Font Size
15px

Randika dengan cepat keluar dari kamar tidur Kaori lalui jendela. Keadaannya sudah jauh lebih baik dan kekuatan misterius dalam tubuhnya sudah berhasil ditekannya dengan sempurna. Rasa sakitnya itu benar-benar tidak terbayangkan, jika dia ngalaminya lagi sekarang bisa-bisa dia milih untuk mati saja.

Ketika Randika kembali nuju Azumi bar, dia nyadari bahwa bar itu telah tutup. Namun, terdapat beberapa lubang di dinding samping, jelas ini rupakan saksi bisu dari pertarungannya dengan 5 ahli bela diri.

Sambil regangkan tubuhnya, Randika masuk dari lubang yang hanya ditutupi kain tersebut. Suara kakinya benar-benar nggema di ruangan yang sepi ini.

ndengar suara langkah kaki itu, seorang pengawal berbadan besar turun dari lantai atas untuk lihat. Awalnya dia sudah siap ngusir siapapun yang datang itu, tetapi ketika dia lihat sosok Randika, tenggorokannya njadi kering dan nyalinya nciut bagaikan ikan teri.

Siapa mangnya yang berani lawan Randika setelah dia nghajar 5 ahli bela diri dunia sekaligus? Bahkan aksi pembantaian tersebut dilakukan di depan mata kepalanya sendiri, bahkan jika dirinya ada seribu pun rasanya dia tetap kalah.

"Mana Azumi?" Tanya Randika dengan nada santai.

"Nona Azumi ada di atas." Jawab pengawal tersebut dengan cepat.

Randika berjalan lewati bar dan lantai dansa, tempat ini benar-benar berantakan. Sepertinya pertarungannya sebelumnya itu mbuat tempat ini njadi hancur berantakan sehingga bar ini tidak bisa beroperasi dengan normal jadi reka harus mperbaikinya terlebih dahulu.

Bar yang tidak ada musiknya ini benar-benar mbuat suasana njadi sepi. Randika lalu duduk di kursi bar dan berkata pada Akira si bartender, "Satu gelas wine."

lihat bahwa Ares sang Dewa Perang minta minum, Akira layaninya dengan sepenuh hati.

Ketika Randika hendak minum winenya, terdengar suara lemas dari belakangnya. "Jangan minum wine murahan itu, cobalah minum punyaku ini. Umur wine ini sudah 80 tahun dan aku nyimpannya untuk mon terpurukku."

Azumi nghampiri Randika dan nyerahkan gelas winenya pada Randika, dia sendiri minum wine yang disajikan Akira. Setelah negak habis, Azumi berkata pada para pengawalnya. "Kerja lebih cepat, jika barku ini tidak bisa beroperasi dengan benar besok, aku akan nendang kalian semua keluar."

Randika nyesap wine yang diberikan Azumi dan langsung nghabisinya setelah ngetahui rasanya yang nikmat.

"Kenapa kamu kembali ke sini?" Azumi ngeluarkan cerutu miliknya. Sambil dibantu Randika, dia nghisap dan ngeluarkan asap yang pekat.

"Tidak perlu kusebut kamu juga pasti sudah tahu." Kata Randika dengan nada santai. Akira terlihat ngisi gelas wine miliknya.

"Bahkan jika aku tahu, aku tidak bisa mberitahukannya padamu. Itu bukan gayaku lakukan bisnis. Jika aku mulai berpihak pada salah satu kekuatan, maka nyawaku dan hartaku akan terancam." Azumi nghembuskan asap cerutunya dan duduk di samping Randika. "Terlebih, kamu baru saja mbuat barku ini hancur berantakan dan sama sekali tidak mbayar kerugiannya. Apa kamu kira aku ingin bertukar informasi dengan orang tidak sopan seperti itu?"

Ketika Akira nuangkan winenya, tangan Randika nyuruhnya untuk berhenti nuang. "Sejak kapan nona Azumi yang kukenal njadi pengecut seperti ini?"

"Lebih baik aku diam dan ngunci mulutku apabila nghadapi orang-orang sepertimu." Sambil nghisap cerutunya, Azumi nghela napas. "Tapi mang Bulan Kegelapan nghancurkan barku dan tidak ngganti kerugianku. Jadi kalau kamu mberiku uang yang cukup, aku tidak keberatan mberikan informasi yang kamu mau. Kalau tidak ada uang maka jangan harap aku akan mbantumu."

Randika natap Azumi dengan tatapan tidak berdaya. "Berapa hargamu?"

"Hargaku adalah" Azumi tiba-tiba berdiri dan nghembuskan asap cerutunya pada wajah Randika.

"Hargaku adalah kamu."

Randika noleh dan tersenyum. "Aku?"

"Aku hanya ingin tidur bersamamu." Wajah Azumi sudah tersenyum nakal.

Tidur dengan dirinya?

Jika pria yang ngajak perempuan untuk berhubungan badan mungkin hal ini terlihat normal, tetapi perempuan yang ngajak pria? Hal ini jarang terjadi apalagi Azumi benar-benar bukan perempuan sembarangan.

ngingat-ingat betapa jantan dan gagahnya Randika ketika bertarung dengan kelima ahli bela diri itu, air liur Azumi nampak netes. Dia lalu ngatakan. "Aku belum pernah tidur dengan salah satu 12 Dewa Olimpus, aku yakin Ares sang Dewa Perang berbeda dengan laki-laki yang pernah kutiduri bukan?"

Di balik penampilannya, sepertinya Azumi rupakan perempuan yang cukup sum dan suka berhubungan badan. Randika hanya tersenyum padanya. "Kamu ingin tidur denganku? Baiklah, aku sendiri penasaran apakah kamu akan pingsan di tengah hubungan kita atau tidak."

Azumi natap Randika dan Randika natap Azumi. Keduanya sama sekali tidak berbicara untuk beberapa saat. Keduanya miliki senyuman nakal di wajah reka masing-masing. Akira hanya ngelap gelasnya dengan setenang mungkin, tidak berani nyuarakan pendapatnya.

"Benar-benar narik." Azumi kembali nghisap cerutunya dan nghembuskannya di wajah Randika.

Randika sendiri langsung ngulurkan tangannya dan remas pantat milik Azumi. "Aku sudah tidak sabar, bagaimana kalau kita lakukannya sekarang?" Randika sendiri sudah tergoda lakukannya ketika dia bertemu dengan Azumi setelah sekian lama, dia tidak keberatan dengan cinta satu malam ini.

Namun pada saat ini, Azumi perlahan lepaskan genggaman Randika dan berkata dengan nada serius. "Informasi apa yang kamu inginkan? Kalau kamu ingin ngetahui di mana Bulan Kegelapan berada, aku bisa ncarikannya untukmu. Tetapi harganya jadi berbeda."

Randika lalu duduk kembali dan tersenyum. "Bukannya kamu tadi ngatakan lebih baik diam dan tidak mihak pihak manapun?"

"Pada satu waktu, Bulan Kegelapan pasti akan berusaha njatuhkan diriku. Kamu kira aku akan berdiam diri begitu saja?" Azumi tersenyum. Tetapi Randika tahu di balik kata-kata tersebut, Azumi tidak akan njual informasi itu dengan murah. Dia pasti minta harga yang setinggi langit dan kabur dari negara ini.

"Kalau begitu di mana orang-orangku?" Randika natap Azumi dengan tatapan serius.

Langkah pertama yang dia perlukan untuk lawan Bulan Kegelapan adalah bantuan anak buahnya. Selama anak buahnya yang berada di istana dunia bawah tanah itu masih selamat, seharusnya naklukan Bulan Kegelapan adalah hal yang mudah.

Istana dunia bawah tanah tidak lain adalah markas barunya. Pada awal sekali ketika Bulan Kegelapan dan Harimau berkhianat, markasnya disebut benteng tidak tertembus bahkan oleh serangan gabungan negara adidaya. Namun berkat pengkhianatan Bulan Kegelapan dan Harimau, Randika harus mindahkan markasnya demi mbuat ramuan X.

Terlebih lagi, anak buahnya yang ngikutinya itu adalah pilihannya jadi reka tidak akan mati begitu mudah.

Azumi tertawa. "Sepertinya aku harus naikan hargaku."

Randika hanya tersenyum dan tidak mbalas.

Setelah nghisap cerutunya sekali lagi, Azumi nyesap wine miliknya dan berkata dengan nada santai. "Apa kamu tahu Penjara Shinra?"

Penjara Shinra adalah penjara rahasia yang biasanya berisikan mata-mata negara asing di Tokyo. Keamanannya benar-benar ketat, dapat dibandingkan dengan kakaknya yaitu penjara Fuchu yang sama-sama berada di Tokyo. Tetapi karena ingin ngorek informasi dari para mata-mata tersebut, keberadaan penjara Shinra benar-benar dijaga ketat dan lapisan pertahanannya benar-benar layak dikatakan sebagai nomor satu di dunia.

Randika ngangguk. "Aku tahu tempat itu, sepertinya polisi sudah njadi anjingnya."

"Bukan hanya polisi, kekuasaan Bulan Kegelapan di negara ini sudah hampir mutlak." Azumi tersenyum. "Anak buahmu semuanya ada di penjara itu."

"Tetapi untuk jumlahnya aku kurang tahu." Azumi kembali nghisap cerutunya. "Sejujurnya, banyak anak buahmu yang larikan diri begitu tempatmu jatuh. Yang tidak bisa larikan diri seharusnya sudah kebanyakan njadi mayat."

Randika tersenyum. "Aku tahu kekuatan anak buahku, reka tidak akan mati begitu mudah."

natap Randika, Azumi juga ikut tersenyum. "Sayangnya aku tidak bisa mastikan di mana sel reka berada. Aku sedang sibuk dengan barku ini jadi kamu harus ncari reka sendiri."

Randika berdiri. "Baiklah kalau begitu. Ah! Apa tidak apa-apa bagiku untuk ninggalkan pesan di tempatmu ini?"

"Asalkan kamu tidak rusak tempatku." Kata Azumi sambil ngangguk.

Randika lalu ngulurkan kedua jarinya dan mulai nggambar di dinding bar.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 206: Harga Sebuah Informasi on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.