Tidak lama kemudian, seluruh pasukan Ares berkumpul. Dipimpin oleh Randika dan dengan semangat yang mbara, reka semua pergi nuju lokasi Bulan Kegepalan!
Kota Kamakura.
Kamakura adalah sebuah kota kecil yang tidak jauh dari Tokyo. Hanya butuh waktu satu jam saja untuk ncapai kota ini dari Tokyo nggunakan kereta. Tempat ini njadi tujuan wisata populer para turis karena sejarah yang disimpannya.
Namun, di bagian barat dari kota ini, sebuah lahan yang luas telah dibeli secara besar-besaran dan sebuah gedung wah dibangun di atasnya.
Inilah markas dari Bulan Kegelapan.
"Bajingan!"
Bulan Kegelapan mbanting kursi yang didudukinya, kemarahannya sudah tidak tertahankan. Baru saja dia ndapatkan laporan dari bawahannya. Isi laporannya selalu sama dalam beberapa hari terakhir, pasukan Ares telah nghancurkan markas cabangnya dengan mudah. Ini sudah ke-21 kalinya dia nerima laporan ini.
Bisa dikatakan bahwa kekuatannya di Tokyo terus dikeruk dan semakin kecil tiap harinya. Jika ini terus terjadi, bisa-bisa Ares akan ngalahkannya cepat atau lambat!
"Apa kalian tidak bisa bekerja dengan becus!?" Bulan Kegelapan lampiaskan kemarahannya pada anak buahnya yang berlutut satu kaki di hadapannya.
Bawahannya itu sama sekali tidak berani lawan, dia hanya ngatakan. "Tuan, kekuatan dari pasukan Ares benar-benar ngerikan. reka bergerak secara efektif dan efisien, terlebih para pemimpin reka semuanya monster. Pasukan kita sama sekali tidak berdaya."
Bulan Kegelapan terdiam beberapa saat. Dia paham betul kekuatan dari pasukan Ares. Sebagai salah satu dari 8 letnan, kekuatannya yang paling lemah dari yang lain. Belum lagi kekuatan dari 5 jenderal dan 3 crownless king, reka sudah bukan lagi manusia. Kalau bukan karena serangan ndadak, Bulan Kegelapan tidak yakin bisa ngalahkan reka dengan adil.
"Aku tidak butuh keluhanmu itu, cepat pergi dari sini." Bulan Kegelapan ngibaskan tangannya.
Ketika bawahannya itu pergi ninggalkan ruangan, Bulan Kegelapan ngerutkan dahinya. Dia benar-benar terdesak. Jika saja jebakan yang dibuat oleh Shadow di pulau pribadinya itu bekerja dengan baik, dia tidak perlu cemas seperti sekarang ini.
skipun awalnya Shadow yang ngajaknya untuk berkhianat, ambisi Bulan Kegelapan untuk raih segalanya juga tidak kecil. Apalagi Randika waktu itu tidak ada di Tokyo, jadi dia dari awal sudah berniat untuk mberontak dan ngambil alih kekuatannya.
skipun dia telah nyusun serangan terencana berkali-kali di Indonesia dan jebakan yang dibuatnya bersama Shadow di pulau pribadinya, semua itu tetap tidak bisa mbunuh Ares!
Bajingan tengik!
Kenapa mbunuh salah satu dari 12 Dewa Olimpus bisa sesusah ini?
Bulan Kegelapan mulai resah. Dia tidak nyangka 2 sekutunya itu tidak mbantu nyerang Ares, jika saja iya maka dia sudah lama mati!
Bulan Kegelapan ngerutkan dahinya sambil berpikir keras. Dia mikirkan bagaimana respon penyerangan pasukan Ares ini. Untuk sesaat, dia rasa bahwa Randika akan mbunuhnya dalam waktu dekat ini.
Di saat dia nutup mata ini, tiba-tiba terdengar suara ledakan yang keras. Di depan gedung, misil dari bazoka mbombardir tempat ini. Dalam sekejap, tembok-tembok mulai lubang dan semua orang di dalam gedung wah ini rasakan getarannya.
Semua orang yang berada di gedung langsung berlarian keluar sedangkan Bulan Kegelapan rasakan firasat buruknya njadi kenyataan.
"Hahaha, apa tembakanmu mbuat kalian terpukau?" Jin yang nggotong bazoka miliknya tertawa keras. Di sampingnya ada Singa, Kyoko, si kembar, Dion, Polemos dkk.
Raihan mbawa pedang besarnya di punggungnya sedangkan Frank makai baju serba hitam. reka berdua natap para pasukan yang keluar dari dalam gedung.
Tidak butuh perintah dari Randika untuk para pasukan yang haus darah ini untuk mbunuh siapapun yang berani nunjukan batang hidungnya.
Semua anak buah Bulan Kegelapan ini njerit ketakutan ketika pedang ataupun hujan peluru yang ngarah kepada reka. Tetapi para pasukan Ares berwajah tenang terutama pasukan yang dilatih langsung oleh Serigala. reka sama sekali tidak mpunyai ekspresi di wajah ataupun mata reka.
Setiap musuh reka bantai satu per satu demi mbalaskan dendam saudara-saudara seperjuangan reka yang telah mati. Tidak ada yang bisa nghalangi reka!
Dalam sekejap, pasukan Ares ini nerjang masuk nuju gedung wah tersebut.
Raihan dan Frank, yang berada di sisi Randika, natap kedua pasukan bertarung dengan sengit. Pertempuran berdarah telah dimulai.
"Ayo kita bergabung." Kata Randika dengan nada serius.
Dengan cepat, reka bertiga masuki dan tempur.
Sepanjang jalan, pertarungan terus terjadi. Jin yang seperti kerasukan itu sudah mirip orang gila. Dia nebas salah satu tangan lawannya dan nggunakannya sebagai tongkat pemukul!
Prajurit yang dimiliki Dion juga tidak kalah bengisnya. Tidak ada musuh yang bisa mbunuh reka. Sedangkan pasukan milik Serigala, reka nggunakan tubuh reka untuk lindungi teman-teman reka dari hujan peluru.
Si kembar, Matthew dan Martin, nggunakan serangan gabungan ketika reka beradu tangan kosong. Karena reka kembar, serangan gabungan reka benar-benar sempurna.
Saat ini, angin kenangan bertiup ke arah pasukan Ares. Pasukan Bulan Kegelapan terus dipukul mundur terus-nerus.
Randika nendang pintu gedung dan nyadari bahwa masih banyak orang nerjang maju ke arahnya. Pedang besar Raihan nebas ke bawah dan mbukakan jalan. Dengan satu hentakan kaki yang kuat, Raihan lompat tinggi dan pedangnya njadi bercahaya.
Pedang yang penuh dengan tenaga dalam ini, nebas ke arah 20 orang dan mbelah reka njadi 2!
Setelah mbersihkan darah di pedangnya, Raihan natap ke arah Randika. Frank ngangguk dan berkata padanya. "Lumayan, sepertinya ilmu pedangmu bertambah."
Raihan ngerutkan dahinya dan mbalasnya. "Tentu saja, kau kira aku cuma tidur seharian?"
Frank tersenyum pahit, bukannya dia hanya tidur dan bermain pedang selagi yang lain sibuk bekerja?
Semakin reka masuk ke dalam gedung, beberapa puluh orang ndadak ngepung reka bertiga. natap salah satu pemimpinnya, alis mata Raihan berkedut.
"Aku tidak nyangka akan bertemu denganmu di sini Indy."
Wajah Raihan tiba-tiba njadi serius dan darahnya ndidih. Indy adalah rival lamanya yang juga berada di dalam daftar Dewa. Sebelumnya reka sering bertarung dan skor sekarang seri di angka 12. Tetapi sekarang kemampuannya telah berkembang, dia tidak tahu siapa yang akan nang di antara reka.
Di hadapan reka, pria paruh baya dengan jenggot berwarna putih natap Raihan lekat-lekat. Indy lalu tersenyum karena dia sudah lama tidak lawan rivalnya satu ini. Sedangkan di belakang Indy tepat, terlihat sosok yang sama kuatnya. Frank ngenali orang tersebut dan ngerutkan dahinya.
"Father Daniel dari Vatikan?"
Wajah Frank benar-benar ngerut. Father Daniel juga bukan orang sembarangan. Dia berasal dari Vatikan dan kemampuannya mbuatnya dikenal sebagai agen penghakiman dari Tuhan.
"Apakah Vatikan sudah jatuh ke tangan kegelapan?"
Wajah Frank berkedut.
"Aku sebenarnya tidak nginginkan ini terjadi." Kata Father Daniel yang makai baju serba putih.
"Apa kau ingin nyelesaikan pertarungan kita?" Raihan natap Indy.
"Maju sini." Jawab Indy dengan dingin.
"Kita akan nahannya." Kata Raihan dan Frank.
Randika ngangguk.
Raihan dan Frank langsung bertarung dengan dua ahli bela diri tersebut. Sedangkan Randika sendiri maju sendirian.
Siapapun yang berani nghalanginya akan dibunuhnya tanpa ampun.
Tidak butuh waktu yang lama bagi Randika untuk nemukan sebuah pintu kayu yang besar. Ketika dia mbukanya, dia lihat Bulan Kegelapan sedang duduk di kursinya.
Reviews
All reviews (0)