Font Size
15px

Orang yang dipukuli itu sudah pasti orang Indonesia, sepertinya dia turis yang sedang berkunjung ke Tokyo. Pada saat ini, dia ringkuk di tanah sambil lindungi kepalanya. Dia dikelilingi beberapa orang yang terus mukuli ataupun nendangnya.

Dia terus-nerus dihajar dan orang yang mukulinya itu berkata dengan Bahasa Inggris.

"Mati kau Gaijin! Pulang sana ke negaramu!" Katanya sambil marah-marah.

Jepang njadi negara yang didambakan banyak orang untuk ditinggali ataupun hanya sekedar dikunjungi. Banyak yang nganggap hidup di Jepang tidak ada bedanya dengan negara asalnya, bahkan orang Jepang terkenal ramah dengan orang asing dan pikirannya lebih terbuka.

Namun, tidak semua penduduknya miliki pemikiran modern seperti itu. Tindakan-tindakan diskriminasi juga tidak lepas dari negeri sakura ini. Sebagai contohnya adalah istilah Gaijin yang artinya adalah orang asing atau orang non-Jepang. Beberapa orang nganggap istilah itu miliki konotasi negatif.

Kejadian penindasan atau dikucilkan sudah sangat sering dirasakan oleh beberapa orang asing yang tinggal di Jepang. Dan apa yang dilihat oleh Randika sekarang adalah salah satu contohnya.

"Hentikan!" Teriak Randika pada orang yang nindas itu, wajahnya benar-benar terlihat dingin. Orang-orang seperti inilah yang paling tidak disukai oleh Randika, karena baginya orang rasis selalu nganggap dirinya superior daripada yang lain.

"Hah? Siapa kamu?" Salah satu dari reka noleh ke arah Randika.

Teman-temannya lihat Randika yang berteriak pada reka dan berhenti mukul.

"Ingin jadi sok pahlawan?" Kata salah satu dari reka.

"Pergi sana bocah atau kuhajar juga kau!"

"Jangan coba-coba nolong Gaijin ini atau kau akan bernasib sama!"

........

reka semua ncueki Randika dan neruskan pemukulannya pada orang Indonesia itu.

Randika ngerut dahinya dan nghampiri reka lebih dekat lagi.

Ketika reka lihat Randika yang ndekat, reka berhenti mukul.

"Sudah kubilang jangan ikut campur bukan?"

"Hei coba lihat, perempuan yang bersamanya boleh juga wajahnya."

Para berandalan itu ngangguk dan mulai ngepung Randika satu per satu, sedangkan orang Indonesia itu terus ringkuk kesakitan di tanah.

Randika sudah terkepung dan semua berandalan itu sudah ngusap-ngusap tangannya ketika lihat Randika.

"Sudah terlambat untuk kabur." Ryu, ketua dari berandalan ini, berkata sambil ndengus dingin.

"Siapa yang bilang aku akan kabur?" Kata Randika dengan nada dingin. "Cukup aku seorang untuk nghabisi sampah seperti kalian."

Ryu natap tajam Randika dan layangkan pukulannya. Namun, Randika sama sekali tidak bergerak. Dia hanya nangkap tinju Ryu tersebut dan nariknya dengan kuat. Dalam sekejap Ryu terjatuh dan ngenai temannya.

Teman-temannya itu mulai tertawa. "Ealah ternyata cuma segini toh kemampuanmu Ryu, lawan Gaijin saja tidak bisa."

"Jangan harap kamu bisa tidur sama cewek itu, sini biar aku saja."

Ketika teman-temannya nertawai dirinya, wajah Ryu sudah rah. Sepertinya orang di depannya itu bukan mangsa yang lemah seperti sebelumnya.

Ketika Randika ndengar perkataan teman-temannya Ryu itu, dia makin marah. Dia ingin mberi pelajaran pada semua berandalan ini!

Ryu langsung berdiri dan nerjang kembali tetapi dia dengan cepat dihajar kembali oleh Randika. Terakhir, Randika remas kuat tinju Ryu itu hingga dia ringis kesakitan.

Tangan Ryu njulang tinggi tetapi tubuhnya ringkuk seperti udang, rasa sakit yang dirasakannya luar biasa.

Teman-temannya mulai ngerutkan dahinya. lihat temannya itu tidak berkutik, reka semua mulai nyerang Randika.

Randika masih gang erat tangan Ryu, dia bergeser sedikit untuk nghindari serangan lawan. Kakinya dengan mantap nendang siapapun yang ndekat. Berandalan itu sama sekali tidak berkutik, satu per satu nerima tendangan Randika dengan telak.

Namun, serangan dari belakang mbuat Randika tidak sempat nghindarinya. Dia ngangkat tubuh Ryu dengan satu tangannya dan mbuatnya njadi tang. Pukulan itu mbuat Ryu terjatuh dan nangis seperti bayi.

Ketika seseorang kembali ingin nyerang Randika dari belakang, Randika sudah siap dan mukulnya hingga terpental. Lawannya mulai nyerangnya dari arah kanan dan kiri.

Dalam sekejap, semua orang yang nerjang ke arah Randika sudah dihajar hingga babak belur oleh Randika. Kurang dari 10 detik, semuanya sudah terkapar kesakitan di tanah.

Semua berandalan itu natap Randika dengan tatapan tidak percaya. Kenapa orang itu kuat sekali?

Apa semua Gaijin ternyata sekuat ini? Kalau benar, reka tidak berani berbuat macam-macam!

Kaori yang lihat kejadian ini dari awal sudah bersorak dan bertepuk tangan. Orang Indonesia yang diselamatkan Randika juga terpukau, orang itu kuat sekali!

Para berandalan itu dengan cepat berdiri dan kabur dari tempat ini. Ketika sudah tidak ada orang, Randika berjalan nghampiri orang Indonesia yang masih berbaring di tanah.

"Ingatlah, penindas akan selalu nang jika kau tidak pernah lawan balik." Kata Randika dengan wajah serius. Dia lalu nghampiri Kaori dan pergi dari tempat itu.

lihat punggung Randika yang njauh, orang Indonesia itu longo. Dia berusaha ncerna kata-kata Randika lalu tatapan matanya berubah njadi tatapan kagum.

Apa yang Randika tidak tahu adalah kejadian hari ini rupakan awal mula kebangkitan geng orang Indonesia yang nakutkan di Tokyo.

Tetapi, itu rupakan cerita yang masih jauh di masa depan.

Randika lanjutkan kencannya bersama Kaori, sekarang reka berdua sedang nuju ke taman.

"Ran, kamu tadi sungguh hebat." Kaori benar-benar terpukau, kepalanya sudah beristirahat di pundak Randika. Kaori bangga lihat rasa keadilan dari pacarnya ini.

Dan ketika reka berdua berjalan dengan bahagia di taman, sesosok pria nyadari kehadiran Kaori. Awalnya dia bersemangat ketika lihatnya tetapi langsung ngerutkan dahinya ketika lihat dia bergandengan tangan dengan seorang pria.

Pria tersebut langsung ndatanginya.

"Kaori."

Kaori noleh dan ekspresi wajahnya langsung berubah. Pria itu adalah orang yang terus ngejar dirinya yang bernama Shou. Bisa dikatakan sifat Shou dengan Haru itu sama jadi Kaori tidak terlalu suka dengan Shou sejak awal.

Namun, ketika bertemu dengan orangnya secara langsung, Kaori tetap bersikap sopan.

"Halo Shou, sudah lama tidak bertemu." Kaori tersenyum.

Mata Shou langsung tertuju pada Randika.

"Temanmu?" Shou natap Randika dari atas ke bawah.

"Dia pacarku." Kata Kaori. Kata-kata Kaori ini tidak salah, hubungannya dengan Randika sudah seperti pasangan yang bahagia. skipun Randika tidak ngklarifikasikan hubungan reka, Kaori sudah nganggap Randika seperti pacarnya sendiri. Dan hal ini juga bisa mbuat Shou berhenti ngejar dirinya.

Ketika Shou ndengar ini, ekspresi wajahnya langsung nunjukan ekspresi tidak percaya. Dia langsung berkata dengan nada dingin. "Jika kamu ingin aku berhenti ngejarmu, kamu tidak harus bersandiwara sejauh ini. Lagipula, bukannya kamu barusan saja putus dengan Haru? Bagaimana mungkin kamu sudah nemukan pacar secepat ini?"

"Apa yang dikatakannya benar." Randika tersenyum. "Kamu tidak percaya?"

Shou nggelengkan kepalanya.

Namun, Randika tersenyum lebar lalu, di bawah tatapan mata Shou, dia luk pinggang Kaori dan nciumnya. Terlebih, tangan kanannya mulai berenang-renang di dadanya Kaori.

Pemandangan di depan matanya ini rupakan pukulan telak bagi Shou.

Terlebih, tangan Randika yang raba dada Kaori itu semakin mbuat Shou marah.

Kaori tersipu malu setelah bibir Randika terlepas dari bibirnya. Dengan begini, fakta bahwa Randika adalah pacarnya sudah tidak terbantahkan.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 231: Dia Pacarku on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

I Became The Academy Necromancer cover
Similar genre

I Became The Academy Necromancer

172 ·Harem

Scream,Shriek.Wakeupandpourtherestofyourgrudgesontome.ThenI’ll...Readmore Scream,Shriek.Wakeupandpourtherestofyourgrudgesontome.ThenI’llsaveyou.Col...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.