Font Size
15px

"Kak, apa itu?" Hannah natap jijik pada cairan hitam yang ada di mangkuk. Ketika ncium baunya yang aneh, dia serasa ingin muntah. Apa obat itu benar-benar bisa nyembuhkannya?

Randika tertawa. "Han, jangan lihat obat ini dari bentuknya. Semakin kental obatnya, semakin baik khasiatnya."

Randika nghampirinya dengan mangkuk obat itu di tangannya. Ketika dirinya semakin dekat dengan mangkuk itu, Hannah rasa isi dari mangkuk itu bergerak dan bentuknya benar-benar mirip dengan lumpur yang ada di got rumahnya.

Hannah sudah nyaris muntah. "Kak, aku tidak mau makainya."

"Lho kenapa? Kamu mau sembuh atau tidak?" Randika ngerutkan dahinya. Dia lalu duduk di sofa dan nyuruh Hannah duduk di sampingnya. "Cepat duduk di sampingku."

"Kak, cairan hitam yang kamu sebut obat itu benar-benar bau! Aku hampir muntah tahu!" Hannah rasa takut lihat obat aneh itu. Tidak mungkin perempuan yang seumur hidupnya dimanja dan makan makanan enak setiap harinya mau obat aneh dioleskan di wajahnya bukan?

"Aku tidak peduli rengekanmu itu. Aku sudah susah payah mbuatkan obat ini untukmu malah kamu rengek seperti ini. Lain kali aku tidak mau mbantumu kalau kamu terus seperti ini." Kata Randika. "Obat ini sangat manjur ketika masih hangat, kalau sudah dingin efeknya malah kebalikan."

"Aku jamin jerawatmu itu akan hilang selamanya jadi tahanlah sebentar dengan baunya. Kamu mangnya mau selamanya seperti itu?"

ndengar kata-kata kakak iparnya itu, Hannah njadi bimbang dan akhirnya mbulatkan tekadnya. "Baiklah, apa yang harus kulakukan?"

"Sudah berbaring saja dan serahkan padaku."

Hannah dengan patuh tiduran di sofa. Lalu Randika mulai naruh tangannya di dalam mangkuk dan ngoleskan cairan hitam yang kental itu di wajah Hannah.

"Kak, obatnya sangat bau!"

"Sudah diam dulu."

Tidak lama kemudian, wajah Hannah sudah teroles dengan sempurna oleh racikan obat Randika.

Hannah terus nggigit bibirnya sambil nutup matanya. Dia tentu saja ingin nutup lubang hidungnya, tetapi dia masih harus bernapas.

Obat ini benar-benar bau, jauh lebih bau dari gabungan kaus kaki bapak-bapak yang basah yang tidak dicuci berminggu-minggu dan bau ketiak. Jika bukan dipaksa oleh kakak iparnya ini, Hannah tentu tidak ingin dekat-dekat dengan obat ini.

"Han, racun di tubuhmu itu numpuk terlalu banyak jadi reka ncari jalan keluar. Untung saja keluarnya di wajah, kalau di punggung bisa-bisa kamu tidak bisa tidur karena rasa sakitnya."

"Sekarang aku minta kamu jangan bergerak sedikit pun sebelum kusuruh." Kemudian Randika ngeluarkan jarum akupunturnya dan nusukannya di berbagai titik di wajah Hannah.

Dengan bantuan jarum ini, obat kental itu mulai bekerja. Jerawat yang terendam oleh cairan hitam ini sebenarnya adalah nanah. Akhirnya, nanah tersebut keluar dari dalam jerawat dan ngalir tanpa henti, benar-benar njijikan.

Hannah rasa terjadi sesuatu di wajahnya dan rasa gatal mulai terasa di seluruh wajahnya. Dia rasa ingin nggaruk seluruh mukanya.

"Jangan bergerak atau usaha kita selama ini sia-sia. Kamu tidak ingin jerawatmu tambah lebih parah lagi kan?" Kata Randika dengan cepat, hal ini mbuat Hannah ketakutan.

lihat Hannah yang bersikeras lawan rasa gatalnya itu, Randika tidak bisa berhenti tertawa.

Setelah obatnya nyingkirkan nanah di dalam jerawat, Randika tinggal nunggu waktu. Sekarang tinggal nunggu obatnya itu resap ke dalam pori-pori wajah Hannah dan nendang keluar racun berlebihan di wajahnya.

Seiring berjalannya waktu, jerawat di wajah Hannah hampir hilang semuanya. Pada saat yang sama pula, racun-racun berbentuk cairan itu ikut keluar.

Racun itu bercampur dengan obat yang kental dan ngalir turun bersama-sama.

"Kak, apa masih lama?" Hannah sudah rasa bosan berbaring terus, rasa gatalnya itu sudah reda.

"Tunggu sebentar lagi, biarkan racunnya hilang sepenuhnya."

Setelah beberapa nit kemudian, ketika hampir selesai, Randika ncabut jarum akupuntur miliknya.

"Baiklah Han, kerja yang bagus. Sekarang kamu bisa ncuci mukamu."

ndengar kata-kata Randika tersebut, Hannah langsung mbuka matanya lebar-lebar. Dia dengan cepat nuju kamar mandi dan mbasuh mukanya.

Randika juga nyusul untuk ncuci tangannya. Bagaimanapun juga, bau dari obat lumpurnya itu benar-benar parah.

Hannah makai sabun cuci muka yang sangat banyak untuk nghilangkan baunya. Ketika sesudah dibilas, dia terkejut ketika lihat wajahnya yang sudah bersih dari jerawat-jerawat. Terlebih, bagian yang tumbuh jerawat sebelumnya itu lebih putih dan mulus daripada bagian yang lain.

"Wah luar biasa!" Hannah benar-benar senang. Sepertinya obat yang dioleskan Randika miliki efek mutihkan wajah, kulitnya juga njadi lebih mulus.

"Kak Randika mang hebat!"

Saking senangnya Hannah, dia langsung lompat dan ncengkeram erat Randika bagaikan koala.

"Terima kasih kak, terima kasih!" Hannah benar-benar senang karena bisa terlepas dari penderitaan ini. Dia tidak nyangka kakak iparnya bisa nyembuhkannya secara total.

Randika dapat rasakan kedua dada besar milik Hannah itu di tubuhnya, belum lagi kaki panjang nan mulus milik adik iparnya itu ngunci pinggangnya.

nikmati kenikmatan ini Randika tidak berkata apa-apa, dia hanya berdiri diam.

"Kak? Kenapa kok diam saja, apa ada yang salah?" Hannah bertanya pada Randika yang nutup matanya.

"Tidak apa-apa." Randika hanya tersenyum kecil. "Hanya saja Kamu sedikit berat."

"Bisa-bisanya kak Randika berbicara seperti itu!" Senyuman Hannah dengan cepat nghilang. "Aku gemuk di mananya coba?"

Hannah yang tidak terima itu ronta-ronta, tubuhnya makin erat luk Randika.

Namun pada saat ini, sepertinya dia ronta terlalu keras sehingga belahan dadanya secara tidak sengaja ngenai wajah Randika. Bisa dikatakan bahwa kepala Randika terkubur di belahan dada adik iparnya.

Dalam sekejap wajah Hannah njadi rah, dia rasa malu. Randika awalnya terkejut, tetapi dia tidak nolak hadiah seperti ini. Karena kepalanya terkubur cukup dalam, dia nghirup napas dalam-dalam dan mbiarkan aroma tubuh adik iparnya itu terpaku di benaknya.

Wajah Hannah sudah rah padam, dia dengan cepat turun dan lepaskan pelukannya. Dengan canggung dia berkata pada Randika. "Kak, karena hari ini kamu telah mbantuku jadi aku tidak akan nyeritakan kejadian ini ke kak Inggrid."

"Kalau begitu, apa boleh aku nikmatinya lagi sekarang? Baumu benar-benar wangi." Kata Randika dengan senyuman nakal.

"Jangan harap kak Randika bisa rasakannya lagi!" Namun, rasa kesalnya ini tidak bisa ngalahkan rasa bahagianya karena jerawat di wajahnya telah hilang. Dengan ini, dia bisa pergi keluar rumah lagi.

"Omong-omong kak, apa kakak tidak bisa mbuat obat yang sama tetapi tidak bau seperti itu? Wajahku benar-benar njadi putih berkat kak Randika." Kata Hannah sambil tersenyum.

"Oh? Berani bayar apa kamu?" Kata Randika dengan senyuman nakal.

natap senyuman itu, Hannah hanya berkata dengan senyuman yang tak kalah nakal. "Sebaiknya kakak pikir baik-baik masalah ini, kalau tidak tiap malam aku akan tidur sama kak Inggrid."

ndengar kata-kata itu, wajah Randika njadi panik. Dia sudah sebulan tidak bertemu dengan Inggrid, dia sudah ngatur rencana di benaknya untuk luapkan semua kerinduan itu bersama istrinya nanti malam.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 243: Kecelakaan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.