Font Size
15px

Pada akhirnya, Randika berhasil ncatat rekor baru yaitu 9500. Kalau saja bukan karena campur tangan seorang staff, rekor itu pasti jauh lebih tinggi lagi. Jika rekor poin ini terlalu tinggi, maka orang-orang tidak akan tertarik untuk mainkan permainan ini. Skor yang dikiranya mampu dijangkau oleh orang-orang juga rupakan strategi pemasaran.

Dan pada saat yang sama, para staff setuju untuk mberikan kompensasi pada Randika berupa poin power card bernilai 500 ribu.

Hadiah seperti ini tidak disangka-sangka oleh Randika. Tetapi karena sudah kelelahan gara-gara dari tadi terus lempar, dia tidak berniat nghabiskan uang digital itu hari ini.

Setelah ndapatkan hadiahnya, Randika nghampiri Hannah dan Stella sambil tersenyum.

"Mungkin kak Randika jago bermain basket, jadi kenangan itu tidak dihitung! Kita selesaikan pertarungan kita di permainan yang lain!" Hannah langsung nyeret Randika ke permainan yang lain.

sin di ga center milik mall ini benar-benar banyak dan bervariatif, kali ini mata kedua perempuan itu terpaku di sebuah dance machine.

Permainan ini sebenarnya cukup sederhana. Permainan ini madukan musik, gerakan, arah dan penglihatan. Pada dasarnya, permainan ini terdiri dari pemain, alas dansa (dance pad) dan sebuah layar. Di atas alas dansa, ada 8 tombol yang diinjak oleh kaki si pemain. Pemain diminta untuk nginjak tombol yang sesuai dengan panah-panah yang muncul di layar. Panah-panah ini muncul dari bawah layar dan bergulir ke atas nuju panah pemandu yang biasa disebut step zone arrow. Terlebih, jika kita milih lagu dengan tingkatan sulit, panah-panah itu akan bergerak jauh lebih cepat dan lebih banyak. Jadi ketepatan waktu dan kelincahan pemain sangat penting dalam permainan ini.

sin ini juga bisa dimainkan oleh 2 orang, oleh karena itu Hannah dan Stella dengan semangat milih lagu yang reka suka.

Randika hanya duduk sambil mperhatikan. Bisa dikatakan bahwa Hannah dan Stella rupakan perempuan yang bersemangat dan cukup langsing, jadi reka bisa ngikuti irama lagu dengan baik. Apabila dibandingkan dengan permainan basket tadi, reka jauh lebih baik di dance machine ini.

Dengan semakin banyaknya panah yang muncul, keduanya mulai serius nginjak alas dansa reka.

Hannah dan Stella sepertinya mpunyai bakat nari, kelincahan reka juga sangat mbantu reka dalam permainan ini.

Keduanya larut dalam permainan ini hingga tidak mperhatikan sekelilingnya, orang-orang sudah berkumpul karena tertarik dengan kemolekan tubuh reka berdua.

Kedua perempuan cantik nari dengan semangat, dan salah satunya berdada besar, benar-benar nggoda!

Hannah dan Stella terus nari dengan intens, orang-orang yang berkumpul juga makin banyak. Kebanyakan dari reka adalah laki-laki. Beberapa dari reka sudah berniat untuk ngajak ngobrol kedua perempuan cantik itu ketika reka sudah selesai.

Pada saat ini, sekelompok berandalan dengan tato nuhi tubuh reka berjalan dengan arogan. reka sengaja nabrak dan mbentak siapapun yang berani lawan. reka adalah Anonim, penguasa dari ga center ini.

Pada saat ini, seseorang dari reka lihat Hannah dan matanya langsung terpaku.

"Kak, coba kakak lihat perempuan itu."

Beberapa orang langsung noleh dan lihat ke arah dance machine. Semua mata reka langsung berbinar-binar.

"Karena reka suka berdansa, aku rasa reka juga pasti suka nggoyangkan pinggang reka di kasur. Sepertinya malam ini kita akan bersenang-senang." Mata dari pemimpin reka yaitu Wilson sudah terkunci pada sosok Hannah dan Stella.

Tidak lama kemudian Hannah dan Stella telah nyelesaikan permainan reka dan turun dari sin. Para berandalan itu segera berjalan nghampiri reka sambil ndorong para kerumunan.

"Oi, minggir!"

Orang-orang ingin lawan tetapi setelah reka tahu itu adalah Anonim, reka tidak berani lawan dan mberikan jalan.

"Hei, bagaimana kalau kita bermain bersama setelah ini?" Wilson langsung nghampiri Hannah dan Stella yang sedang duduk sambil ngatur kembali napas reka.

Hannah natap para berandalan itu dan ngerutkan dahinya. "Siapa mangnya yang mau sama kalian? Pergi sana dan jangan ganggu kita."

"Wah, wah, ternyata kamu berani juga. Aku suka itu." Wilson dan beberapa temannya tertawa. "Kalian berdua tidak akan pergi sebelum bisa muaskan kami semua."

Pada saat ini, tangan Wilson sudah nangkap dagu Hannah.

Namun, sebuah tangan nampaknya berhasil nangkap tangan Wilson.

Wilson ingin ngambil kembali tangannya tetapi dia sadar bahwa dia tidak bisa lawan sama sekali. Ketika dia noleh, dia lihat wajah Randika yang terlihat kesal.

"Apa? Kau ingin mati di sini?" Wilson masang wajah bengisnya, teman-temannya dengan cepat ngepung Randika. Tidak ada orang yang pernah lolos ketika berurusan dengan Anonim.

Hannah dan Stella segera berdiri di belakang Randika. Lagipula, Hannah sudah mahami kekuatan Randika. Berandalan muda seperti ini jelas bukan lawan kakak iparnya.

Ketika lihat pria itu lindungi kedua mangsanya, semua berandalan itu tertawa. "Hahaha, kalian kira pria macam ini bisa nghentikan kami?"

"Sepertinya orang ini tidak tahu siapa kita."

"Sebenarnya aku tidak mau bertindak kasar di depan perempuan, tetapi hari ini aku mbuat pengecualian." Salah satu berandalan nghela napasnya, dia tahu bahwa tindakan kekerasan ini mbuat perempuan mbenci dirinya.

Randika lalu mbalas bacotan reka semua dengan santai. "Pergilah sebelum aku marah."

"Oh? Kau kira bisa mukul kami? Apa kau mau ncobanya?" Wilson ndekatkan pipinya ke Randika, teman-temannya sudah pada tertawa. reka telah berkuasa di tempat ini lebih dari setahun, tidak ada lawan yang bisa nggoyahkan posisi reka.

Namun, tiba-tiba Wilson nerima sebuah pukulan tepat di hidungnya. Karena masih sibuk tertawa, Wilson tidak bisa nghindar dan hidungnya neteskan darah.

Wilson rasa pusing sambil terus gangi hidungnya, darah terus ngucur tanpa henti.

Wilson yang belum pernah terluka selama berkelahi itu njadi marah, teman-temannya juga ikut marah. "Mati kau bocah!"

Wilson segera ngeluarkan pisau yang dia sembunyikan di sepatunya. Namun sebelum dia bisa ngayunkannya, Randika mukul kembali hidungnya. Hal ini mbuat Wilson langkah mundur dengan terhuyung-huyung.

Randika masih berwajah tenang. Ketika bertarung dengan senjata tajam, ketenangan adalah salah satu kunci.

Randika nguap dan regangkan tangannya ketika teman-teman Wilson nerjang ke arahnnya. Randika mberi reka masing-masing sebuah pukulan.

Tak lama kemudian, keenam orang itu terkapar kesakitan di lantai. Ketika orang terakhir yang hendak nerjang Randika itu lihat teman-temannya terkapar, dia berhenti dan tidak tahu harus berbuat apa.

lihat Randika yang nghampirinya, orang itu ketakutan dan minta ampun lalu berlari ninggalkan kelompoknya.

Randika lalu berbalik dan nghampiri Wilson.

Randika nghela napas dan ngangkat Wilson dengan satu tangan dan namparnya.

"Kalian kira bisa bertindak seenaknya sendiri?" Randika nggelengkan kepalanya lalu namparnya lagi. Orang-orang seperti ini rasa dirinya di atas dan perlu diberi pelajaran sehingga tidak nindas yang lemah.

Stella sudah natap Randika dengan tatapan kagum, sedangkan Hannah terlihat bangga. Jika kau berani nggangguku, bersiap-siaplah lawan kakak iparku!

"Sudah sana pergi dan bawa teman-temanmu itu." Kata Randika sambil lempar Wilson.

"Tunggu!" Hannah dengan cepat nyela.

"Aku minta kalian namatin permainan ini dengan nilai sempurna atau kakakku akan nghajar kalian hingga kaki kalian patah!" Hannah tidak ingin lepas reka begitu saja.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 245: Berani Menggangguku? Bersiap-Siaplah Melawan Ka on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

I Became The Academy Necromancer cover
Similar genre

I Became The Academy Necromancer

172 ·Harem

Scream,Shriek.Wakeupandpourtherestofyourgrudgesontome.ThenI’ll...Readmore Scream,Shriek.Wakeupandpourtherestofyourgrudgesontome.ThenI’llsaveyou.Col...

I Devour Deities cover
Similar genre

I Devour Deities

Love Pea ·Harem

Thirtyyearsago,ameteorfellandthedivineruinsappeared!Somedeitiesemergedfromit,feedingonhumans.Sincethatday,humanshavebecomefoodforthedeities,exceptf...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.