Ikut denganmu?
Ngelawak bro?
Tatapan mata Randika terlihat jijik. Jika bukan karena sikap Richard yang baginya jarang nampak di sebuah keluarga yang kaya, Randika sudah pasti ladeni pengawalnya yang tidak tahu diri itu.
Richard sendiri sudah marah-marah. "Stefan cukup!"
Harus dikatakan bahwa majikan seperti Richard ini jarang mbentak dirinya.
"Tetapi tuan muda, orang ini " Stefan natap Randika dan hendak ngatakan sesuatu.
"Sudah cukup, apa kamu tidak percaya dengan kata-kataku?" Kata Richard.
lihat wajah serius tuan mudanya, Stefan mulai ngalah.
Randika narik kembali tenaga dalamnya serta aura mbunuhnya, dia berjalan kembali tetapi Richard berusaha nyusulnya.
"Tunggu!"
Sebenarnya Richard masih rasa bersalah karena dirinya ini, orang ini telah diculik. "Setidaknya biarkan aku ngantarmu sebagai permintaan maaf."
Randika dapat rasakan ketulusan dari permintaan maaf Richard. Pemuda di depannya ini benar-benar bagus, jadi dia setuju.
lihat Randika yang setuju, Richard ngambil mobil wahnya dan Randika duduk di samping kursi pengemudi.
"Stefan, pulanglah jalan kaki sambil mikirkan apa yang telah kau perbuat." Kata-kata tuan mudanya ini mbuat Stefan berhenti mbuka pintu belakang mobil.
lihat mobil wah itu perlahan nghilang, Stefan rasa tidak berdaya. Dia lalu berbicara di headset miliknya. "Tim 2 awasi tuan muda dengan baik tetapi jangan sampai keberadaan kalian diketahui."
Tidak lama kemudian, sebuah mobil njemput Stefan yang wajahnya sudah benar-benar buruk.
Di mobil, Richard terlihat bersemangat ketika nyetir. "Omong-omong, aku belum ngenalkan diriku. Namaku adalah "
"Richard, namamu adalah Richard." Kata Randika dengan nada datar.
"Oh? Kenapa kamu bisa tahu?" Richard cukup terkejut. Namun setelah dipikir-pikir, seharusnya para penculiknya lah yang mberi tahu namanya.
"Namaku Randika."
Richard terlihat bersemangat ketika dia ngatakan. "Kamu sangat luar biasa ketika berhasil ngalahkan pengawalku yang kuat tadi."
Randika sama sekali tidak noleh. nghadapi ikan teri seperti Stefan bukanlah hal ngagumkan baginya, sudah ribuan Stefan yang sudah dia bunuh.
Itulah kehebatan Ares sang Dewa Perang, semakin banyak mayat yang numpuk semakin hebat namanya.
Oleh karena itu, Randika malas mbalas pujian Richard itu.
Richard sama sekali tidak berhenti ngoceh skipun Randika ncueki dirinya. Dia lalu bercerita. "Pengawalku Stefan itu aslinya jago bela diri, tetapi aku tidak nyangka masih ada orang yang lebih kuat darinya. Aku selalu kagum dengan orang-orang kuat, jadi aku harap kita bisa berteman."
Berteman?
Randika kehabisan kata-kata, dia lalu nggelengkan kepalanya. "Tidak perlu."
Randika tidak tertarik berteman dengan orang kaya ataupun keluarga yang berpengaruh. Tangannya sendiri sudah penuh dan berteman dengan orang seperti reka pasti ada udang di balik batu.
Tentu saja, tangannya penuh karena setiap hari tangannya harus raba istrinya atau Viona atau Christina atau malaikat-malaikat lainnya!
Perjalanan hidupnya untuk mbuat dunia haremnya masih panjang.
ndengar penolakan Randika, Richard cukup terkejut. "Ah, kamu mungkin orang yang tidak terlalu suka bersosialisasi ya? Kalau begitu, aku akan nganggapmu kakakku."
Randika nghela napasnya. Dia lalu noleh ke arah Richard dan berkata dengan nada serius. "Aku tidak butuh adik."
".."
Richard rasa malu beberapa saat, kenapa dia ngusulkan hal yang bodoh?
Sejujurnya, Richard hanya ingin berteman dengan Randika. Dia tidak bodoh, dia dapat lihat dengan jelas bahwa Randika adalah orang yang kuat. Setelah ngetahui hal tersebut, mana mungkin dia lepaskan 'payung' seperti itu?
Namun, Randika sama sekali tidak tertarik pada dirinya.
Sepanjang jalan, Richard tidak berhenti berbicara. Tetapi omongannya itu sama sekali tidak didengar oleh Randika. Akhirnya, mobil wah itu berhenti di depan perusahaan Cendrawasih.
Ketika Randika mbuka pintu, Richard berkata pada dirinya. "Tinggalkan aku nomor teleponmu."
Namun, Randika hanya mbanting pintu mobil dan berjalan masuk ke dalam gedung.
Richard nggelengkan kepalanya sambil nghela napas. "Ah Seandainya saja aku ini perempuan maka aku pasti bisa mbujuknya. Sayang sekali kekuatan sebesar itu lepas dari tanganku."
...
Tanpa basa-basi, Randika langsung nuju ruangannya.
Pada saat ini, tubuhnya masih dalam keadaan stabil; kekuatan misterius di dalam tubuhnya juga stabil. Mungkin karena energi feminimnya Inggrid yang dia terima dari Inggrid karena hubungan badannya, kekuatan misteriusnya itu sama sekali tidak mberontak.
Namun, pandangan Randika ngenai kekuatan misteriusnya itu sudah berubah. Awalnya dia ngira bahwa kekuatan misterius ini adalah beban yang nggerogoti tubuhnya perlahan. Namun, karena perjalanannya ke Jepang itu, dia ngetahui betapa luar biasanya kekuatan misterius miliknya ini.
Bisa dikatakan bahwa jika dia berhasil ngontrolnya maka dia tidak akan terkalahkan. Pertama kali dia ncicipi buah terlarang ini ketika berada di ruang bawah tanah milik Shadow. Dengan bantuan energi misterius itu, dia berhasil ngeluarkan racun dalam tubuhnya dan mbuka pintu tahan nuklir itu.
Berikutnya ketika dia bertarung lawan Apollo dan Brahman. Awalnya dia sangat kewalahan nghadapi dua orang kuat itu. Tetapi dengan bantuan kekuatan misteriusnya itu, dia rasakan energi yang limpah terus ngalir deras dari dalam tubuhnya.
Sejak kembalinya ke Indonesia, Randika terus berpikir bagaimana nghadapi kekuatan misterius dalam tubuhnya ini. Jika dia bisa ngendalikannya dengan benar, njadi nomor 1 di dunia bukanlah impian semata.
skipun dia miliki obat dari kakek ketiganya, itu hanya bisa ngendalikannya ketika energinya mberontak bukan njinakannya. Sedangkan ramuan X yang dibuatnya itu efeknya benar-benar kecil, bisa dikatakan belum ada terobosan besar. Jika dia benar-benar bisa ngendalikan kekuatan misteriusnya ini 100%, mungkin dia bisa miliki jurus pamungkas.
Namun, dia tidak punya cara untuk wujudkannya. Ramuan X yang dimilikinya sekarang tidak bisa mbantunya untuk saat ini.
Namun, ramuan X itu adalah terobosan yang dihasilkan oleh Yuna dan timnya setelah lakukan eksperin ribuan kali. Mungkin dengan sedikit arahan dan neruskan perkembangan ramuan X ini, ramuan itu bisa mbantunya njinakkan kekuatan misteriusnya ini?
Ide seperti ini terus terngiang-ngiang di benak Randika. Godaan nyerap kekuatan sebesar itu benar-benar sungguh nggoda.
Randika masih berpikir keras sambil nundukan kepalanya, namun tiba-tiba Viona nghampiri dirinya.
"Ran" Viona terlihat malu-malu dan manggilnya dengan pelan.
Sebulan ini, Viona tidak pernah berhenti ncari Randika sepanjang hari. Namun, usahanya selalu berakhir dengan kegagalan; dia terkena penyakit rindu. Selama mon kesepian ini, Viona kehilangan nafsu makan dan berdoa tidak terjadi apa-apa pada Randika. Dia sangat khawatir bahwa Randika yang nghilang tiba-tiba ini adalah karena dia telah dipecat, jadi Viona pergi ke HRD untuk mastikan. ndengar bahwa HRD sendiri tidak tahu apa-apa ngenai Randika, hatinya makin cemas.
lihat sosok Randika yang tiba di kantor ini mbuat beban hati Viona terlepas semua.
"Ada apa?" Randika ngangkat kepalanya dan natap Viona sambil tersenyum. Hari ini pakaian Viona tidak terlalu terbuka seperti biasanya. Malahan baju yang dipakainya miliki kesan segar, cukup enak dilihat. Namun, dengan penglihatan super miliknya, dia masih dapat lihat pakaian dalam Viona yang ncolok itu.
"Ran dari mana saja kamu selama ini?" Viona berkata dengan nada pelan dan terdengar sedih.
Randika tiba-tiba nyadari apa yang telah dia perbuat dan njadi panik.
"Maafkan aku tidak mberimu kabar apa pun Vi. Sebulan ini aku ada pekerjaan yang harus kulakukan di luar jadi aku tidak sempat ngabarimu." Randika langsung minta maaf. Dia lalu raih tangan Viona. "Biarkan aku ngganti waktu kita yang hilang itu."
Yang dia maksud dengan ngganti waktu reka yang hilang itu adalah tentu saja bertukar ciuman atau lebih! rasakan tangan Randika yang gang pantatnya, Viona tersipu malu.
"Kalau begitu kamu bisa ngajakku makan malam hari ini." Kata Viona dengan wajah rah.
Viona mberanikan dirinya untuk ngambil langkah. Dia benar-benar ncintai Randika tetapi reka tidak pernah berbuat lebih dari sekedar ciuman saja. Dia takut bahwa hubungan reka ini akan berakhir begitu saja tanpa pernah kar. Dia sangat takut bahwa Randika akan ninggalkan dirinya.
Randika tersenyum. "Baiklah kalau begitu, hari ini kita akan makan malam bersama."
ndengar janji Randika, wajah Viona kembali cerah dan tersenyum. Setelah berbincang sebentar, akhirnya Viona kembali bekerja.
lihat Viona yang ceria kembali itu ninggalkan dirinya, Randika nghirup napas dalam-dalam. Dia masih dapat rasakan parfum milik Viona yang harum itu.
skipun Viona adalah perempuan yang pemalu, rupanya dia juga tidak pantang nyerah. Sekalinya dia jatuh cinta, dia akan ngejar pria yang dicintainya itu ski ke ujung bumi. Itulah yang dirasakan oleh Randika.
Oleh karena itu, bagaimana mungkin dia ninggalkan perempuan cantik dan setia seperti itu?
Tentu saja, kalau masalah hubungan badan itu hanyalah masalah waktu. Dia akan mbuat tubuh Viona tidak bisa lupakan dirinya.
Waktu berjalan dengan cepat. Randika bekerja dengan keras seharian ini tetapi ramuan X masih tidak ada kemajuan. Saking jengkelnya, dia ingin mbubarkan laboratoriumnya ini. Bagaimanapun juga, dengan level dan peralatan yang dimiliki perusahaan ini tidak madai. Masalah ramuan X mang seharusnya dia serahkan Yuna dari awal.
Namun, setelah mikirkannya dengan baik, Randika mutuskan untuk mpertahankan laboratorium miliknya ini. Lagipula, jika dia tidak sedang ngembangkan ramuan X, orang-orang ini bisa dia salurkan nuju departen parfum.
Sekarang waktunya pulang jam kerja. Ketika Randika berjalan keluar dari ruangan, Viona sudah nunggu dirinya.
"Ayo!" Wajah Viona terlihat senang dan senyumannya benar-benar lebar.
.....
"Vi, kita mau ke mana?" Randika dan Viona berjalan bersama di jalan. Setelah cukup jauh dari perusahaan reka, Viona luk lengan Randika kuat-kuat dan kepalanya bersandar di pundak Randika.
"Bagaimana kalau kita pergi minum? Aku belum pernah ke bar sebelumnya." Kata Viona.
"Baiklah." Randika lalu berbisik di telinganya. "Vi, nanti setelah kita dari bar, apakah kamu mau"
Sebelum Randika bisa nyelesaikan, Viona sudah sadar senyuman nakal milik Randika itu. Mon yang dia tunggu telah tiba, dia dengan tersipu malu nganggukkan kepalanya dan ncengkeram erat lengan Randika.
Reviews
All reviews (0)