Font Size
15px

Di bagian bawah tanah dari penjara Shinra ini, para tahanan yang ditahan di tempat tersebut lebih ngerikan daripada yang ada di atas. Para bawahan Randika berada di bagian bawah tanah ini.

Sekarang Randika bersama para bawahannya itu berjalan di bagian sel penjara umum dan segera nuju pintu masuk bagian bawah tanah.

Pada saat ini, para tahanan lihat rombongan Randika berjalan dengan santai lewati reka. Satu per satu dari reka mulai minta tolong pada Randika.

"Tolong lepaskan aku!" Teriak penatua yang ompong itu.

"Hei bos, akan kubayar berapa pun yang kau mau! Cepat keluarkan aku!" Teriak tahanan yang tubuhnya dipenuhi tato.

Semua tahanan berteriak pada Randika, mohon untuk dilepaskan. Dalam sekejap penjara ini njadi riuh dan berisik.

"Serigala, apa pasukan yang kamu miliki itu cukup?" Randika natap seluruh tahanan yang nyerukan namanya itu.

Serigala, rupakan salah satu dari 5 jenderal dari pasukannya, rupakan orang yang pendiam. Karakter orang ini benar-benar mirip serigala. Dia tidak pandai berkomunikasi dan pendiam, tetapi sifatnya akan berubah njadi kejam dan barbar ketika sudah bertempur. Perintah Randika akan dilakukannya tanpa banyak tanya.

"Tidak cukup." Jawaban serigala selalu singkat dan jelas. Pertempuran perebutan istana bawah tanah yang terakhir benar-benar sengit. Serangan Bulan Kegelapan itu benar-benar ndadak dan nghasilkan korban yang begitu banyak di kedua belah pihak. Di antaranya, pasukan yang dipimpin serigala nderita yang paling banyak. Oleh karena itu, pasukannya sudah hampir tidak miliki orang lagi.

Randika ngerti karakter bawahannya ini jadi dia lah yang berinisiatif untuk bertanya.

"Bagaimana kalau para tahanan ini njadi anak buahmu?" Randika tersenyum. "Siapa yang tidak kompeten bagimu bisa kau bunuh."

Serigala nampak terdiam dan natap para tahanan lalu ngangguk. "Baiklah."

Pasukan yang dipimpin oleh serigala sama tenangnya dan sama kejamnya dengan pemimpinnya. Tidak peduli bagaimana liar ataupun tidak setianya para tahanan ini, serigala miliki todenya sendiri untuk mbuat reka njadi prajurit yang patuh dan siap ngorbankan nyawanya.

Randika ngangguk dan berjalan maju.

Tidak lama kemudian, reka tiba di tangga yang nuju bagian bawah tanah. Yang nghalangi reka sekarang hanyalah pintu yang tertutup.

Pintu ini rupakan pintu besar yang besar dan kokoh, hampir mustahil untuk ndobraknya.

Di dalam pintu itu, lampu-lampu nyala dengan terang, mbuat bawah tanah ini sama terangnya dengan siang hari. Banyak tahanan yang ditahan di tempat ini, semuanya tampak terikat di bagian kakinya dan tangannya. Apabila diperhatikan, sepertinya tempat bawah tanah ini adalah ruang penyiksaan.

Dan semua tahanan ini rupakan anggota dari pasukan Ares!

Tidak diragukan lagi, ruang penyiksaan ini hanya berisikan para pasukan milik Randika. Semua orang di sini terluka dan bahkan beberapa dari reka sedang ngucurkan darah dengan deras. Luka-luka reka sama sekali tidak ndapatkan perawatan.

Di bagian paling dalam, terdapat seorang perempuan berkulit putih dan terlihat sangat rapuh. Dia sama sekali tidak terikat dan sendirian di sel penjaranya yang nyedihkan itu.

Catherine adalah salah satu dari crownless king dari pasukan Ares. Mungkin dalam kasus ini dia adalah crownless queen.

Catherine sendiri bukanlah seorang ahli bela diri seperti Raihan ataupun Frank. Sebaliknya dia hanyalah orang biasa. Namun, sebagai salah satu crownless king, statusnya sama tingginya dengan Frank dan Raihan. Bisa dikatakan bahwa spesialisnya adalah kecerdasannya!

Di pertempuran-pertempuran sebelumnya, Catherine mberikan masukan dan saran pada strategi reka, hal inilah yang mbantu pasukannya Randika ini ngalahkan lawan-lawannya yang kuat. Di saat reka sudah ncapai puncak dan ndirikan istana bawah tanah, Catherine lah yang njadi pemimpin selagi Randika tidak ada.

Bisa dikatakan bahwa dia adalah tangan kanan Randika, apa yang dia katakan adalah titah dari sang Ares sendiri!

Dari ketiga crownless king, Catherine mang yang paling Randika hargai. Raihan mang miliki kekuatan yang luar biasa tetapi orang itu hanya peduli dengan pedangnya dan sangat malas. Frank mang mungkin orang yang dia didik dari 0, tetapi penyakit bawaannya itu benar-benar repotkan dirinya dan mbutuhkan waktu istirahat yang banyak. skipun penyakitnya itu sudah ditangani oleh Randika, hal itu tidak bisa hilang sepenuhnya.

Oleh karena itu, Catherine diperlakukan khusus oleh Bulan Kegelapan.

Bulan Kegelapan ingin Catherine nyerah dan njadi miliknya. Dengan bantuan Catherine, naklukan dunia bukanlah isapan jempol belaka. Selama dirinya masih ngikuti Randika pun, Bulan Kegelapan sudah berusaha mikat hatinya. Namun, semua itu percuma.

Catherine sama sekali tidak mau berbicara ataupun nerima tawaran Bulan Kegelepan. Saking marahnya, Bulan Kegelapan mbuang Catherine ke dalam penjara tanpa cahaya matahari ini untuk mikirkan kembali tawarannya. Di tempat ini dia akan lihat para bawahannya disiksa sampai mati.

Bulan Kegelapan juga berjanji akan lepaskan para bawahan Catherine tersebut apabila dia mau njadi miliknya.

Namun, Catherine sama sekali tidak tertarik dan ngabaikan Bulan Kegelapan dari awal hingga akhir. Perempuan ini percaya bahwa Randika akan kembali untuk reka.

Bukan hanya Catherine saja yang miliki pemikiran seperti ini, hampir semua bawahan yang tertahan ini miliki pemikiran yang serupa. Dalam hati reka, Randika sudah benar-benar sang juru selamat reka. reka percaya bahwa Randika akan nyelamatkan reka skipun dunia adalah lawannya.

Tetapi nasib reka berbeda dengan Catherine, reka harus bertahan hidup dari siksaan hingga bantuan tiba.

"Hahaha jadi ini orang yang dikenal sebagai lima jenderal dari pasukan Ares yang tidak terkalahkan itu? Dicambuk sedikit saja sudah diam kesakitan seperti itu!" Seorang pria kekar yang mbawa cambuk itu ludah ke arah Polemos, salah satu dari lima jenderal. Polemos diikat pada sebuah pilar dengan bertelanjang dada, punggungnya sudah bersimbah darah karena cambuk.

Polemos sama sekali tidak berbicara, cambuk yang ngenai punggungnya itu tidak mampu mbuatnya ngeluarkan suara sekecil apa pun. Namun, cambuk itu miliki duri jadi tiap cambukannya akan mbawa secuil daging.

Randika bertemu dengan Polemos ketika dirinya berkeliling dunia. Dia bertemu dengannya setelah dia bertemu dengan Dion di Afrika. Hari itu Polemos sedang nyamar njadi pedagang dan ngincar nyawa Randika. Setelah gagal dan terluka parah, Randika rawatnya dan nerimanya. skipun gelarnya sebagai jenderal ditentang oleh banyak orang, kemampuan dan kesetiaan Polemos tidak pernah diragukan Randika sekali pun sejak pertemuan pertama reka.

Luka yang diderita Polemos benar-benar ngerikan, darah di tubuhnya tidak pernah berhenti ngalir. Tetapi, ekspresi Polemos benar-benar datar dan tidak nunjukan ekspresi kesakitan.

Di sampingnya, ada dua orang yang juga terikat dan maki si penjaga yang ncambuki atasan reka itu.

"Kau kira cambuk lemah seperti itu bisa lukai kami?" Ejek salah satu dari reka.

Penjaga yang kekar itu njadi marah ketika ndengar ejekan tersebut, dia makin ncambuki reka bertiga dengan keras.

"Percuma punya otot sebesar itu tetapi ncambuk aja tidak becus. Sudah minta orang lain saja nggantikanmu."

"Sudah diamlah, pijatan orang ini termasuk enak. Tetapi kalau bisa cambuk aku lebih kuat lagi, punggungku tidak selemah itu." Jawab orang yang dipanggil singa oleh orang-orang.

"Tolong buang rasa simpatimu itu dan cambuk kita lebih keras, ah! Benar seperti itu! Ayo lebih keras!"

Si pria kekar itu geleng-geleng dengan tiga orang ini, dia baru pertama kali ndengar tahanan minta ncambuknya lebih kuat.

"Apa kalian semua sudah gila?" Si pria kekar ini sudah tidak tahan lagi, dia sudah kehabisan napas.

skipun dia ingin lanjutkannya, pria kekar ini akhirnya duduk di samping untuk ngumpulkan tenaganya lagi.

Ketiga tahanan ini nghela napas reka. Sejujurnya, ketiga orang ini benar-benar gila dan abnormal. Satu sangat pendiam dan nikmati rasa sakit ini dari dalam hatinya. Yang lain berteriak dan maki si algojo untuk mberikannya rasa sakit yang lebih. Sedangkan yang terakhir, skipun wajahnya biasa-biasa saja, cambukan itu sebenarnya mirip sebuah pijatan baginya.

"Apa orang dari pasukan Ares sudah gila semua?" Gumam si penjaga.

"Hah? Otakmu rusak atau apa?" Orang yang bernama Jin itu ngerutkan dahinya dan berkata dengan lantang. "Kau saja yang lemah bodoh! Jangan pernah nghina pasukan tuan kami!"

Si penjaga berbadan kekar itu lantas tersenyum. "Kalian bisa apa mangnya? Kalian tidak lihat bahwa kalian terperangkap di sini? Selamanya kalian nderita di tempat ini!"

"Dia akan nyelamatkan kami." Singa natap si penjaga dengan tatapan ganas. Dia percaya bahwa tuan reka yaitu Randika akan datang.

ndengar kata-kata tersebut, Polemos ngangkat kepalanya. Matanya tampak berbinar-binar dan Jin juga njadi bersemangat. Dengan lantang Jin ngatakan. "Aku percaya tuan kami akan datang."

"Hahaha!" si penjaga itu tertawa. "Tempat yang kau sebut markas itu sudah kami rebut dan orang yang kalian puja-puja itu bahkan belum pernah nunjukan dirinya sekalipun. Aku heran kalian masih saja berharap dia akan datang."

"Kalian boleh nghina kami, kalian boleh nyiksa kami Tetapi jika kalian berani nghina nama tuanku, aku akan mbunuh kalian." Polemos yang daritadi diam, tiba-tiba ngeluarkan aura mbunuh yang pekat yang mbuat ruang penyiksaan ini njadi berat.

Alasan utama markas reka telah jatuh adalah karena Shadow. skipun Bulan Kegelapan mbawa puluhan ahli bela diri bersamanya pada hari itu, reka tetap tidak akan mampu naklukan istana dunia bawah tanah tersebut.

"Benar-benar nyedihkan." Pria kekar itu nggelengkan kepalanya dan berkata dengan nada ngejek. "Kau akan mati sambil masih mpercayai bantuan akan datang. Jangan kira Ares yang kau puja-puja itu miliki kemampuan untuk nerobos tempat ini. Belum pernah ada orang yang bisa mbuka pintu tempat ini sekalipun."

"Persetan denganmu!" Suara makian terdengar dari sel penjara yang lain.

Si penjaga itu noleh ke arah belakang dan ndengus dingin. "Tidak peduli apa yang kalian katakan, kalian semua akan mati di sini tanpa pernah lihat cahaya matahari lagi. Nikmatilah siksaan tiada habis sebelum napas kalian berhenti!"

"Kau sebut ini siksaan? Aku kira kau cuma mbantu nggarukan punggungku!"

"Kau kira kami takut denganmu? Tamparan nenekku saja lebih kuat dari kalian!"

Kedua orang kembar ini rupakan bagian dari 8 letnan, serangan gabungan reka benar-benar ngerikan dan mbawa reka hingga njadi letnan.

"Hahaha, aku tidak sabar nguliti kalian hidup-hidup." Si penjaga itu sudah muak. "Aku akan nikmati nyiksa kalian hingga mati. Tangisilah tuan kalian yang tidak akan datang itu di neraka."

Namun pada saat ini, suara ledakan terdengar dari arah pintu. Pintu yang tak tergoyahkan itu terpental dan terbuka lebar!

Dalam sekejap, tatapan mata semua orang tertuju pada pintu dan lihat sosok pemuda keluar dari balik asap.

"Aku telah tiba."

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 209: Ares Telah Tiba on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.