"Huh, aku juga tidak mau tahu kok dari awal!" Deviana malingkan wajahnya.
"Kamu terlihat imut ketika marah." Randika tertawa. "Aku akhir-akhir ini ada pekerjaan di luar negeri dan baru saja pulang. Selama perjalananku, aku bertemu dengan banyak perempuan cantik dan sexy. Kaki dan paha reka mulus-mulus dan dada reka semua besar-besar, jauh lebih besar darimu! Dan juga reka jujur dengan perasaan reka."
Ketika ndengar kata-kata tidak sopan ini, Deviana makin marah. "Kalau begitu kenapa kamu kembali? Bukannya kamu senang bersama reka?"
Pada saat ini, seorang polisi nghampiri dirinya dan nanyakan apa yang perlu dikerjakan.
"Gitu saja tidak tahu! Kalian semua tidak becus!" Deviana mbentak bawahannya itu.
Polisi itu terkejut, ada apa ini? Kenapa Deviana yang sosoknya seperti dewi itu tiba-tiba njadi iblis?
Randika diam-diam tertawa dalam hatinya. lihat Deviana yang sibuk, Randika hendak pergi. "Dev, kalau kamu ada waktu, kita pergi makan bersama ya."
mangnya siapa yang mau makan sama kamu? Deviana benar-benar muak dan ninggalkan Randika tanpa mbalasnya. Dia tidak ingin berhadapan dengan Randika lagi untuk hari ini.
Setelah beberapa saat, para kerumunan orang mulai bubar. Bagaimanapun juga, kejadian ini telah selesai dan para petugas sudah mulai berberes. Namun, si reporter TV tidak pergi begitu saja karena dia ingin wawancarai pahlawan yang telah nyelamatkan korban.
Randika berjalan ke lantai paling bawah dan lihat si reporter tersebut.
"Apakah kamu polisi yang telah nyelamatkan perempuan tadi?"
Randika terkejut tetapi dia tidak ingin narik perhatian yang tidak perlu, dia dengan mudah berbohong. "Orang itu masih ada di atas, sepertinya masih lama turunnya jadi bersabarlah."
Setelah itu Randika dengan cepat kabur, dia tidak ingin hidupnya yang damai di Indonesia ini njadi heboh.
....
Sesampainya di rumah, Randika mbuka pintu dan lihat Hannah sedang duduk di sofa. Sepertinya dia makai sebuah kain untuk nutupi wajahnya.
"Aku pulang." Kata Randika dengan keras. Ketika ndengar suara itu, wajah Hannah terlihat panik dan langsung lilitkan wajahnya dengan kain selendangnya itu.
"Kak Randika akhirnya kamu pulang."
Randika natap Hannah yang makai selendang itu seperti kerudung pengantin, mau tidak mau dia tertawa dalam hatinya.
"Han, sejak kapan kamu mau nikah?"
Hannah bingung harus mbalas apa. Randika nghampirinya dan ngusap kepalanya. "Atau kamu sedang berlatih njadi pengantin? Atau jangan-jangan pipimu jadi gemuk karena terlalu banyak makan?"
"Apaan sih kak kok penasaran begitu." Hannah benar-benar risau dengan wajahnya yang sekarang. Beberapa hari yang lalu, muncul jerawat di wajahnya. Terus tiba-tiba jerawat mulai tumbuh dalam skala banyak dan dia rasa gatal di seluruh wajahnya, mirip dengan gejala cacar air. Terlebih, jerawat-jerawat ini tidak bisa hilang. Semakin lama ia tumbuh, semakin banyak jumlahnya. Sekarang, rasa gatal itu mulai njulur ke rambut dan matanya.
Tentu saja, Randika sudah tahu penyakit apa yang dialami oleh adik iparnya itu tetapi dia masih ingin mpermainkannya.
"mangnya mana ada orang makai selendang di rumah? Apa kamu sedang nyembunyikan sesuatu?" Randika duduk di sampingnya. "Sudahlah lepas saja selendang itu, aku juga sudah lama tidak lihat wajahmu."
"Tidak, tidak, aku hanya sedang makai masker kecantikan saja dan ini tidak boleh dilepas selama seminggu! Jadi jangan paksa aku untuk mbukanya!" Hannah dengan cepat nolak. Beberapa hari ini dia sudah nderita karena rasa gatalnya itu. Dan juga karena jerawat yang begitu banyak, dia tidak berani keluar rumah. Dia takut dengan ejekan semua orang, jadi dia tidak akan nunjukan wajahnya yang buruk rupa ini pada siapapun!
"Han, kenapa kamu bersikap dingin seperti ini? Bukankah kita keluarga?" Kata Randika sambil tersenyum, dia juga lihat berbagai macam salep yang nempel di kain.
"Tuh maskermu sampai nempel seperti itu lho, bagaimana kalau kamu sesak napas?" Randika gang ujung selendang, namun dengan cepat direbut kembali oleh Hannah.
"Kak Randika seharusnya capek bekerja bukan? Sudah cepat istirahat sana di kamar, nanti sakit lho." Hannah ingin ndorong Randika dari sofa tetapi tidak bisa.
"Han, kamu benar-benar tidak ingin mbuka selendang itu?"
"Tidak mau!"
"Kalau begitu sayang sekali. Kalau cuma jerawat, aku bisa nyembuhkannya dengan mudah. Kalau begitu baiklah, aku akan istirahat di kamarku." Randika pura-pura kecewa tetapi dalam hatinya dia sudah tertawa keras.
"Kak tunggu! Barusan kamu bilang apa?" Ketika ndengar kata-kata Randika, Hannah terkejut. Kakak iparnya ini bisa nyembuhkan penyakit nyebalkan seperti ini?
"Hmm? Aku bilang aku ingin istirahat di kamar. Kamu benar, aku benar-benar capek setelah bekerja seharian." Randika tersenyum nakal. Dia ingin adik iparnya itu nyerah dan mbuka kain selendang itu sebelum nyembuhkannya.
"Bukan itu kak Barusan kak Randika bilang bisa nyembuhkan jerawat?" Hannah terlihat kesal.
"Hah? Kapan aku bilang seperti itu? Sepertinya aku keceplosan saja." Randika mbalikan badannya.
"Untung saja kamu tidak punya jerawat di wajah jadinya aku bisa istirahat dengan tenang."
"Tidak, tidak, kamu bisa istirahat di sini kok kak. Cepat duduk kembali di sini." lihat tingkah laku adik iparnya yang berubah 180 derajat itu, Randika tertawa dan duduk kembali.
"Kak, apa kamu benar-benar bisa nyembuhkan jerawat di wajah?" Hannah natap tajam pada Randika.
"Kenapa? Apa kamu punya jerawat di wajah?" Randika pura-pura tidak tahu.
"Kak aku akan mbuka selendang ini, tetapi janji ya jangan ketawa." Setelah konflik batin, akhirnya Hannah mbulatkan tekadnya.
"Jangan khawatir, mana mungkin aku nertawakanmu? Kamu kira aku sekejam itu? Jika aku tertawa maka aku akan ketabrak truk." Kata Randika sambil nepuk dadanya.
"Kupegang janjimu, jangan tertawa ya kak." Hannah yang ragu-ragu mulai mbuka selendangnya sedikit demi sedikit.
Akhirnya, wajah Hannah terbuka seluruhnya di depan mata Randika. Setelah lihat dengan kedua matanya sendiri, Randika masih terkejut bukan main!
Sebelum ini Inggrid njelaskan bahwa Hannah tidak mau keluar karena banyaknya jerawat di wajahnya dan nurut Randika itu sedikit dilebih-lebihkan. Tetapi setelah lihatnya sendiri, Randika tidak heran kenapa Hannah sampai rasa seperti itu.
Dari pipi hingga ke dahi, semuanya dipenuhi dengan jerawat. Jerawat-jerawat itu benar-benar bundar dan padat dengan pucuk berwarna keputihan dan kulit di sekitarnya kerahan, sepertinya jerawatnya itu ada nanahnya.
Bisa dikatakan bahwa seluruh wajah Hannah dipenuhi dengan bentolan-bentolan seperti itu, benar-benar ngerikan.
Tetapi mungkin karena frustasi, Hannah makan terlalu banyak sehingga pipinya njadi gemuk. Ditambah dengan jerawat seperti itu, dia sudah mirip dengan kodok. skipun terdengar kejam tapi dia benar-benar lucu.
"Hmm.. Han ini Uhuk! Ini agak" Randika berusaha dengan keras nahan tawanya, dia ncubit pahanya dengan keras. Hannah rasa lega karena kakak iparnya ini tidak nertawai dirinya. Sebelum ini, semua orang tertawa ketika lihat wajahnya dan yang paling nusuk hatinya adalah kakaknya sendiri juga ikut tertawa.
Tetapi semakin dia lihatnya, Randika tidak bisa nahan dirinya. "Han, kamu mirip kodok! Hahaha, aku sudah tidak tahan nahannya. Wajahmu benar-benar lucu hahaha."
Randika tertawa terbahak-bahak, wajahnya sampai neteskan air mata. Hannah sudah mirip dengan kodok, benar-benar lucu.
Hannah terdiam seperti batu ketika Randika tertawa sepuas hati.
Hatinya yang secara perlahan pulih itu tiba-tiba hancur kembali ketika lihat wajah yang tertawa itu.
Randika natap wajah Hannah yang depresi dan juga natap balik dirinya dengan tatapan tajam. Sepertinya matanya ingin nyampaikan bahwa dia sudah percaya dengan dirinya, jadi kenapa dia masih saja nghancurkan kepercayaannya dengan tertawa?
"Maaf, maaf. Aku sebenarnya tidak ingin ketawa. Tapi mukamu benar-benar lucu." Randika berhenti tertawa lalu terdiam. Namun, dia tertawa lagi!
"Biarkan aku tertawa dengan puas dulu, hahaha!"
lihat ketawa Randika yang berlebihan itu, Hannah langsung berdiri. "Kak! Kamu benar-benar keterlaluan!"
Hannah langsung berjalan nuju kamarnya.
"Ah! Tunggu Han, kakak cuma bercanda. Sudah jangan marah, aku akan nyembuhkan jerawatmu itu." Randika dengan cepat nangkap tangan Hannah.
Setelah berusaha mbujuknya beberapa saat, akhirnya Hannah duduk kembali di sofa.
"Pokoknya kak Randika tidak boleh tertawa lagi." Kata Hannah dengan wajah cemberut.
"Jangan khawatir, aku tidak akan tertawa lagi."
Randika natap Hannah dan Hannah natap Randika, reka berdua hanya duduk bertatap-tatapan. Namun, tiba-tiba Randika tertawa lagi.
.....
Akhirnya Randika sudah tidak tertawa lagi karena Hannah sudah mukulinya.
Dia tidak nyangka tinju adik iparnya itu kuat juga, hidungnya masih terasa sakit.
Setelah nyuruh Hannah untuk nunggu dirinya, Randika pergi ke apotek dan mbeli obat tradisional Cina.
Jerawat-jerawat di wajah Hannah ini bukanlah suatu fenona yang muncul secara ndadak, namun itu adalah hasil dari penumpukan.
Hannah itu pemakan segalanya, segala jenis makanan akan dia makan. skipun dia berasal dari Jakarta, namun kehidupannya di sana lebih diatur daripada dia di sini. Di kota Cendrawasih, segala jenis makanan dia coba satu per satu. Dan pada saat yang sama, sepertinya dia tidak sadar bahwa makanan yang dia makan itu ngandung lemak berlebih. Tentu saja ada berbagai macam faktor lainnya.
Penyakit seperti ini tidak sulit untuk disembuhkan. Alasan karena rumah sakit kurang efektif nyembuhkannya karena reka tidak tahu akar permasalahannya.
Setelah sesampainya di rumah, Randika dengan cepat ngambil cobek dan nggiling obat tradisional itu dengan cara tradisional.
Hannah mperhatikan usaha Randika yang dianggapnya percuma ini. Dia sudah ngunjungi 3 rumah sakit mahal sebelum ini dan masih saja belum sembuh. skipun dia ngerti kakak iparnya ini jago berkelahi, tetapi nyembuhkan penyakit adalah hal yang berbeda.
Randika masih sibuk nggiling dan rebus, proses ini cukup lama.
Seiringnya berjalannya waktu, akhirnya airnya ndidih. Pada saat yang sama, obat yang sudah digiling itu dimasukan dan dicampur hingga rata dengan air ndidih.
Setelah diaduk beberapa saat, sup obat itu mulai ngental dan warnanya benar-benar hitam. Sup obat milik Randika ini benar-benar sudah mirip dengan lumpur di got. Dan di bawah tatapan matanya, kakak iparnya itu ngambil sebuah mangkuk dan nuangkannya lalu bersiap untuk ngoleskannya di muka adik iparnya.
Reviews
All reviews (0)