Haru sama sekali tidak berani mbuka mulutnya untuk layangkan protes ataupun suara lainnya. Dia sangat takut bahwa suaranya itu ngundang serangan kelereng lagi. Terlebih, seluruh kelereng yang layang sebelumnya ngenai dirinya tanpa leset satu kali pun!
natap ke bawah, wajah Kaori juga terlihat sama bingungnya dengan dirinya. Haru sudah benar-benar marah, lihat Kaori yang tergeletak tidak berdaya tersebut, dia ingin mukulnya. Tetapi setelah ngingat serangan kelereng tersebut, Haru tidak berani bertingkah gegabah. Dia sekarang ragu harus berbuat apa.
Setelah mikirkan hal ini, Haru ngambil keputusan untuk langkah maju. Tetapi setelahnya dia langkah, sebuah kelereng kembali lesat dari lantai 2. Haru dengan cepat nutup wajahnya dengan tangannya, tetapi kelereng tersebut berhasil lewati jari-jarinya dan nghantam wajahnya.
Kali ini, Haru benar-benar nyerah untuk nghadapi serangan kasat mata tersebut. Sambil sumpah serapah, dia berjalan keluar dari dalam rumah.
Kaori yang nutupi tubuhnya dengan tangannya, terkejut lihat Haru keluar dari rumahnya.
natap ke lantai 2, Kaori lihat Randika yang berjalan kembali ke kamarnya.
Ternyata dia!
Kaori berdiri, ngunci pintu rumahnya rapat-rapat, berjalan ke lantai 2 dan masuk ke dalam kamarnya. Di situ dia lihat Randika yang sedang duduk di kasurnya dengan kepala nunduk.
"Terima kasih." Kaori nutup pintu dan berjalan nghampiri Randika. Tanpa bantuan Randika, sepertinya dirinya sudah diperkosa oleh si bajingan Haru itu.
"Tidak masalah." Dengan wajah yang sangat pucat, Randika maksa dirinya untuk tersenyum.
"Kamu sakit apa? Mau aku manggil ambulans ke sini?" lihat wajah pucat tersebut, Kaori benar-benar cemas.
Randika rasa dirinya ingin pingsan. Untuk nolong Kaori dari Haru, Randika nggunakan sejumlah tenaga dalamnya untuk nembak kelereng-kelereng tersebut skipun tubuhnya belum mbaik secara penuh. Kehilangan secuil tenaga dalamnya sudah mampu mbuat dirinya kelelahan dan kekuatan misteriusnya mulai nunjukan tanda-tanda akan lawan kembali.
"Bisa aku minta tolong?" Kata Randika dengan susah payah.
Kaori ngangguk, tatapan matanya penuh dengan perasaan cemas.
"Duduklah di sampingku dan jangan bergerak." Kata Randika.
Kaori dengan cepat duduk diam di samping Randika. Pada saat ini, Randika ngambil sebuah pil obat dan minumnya. Bersamaan dengan masuknya obat tersebut, tenaga dalamnya yang sepanas matahari itu bertemu dengan es dan salju, ia dengan cepat nyusut dan ndinginkan. Tetapi berdasarkan apa yang dia rasakan, kekuatan misteriusnya itu sepertinya lawan balik!
Pada saat ini, dari sisi pandangan Kaori, terlihat seperti kabut tipis yang keluar dari tubuh Randika lalu nghilang begitu saja. Pada saat ini, kekuatan misterius dalam tubuh Randika sudah tidak lawan dan tenang kembali.
Ketika Kaori lihat Randika nelan sesuatu dan nutup matanya, perempuan ini bingung harus berbuat apa. Apakah dia harus berdiam diri saja?
Randika rasa bahwa tubuhnya semakin mbaik tiap detiknya. Sejujurnya, kakek ketiganya ini sedikit salah tentang njelaskan bahwa Randika harus nyerap energi dari perempuan. mang berhubungan badan akan mbuat efek samping obatnya hilang dengan cepat, tetapi sebenarnya duduk bersebelahan dengan perempuan sudah cukup untuk nyerap energi feminimnya. Asalkan ada kontak kulit maka energi tersebut bisa diserap.
Mungkin kakeknya tidak dapat nyadarinya dan nikmati efeknya ketika ncoba minumnya satu butir. Mungkin kakeknya itu rasa muda kembali.
skipun ini adalah obat yang dia minum kedua kalinya, efeknya ternyata lebih terasa daripada sebelumnya. Tidak butuh waktu lama untuk dirinya ngambil alih tubuhnya kembali dan rasa sakitnya sudah nghilang.
Namun, semua rasa sakit itu hanya tidur kembali di tubuhnya, suatu saat nanti kekuatan misteriusnya itu akan nyerangnya kembali.
Setelah beberapa nit berlalu, Kaori natap Randika yang masih nutup matanya dan bertanya.
"Apa ada hal lain yang bisa kubantu?"
ndengar pertanyaan tersebut, Randika tiba-tiba mbuka matanya. Hal ini mbuat kaget Kaori sebab mata Randika benar-benar rah seluruhnya.
Randika sudah minum obat ini untuk kedua kalinya untuk hari ini, efek sampingnya benar-benar mbuat nafsu Randika akan perempuan sangat tinggi.
Awalnya Randika sudah berhasil nekan nafsu birahinya yang besar ini, tetapi ndengar suara lembut Kaori itu mbuyarkan konsentrasinya. Sesudahnya dia lihat sosok perempuan di pandangannya, insting Randika ngambil alih.
Kaori natap Randika dengan tatapan penuh penasaran, tetapi Randika ndadak luknya dan nindihnya di atas kasur. Mulut reka berdua langsung beradu satu sama lain.
Perubahan ndadak ini mbuat Kaori tidak bisa bereaksi, tetapi dia langsung mberontak ketika lidah Randika mulai nguasai pertarungan. Karena Randika jauh lebih kuat dari Haru, Kaori sama sekali tidak punya kesempatan untuk kabur.
Randika ncium Kaori dengan panas, tangannya sudah berenang-renang di tubuh Kaori. Dia rasa perempuan yang ada di bawahnya itu bagaikan gunung es yang dapat madamkan api di dalam tubuhnya.
Selama beberapa nit, keadaan berlanjut seperti ini. Yang tidak Randika duga adalah perlawanan dari Kaori njadi lemah dan dia mulai mbalas ciuman ataupun rangsangan Randika.
Kaori sendiri rasa bahwa pria ini sudah mbantunya sekali jadi tidak ada salahnya dia mbalas utang budinya itu.
Setelah ngalami perubahan hati, badan Kaori ikut njadi panas dan tangannya luk erat Randika.
Setelah bertukar ciuman, Randika mulai njelajahi leher dan dada Kaori.
Kaori nyambut ini dengan hangat dan dia sendiri mbantu Randika dengan mbuka bajunya agar Randika bisa rangsang dirinya dengan lebih leluasa. mang orang luar negeri itu luar biasa, reka terbiasa tidur dengan orang asing dan bangun keesokan harinya seolah tidak ada apa-apa. Jika reka nyukai kemampuan orang tersebut di ranjang, maka reka akan njadi TTM.
Kaori juga mbantu Randika lepaskan bajunya, dalam sekejap reka berdua sudah tidak berpakaian. lihat pakaian dalam yang sexy itu, Randika langsung nerjang mangsanya. Dia dengan cepat ncopotnya lalu raba, njilat putingnya, dan njepitkan alat kelaminnya di dadanya.
Setelah keluar dan nyemprotnya di dadanya Kaori, sepertinya kesadaran Randika mulai kembali lagi.
lihat dada perempuan yang nolongnya itu berlumuran calon anak-anaknya, Randika tersenyum pahit. Sejak kapan dia njadi ganas seperti ini dan bertindak layaknya orang sum ketika dia pertama kali bertemu dengan perempuan? skipun Kaori sama sekali tidak lawan dan mbantu dirinya untuk keluar, hal ini tetap tidak sopan dan kasar nurut Randika. Dan kenapa wajah pasangannya itu terlihat biasa-biasa saja?
Randika hanya bisa rasa malu.
Namun, sepertinya tombol Kaori sudah tertekan dan dia mbuka celananya sendiri.
Lalu tiba-tiba Kaori rasa dahinya tengah dicium.
rasakan kelembutan ciuman tersebut, dia nyadari bahwa sosok Randika telah nghilang. Angin berhembus dari jendela kamarnya dan dia berbaring sendirian di kasurnya.
Ke mana orang itu?
Kaori benar-benar terkejut. Dia berdiri dan lihat sekelilingnya, apakah barusan itu hanya halusinasi saja? Tetapi lihat sperma yang kental di dadanya itu, dia yakin bahwa tadi itu bukanlah halusinasi.
Reviews
All reviews (0)