Font Size
15px

Auron, yang gangi dadanya, rasakan terror yang belum pernah dia rasakan.

Apakah ini kekuatan asli dari Ares?

Sesaat setelah itu, tubuhnya kesakitan dan tangannya yang gang pedang kehilangan kekuatannya.

lihat Randika yang berdiri tegak di hadapannya, Auron perlahan jatuh sambil terus gangi dadanya. Rasa sakitnya sudah ngambil alih tubuhnya dan dia sudah tidak sadarkan diri.

Empat dari lima orang sudah kalah, satu mati, dua pingsan, satu sudah tidak punya keberanian lagi. Sekarang sisanya adalah Lupin si werewolf.

Lupin, dengan mata buasnya, tidak peduli dengan kondisi keempat temannya itu. Dia raung keras dan nerjang ke arah Randika.

Detik berikutnya, Lupin sudah lompat tinggi, tangannya sudah mbentuk kepalan tinju dan kakinya yang nendang langit-langit itu mbuat kecepatan jatuhnya berlipat ganda.

Namun, di detik saat dia ndarat, nama Lupin si werewolf sudah tinggal kenangan.

Adam yang bersembunyi di tengah-tengah lautan manusia natap Randika dengan tatapan penuh terror dan ketakutan. Orang itu adalah Dewa, Dewa Perang yang tidak terkalahkan! Dialah Ares sang penguasa dunia bawah tanah!

Randika natap lawan-lawannya itu dengan tatapan dingin. Pada saat yang sama, ekspresi wajahnya berubah dan tanpa ragu-ragu, dia langsung berlari nuju pintu keluar.

Orang-orang hanya rasakan hembusan angin yang kuat dan pintu yang terbuka secara tiba-tiba. Sosok Randika yang berdiri itu juga tiba-tiba nghilang.

Sekarang di Azumi bar hanya ada sisa-sisa dari kekacauan. Dua orang mati, dua orang pingsan dan satu orang sudah tidak berani mpertaruhkan nyawanya untuk nghalangi Randika.

Musik masih terus diputar tetapi orang-orang masih belum pulih dari syok reka.

Ares benar-benar luar biasa.

Semua orang yang hadir di bar ini akan ngingat-ingat kejadian ini untuk waktu yang lama.

Pada saat ini, kecepatan Randika sudah ncapai puncaknya dan tiba-tiba keringat dingin mulai ngucur deras di dahinya. Setelah lawan kelima pendekar elit tersebut, sekarang giliran kekuatan misteriusnya untuk nyerang. Kekuatan misteriusnya itu sudah siap nyerap kapan saja dan berniat untuk ngambil alih tubuh Randika.

DUAR!

Randika nggertakan giginya dan berjalan dengan susah payah di jalan. Semua pejalan kaki di Tokyo ini penasaran dengan orang yang berjalan dengan wajah pucat sambil gangi perutnya itu.

Randika sebenarnya tidak ingin nggunakan tenaga dalamnya sebanyak itu di pertarungannya di Azumi bar, tetapi kalau tidak ngatasi kelima pendekar itu dengan cepat, bisa-bisa nyawanya akan terancam. Namun, sekarang justru kekuatan misteriusnya lah yang ngancam nyawanya.

Pada saat ini, rasa sakit nyebar secara rata di seluruh tubuhnya. Sepertinya kekuatan misterius ini sedang lakukan uji coba. Jika Randika tidak respon, ia akan lahap Randika hidup-hidup dan ngambil alih tubuhnya!

Randika berusaha sekuat tenaga nahan kekuatan di dalam tubuhnya. Tetapi dengan tenaga dalam yang terbatas, dia tidak bisa ngontrol seluruhnya dengan baik. Hanya masalah waktu sebelum akhirnya Randika akan kalah.

Dengan tangan yang bergetar hebat, dia ngambil botol berisikan obat yang diberikan kakek ketiga dan dengan cepat minumnya.

Sebenarnya, kakek ketiganya nyuruh dirinya minum obatnya setiap 15 hari sekali, hal ini bisa maksimalkan efeknya. Jika Randika minumnya terlalu banyak dalam waktu singkat, tubuhnya akan numbuhkan imun dan efeknya akan berkurang drastis.

Tetapi Randika tidak punya pilihan lain. Jika dia tidak minum obat ini, dia akan kehilangan kendali.

Setelah minum sebutir, Randika nghembuskan napas lega. Dia rasa bahwa tubuhnya lebih baikan, setidaknya dia bisa ngontrol tenaga dalamnya. Namun, sepertinya dia tidak bisa nggunakan tenaga dalamnya sebanyak di Azumi bar sebelumnya. Kalau tidak, bisa-bisa dia akan tamat.

Tiba-tiba, kekuatan misteriusnya itu bergejolak kembali seperti tidak ingin nyerah begitu saja. Dalam sekejap tubuh Randika sudah berkeringat deras.

langkah dengan susah payah, Randika secara acak milik rumah dan langsung mbuka pintunya.

Setelah masuk ke dalam rumah, Randika sudah basah oleh keringat. Kekuatan misteriusnya sedang berperang dengan tenaga dalamnya serta dirinya. Sepertinya kekuatan misteriusnya nemukan bahwa ini kesempatan terbaik untuk nyerang Randika.

Tubuhnya tidak bisa berhenti bergetar. Pandangannya sudah lumayan kabur dan hampir tidak bisa lihat. Berpegangan erat di tangga, Randika naik ke lantai dua. Ketika dia nemukan kasur untuk berbaring, dia nyaris terjatuh dan pingsan di lantai.

Tidak akan kubiarkan!

Dengan dahi yang penuh keringat, Randika duduk di pojokan sambil terus getaran.

Sambil nutup matanya, Randika rasa tiap detik adalah siksaan. Dia nggertakan giginya dan terus nutup matanya. Tetes demi tetes keringat terus keluar dari seluruh tubuhnya. Tidak butuh waktu lama untuk keringatnya itu njadi genangan air di lantai.

Setelah beberapa waktu yang tidak dapat ditentukan, Randika rasa baikan tetapi benar-benar sedikit. Pada saat ini, pintu di lantai satu terbuka.

Seorang perempuan yang sepertinya masuk sambil nelepon itu nutup pintu dengan cukup keras.

"Iya, iya, aku akan datang. Ini aku mampir ke rumah untuk ganti baju." Kata perempuan itu sambil naiki tangga.

Setelah masuk ke kamar tidurnya, perempuan itu mbuka tali sepatunya dan lempar sepatunya ke tembok. Setelah nutup teleponnya, dia mulai lepas bajunya.

Tidak butuh waktu lama untuk perempuan tersebut lepas semua bajunya. Tentu saja, perempuan tersebut masih makai pakaian dalamnya. Celana dalamnya nutup surga dunia sentara behanya nyimpan indahnya pegunungan.

Namun, perempuan tersebut ternyata mulai lepas pakaian dalamnya!

Randika yang masih duduk tidak berdaya di pojokan ruangan itu lihat perempuan tersebut telanjang bulat. Mungkin karena dirinya tertutup oleh kasur, sosoknya tidak dapat terlihat dengan mudah. Hanya kepalanya saja yang terlihat ncungul.

Sambil berkaca, perempuan tersebut gangi kedua dadanya. Wajahnya terlihat tidak puas dengan besar payudaranya.

Randika lihat perempuan ini lepas dan makai bajunya dengan tatapan kosong. skipun dia ingin nikmati pemandangannya, Randika masih berusaha berperang dengan kondisi tubuhnya. skipun dia sudah baikan, dia masih belum bisa nggerakan tubuhnya.

Setelah nghela napas dan makai pakaian dalamnya yang baru, Kaori nyadari ada kepala di sisi tempat tidurnya dari balik kaca.

Ketika dia noleh dan lihat sosok Randika, Kaori benar-benar terkejut. Kenapa ada orang di kamarnya? Berarti orang ini baru saja lihat dirinya telanjang?

Kurang ajar!

Kaori lakukan apa yang dilakukan oleh setiap perempuan. Dia mbuka mulutnya dan berusaha nakuti Randika dengan teriakan kerasnya sambil minta tolong. Tetapi, sebelum mulutnya sempat ngeluarkan suara, mulutnya tertutup sempurna.

Randika berhasil nutup mulut Kaori dengan rapat.

"Jangan berteriak, aku sama sekali tidak bermaksud jahat." Kata Randika sambil tubuhnya terus bergetar.

ndengar kata-kata Randika ini, Kaori hanya bisa njadi panik dan ronta-ronta.

Pada saat ini, keduanya nempel dan Randika bisa rasakan dada Kaori yang nempel pada dirinya.

Kaori yang terus ronta itu mbuat Randika sedikit kewalahan, dia lalu berkata dengan suara pelan. "Aku hanya ingin beristirahat sebentar, aku tidak akan lukaimu. Jika kamu ngerti maksudku, ngangguklah."

Kaori ngangguk.

"Aku akan keluar setelah beristirahat sebentar, jadi jangan berteriak. Jika kamu ngerti maksudku, ngangguklah." Setelah berbicara, Randika rasa tenggorakannya njadi serak dan kering.

Kaori ngangguk kembali dan dia rasakan tangan yang nutupi mulutnya perlahan lepas.

Awalnya Kaori sudah siap berlari, tetapi lihat Randika yang langsung berlutut dengan satu kakinya dan wajah yang pucat mbuat Kaori njadi cemas.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 203: Perang Internal on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

All MILFs are Mine cover
Similar genre

All MILFs are Mine

Night_phantom ·Harem

*Caution* *TABOOCONTENT* *STRONGSEXUALCONTENT* THISCONTENTISVERYHARMFULFORANORMALPERSON'SMIND. __________________________________ LeonisaMILFlover,...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.