Font Size
15px

Pertama, Randika harus nghentikan serangan milik Adam ini. Sambil ndengus dingin, dia ngambil rantai milik Bruce yang layang ke dirinya itu dan nggunakannya sebagai perisai.

Bruce sendiri terkejut ketika dia berusaha narik rantainya, dia sama sekali tidak bisa nggerakannya. Bahkan dengan satu tarikan dari Randika berhasil mbuat dirinya layang ke ujung rantai satunya.

Bruce lalu nabrak Adam yang sedang dalam situasi buntu dengan Randika. Pada saat yang sama, Randika nyadari serangan berikutnya akan datang. noleh ke samping, serangan pedang Li Tang sudah ndekati dirinya.

Li Tang ingin nyelesaikan misinya ini dengan cepat jadi dia berkoordinasi dengan Lupin dan Auron. Li Tang berusaha nebas Randika dari samping kanan, Lupin dengan serangan matikannya itu datang dari arah kanan dan Auron akan bersiap untuk nyerang ketika Randika berusaha ngelak ataupun lompat.

Dalam sekejap, Randika harus bertahan kembali dari serangan ketiga orang tersebut.

Li Tang tampak tersenyum, semakin kuat lawannya semakin ndidih darahnya. Oleh karena itu, kecepatannya bertambah drastic!

Tetapi, tiba-tiba pedang Tang miliknya itu tiba-tiba tertendang dan terlepas dari tangannya.

Li Tang benar-benar terkejut. Pada saat ini, Lupin sudah dekat dengan Randika dan Auron mberikan serangan bantuan dari atas. Li Tang yang tidak berpedang itu mau tidak mau lancarkan serangan pukulan untuk mbantu.

Randika tanpa berpikir panjang nghantam dagu Li Tang dengan tinjunya, dia langsung terpental jauh.

Ketika dirinya berhadapan dengan Li Tang, Auron dari atas sudah nebas ke arah bawah dan ngarah pada kepala Randika. Pada saat yang sama, Randika berhasil nangkap pedang tersebut dengan kedua tangannya. Namun, Auron nggoyangkan pedangnya dan ajaibnya pedang itu langsung terlepas dari tangan Randika dan lesat nuju perutnya!

Serangan ndadak seperti itu tidak bisa dihindari Randika sepenuhnya, perutnya tergores oleh pedang milik Auron. Pada saat yang sama, Lupin sudah tepat di belakang Randika. Karena tidak bisa nghindarinya lagi, Randika hanya bisa mbenturkan belakang kepalanya pada dahi Lupin.

Terkejut dan tidak nduga akan terserang seperti itu, Lupin sempat kehilangan keseimbangan tubuhnya dan terjatuh.

Setelah itu, di balik bayangan terdapat aura mbunuh yang bergerak nembus udara. Serangan sabre milik Adam sudah lesat kembali. Ketika dirinya berusaha ngatasinya, suara berisik datang dari arah sampingnya. Serangan rantai milik Bruce kembali berusaha mbunuh Randika.

Li Tang, yang baru saja berdiri, manfaatkan kesempatan ini untuk ngambil pedangnya dan nyerang kembali.

Randika sendiri berhasil nghindari serangan sabre Adam dengan mukul pedang tersebut dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya berusaha nangkap rantai milik Bruce, tetapi, karena terlalu fokus dengan serangannya Adam, Randika tidak nyadari bahwa tiba-tiba rantai itu terlilit di kakinya!

Gawat!

Kaki Randika yang tertangkap itu disadari oleh keempat pendekar lainnya. Dalam sekejap, aura mbunuh reka ningkat pesat!

Serangan matikan dari empat arah segera datang nuju Randika.

Pedang Tang milik Li Tang bergetar dan lesat ke arah Randika. Berisikan tenaga dalam, pedang itu mbuat bayangan pedang sehingga nampak 10 pedang yang sedang nuju tepat ke arah Randika. Serangan ilusi ini selalu mbuat musuhnya tidak bisa nebak pedang asli yang mana.

Lupin raung keras dan tenaga dalamnya mancar dengan hebat. Bahkan tangan kanannya ngeluarkan sinar saking banyaknya tenaga dalam yang terkumpul. Sambil raung, dia nerjang ke arah Randika.

Mata Adam juga tidak kalah bersemangatnya, setelah nyebarkan tenaga dalamnya di kakinya, dia lesat dan nusukan pedangnya ke arah pinggang Randika!

Sedangkan Auron mutuskan untuk mbantu Bruce untuk nahan rantai yang ngikat Randika.

Di bawah serangan beruntun ini, Randika berhasil nghindari serangan Adam dengan bergerak sedikit ke samping. Randika lalu nggenggam erat rantai yang ada di kakinya itu dan pedang Tang yang terbang nuju dirinya mbentur rantai dan ndarat di tangannya.

Pada saat ini, Randika sudah nyalurkan tenaga dalamnya ke pedang dan nebasnya pada pedang sabre milik Adam. Di bawah kekuatan yang besar itu, pedangnya Adam hancur njadi berkeping-keping. Namun, bukannya terkejut, Adam segera mbuang pedangnya dan layangkan tendangannya ke Randika. Dia ingin nyibukan Randika agar tidak nyadari serangan Lupin.

Namun, pedang Tang yang ada di tangannya itu segera nusuk nuju dadanya, mau tidak mau Adam harus nghindar agar tidak mati.

Di saat dia ngambil langkah mundur, tiba-tiba pedang Tang tersebut sudah nyaris nancap di kepalanya. Sambil nggertakan giginya, dia nghindarinya namun pipinya terkena goresan yang cukup panjang.

Randika narik kembali rantai yang ada di kakinya. Bruce dan Auron berusaha dengan keras untuk mbuat Randika kehilangan keseimbangannya, tetapi semua itu percuma. reka berdua rehkan kekuatan fisik Ares sang Dewa Perang!

nghentakan kakinya, Randika lesat ke udara sambil nghindari serangan Lupin. Di tengah udara, dia beradu tinju dengan Li Tang. Setelah itu Li Tang hanya bisa gangi dadanya yang kesakitan di lantai.

Di saat dia akan ndarat, tatapan Randika njadi dingin. Suara angin terdengar beda dan serangan dari Lupin dan Auron sudah nunggu dirinya.

Ketika dia ndarat, Randika langsung nghindari serangan pedang Auron. Rantai yang ada di kakinya itu sudah kehilangan tenaganya ketika Auron mutuskan untuk nyerang.

nggunakan kesempatan ini, Lupin berusaha nyerang Randika dari belakang. Namun lagi-lagi Randika berhasil nghindarinya dan ninju dirinya hingga terpental.

Orang-orang di bar ini nyaksikan pertarungan hidup dan mati ini dengan mata yang sama sekali tidak berkedip. Randika yang reka kenal sebagai Ares itu justru njadi pusat perhatian reka. Bagaimana tidak? Dia lawan 5 orang sekaligus dan masih bisa mberikan serangan balasan.

Tetapi faktanya, Randika sama sekali tidak bisa ngalahkan reka. Kelima musuhnya itu bekerja sama untuk nciptakan peluang yang dapat mbunuhnya. Jadi Randika perlu mberikan perhatian ekstra dari serangan gabungan reka.

skipun sudah nendang ataupun mukul reka, kelima musuh itu selalu berdiri kembali, nyerangnya kembali dan berusaha mbunuhnya. Lagipula, lawannya kali ini adalah ahli bela diri dari daftar Dewa jadi sedikit sulit untuk ngalahkan reka. Terlebih, Randika sepertinya makai tenaga dalamnya terlalu banyak sehingga kekuatan misterius dalam tubuhnya mberi sinyal akan nyerang dirinya dari dalam.

Situasi njadi gawat!

Li Tang, yang setelah nghapus jejak darah di mulutnya, berkata dengan nada ngejek pada Randika. "Nama Ares mang bukan sembarangan, tidak heran kau bisa nguasai dunia bawah tanah seorang diri. Tetapi, hari ini aku akan nebas kepalamu itu!"

"Oya?" Randika berkata dengan nada dingin. Lalu tiba-tiba, tenaga dalamnya nyebar dengan cepat.

Li Tang ngerutkan dahinya, tatapan matanya penuh dengan terror. Dalam sekejap, tubuh Randika sudah mancarkan aura yang ngerikan, benar-benar seperti Dewa Perang yang haus darah. Sepertinya lawannya itu masih nyimpan kekuatannya.

Perasaan ngerikan seperti ini bukan hanya dia yang dapat rasakannya, keempat pendekar lainnya juga rasakannya. Keringat dingin mulai bercucuran dari wajah reka berlima.

Inilah kekuatan dari 12 Dewa Olimpus, Ares si Dewa Perang!

Kekuatannya sedalam lautan dan seluas langit, benar-benar ngerikan.

"Seranglah bersama." Randika natap kelima orang itu dengan tatapan dingin.

Kelimanya saling natap satu sama lain dan semuanya berjalan perlahan sambil nggenggam erat senjata reka.

Bruce raung dan lempar rantainya nuju Randika. Keempat pendekar lainnya segera nggabungkan serangan reka.

Namun tiba-tiba, kelima orang ini terkejut ketika lihat Randika yang sudah berada di depan Bruce.

Benar-benar kecepatan yang luar biasa!

Dalam prosesnya, Randika nangkap ujung rantai milik Bruce dan lilitkannya pada kepalan tinjunya!

Ketika Bruce nyadari serangan rantainya gagal, hatinya ngepal dan dirinya njadi panik. Baru pertama kali dia rasakan rasa bahaya yang luar biasa besar ini. Ketika dirinya masih mproses hal ini, Randika sudah layangkan tinjunya tepat di wajahnya!

Tenaga dalam yang murni itu ledak, di bawah serangan tinju tersebut, kepala Bruce sudah tidak berada di tempatnya. Darah terus muncrat dari leher yang tidak berkepala tersebut.

Orang-orang yang di bar sudah teriak histeris ketika lihatnya tetapi semua masih belum berakhir. Li Tang, yang masih berusaha nyerang Randika, rasakan hembusan angin. Bahkan sebelum dirinya sempat bereaksi, angin itu makin berhembus kencang tepat di wajahnya.

Di bawah serangan kaki berputar Randika, Li Tang benar-benar seperti anak panah dan lesat nuju bar.

DUAK!

Li Tang nabrak tempat penyimpanan wine dan nimbulkan suara pecahan botol dan gelas yang tiada henti. Tidak suara gelas pecah saja, suara tulang punggung yang patah juga terdengar sama kerasnya. Oleh karena itu, Li Tang pingsan dengan begitu saja.

Tatapan mata Randika terlihat dingin dan dia noleh. Pada saat ini, Adam nebas pedangnya ke arah Randika dan Randika nghindarinya dengan bergerak ke samping. Randika ngulurkan tangannya dan nyentuh bilah pedang sabre milik Adam. Tiba-tiba, pedang sabre milik Adam itu bagaikan ditindih gunung dan Adam langsung lepaskan pedangnya tersebut dan mundur beberapa langkah.

Randika ngambil pedang tersebut dan lemparnya. Tiba-tiba, pedang tersebut lesat bagaikan roket lewati kepala Adam, nembus pintu bar dan nancap di tembok setelah nembus 3 mobil.

Pada saat ini, tiba-tiba Randika dikelilingi oleh kabut tipis. Dari balik kabut, cahaya bilah pedang yang dingin ngintai untuk nghabisi Randika untuk selamanya. Bilah pedang ini bagaikan ular yang licik, terus nerus bergerak ncari celah, mbuat musuhnya tidak dapat ngantisipasi dari arah mana serangan yang asli berasal. Namun, tiba-tiba wajah Auron berubah warna.

Randika ngangkat kedua jarinya dan njepit ke arah serong kanannya, seakan-akan dia ingin nangkap pedang tersebut. Auron yang panik tersebut berhasil nghindar dari jepitan maut tersebut.

mbulatkan tekad, Auron nebas ke arah Randika dan telapak tangan Randika terlihat ndarat di dada Auron. Keduanya bertukar pukulan tetapi gagang pedang milik Auron bergetar hebat. Auron yang kalah cepat itu mau tidak mau langkah mundur sebelum dirinya bisa lancarkan serangan.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 202: Penghabisan! on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Nightwatcher cover
Similar genre

Nightwatcher

Paperboy ·Harem

Inthisworld,thereis:Confucianism;Taoism;Buddhism,Demons,andMagicians.XuQi’an,a...Readmore Inthisworld,thereis:Confucianism;Taoism;Buddhism,Demons,a...

Tycoon War God cover
Trending now

Tycoon War God

Once Young ·Other

Inhispreviouslife,LinMuwasthetopassassinonEarth.HeaccidentallytraversedtotheEternalImmortalRealm,where,overthespanofeighthundredyears,hecultivatedf...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.