Font Size
15px

Seorang pemuda ikut nimbrung dalam percakapan Randika. "Jika saja perempuan itu kenal dengan aku, dia pasti tidak punya keinginan untuk lompat seperti itu."

Randika ncuekinya, cara berbicaranya itu sudah bisa dipastikan dia adalah orang jomblo akut.

"Sudah berapa lama dia ada di atas?" Randika natap perempuan tersebut.

"Aku sudah ada di sini sejak satu jam yang lalu, polisi sudah nangani kejadian ini sejak tadi."

"Dia benar, semoga para polisi itu bisa yakinkannya untuk tidak lompat."

"nurutku sangat susah, soalnya ini masalah cinta." Orang di sebelahnya mulai ikut berdiskusi. Dalam sekejap kerumunan orang ini nyuarakan pendapat reka masing-masing.

Para petugas pemadam kebakaran sudah nyiapkan alat pencegahan berupa kasur angin berukuran raksasa. Jadi jika perempuan itu tiba-tiba lompat, maka kasur tersebut akan nyelamatkannya. Beberapa mobil polisi sudah terlihat parkir di sisi jalan dan garis kuning pembatas sudah dibentangkan agar tidak ada orang yang bisa masuk ke dalam gedung.

Kerumunan orang ini hanya ingin lihat hasil akhirnya, jadi kemungkinan reka nerobos masuk sangatlah kecil.

Randika natap ke atas dengan penglihatan supernya dan nyadari situasi sekarang masih dalam keadaan buntu.

Karena hati nuraninya, Randika tidak bisa tinggal diam dan bersiap untuk naik ke atas.

"Hei, apa yang kamu lakukan! Kau tidak bisa masuk." Kata polisi yang berjaga di depan gedung.

"Tenang saja, aku salah satu dari kalian. Aku hanya sedang tidak bertugas." Kata Randika, tangannya dengan cepat ngeluarkan dompetnya dan nunjukan sebuah kartu.

Polisi itu tidak dapat lihat jelas kartu tanda pengenal polisi itu, sedangkan Randika sudah nerobos masuk dan berlari nuju lantai teratas. Larinya benar-benar sangat cepat!

Polisi yang berjaga itu berpikir, kenapa orang itu ncurigakan sekali.

Setelah beberapa saat, dia rasa saku celananya kosong! Apa itu tadi dompetnya?

Polisi itu dengan cepat ncari dompetnya dan ternyata ada di dalam saku celana belakangnya. Kali ini dia benar-benar bingung, berarti kecurigaannya ini salah?

Pada saat ini, Randika sudah berhasil sampai di lantai teratas. Ketika dia berjalan nuju aula, dia lihat beberapa polisi sedang bersiaga termasuk Deviana.

"Siapa kamu? Tempat ini bukan untuk orang awam, cepat pergi sebelum kutangkap karena nghalangi." Seorang polisi nyadari kehadiran Randika dan ncegatnya.

Randika tidak dulikannya dan natap seluruh lokasi. Sepertinya seorang polisi sedang berusaha mbujuknya tetapi suasana hati ataupun ntalnya itu labil. Sedangkan polisi yang lain bersiaga di belakang, salah satu cara untuk nyelamatkan perempuan itu adalah mbangun komunikasi dan tidak bergerak secara sembarangan. Apabila perempuan itu lihat gerombolan polisi, bisa-bisa dia lakukan hal yang nekat.

Ini bukanlah misi penyelamatan sandera, kejadian seperti ini mang mbutuhkan waktu dan kesabaran.

"Dia sekutu kita, biarkan dia masuk." Pada saat ini, Deviana angkat bicara. Randika tersenyum padanya dan nghampirinya.

"Bagaimana situasinya?" Randika natap perempuan yang hendak loncat itu dari jauh dan bertanya pada Deviana.

Deviana ngerutkan dahinya. "Perempuan itu benar-benar labil, kita sudah berusaha mbujuknya hampir satu jam. Namun kurasa usaha kita sama sekali tidak berhasil."

"Masalah emosional mang seperti itu." Randika nghela napas.

"Kamu terdengar seperti pernah laluinya." Deviana natapnya dengan tajam, kemudian dia malingkan wajahnya. "Kalau dibiarkan seperti ini situasi akan bertambah gawat, kita sudah tidak berdaya sama sekali."

"Serahkan padaku." Kata Randika sambil tersenyum.

Deviana terkejut, tetapi setelah mikirkan bagaimana aksi Randika sebelumnya, dia ngangguk. "Baiklah kalau begitu. Tetapi jangan terlalu buru-buru maksanya, lakukan dengan perlahan saja."

"Sudah kamu tenang saja."

Randika masuki ruangan dan nghampiri perempuan malang tersebut. "Apakah kamu masih bimbang ingin lompat atau tidak? Lagipula mati dengan cara seperti ini tidak terlalu sakit."

Sesudahnya kata-kata itu terlontarkan, si negosiator terkejut. Kenapa orang ini tiba-tiba muncul? Dan kenapa dia malah nyarankan perempuan ini untuk lompat?

Perempuan itu terkejut dan noleh ke arah Randika.

"Ketika aku masih muda sepertimu, aku juga lakukan hal yang sama sepertimu." Randika tersenyum dan terus bercerita. "Aku juga sama sepertimu, ngalami kejadian yang pahit yang benar-benar nyayat hati. Bedanya mungkin gedungku jauh lebih tinggi darimu."

"Apa kamu dulu lompatinya?" Perempuan itu terus natap Randika.

"Benar, aku lompat." Randika tersenyum dan kembali ke masa lalunya. Pada hari itu, dia berdiri di atas puncak gedung berlantai 25, dan gerombolan pembunuh ngejarnya dengan senapan serbu dan bazoka. Randika mau tidak mau harus lompat.

Namun, Randika tidak bisa benar-benar lompat gedung setinggi itu. Bahkan jika dia adalah salah satu dari 12 Dewa Olimpus, dia tidak bisa nahan dampak dari lompat setinggi itu. Mungkin jika angkanya satuan, Randika tidak akan ragu-ragu lompat turun.

Pada saat itu, Randika lompat dan, dengan bantuan tali, turun 3 lantai sambil ndobrak kacanya hingga pecah.

Tentu saja situasinya sangat jauh berbeda dengan perempuan satu ini, tetapi dia harus mbangun kedekatan agar berhasil mbujuknya turun.

"Kamu lompat tapi masih hidup?" Perempuan itu terlihat bingung. lompat dari ketinggian yang jauh lebih dari ini dan bisa selamat?

"Yah sebenarnya itu tidak terlalu sakit. Bagaimana kalau kamu ncobanya sendiri?" Randika ngedipkan matanya. "Paling-paling rasa sakit itu hanya sedetik dan berikutnya kamu tidak akan rasakan apa-apa."

Polisi yang ndengar kata-kata Randika ini sudah berniat nghajar Randika, sepertinya orang itu nyari gara-gara.

Randika nambahkan. "Sejujurnya kamu juga tidak perlu mikirkan apa-apa. Jika kamu lompat sekarang, kamu tidak perlu lompat lagi seumur hidupmu."

"." Perempuan itu nganggap Randika ngejek kebulatan tekadnya untuk lompat. Dia yang awalnya duduk tiba-tiba berdiri.

"Eh tunggu sebentar!" Randika dengan cepat ncegatnya. "Sebenarnya ketika aku lompat itu, aku tidak bisa berjalan 2 hari setelahnya. Rasa sakit itu benar-benar mbuatku terbaring di rumah sakit. Setelah ndengarnya apa kamu masih berniat untuk lompat? Kalau cuma patah hati bukankah kamu lebih baik mbuka lembaran baru? Masih ada banyak pria yang baik di dunia ini."

"Apanya yang baik, semua lelaki itu pembohong!" Perempuan itu tiba-tiba mbentak.

"Yah itu bukankah kamu sendiri yang mudah dibohongi?" Randika terlihat bingung.

Perempuan itu terkejut dan para polisi sudah geleng-geleng. Orang ini sudah gila, pikir reka.

"..." Perempuan itu tidak bisa njawab.

"Sudahlah percaya aku, percuma kamu lakukan hal seperti ini." Wajah Randika berubah njadi serius. "Siapa mangnya yang tidak pernah ngalami hal buruk di dalam hidupnya? Kalau kamu tenggelam di kegagalanmu, kamu tinggal berubah dan mbuka lembaran baru. Lagipula bagaimana dengan orang tuamu? Apa kamu mau reka lihat berita tentang anaknya yang bunuh diri di koran? Apa kamu ingin nghancurkan hati orang tuamu?"

ndengar penghiburan semacam ini, para polisi nghela napas lega. Sepertinya orang itu masih bisa berpikir dengan jernih.

Perempuan itu njadi ragu untuk lompat setelah ndengar kata-kata barusan. Sejujurnya dia tidak berniat untuk lompat. Bagaimanapun juga, kabar pacarnya selingkuh itu mbuatnya tidak bisa berpikir jernih dan sekarang kepalanya sudah mulai kembali normal.

lihat perempuan itu mulai luluh, Randika justru ngatakan. "Tentu saja, kalau kamu tidak peduli dengan semua maka lebih baik kusarankan lompat. Toh orang tuamu tinggal mbuat yang baru."

APA?

Deviana sudah tidak tahan ndengar semua ini, kenapa Randika terus maksanya untuk lompat?

Perempuan itu njadi marah. Dia kira dirinya ini takut untuk lompat? Kau kira aku ndengar bualanmu sejak tadi hanya untuk ncari perhatian?

mangnya siapa yang takut untuk lompat!

Perempuan itu nghadap ke jendela dan nghentakan kakinya lalu lompat.

Habis sudah!

Semua orang yang ada di bawah sudah berteriak histeris. Perempuan itu benar-benar lompat!

Petugas pemadam kebakaran sudah bersiap-siap di kasur raksasa reka, ambulans juga sudah siaga ngantar korban ke rumah sakit.

Di bawah semua tatapan mata orang, perempuan itu layang turun dengan bebas nuju tanah.

Semua polisi yang ada di bawah tidak punya kesempatan untuk longo, reka juga bersiap-siap nangkap perempuan itu apabila keluar jalur dari kasur raksasa yang sudah disiapkan.

Tetapi pada saat ini, sebuah sosok lesat bagaikan angin lewat. Tangannya berhasil nangkap kaki perempuan itu!

Semua orang lihat seseorang bergelantungan di jendela dan berhasil nangkap kaki perempuan yang loncat itu di detik-detik terakhirnya.

Semua orang bersorak gembira, reka seperti sedang lihat adegan film action.

Di sisi lain, kara TV sudah rekam kejadian ini. Tajuk malam ini akan berisikan 'Aksi heroik seorang polisi berhasil nyelamatkan nyawa seorang perempuan'. Randika sama sekali tidak peduli, dia mbiarkan para polisi untuk nerima pujian tersebut.

Para polisi yang bersiaga di belakang Randika awalnya terkejut, tetapi reka langsung mbantu Randika untuk narik perempuan itu kembali.

"Kenapa kamu lakukannya seperti itu?" Deviana nghela napas lega. "Aku benar-benar takut tahu!"

Randika tersenyum. "Bukankah yang penting anak itu selamat?"

lihat perempuan itu dibawa keluar, Randika berkata pada Deviana. "Berilah anak itu bantuan agar bisa berdiri kembali."

"Kamu terdengar seperti orang bijaksana." Deviana tertawa. "Kamu persis bapak-bapak yang banyak pengalaman hidup."

"Omong-omong, dari mana saja kamu akhir-akhir ini? Kenapa aku tidak lihatmu selama sebulan ini?" Tanya Deviana.

"Kenapa mangnya? Kamu rindu aku?" Randika tersenyum dan ngusap pipi Deviana.

"Siapa mangnya yang rindu!" ndengar kata-kata Randika, Deviana dengan cepat njadi malu di hatinya. Namun dia berhasil mpertahankan mukanya agar tidak njadi rah.

Randika nggelengkan kepalanya. "Kalau begitu aku diam saja. Karena kamu tidak peduli denganku terus buat apa aku mberitahumu?"

"Kamu ini ya!" Deviana njadi marah.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 241: Lompat Saja Kalau Kamu Tidak Peduli on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.