Font Size
15px

Penjaga yang mbawa cambuk itu terkejut bukan main. Ketika para bawahan Randika ini lihat sosok Randika keluar dari balik asap, reka semua terdiam.

Seluruh penjara bawah tanah ini njadi hening seketika.

Polemos natap tuannya lalu tersenyum lebar, dia tahu bahwa Randika pasti akan datang untuk reka!

Semuanya kurang lebih tersenyum dan neteskan air mata ketika sadar dari kelinglungan reka. Spontan reka semua berteriak satu nama.

"Ares!"

"Ares!"

"Ares!"

........

Suara seruan ini mbuat suasana penjara bawah tanah ini njadi riuh, sedangkan para penjaga njadi panik.

reka tidak nyangka bahwa penjara bagian atas yang dikenal sangat ketat itu akan dibobol.

"Hei, aku tidak nyangka kamu akan secengeng itu." Kata Singa pada Jin.

"Sialan! Siapa mangnya yang nangis? Mataku cuma kelilipan tahu!"

Polemos hanya tertawa lihat kawannya itu.

"DIAM!" Penjaga itu ncambukan cambuknya pada ketiga tahanan tersebut.

reka bertiga sudah tidak peduli dengan rasa sakit ini, reka sudah dipenuhi dengan rasa sukacita dan bahagia.

Randika berjalan maju ke depan, dia nuju ke sel penjara paling dalam. Di bawah tatapan para pengikutnya, Randika berhenti di depan sel milik Catherine. reka berdua saling tersenyum pada satu sama lain.

Serigala, Kyoko, Raihan dll mbantai para penjaga yang ada dan lepaskan para pasukannya.

"HOI! Kyoko-ku yang manis, tolong lepaskan pangeranmu ini dulu. Aku sudah lama terikat dan tubuhku sudah gatal ingin lukmu. Tolong lepaskan aku." Teriak Jin.

"Cih kau ini benar-benar nyedihkan, bisa-bisanya minta tolong pada perempuan?" Kata Singa.

Kyoko yang ndengar seruan minta tolong itu hanya natap Jin dengan dingin dan berjalan nuju sel lain.

"Ah. Tatapan dingin itu benar-benar nikmat!" Nampaknya Jin adalah seorang masokis.

Satu per satu penjaga penjara bawah tanah ini dibunuh tanpa ampun. reka sama sekali tidak nyisakan satu orang pun untuk hidup.

Setelah lepaskan Catherine, Randika pergi nuju sel tempat Polemos, Singa dan Jin berada. Randika natap kondisi para bawahan andalannya yang nyedihkan itu lalu tatapannya jatuh pada si penjaga yang mbawa cambuk.

Penjaga ini sedikit getaran di dalam hatinya, dia sepertinya tahu bahwa hari ini adalah hari terakhirnya hidup. Dia raung keras dan nerjang ke arah Randika. Tetapi kecepatan Randika benar-benar cepat, tinjunya sudah layang dan penjaga itu hanya bisa rasakan rasa sakit nyelimuti dirinya dan kehilangan kesadarannya.

Randika tidak mbunuhnya, aslinya dia ingin nangkap para bawahan Bulan Kegelepan ini dan berurusan dengan reka apabila masalah ini sudah selesai. reka ini telah nyiksa orang-orangnya, Randika tidak ingin mberikan jalan mudah berupa kematian bagi reka.

lihat si penjaga yang sudah tidak sadarkan diri itu, Randika ngikatnya dengan cambuknya itu. Untuk mastikan dia tidak akan lari, Randika matahkan salah satu kakinya.

"Tuan, Anda akhirnya datang juga." Jin sudah berurai air mata, wajahnya tersenyum lebar.

"Hei kau ini cewek apa cowok sih?" Singa rinding lihat Jin yang ganas di dan tempur itu njadi cewek polos di depan tuannya itu. Dia bersumpah akan njauhi Jin setelah keluar dari penjara ini.

Randika ngepalkan tangannya dan nghantamkannya pada rantai yang ngikat reka bertiga. Tanpa rantai itu, ketiganya sekarang bisa berjalan dengan bebas.

"Bagaimana keadaan kalian?" Randika bertanya.

"Lumayan." Polemos ngangguk, skipun tubuhnya penuh luka, kebanyakan luka itu hanya luka luar.

"Berapa orang yang tersisa?" Tanya Randika.

ndengar pertanyaan ini, ketiganya langsung terdiam untuk beberapa saat. Lalu Polemos sebagai salah satu jenderal ngatakan. "Dari delapan letnan, hanya 5 yang tersisa. Pengkhianatan Harimau dan Bulan Kegelapan mbuat sebagian pasukan kita ngikuti reka. Yuna masih nghilang dan Gilbert terbunuh."

Randika hening sejenak. skipun dia tahu situasi pasukannya itu, ndengar hal ini masih mbuatnya tidak nyaman.

Dari 8 letnan yang ada, hanya tersisa 5 orang. Jin, Singa, Yuna dan si kembar (Matthew dan Martin). Gilbert telah tewas dan yang paling nyedihkan adalah Harimau dan Bulan Kegelapan yang berkhianat.

"Di antara 5 jenderal, hanya Carlos yang tidak selamat." Polemos kembali lanjutkan. Di antara 5 jenderal, hanya tersisa 4 yaitu dirinya, Dion, Kyoko dan Serigala.

Pada saat ini, Catherine datang nghampirinya dan berkata dengan nada yang lembut. "Jatuhnya istana kita adalah kesalahanku, tolong tuan nghukumku. Aku telah mpermalukan nama Anda."

"Tidak ada gunanya nyesali apa yang telah terjadi, hal yang paling kita perlukan adalah rencana untuk rebut tempat kita kembali." Randika ngelus kepala Catherine yang lembut itu.

mang hari ini dia telah kalah, namanya sebagai yang tidak terkalahkan di dunia bawah tanah telah tercoreng berkat Bulan Kegelapan dan Shadow. Tetapi reka akan rebut kembali kehormatan reka!

Matthew dan Martin bagai pinang dibelah dua, wajah reka benar-benar mirip. Ketika Randika lihat wajah semangatnya, dia semakin yakin bahwa ngambil alih istananya bukanlah impian.

............

Randika keluar dari penjara terkutuk itu bersama dengan para bawahannya. Tidak butuh waktu lama untuk dia ngabarkan berita ngejutkan ini pada dunia. Tajuk utama setiap berita adalah hancurnya penjara terketat di dunia oleh serangan teroris. Tidak ada saksi yang bisa njelaskan apa yang telah terjadi di penjara di pinggiran kota Tokyo tersebut. Total 200 penjaga telah mati ngenaskan.

Sesuai apa yang diramalkan oleh Randika, hari ini tidak akan ada lagi yang namanya penjara Shinra!

Di sebuah rumah, yang cukup jauh dari lokasi penjara, Randika duduk di depan ja dan semua bawahannya berkumpul dan nghadap padanya.

"Kita tidak punya informasi ngenai Bulan Kegelapan." Catherine mulai diskusi kali ini. "Langkah pertama kita adalah ngetahui di mana markas utamanya."

"Untuk ndapatkan informasi tersebut, akan sangat sulit bagi kita ngingat Shadow mbantu Bulan Kegelapan. Jadi nurutku kesempatan terbesar kita adalah ncari keberadaan Yuna." Catherine nyampaikan pendapatnya.

Frank ngangguk. "Apa yang dikatakannya itu benar. Aku lihat sendiri bahwa Bulan Kegelapan ngirim orangnya untuk nangkap Yuna. Jika kita berhasil nemukan Yuna, kita bisa ndapatkan lokasi Bulan Kegelapan."

"Bagaimana nurutmu tuan?" Catherine noleh ke arah Randika. Semua tatapan mata sekarang nuju Randika.

"Keselamatan Yuna adalah yang terpenting." Kata Randika dengan tegas.

Semua orang mbungkuk dan nerima perintah tersebut. Randika lalu berkata kepada empat letnan. "Bawa orang-orangmu dan cari keberadaan Yuna. Kalian juga bisa nginterogasi sipir yang kita bawa sebelumnya."

"Siap." Keempat letnan, Singa, Jin, Matthew dan Martin langkah maju dan nerima perintahnya.

"Kita juga perlu ngamati pergerakan musuh di istana kita." Randika noleh ke arah Polemos.

Polemos maju dan mbungkuk, dia nerima misi ini dengan lapang dada.

skipun Randika sudah tidak sabar rebut istananya kembali, dia tidak bisa bertindak gegabah. Dengan ngetahui detail-detail kecil akan sangat berpengaruh dengan hasil akhir.

Perlu diingat bahwa kekuatan Bulan Kegelapan sudah rangkul Tokyo, hal ini benar-benar di luar dugaan Randika. skipun ada Raihan dan Frank di sisinya, reka akan lawan sebuah pasukan jadi reka harus benar-benar siap ketika nyerang.

Terlebih, pasukannya yang berhasil larikan diri itu tidak cukup untuk nyerang sebuah benteng. Semua jenderal dan letnan hampir kehilangan 80% dari pasukannya, hanya Kyoko lah yang cuma kehilangan 30%.

Oleh karena itu, Randika ngirim Polemos yang pandai nyamar untuk nemukan pola penjagaan di istana bawah tanah itu.

"Tuan, sepertinya kita perlu ngisi kekosongan pasukan kita ini." Catherine nambahkan.

"Masalah itu bisa diurus nanti." Kata Randika. "Jika kita berhasil mbunuh Bulan Kegelapan, kekuatannya akan berpindah tangan pada kita. Aku sekarang ingin kalian fokus ncari informasi dan ngumpulkan senjata yang ada."

Catherine ngangguk.

Randika lalu natap ke arah awan yang ada di jendela, seakan-akan dia bisa lihat wajah Bulan Kegelapan yang ngejek dirinya itu.

Aku sendiri yang akan mbunuhmu dengan kedua tanganku atas nama saudara-saudaraku yang telah kau bunuh!

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 210: Saatnya Pembalasan! on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.