Font Size
15px

lihat Randika yang berlutut dengan satu kaki, Apollo dan Brahman sama-sama tertawa. Apa hanya segini kekuatan Ares sang Dewa Perang?

Siapa itu 12 Dewa Olimpus? reka adalah individu terkuat di dunia, kemampuan masing-masing individu benar-benar luar biasa.

Tetapi sebagai salah satu yang terkuat dari 12 Dewa Olimpus, yang disebut-sebut Dewa Perang itu, berlutut? Bagaimana mungkin dia layak disebut Ares?

Randika berlutut dengan satu kakinya, mulutnya neteskan darah segar tetapi semua ini tidak masalah baginya. Permasalahannya adalah setelah nerima serangan Apollo, tenaga dalamnya yang ada di tubuhnya mulai kewalahan lawan kekuatan misterius di dalam tubuhnya.

Sekarang di dalam tubuhnya kedua kekuatan itu sedang berperang. Tenaga dalamnya lawan kekuatan misteriusnya.

lihat Randika yang nundukan kepalanya, tatapan mata Brahman terlihat jijik.

"Ternyata seorang Ares tidak pantas untuk waktuku." Brahman nggelengkan kepalanya. Yang dia inginkan hanya mbunuh orang yang kuat dan semuanya yang pernah dibunuh bukanlah orang yang lemah. Dengan terus lakukan hal seperti itu, dia bisa mbangun namanya!

"Apa kau sudah nyerah?" Wajah Apollo masih tersenyum ramah bagaikan seorang pangeran. Tetapi tangannya sudah ngandung tenaga yang ngerikan.

"Jika kau nyerah sekarang, kita tidak akan nyerangmu lagi." Kata Apollo.

"Jadi bagaimana keputusanmu?" Apollo bertanya sambil ludah ke arahnya.

reka berdua berdiri 3 langkah di depan Randika yang terengah-engah. Dari ekspresi wajahnya terlihat bahwa dia sedang kesakitan. Sebenarnya kekuatan misterius di dalam tubuhnya sudah ledak-ledak ingin keluar.

Apollo dan Brahman natap satu sama lain lalu berkata pada Randika. "Cepat putuskan nasibmu. Selama kau mberikan gelarmu dan tidak ngusik Bulan Kegelapan lagi, maka kami akan mbiarkanmu hidup."

Namun pada saat ini, Randika yang sedang berlutut itu berkata dengan susah payah. "Lari"

Tiba-tiba, Randika ngangkat kepalanya dan raung dengan keras. Tenaga dalam di tubuhnya sudah kalah dan digantikan dengan kekuatan misterius yang ngalir deras bagai lautan.

Seluruh energi itu keluar dari semua pori-pori kulit Randika!

"UAHH!"

Randika masih raung keras sambil nghantamkan tinjunya ke dadanya. Dalam sekejap, seteguk darah rah keluar dari mulutnya diikuti dengan ledakan energi yang besar!

Ekspresi Apollo dan Brahman berubah. Ketika reka rasakan energi itu, reka tidak bisa nahannya. reka harus mundur!

Benar-benar ledakan energi yang ngerikan.

Apollo dan Brahman ngerutkan dahinya, kenapa lawannya ini tiba-tiba seperti itu?

Ini bisa dikatakan aneh bagi reka, karena untuk orang biasa ataupun seorang ahli bela diri, energi reka tidak akan ledak dan njadi lebih kuat seperti itu.

Hal ini berbeda dengan kekuatan yang disembunyikan. Kasus Randika lebih mirip kerasukan energi yang besar dan tertelan olehnya.

Benar-benar fenona yang luar biasa.

reka berdua bisa rasakan bahwa Ares yang sekarang bukanlah Ares yang reka hajar tadi.

Namun, Apollo dan Brahman tersenyum. Sepertinya pertarungan reka akan njadi narik, mang pertarungan hidup dan mati harus penuh kejutan seperti ini.

Dan Randika pada saat ini sedang ngangkat tangannya perlahan. Wajahnya benar-benar rah dan mulutnya terus ngucurkan darah. Bola mata Randika juga rah, dia benar-benar mirip iblis yang baru rangkak dari dalamnya neraka.

Kedua wajah Apollo dan Brahman njadi serius, pertarungan akan dimulai.

lihat dua musuhnya berdiri di depannya, Randika berjalan perlahan ndekati reka. Setiap langkahnya terasa berat, seakan-akan kakinya terbelenggu oleh beban.

Apollo dan Brahman tidak bisa terus-terusan diam, reka nyerang. Kecepatan reka berdua sangatlah cepat, dalam sekejap reka sudah berada di dekat Randika. Tinju milik Apollo ngenai wajah Randika dengan telak sedangkan serangan telapak tangan Brahman ngenai dadanya Randika.

Untuk ngatasi serangan ini, Randika hanya ngepalkan tinjunya dan raung. Tiba-tiba ledakan tenaga dalam keluar dari dalam tubuhnya.

DUAR!

Udara seperti terhisap dan ledak bersamaan yang nghempaskan Apollo dan Brahman.

Di saat reka berdiri kembali, Apollo ngerutkan dahinya. Dia belum pernah rasakan ledakan tenaga dalam yang begitu kuat sampai bisa nghempaskan dirinya.

Serangan tinjunya yang ngenai wajah Randika dengan telak itu mampu numbangkan beruang dalam satu pukulan, namun sepertinya tinjunya itu bukan apa-apa.

Tangan Randika terlihat bergetar, tenaga dalamnya yang terus rembes keluar itu seperti ingin ledak lagi. Apollo dan Brahman sepakat untuk nyerang dengan taktik berbeda.

reka nghentakan kakinya dan ndarat di langit-langit gedung, setelah itu reka ndorong dengan kuat dan nerjang turun pada Randika!

Tetapi sebelumnya reka ndorong kaki reka, aura mbunuh dari lawannya semakin kuat dan tenaga dalamnya makin besar. Dan firasat buruk reka benar-benar terjadi!

Randika lihat kedua lawannya itu lompat tinggi dengan cepat. Dengan wajah tidak berekspresi, dia lompat dan nyusul reka dengan kecepatan yang luar biasa. Hampir dalam sekejap, Randika berdiri di hadapan reka berdua.

Apollo dan Brahman langsung bereaksi dan reka bertukar pukulan di udara. Namun sekarang, hanya butuh satu pukulan untuk mutuskan siapa penangnya. Randika dengan cepat layangkan pukulannya ke dagu Apollo sedangkan tangan kirinya beradu dengan telapak tangan Brahman.

Di bawah serangan tenaga dalam ini, Brahman terpental dan mbentur tembok.

Di sisi lain, Apollo tidak tumbang begitu saja. Dia layangkan serangan balik namun dapat dihindari Randika dengan mudah. Setelah 2-3 pukulan, Randika ngincar lengan Apollo.

Tetapi reaksi Apollo tidak kalah cepat, dia dengan lihai nghindar dan nyerang balik. Tetapi serangan Randika tiba-tiba berubah njadi tendangan yang mbuat Apollo terkena telak.

Dengan satu serangan ini, Apollo semakin yakin dengan dugaannya. Orang ini sudah bukan lagi Ares yang dia kenal, tidak mungkin seseorang bisa ngganti gaya serangan dengan mudah dan miliki tenaga dalam yang berbeda.

Ekspresi mata Brahman terlihat tajam, dia ngangguk ke arah Apollo dan keduanya dengan cepat nerjang ke arah Randika.

Di dalam gedung ini, ketiganya sudah bagaikan bayangan. Kecepatan reka sudah tidak bisa diimbangi oleh mata manusia. Yang terdengar hanyalah suara gesekan udara dan terkadang terdengar suara rintihan kesakitan dari Apollo dan Brahman.

Di bawah pertarungan yang sengit ini, satu per satu dekorasi ruangan mulai berjatuhan. Lukisan-lukisan di dinding sudah bolong bersama temboknya. Kursi yang ada di dekat reka sudah jatuh dan vas-vas bunga sudah pecah di lantai.

Bahkan jendela kaca itu sudah lama berpisah dengan kacanya.

Bulan Kegelapan natap reka bertiga dengan hati yang ketakutan. Dia sama sekali tidak bisa lihat pergerakan reka bertiga, bahkan dia sudah tidak tahu di mana reka berada.

Inikah pertarungan antar Dewa Olimpus?

Bulan Kegelapan justru lebih takut terhadap Randika. mangnya seberapa kuat seorang Ares itu? Di bawah serangan gabungan dari Apollo dan Brahman, dia masih bisa bertarung secara seimbang dengan reka.

Sepuluh detik kemudian, reka bertiga berpisah dan ndarat di lantai. Baju Randika sudah compang-camping dan terdapat luka goresan yang cukup banyak. Sedangkan Apollo dan Brahman, reka berdua ngalami luka yang lebih serius!

Rambut pirang Apollo sudah berantakan, rambut yang dulunya lurus dan halus itu sudah acak-acakan. Darah terlihat ngucur dari sudut mulutnya dan bajunya sudah bisa dikatakan hancur.

Kondisi Brahman tidak jauh berbeda dengan Apollo. reka berdua terengah-engah sambil natap Randika.

Randika natap reka berdua. Semakin lama dia bertarung, semakin deras tenaga dalamnya ngalir dan mbantunya lupakan rasa sakitnya. Yang ada di pikirannya adalah mbunuh, mbunuh dan mbunuh!

Apollo dan Brahman rinding ketika lihat wajah tanpa ekspresinya Randika.

Sebelumnya Ares kesusahan ngatasi serangan reka berdua, tetapi sejak ledakan energi yang aneh itu, daya tempur dan gaya bertempurnya njadi berubah. Apa-apaan itu?

Bola mata Randika yang rah ngeluarkan sebuah cahaya aneh. Sesudah itu, tubuhnya berubah njadi gumpalan asap dan nerjang maju.

Apollo dan Brahman masang kuda-kuda bertahan dan nyambut serangan Ares. Ketiganya bertarung dengan sengit dan sekarang serangan Randika berhasil ndesak reka.

Setelah rangkaian serangan, kedua tangan Brahman mbentuk simbol. Tiba-tiba, energi berwarna keemasan lesat ke arah Randika. Sedangkan Apollo, tinjunya sudah dilapisi oleh kekuatan penuhnya hingga bercahaya.

Randika ngangkat kedua tangannya dan lebarkan telapak tangannya. Ketiga tenaga dalam itu bertemu sekali lagi.

DUAR!

Bagaikan bom ledak, Apollo dan Brahman sama-sama terpental sambil ngeluarkan darah.

Kali ini keduanya sudah ketakutan, benar-benar tenaga dalam yang ngerikan.

Sedangkan Randika hanya berdiri diam di tempatnya dan rasakan darahnya ndidih. Sepertinya kekuatan misterius di dalam tubuhnya terus ngalir dari pori-pori seluruh tubuhnya.

Darah, darah, darah, aku ingin darah!

Randika berlutut dengan satu kaki dan lesat bagai anak panah, dalam sekejap dia sudah nyusul Apollo dan Brahman yang terpental.

Brahman berhasil nghindar dan tinju Randika nancap di tembok. Tiba-tiba, tembok itu retak dan retakannya njulur ke semua arah dan akhirnya runtuh bagaikan pasir.

Apollo mperhatikan Brahma yang dikejar Randika itu untuk ncari celah. Tetapi, tiba-tiba Randika berputar dan nendang Apollo dengan kecepatan cahaya!

skipun Apollo nggunakan lengannya sebagai tang, seluruh tubuhnya layang!

Serangan itu benar-benar ngerikan.

Bulan Kegelapan yang berada di samping juga terkejut. Apakah ini kekuatan dari seorang Ares? Lawannya itu bukan macam-macam, reka adalah salah satu dari 12 Dewa Olimpus dan kandidat kuat yang disebut-sebut sebagai Dewa Olimpus ke-13. skipun sudah digempur, kekuatan seorang Ares bisa ngalahkan reka! Benar-benar tidak masuk akal.

Bulan Kegelapan, yang sudah ketakutan, tiba-tiba rasa bahwa udara di sekitarnya robek. Lalu tak lama kemudian sesosok orang jatuh tepat di hadapannya.

Brahman yang sudah muntah darah itu terkapar kesakitan sedangkan napas Apollo sudah pendek dan seluruh tubuhnya sudah terluka.

reka berdua natap Randika yang masih bisa berdiri dengan kokoh. Rasa ngeri dan takut lintas di mata reka berdua.

Dia sudah bukan manusia!

mang terdengar dilebih-lebihkan, tetapi itulah kenyataannya. Sedangkan Bulan Kegelapan hanya bisa bergetar ketika ndengar kata-kata Randika.

"Inilah kekuatan penuhku."

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 235: Inilah Kekuatan Penuhku on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Elven Invasion cover
Trending now

Elven Invasion

Respro ·Action

MagicvsScience HumanvsElves EarthvsForestia MortalvsGod ThisisataleinwhichGoddessLunainordertosaveherplanetandcivilizationstartsainvasiononEarth,Wi...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.