Font Size
15px

Hannah tidak ingin lepas reka begitu saja sedangkan Randika ngerti maksud Hannah dan nghela napasnya.

"Masih mau lawan?" Hannah ngerutkan dahinya, bagaikan singa yang masih kecil. Wilson dan teman-temannya lebih takut dengan singa yang berdiri di belakangnya itu.

reka tidak punya pilihan, reka hanya bisa nuruti permintaan Hannah. Ketika reka mulai nari, semua orang pada tertawa. Karena seumur hidup tidak pernah nari, reka berenam nari dengan sangat canggung dan ndapatkan nilai yang buruk. Gerakan reka benar-benar aneh.

Semua orang tertawa dengan leluasa, sangat jarang lihat Anonim dipermalukan seperti ini. Wilson dan teman-temannya sudah ingin mati, hari ini adalah awal keruntuhan dari wibawa kelompoknya.

Hannah mbentak reka dan ngingatkan perjanjian awal reka, kalau tidak bisa ndapatkan nilai sempurna maka reka tidak akan bisa pulang dengan kaki yang utuh.

lihat para berandalan itu ditertawakan oleh semua orang, Hannah rasa hukuman ini sudah cukup dan dia sendiri sudah bosan. Jadi Hannah mpersilahkan reka pergi dan ngancam reka agar tidak ngganggu dirinya lagi.

Kemudian Hannah, Stella dan Randika kembali bermain sebentar lalu mutuskan untuk pulang.

Ketiganya naiki lift nuju parkiran, lift ini bergerak dengan sangat pelan.

Hari ini rupakan hari terbahagia yang pernah dia rasakan, Hannah tidak bisa berhenti tersenyum dan tertawa. Sedangkan Stella ncuri pandang pada sosok Randika.

Pria ini benar-benar tampan, jika saja dia bukan kakak iparnya Hannah, dia pasti sudah ngejarnya.

"Hmm? Stel, kenapa kamu natap kak Randika seperti itu?" Hannah nyadari tingkah laku Stella yang aneh. "Apa kamu suka sama kakak iparku ini?"

"Tidak!" Stella dengan cepat mukul pundak Hannah, wajahnya benar-benar rah. Kenapa temannya ini tiba-tiba mbahas ini?

"Santai saja, kakak iparku ini playboy dan nafsuan. Mungkin jika kamu mau, kamu bisa ndapatkan hatinya." Kata Hannah sambil tersenyum.

Wajah Stella makin rah, sedangkan Randika terlihat sedih. "Han, jadi aku di matamu seperti itu?"

"mangnya aku salah? Jangan lupa kamu pernah lihatku dengan tatapan sum sebelumnya."

Randika benar-benar malu, apa yang dikatakan adik iparnya ini tidak terlalu salah. Lagipula, bukannya kamu sendiri yang lompat ke aku dan nanamkan kepalaku di dadamu?

Stella lihat wajah Randika yang terlihat sedih lalu tertawa. Namun pada saat ini, lift yang reka naiki ini tiba-tiba mati dan berhenti bergerak.

Pada saat ini, Hannah dan Stella takut setengah mati dan berteriak histeris.

"Hei, tidak usah berlebihan begitu." Randika nutup telinganya. "Bukankah ini hanya mati listrik biasa? Tidak perlu berteriak keras seperti itu."

"Aku takut gelap." Kata Hannah sambil getaran, alasan ini mbuat Randika tertawa terbahak-bahak.

Namun, Hannah dengan cepat luk erat tangan Randika.

Stella sendiri ingin manfaatkan kesempatan ini untuk ikut luk tangan Randika, tetapi dia ngurungkan niatnya karena hal itu kurang pantas nurutnya.

"Kak, apa lift ini akan jatuh dan kita akan mati?" Hannah bertanya sambil nutup matanya. ndengar pertanyaan itu, Stella jadi ikut takut. Dan pada saat ini, lift yang reka naiki itu tiba-tiba bergoyang, seakan-akan akan terjun bebas.

Stella yang awalnya sungkan segera luk tangan Randika.

Randika nghela napas dalam-dalam, kedua tangannya sudah tidak bisa bergerak dengan bebas lagi.

"Bahkan lift ini jatuh sekalipun, kalian tidak usah khawatir."

"Kak, bisa-bisa kakak berkata seperti itu? Kak Randika ingin kita mati?" Hannah ncubit tangan Randika karena mbuatnya lebih ketakutan lagi.

Randika rasa tidak berdaya, dia hanya berbasa-basi saja.

Namun, setelah rasakan kedua perempuan luk erat kedua tangannya, Randika mulai rasa nyaman.

Senyuman yang lambangkan sifat nakalnya itu wakili kepribadiannya, kata-kata Hannah sebelumnya tidak salah sama sekali.

Namun, tidak butuh waktu lama untuk lift ini bekerja kembali secara normal. Ketika tangannya bisa bergerak dengan bebas, sedikit rasa penyesalan tumbuh di hati Randika.

Setelah sampai di parkiran, Stella ingin kembali ke asrama. Hannah juga sedang tidak ingin nginap di rumah Inggrid jadi dia nemani Stella kembali ke asrama reka.

Setelah nurunkan reka di asrama, Randika segera pulang.

Sesaatnya sampai, HP Randika tiba-tiba bunyi. Ternyata yang neleponnya adalah Indra.

"Kenapa? Apa kamu baik-baik saja?" Suara Randika terdengar cemas.

"Kak, boneka ginsengku telah dicuri orang." Suara Indra terdengar lemas dan sedih.

Dicuri?

Randika terkejut. Apa dia tidak salah dengar? Bagaimana caranya boneka ginseng yang super lincah itu dicuri? Dia sendiri saja kesusahan nangkapnya, kenapa bisa boneka satu itu dicuri?

Ditambah lagi, boneka itu selalu bareng sama Indra dan Indra juga jarang keluar rumah kecuali ncari makan. Jadi bisa dikatakan bahwa keberadaan boneka itu cukup tersembunyi.

"Kamu tunggu aku, aku segera ke sana."

Dalam perjalanan, Randika terus berpikir dalam hati. Dia rasa ada yang aneh dengan kejadian kali ini. Boneka ginseng adalah makhluk hidup yang luar biasa, tidak mungkin ia bisa tertangkap semudah itu. Dia rasa bahwa siapapun yang nculiknya, mpunyai cara rahasia agar bisa nangkapnya. Kalau tidak, si penculik tidak akan bisa nangkapnya ngingat betapa lincah dan cepat si boneka ginseng.

Semua keanehan ini mbuat Randika rasakan firasat buruk.

Dia dengan cepat nuju rumah kontrakan Indra dan langsung mbuka pintunya. Namun, dia nemukan Indra tergeletak lemas di atas kasur. Matanya setengah terbuka dan terlihat akan pingsan kapan saja. Di sampingnya HP miliknya sudah hancur berantakan.

"Indra! Kamu baik-baik saja?" Randika dengan cepat nghampirinya dan riksa denyu nadinya. Dia tidak nemukan sesuatu yang aneh dan bernapas lega.

Randika riksa apa yang salah ternyata Indra telah ditembak oleh peluru bius.

ncabut peluru tersebut, kerutan dahi Randika semakin ngerut. Sepertinya sesuai dengan dugaannya bahwa pihak penculik sudah siap dengan segala kemungkinan termasuk cara ngalahkan Indra.

"Kakak seperguruan, maafkan aku yang lemah ini." Kata Indra dengan perasaan sedih.

"Sudah tidak apa-apa, serahkan sisanya padaku." Indra lalu tertidur dengan pulas. Setelah berpikir sebentar, akhirnya Randika mutuskan untuk nelepon Deviana.

Tidak ada petunjuk yang ngarah pada identitas pelaku, jadi ncari tanpa petunjuk hanya buang waktu saja. Jadi pilihannya adalah satu yaitu minta bantuan dari Deviana.

Dia akan minta polisi satu itu untuk riksa kara jalan ataupun kara pengawas yang ada di sekitar rumah Indra. Mungkin dengan itu dia bisa nemukan siapa pelakunya.

"Mau apa kamu?" Kata-kata Deviana terdengar dingin. Dia masih tidak lupakan rayuan gombal Randika sebelumnya.

"Aku butuh bantuan, aku ingin kamu riksa kara yang ada di dekat alamat Kalimas no 89. Aku benar-benar butuh informasi itu secepatnya."

Telepon itu hening sejenak, kemudian terdengar suara pelan. "Tunggu sebentar."

Deviana rupakan pribadi yang tegas dan njunjung tinggi kebenaran. Tetapi pada saat-saat penting, dia tidak akan ragu nolong Randika. Bisa dikatakan bahwa hubungannya dengan Randika itu sedikit spesial. reka mang teman, tetapi dia rela mbantunya asalkan tidak terlalu langgar hukum.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 246: Boneka Ginseng yang Dicuri on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.