Setelah mon bahagia itu njadi mon perasan, tiba-tiba pintu rumah reka bunyi.
"Ah itu harusnya temanku." Hannah dengan cepat nuju pintu rumah. Sesuai dugaan, ternyata seorang perempuan muda yang ngebel pintu rumahnya tadi.
Di depan pintu, Stella berdiri linglung ketika lihat Hannah. Wajah temannya ini segera tersenyum ketika sadar kembali.
"Han, wajahmu sudah kembali!"
"Iya!" Hannah benar-benar bahagia, dia dengan cepat narik masuk teman baiknya itu.
"Aku juga bawa obat tradisional yang kata kakekku bagus buat jerawat, sepertinya kita sudah tidak perlu mbutuhkannya."
Stella mperlihatkan suatu obat yang aneh.
Bisa dikatakan bahwa Stella rupakan salah satu teman baiknya Hannah. Kalau tidak, dia tidak akan mbagi rahasia ngenai jerawat di wajahnya itu dan mbawakannya obat.
"Han, ini teman kelasmu?" Tanya Randika sambil tersenyum.
"Iya, ini teman kamarku di asrama." Hannah tersenyum lebar. "Perkenalkan, ini adalah kakak iparku namanya kak Randika. Berkat dia jerawat di wajahku ini hilang semua."
"Ah?" Stella terkejut, dia tidak nyangka bahwa kakak iparnya itu yang nyembuhkan Hannah.
Perlu diketahui, Stella lah yang sebelumnya nemani Hannah ke rumah sakit. Sudah berkali-kali reka berdua berganti rumah sakit dan tidak ada hasil yang muaskan. reka berdua hampir pasrah dengan keadaan Hannah. Dia benar-benar tidak nyangka bahwa hari ini ternyata jerawat-jerawat itu telah hilang karena sehari sebelumnya wajah Hannah masih penuh dengan jerawat.
"Berapa lama kak Randika ngobatinya? Hasilnya benar-benar luar biasa, wajahmu juga jadi mulus." Tatapan mata Stella penuh dengan rasa penasaran.
"Hahaha, kakak iparku ini bukan orang sembarangan. Seluruh prosesnya tidak lebih dari 1 jam." Wajah Hannah sudah terlihat bangga. "Dia rebus bahan-bahan sampai jadi seperti lumpur dan ngoleskannya di wajahku."
Randika hanya tersenyum di samping, kenapa yang bangga malah adik iparnya?
"Berarti kakak iparmu ini dokter super." Kata Stella dengan tatapan mata kagum.
"Hahaha tidak sampai segitunya kok. Aku cuma ngerti beberapa hal ngenai pengobatan tradisional dan kebetulan penyakitnya Hannah tidak terlalu yang rumit." Kata Randika sambil tertawa. "Kalian berdua santai-santai dulu saja, aku akan mbereskan sisa-sisa tadi."
Randika lalu berjalan ke dapur dan mbereskan semua peralatannya yang tadi.
Hannah dan Stella duduk di sofa dan berbincang-bincang.
"Stel, terima kasih yang sudah mau nemaniku beberapa hari ini. Kalau tidak ada kamu, aku tidak tahu harus berbuat apa."
"Sudahlah tidak usah sungkan begitu." Stella tersenyum. "Bukankah kita ini saudara dan aku ini kakakmu yang tersayang? Bisa apa adik imut sepertimu ini tanpa kakaknya?"
Hannah tersenyum. "Kalau begitu kak, adikmu ini sudah kebelet ingin liburan."
"Kalau begitu hari ini kita akan bersenang-senang! Kamu pasti bosan tidak keluar rumah beberapa hari ini kan?" Stella lalu berpikir sebentar dan mbalasnya. "Bagaimana kalau ke mall Pondok Indah? Bukankah kita pernah mbahas ingin ke tempat ga center-nya?"
"Ide bagus!" Kata Hannah dengan wajah bahagia.
"Kak, kita mau ke ga center di mall Pondok Indah nih. Apa kakak mau ikut?" Hannah dengan cepat pergi nuju dapur.
"Kalian saja yang pergi, aku di rumah saja." Kata Randika sambil tersenyum. Pergi ke mall bersama perempuan? Pengalaman terakhirnya dia pergi bersama Inggrid diakhiri dengan trauma berat karena dijadikan pembawa tas belanjaan. Dan Randika yakin adik iparnya ini tidak jauh berbeda dengan kakaknya.
Lagipula dia sudah tidak sabar nunggu datangnya malam, lebih baik dia beristirahat dan nunggu Inggrid pulang.
"Eh!! Kok tidak asyik gitu sih kak?" Hannah lompat dan nyeret Randika. "Ayolah kak temani kita, aku janji kita akan bersenang-senang bersama."
"Iya, iya, iya, biarkan aku ganti baju dulu kalau begitu." Randika rasa tidak berdaya.
..........
Dengan terpaksa, Randika nyetir nuju mall bersama dengan Hannah dan Stella.
Mall Pondok Indah terkenal dengan ga center-nya yang besar dan banyak mainannya. Banyak orang muda yang berkumpul di sini.
Karena ga center ini makai sistem power card, Hannah dan Stella langsung ngisi kartu reka hingga 300 ribu. reka tidak sabar ncoba semua permainan yang ada.
"Eh, eh, kita coba main itu!" Tatapan mata Stella berbinar-binar ketika lihat permainan tembak-tembakan yang kosong.
"Ayo!" Hannah sejujurnya tertarik pada semua genre mainan. Dan ketika reka ncapai ga permainan bola basket, Randika ikut mainkannya.
Permainan ini cukup sederhana. Kita diberi waktu oleh sin sebanyak 30 detik, waktu akan bertambah 1 detik dan skor akan bertambah 2 ketika sebuah bola masuk di keranjangnya. Jadi secara teori, jika kamu cukup jago, kamu bisa mainkan permainan ini selama mungkin. Tentu saja, itu semua tergantung dari keahlianmu lempar.
"Aku duluan." Hannah dengan cepat nggesek kartunya. Bola dengan cepat turun dan Hannah mulai lemparnya satu per satu. Sayangnya, semua usaha Hannah itu hanya ngenai pinggiran keranjang tanpa satu bola pun masuk.
Namun karena Hannah miliki jiwa kompetitif, dia tidak nyerah dan lempar bola basket itu dengan semangat.
Randika natap adik iparnya ini sambil tertawa, sepertinya bola basket milik adik iparnya itu juga hampir lepas.
Namun karena semua lemparan Hannah tidak ngenai sasaran, waktu bermainnya makin nyusut dan akhirnya ncapai angka 0.
Orang-orang yang lewat tertawa dalam hati reka, tetapi karena yang bermain adalah perempuan jadi reka semua makluminya.
Hannah gang bola terakhir di tangannya dan lemparnya dengan sepenuh hati. Namun, bola tersebut malah air ball.
"Hahaha, skormu 0!" Stella tertawa. "Cupu sekali kamu."
Sekarang gilirannya Stella untuk beraksi. Dia mulai lempar bola basketnya satu per satu.
DUAK!
Lemparan pertamanya gagal.
SYUT
Lemparan keduanya bahkan tidak ngenai keranjangnya.
PROK!
Akhirnya lemparan ketiganya masuk!
Namun, Stella hanya berhasil masukan 1 bola saja selama bermain.
Semua yang lewat sudah tertawa, sepertinya ngamati bola basket kedua cewek itu lebih asyik daripada lihat reka bermain.
Hannah dan Stella rasakan tatapan-tatapan ngejek ini dan njadi jengkel. reka bertambah jengkel ketika Randika nertawai reka. "Hahaha, kalian berdua mang payah. Permainan ini juga nuntut kemampuan lempar jadi tidak cukup bermodalkan semangat."
"Kalau begitu kenapa kak Randika tidak ncobanya?" Hannah ndorong Randika ke depan sin.
"Baiklah." Randika minjam kartu Hannah dan mulai mainkannya.
PROK!
Bola pertama masuk dengan mulus, suara jaringnya benar-benar legakan hati. Randika lalu ngambil bola kedua dan berhasil masukannya kembali.
Semua lemparannya masuk dengan mulus dan suara sin permainan ini mulai heboh dan skor yang tertera sudah 100.
Orang-orang yang awalnya tertawa itu mulai terlihat serius. Hannah dan Stella sendiri sudah berdiri dengan linglung, ternyata ada yang bisa lempar segitu banyak?
Randika sendiri masih terus lempar bola, dia dengan santai ngambil bola dan lemparnya dengan sempurna. Suara bola masuk terus nerus terdengar, Randika sudah mirip dengan pemain NBA.
Suara sin mulai kembali heboh, skor Randika sekarang ncapai 300. Pada saat ini, keranjang basket itu mulai bergerak ke kanan dan ke kiri dengan kecepatan yang pelan.
Saat ncapai skor tertentu, keranjang basket itu akan bergerak. Awalnya akan pelan tetapi seiring berjalannya skor, keranjang itu akan bergerak makin cepat.
Semakin banyak orang yang berhenti dan lihat Randika. reka tidak bisa nyembunyikan rasa kagum reka, orang itu benar-benar jago.
Skor tertinggi di sin itu adalah 1120 poin, jadi bisa dikatakan bahwa itu batas tertinggi orang-orang selama ini. Apakah orang ini bisa matahkan rekor poin tersebut?
Pergerakan Randika terlihat santai dan stabil. Setiap kali dia lempar, lemparannya selalu masuk dengan mulus. ngenai waktu, karena Randika berhasil masukannya terus nerus, waktunya telah njadi 120 detik.
Dia sudah ndapat waktu 90 detik tambahan.
PROK!
Randika sekarang berhasil ncapai skor 500, sin kembali ngeluarkan suara dan keranjangnya mulai bergerak lebih cepat.
Orang-orang yang berkumpul sudah hampir nutup jalan, reka natap Randika dengan tatapan kagum.
"Gila, orang itu belum pernah leset sekali pun."
"Apa dia pemain basket profesional?"
"Sepertinya dia akan cahkan rekornya."
Orang-orang mulai berdiskusi satu sama lain, Randika dengan santai terus lempar bolanya. Skornya perlahan ncapai angka 800.
Keranjang basketnya sudah bergerak dengan sangat cepat, tetapi tiap tembakan Randika tidak pernah leset. ngenai waktu, dia sudah ncapai 400 detik lebih.
Orang-orang mulai nahan napas reka, sepertinya skor tertinggi itu akan terpecahkan.
Semua orang nunggu-nunggu mon ini.
PROK!
Kali ini Randika berhasil ncapai skor 1000, keranjang basketnya juga mulai bergerak lebih cepat lagi. Dengan kecepatan seperti itu, sangat sulit bagi siapapun untuk ncetak angka.
Namun dengan keahlian Randika, kecepatan seperti itu bukanlah apa-apa. Persentase bola masuknya masih sempurna.
Tidak butuh waktu lama untuk Randika ncapai angka 1120, satu bola lagi maka skor tertinggi itu akan terlampaui.
Semua orang sudah nepuk tangan reka, orang ini benar-benar luar biasa!
Hannah dan Stella sudah geleng-geleng, terutama Hannah. Sepertinya kakak iparnya ini ahli dalam lakukan apa pun.
Randika masih lempar bolanya dan orang-orang masih nonton dirinya. Sekarang dia sudah ncapai angka 3000. Keranjang basketnya sudah bergerak seperti kesetanan, orang-orang sudah tidak bisa lihat keranjang itu dengan normal. Namun, bagi Randika kecepatan itu masih bukanlah apa-apa dibandingkan peluru.
Tembakan demi tembakan ngenai sasarannya dengan cepat, tidak ada satupun yang leset.
Semua orang sudah bertanya-tanya pada diri reka, apa dia masih manusia?
Randika masih lempar, sekarang skornya ncapai 7000 dan belum ada satu bola yang leset.
Reviews
All reviews (0)