona.
Randika juga nari dengan leluasa dengan Viona, perempuan ini benar-benar nikmati waktunya.
Baginya, Viona benar-benar cantik seperti elf [1]. Dia masih bisa ngingat betapa dirinya ingin mbenamkan wajahnya di paha putih yang mulus itu.
Randika sudah tidak sabar lagi ncicipi buah terlarang ini. Terlebih lagi, seharusnya ini adalah pengalaman pertama Viona berhubungan badan, kehormatan ini benar-benar langka di jaman seperti sekarang ini.
"Sayang kemarilah." Randika letakan tangannya di pinggang Viona. Tangannya Randika perlahan mulai lorot dan rasakan sensasi kenyal. Sebentar lagi dia bisa remas pantat Viona dengan baik.
Wajah Viona sedikit rah, tetapi perempuan ini tidak nolaknya. Dia justru ingin rangsangan ini lebih intens.
"Sayang, beginilah seharusnya kamu nari." Randika nghembuskan napas hangat di telinga Viona dan kedua tangannya luk pinggang Viona.
Tubuh kedua orang ini benar-benar nempel dengan erat.
"Vi, kamu benar-benar cantik." Randika sudah tersihir oleh wajah cantik Viona, tanpa ragu dia mulai nciumnya.
Pada saat yang sama, tangannya yang luk pinggang Viona itu mulai berenang ke mana-mana.
Karena saking ra dan berisiknya lantai dansa ini, orang-orang tidak nyadari perbuatan kedua orang ini. Lagipula, reka semua ada di sini untuk bersenang-senang dan ncari pasangan untuk tidur malam ini. Jadi tidak heran apabila ada yang lakukannya di toilet ataupun di parkiran belakang.
Terlebih, Randika hanya berciuman dengan sedikit raba. Dia tentu tidak ingin tubuh perempuannya dilihat oleh orang lain. Dan terlebih, dia bukanlah orang yang suka markan hubungannya.
Setelah nikmati lidah Viona yang berenang di mulutnya beberapa saat, Randika lepas bibirnya. Kemudian reka berdua hanya berpelukan dan rasa dunia ini milik reka berdua. Lalu Randika berbisik di telinga Viona. "Vi, kenapa hari ini kamu tidak makai baju yang sexy?"
Viona mbuka matanya dan wajahnya tersipu malu. Wajahnya masih nempel di dada Randika. Alasan karena dia tidak makai baju yang terlalu terbuka lagi karena dia tidak tahu kapan Randika akan kembali, dia rasa percuma nunjukan tubuhnya jika bukan untuk Randika.
"Apa kamu tidak suka aku makai baju seperti ini?" Viona mulai sedikit ragu ngenai apakah Randika ncintai dirinya atau tubuhnya?
"Bukan begitu maksudku, aku justru lebih suka kamu berpakaian seperti ini. Aku tidak ingin orang lain lihat kecantikan orang yang kucintai." Randika ngelus pipi Viona.
"Baiklah kalau begitu." Viona tersipu malu ketika ndengarnya.
"Ah! Tapi nanti kalau kita berdua saja, pakailah pakaian yang sexy!" Randika nghembuskan napas hangat di telinga Viona. Randika sudah mahami titik erotis milik Viona dengan baik. Seperti Inggrid, Viona miliki telinga yang sensitif tetapi telinga Viona jauh lebih sensitif.
Viona langsung rasa tubuhnya njadi lemas, tubuhnya langsung ditopang oleh Randika.
"Vi, ketika kita balik nanti, pakaian dalam seperti apa yang akan kamu pakai untukku?" Randika berbisik di telinga Viona.
"Aku akan makai apa pun yang kamu mau." Viona makin berani, tubuhnya sudah panas dan api di dalam hatinya sudah mbara. Dia sendiri juga bisa nggoda Randika jika dia mau!
"Kalau begitu, aku ingin kamu makai garter belt dan stocking putih, lalu aku ingin kamu makai koleksi pakaian dalammu yang sexy itu." Randika tertawa di telinga Viona.
Suara musik bar makin njadi-jadi tetapi untuk kedua orang ini, dunia ini serasa milik sendiri. Orang-orang tidak dulikannya dan terus nari tanpa henti.
ndengar kata-kata Randika ini, Viona njadi malu. Dia bisa mbayangkan dirinya makai satu set lingerie yang sexy dan Randika yang tersenyum ketika lihat dirinya.
Randika sendiri rasa nafsunya mulai numpuk. skipun dia sudah tidak sabar berhubungan badan, reka baru saja datang ke bar ini dan terburu-buru lakukannya bukanlah sesuatu yang baik bagi hubungan reka. Namun, tiba-tiba musik berhenti berputar.
Orang-orang mulai bubar dan san minuman. Randika yang hatinya sedikit senang itu ngajak Viona untuk duduk di sofa.
Setelah manggil pelayan, Randika san bir dan beberapa cocktails.
"Vi, kamu bisa minum kan?" Tanya Randika.
Viona ngangguk dan berkata dengan bangga. "Tentu saja aku bisa. Atau jangan-jangan kamu yang tidak bisa minum banyak ya?"
"Oh? Kamu mau bertanding?" rasakan paha Viona yang nempel, Randika berbisik di telinganya. "Bagaimana kalau begini, kalau kamu bisa mbuatku mabuk hari ini, kamu bisa mbawaku ke tempat tidur."
ndengar hal ini, wajah Viona njadi rah.
Tak lama kemudian, minuman pesanan Randika sudah datang.
"Vi, cobalah ini. Minuman ini benar-benar enak." Kata Randika.
Keduanya lalu bersulang dan minum minuman reka.
Tidak jauh dari reka, terlihat bapak-bapak mabuk sedang berkumpul. Dilihat dari jas yang reka pakai, orang-orang ini terlihat seperti orang sukses. Belum lagi cerutu yang reka hisap buatan luar negeri.
"Hei, coba lihat ke arah sana. Bukankah perempuan itu cantik?" Seorang bapak nunjuk ke arah Randika dan Viona. Tatapan mata semua bapak-bapak ini njadi berbinar-binar.
[1] Elf diceritakan sebagai ras yang lebih dulu ada daripada manusia dan lebih unggul dari manusia. Lebih dikenal sebagai peri hutan, elf miliki ciri-ciri telinga yang runcing dan ahli dalam ilmu sihir.
Reviews
All reviews (0)