Seperti orang normal lainnya, Kaori tentu saja ngangguk pada Randika hanya untuk ndapatkan kesempatan kabur atau ncari pertolongan. Tetapi lihat Randika yang begitu pucat dan kesakitan, insting keibuannya ngambil alih. Mungkin orang ini bukanlah orang jahat, mungkin orang ini benar-benar butuh bantuan.
"Apa kamu baik-baik saja?" Kaori mbungkuk dan bertanya dengan nada cemas.
Randika yang nutup matanya itu ngangguk. Dia sekarang jauh lebih baik dari sebelumnya, obat kakek ketiganya ini sudah bekerja dengan baik. Efek samping dari obatnya juga berhasil ditahan oleh Randika.
Kaori natap Randika, yang terus nerus nutup matanya sambil berkeringat deras. skipun orang ini telah nerobos masuk rumahnya, perempuan ini benar-benar cemas dengan kondisi Randika. Namun pada saat ini, terdengar teriakan dari bawah.
"Kaori!"
Kaori ngerutkan dahinya, sepertinya orang nyebalkan itu datang lagi.
makai bajunya, Kaori langsung berlari nuju pintu. Sesaatnya mbuka pintu, pria berambut pirang berdiri sambil ngunyah pern karet dan terlihat kasar.
Sambil tersenyum pria ini natap Kaori dengan tatapan sum. Sentara Kaori, dia sendiri ingin nutup pintunya dan ngusir pria itu cepat-cepat.
"Ah!" Kaki pria itu dengan cepat nahan pintu lalu berkata sambil tersenyum. "Hei, bukannya kamu sudah berjanji untuk pergi bersamaku malam ini?"
"Hah? mangnya siapa yang mau pergi sama kamu?" Kaori berusaha sekuat tenaga nutup pintunya tetapi semua itu sia-sia, bagaimanapun juga dia adalah perempuan.
"Sudahlah jangan malu-malu gitu, aku tahu kamu masih miliki hati untukku. Bagaimana kalau malam ini aku akan mbuatmu layang bagai ke surga?"
"Sudah kubilang kalau kita itu sudah putus! Jangan bawa-bawa aku ke halusinasimu itu, aku sudah mbencimu. Aku tidak ingin lihat wajahmu lagi, jadi bawa sana narkobamu dan pergi ke bar sama cewek lain sana. Aku bukan perempuan yang bisa kamu peralat lagi."
Kaori benar-benar sudah tidak dapat nahan dirinya lagi, suaranya benar-benar keras. Suaranya itu sampai terdengar sampai ke telinga Randika.
Mantan pacar Kaori, Haru, ndorong pintu hingga dirinya bisa masuk, mbanting pintunya dan natap Kaori dengan ekspresi dingin.
"Apa maumu? Kamu sendiri yang ingin pisah waktu itu." Kaori ndengus dingin. "Sekarang permintaanmu itu sudah terkabul, kau malah datang ke sini? Bawa otak bodohmu itu keluar dari rumahku!"
"Aku hanya bercanda waktu itu." Haru nggelengkan kepalanya. "Bukannya wajar pasangan bertengkar? Sudahlah jangan marah-marah terus."
"Aku yang tidak sudi berpacaran dengan pecandu sepertimu." Wajah Kaori benar-benar dingin. "Bahkan aku sudah berniat ninggalkanmu sebelum kau yang mintanya. Sudah narkobaan, main cewek, mukulku, ngambil uangku, kau berharap aku masih maafkanmu? Aku sudah muak dengan tingkah lakumu itu, cepat keluar!!"
Senyuman Haru berubah njadi ekspresi datar. "Tidak pernah ada wanita yang berani berkata seperti itu padaku, aku akan mbuatmu nyesal."
"Aku tidak peduli, keluar!!" Kaori hendak mbuka pintu dan maksa Haru keluar tetapi tiba-tiba, Haru mukul pintu tersebut dan pintu tertutup kembali.
Sekarang keduanya saling berhadap-hadapan.
"Orang tuamu sedang tidak di rumah bukan?" Haru natap tubuh Kaori lekat-lekat.
"mangnya apa pedulimu?" Kaori sendiri aslinya sedikit takut tetapi dia tidak boleh nunjukannya. "Jika kau berani macam-macam, aku akan nuntutmu masuk tanpa ijin."
"Kau ngancamku?" Wajah Haru sudah benar-benar buruk rupa. "Kita lihat apa kau masih bisa bicara seperti ini setelah aku mperkosamu!"
ndengar kata-kata itu, Kaori berniat untuk lari ke lantai atas tetapi tangannya dicegat oleh Haru.
"Kembali sini pelacur!"
Darah Haru sudah ndidih, dia njambak Kaori dan mbenturkannya pada tembok. Tangan kanannya nahan kedua tangannya Kaori di atas tembok.
Kaori yang diserang ndadak itu ketakutan, dia berusaha larikan diri. skipun sudah ronta-ronta, tangannya ataupun kakinya sama sekali tidak bisa bergerak. Kekuatan fisik Haru benar-benar mbuatnya tidak berdaya.
Haru natap Kaori dengan tatapan dingin, lalu sambil tersenyum, dia ncekik leher Kaori dengan tangan kirinya. "Hari ini kau akan ngandung anakku!"
Bersamaan dengan itu, tangan kirinya robek baju milik Kaori. Dalam sekejap, pakaian dalam yang dikenakan Kaori, yang telah dilihat Randika, terekspos kembali.
"Buat siapa kau makai pakaian dalam bagus seperti ini?" Haru ngerutkan dahinya sedangkan Kaori masih terus berusaha larikan diri.
reka baru saja putus beberapa minggu dan perempuan ini sudah punya pasangan baru? Pemikiran ini mbuat Haru benar-benar marah dan tidak sabar lagi mbuat Kaori untuk njadi miliknya selamanya.
Dengan tangan kanannya masih nahan kedua tangan Kaori, Haru berusaha lepas celananya dengan tangan kirinya. Pada saat ini, Kaori ngumpulkan tenaga pada lututnya dan nendang alat kelamin Haru dengan keras. Dalam sekejap, tangan Haru yang nahan kedua tangannya njadi lemah dan Haru berlutut kesakitan di lantai.
lihat Kaori yang hendak kabur, Haru, dengan wajah marah, nangkap kaki Kaori dan nyeretnya kembali.
"Mau lari ke mana?"
"Tidak, tolong!!"
Kaori yang kepalanya terbentur di lantai itu berteriak minta tolong. Sedangkan Haru sudah berada di atas Kaori sambil tersenyum. "Jangan kira kau bisa lari dariku."
ndengar permintaan tolong tersebut, Randika akhirnya bergerak.
Setelah noleh ke sekelilingnya, dia nemukan kotak yang isinya kelereng.
Haru sudah natap dada yang sudah lama dia tidak nikmati di bawahnya. Sambil lepas celananya kembali, dia berusaha lepas beha milik Kaori. Hari ini dia akan nghamili Kaori dan mbuatnya tidak bisa lepas dari dirinya untuk selamanya!
Namun pada saat ini, sejumlah kelereng telah ditembakan secara beruntun dan ndarat di wajah Haru!
"Ah!"
ndapatkan 3 tembakan kelereng tersebut, rasa sakit tersebut mbuat darah Haru makin ndidih.
"Siapa itu?"
Mata Haru tertuju pada lantai 2 tetapi dia tidak nemukan apa-apa, saat dia natap Kaori kembali, sebuah kelereng kembali layang dan ngenai wajahnya.
Haru makin marah. "Tunjukan dirimu atau aku akan Ah!"
Bahkan sebelum dirinya selesai berbicara, kelereng tersebut kembali ndarat di wajahnya. Kali ini serangannya benar-benar ngerikan, kelereng tersebut ngenai giginya. Rasa sakitnya itu sungguh nyakitkan bahkan giginya serasa hampir copot.
Bajingan!
Sambil nutupi mulutnya yang sakit, Haru natap lantai 2 dengan tatapan dingin. Tetapi serangan kelereng itu tidak pernah berhenti nyerangnya.
Dalam sekejap, ekspresi wajah Haru berubah. Dia ingin bertahan dan larikan diri dari serangan itu, tetapi semuanya sudah terlambat. Satu per satu kelereng sudah ndarat di wajahnya dan mbawa rasa sakit yang luar biasa. Haru hanya bisa langkah mundur sambil nahan rasa sakitnya.
Serangan kelereng itu serasa tidak ada habisnya. Pada saat dirinya langkah mundur, Haru secara tidak sengaja tersandung dan terjatuh di lantai.
Ketika dirinya berusaha berdiri, wajah Haru sudah benar-benar rah. Tatapan matanya sudah penuh dengan rasa takut.
Reviews
All reviews (0)