Kota Cendrawasih selalu bermandikan cahaya matahari yang hangat dan terkadang awan akan nutup teriknya matahari. Tentu saja bagi sebagian besar orang, hari ini juga sama indahnya dengan hari-hari biasanya. Tapi bagi Randika, hari ini adalah lembaran baru dalam hidupnya.
Bagaimana tidak? Karena hari ini dia sudah resmi nikah dan terlebih lagi, dia ndapatkan wanita yang sangat cantik sebagai istrinya. nilik keseharian Randika sebelum-sebelumnya, tentu hari yang seperti ini hanyalah mimpi baginya.
Tetapi bagi Inggrid Elina, hari ini adalah wujud dari mimpi terburuknya.
Bagaimana tidak? Karena hari ini dia telah nikah dengan orang kalangan kelas bawah dan terlebih dengan orang yang sekasar dan tidak tahu malu seperti Randika.
Sebelum nuhi persyaratan yang diberikan pihak peminjam yaitu nikah dengan Randika, Inggrid sudah nyelidiki sendiri siapa calon suaminya itu. Dengan sumber daya dan jaringan Perusahaan Cendrawasih, hal tersebut sangatlah mudah. Dari hasil penyelidikannya, Randika adalah seorang anak yatim jadi tidak ada keluarga maupun saudara yang bisa mbocorkan masalah ini ke publik. Dengan ini, salah satu kekhawatiran terbesar Inggrid telah hilang.
Namun, hal yang paling mbuat mimpi buruknya ini lebih buruk lagi adalah salah satu syarat yang diajukan oleh Randika yaitu tinggal di rumahnya selama masa kawin kontrak reka berlangsung.
Setelah ndapatkan sertifikat nikahnya, mau tidak mau Inggrid mbawa Randika kembali ke rumahnya.
Di dalam mobilnya, Randika bertingkah layaknya anak kecil yang kegirangan. Dia bermain-main dengan radio dan lebih kekanak-kanakannya lagi, dia naik turunkan jendela berkali-kali lalu akhirnya njulurkan kepalanya keluar. Apabila orang lihat reka, entah apa yang akan dikatakan oleh Inggrid untuk njelaskan situasi ini. Untungnya, perjalanan reka tidak terlalu narik perhatian orang dan akhirnya reka tiba di suatu perumahan elit.
Perumahan Pondok Sempurna adalah salah satu kawasan elit di Kota Cendrawasih. Di sinilah rumah Inggrid berada bersamaan dengan orang-orang kaya lainnya. Setelah sampai di sarang cintanya, Randika segera keluar dari mobil dan mandang takjub pada rumahnya yang begitu besar.
"Hei! Jangan keluar dulu dari mobil, kita belum masuk ke dalam rumah. Aku tidak mau wajahmu dilihat orang-orang di sekitar sini."
Setelah markirkan mobilnya, barulah reka berdua masuki 'sarang cinta' reka.
Terpukau dengan besarnya rumah ini, Randika langsung bertingkah seperti anak kecil yang antusias dan sudah tidak sabar untuk njelajahi rumah ini untuk ncari harta karun. Kalau bukan karena olan Inggrid, mungkin Randika sudah berkeliling sungguhan.
Ingin nghindari mata yang mungkin saja ngintainya, Inggrid segera mbawa suaminya itu ke dalam rumah dan ngantarnya ke kamarnya. lihat kamar yang luas dan tempat tidur yang besar dan terlihat empuk, mbuat Randika secara tidak sadar mbandingkannya dengan tempat tinggal sewaannya yang nyedihkan. Oleh karena itu, dia segera lompat ke atas kasur dan rasakan keempukan bagai awan yang tidak pernah dia rasakan.
"WOW! Empuk sekali! Aku belum pernah rasa senyaman ini di kasur." Kata Randika sambil terus lompat-lompat di atas kasurnya.
Semua tindakan Randika hanya dilihat oleh Inggrid tanpa sepatah kata pun. Dia hanya gang erat sertifikat pernikahan yang digenggamnya sejak tadi. Dia lalu berpikir dalam hati, 'Tenangkanlah dirimu Inggrid, pada akhirnya ini sepadan. Dengan nunjukan sertifikat ini kamu akan ndapatkan uang dalam jumlah yang sangat besar!'
"Ibu Ipah, aku akan keluar sebentar. Tolong perhatikan laki-laki ini sentara waktu."
Ibu Ipah adalah pembantu keluarga Inggrid sejak dulu. Bisa dikatakan bahwa dialah yang ngasuh Inggrid sejak kecil. Mungkin karena tinggal bersama dengan keluarga elit sejak lama, Ibu Ipah ini terlihat sehat dan energik skipun penampilan usianya terlihat seperti 50an.
Dengan senyuman di wajahnya, Ibu Ipah nyetujui permintaan nona mudanya. Setelah dijelaskan oleh nona mudanya ngenai identitas lelaki ini, Ibu Ipah nelan dalam-dalam pendapatnya dan hanya bisa ngikuti pengaturan majikannya. Dia tidak percaya bahwa nona mudanya yang sering nolak lelaki tampan dan berpengaruh dari seluruh negeri ternyata akan nikahi lelaki biasa seperti ini.
Setelah nona mudanya turun kembali dan hendak nuju mobilnya, Ibu Ipah masih tetap tinggal di kamar Randika yang baru. lihat Randika yang bertingkah seperti anak kecil entah ngapa mbuat dirinya tersenyum.
Jelas terlihat bahwa lelaki ini pastilah bukan dari kalangan orang elit dilihat dari tindakan maupun barang bawaannya yang dia bawa. Tapi cinta itu buta, setidaknya itulah yang diyakini oleh Ibu Ipah. Dia tidak nilai orang dari seberapa besar kekayaan yang orang miliki, mungkin orang ini telah ncuri hati nona mudanya berkat ketulusan hatinya ataupun hal lainnya. Oleh karena itu, dia tidak boleh rendahkan dan mperlakukan orang ini secara berbeda.
Setelah mperhatikan beberapa saat, Ibu Ipah ngatakan, "Permisi tuan, hari sudah njelang siang dan sebentar lagi waktunya makan. Apakah ada yang ingin Anda makan? Aku akan masak apa pun yang Anda inginkan."
Setelah ndengar kata makan, telinga Randika bergerak dan kepalanya langsung berputar. skipun terlihat malu-malu Randika akhirnya ngatakan, "Hmmm Ibu Ipah, mungkin ini adalah pertemuan pertama kita tapi kedepannya kita akan hidup bersama dan aku tidak lihatmu sebagai pesuruh ataupun pelayan namun sebagai keluarga. Tidak usah terlalu sopan apabila berbicara denganku. Untuk makan siangnya, apakah ibu bisa mbuatkanku rawon? Aku sangat suka dengan daging dan rawon adalah makanan kesukaanku."
Mungkin apabila Inggrid ndengar kata-katanya ini dia akan ngol lama. Hidup bersama? Hei kamu itu akan keluar dalam 3 bulan, bisa-bisanya kamu ngatakan seolah-olah kamu akan tinggal di sini selamanya!
Tetapi Ibu Ipah yang ndengar perkataan Randika sedikit terharu dalam hatinya. Senyuman segera njulang di wajahnya, "Oke nak Randika, aku paham. Ibu mau keluar sebentar untuk pergi belanja sebentar ya. Jadi jangan terlalu nakal dan repotkan nona."
"Oke ibu jangan khawatir. Dan jangan lupa beli yang banyak ya dagingnya, aku sangat lapar dan bisa nghabiskan 10 kg nasi sekali makannya hahaha."
Sambil tersenyum lagi, Ibu Ipah segera pergi. Randika pun segera nata kembali barang-barangnya di kamar barunya.
Setelah beberapa saat dan mastikan ruangannya tidak ada orang, dia kemudian nyalakan komputer yang ada di dalam kamarnya.
Setelah njelajah internet dan mastikan salurannya aman, Randika masuki sebuah website anonim yang mungkinkannya untuk ngobrol ataupun panggilan video tanpa terlacak. Setelah itu dia nelepon sebuah user ID dan setelah beberapa saat, panggilannya pun diangkat.
Namun bukan wajah seseorang yang terlihat namun sebuah dada yang bagai gunung dan hampir mperlihatkan kedua pucuknya yang nyambut Randika. Sebagai lelaki yang sehat, Randika tidak bisa lepaskan pandangannya pada pandangan indah ini sebelum akhirnya marahi perempuan tersebut. Segera setelah itu, pemandangan indah itu berubah njadi sosok seorang gadis berambut pirang yang cantik.
"Wah sayangku Randika, akhirnya kau nghubungiku setelah sekian lama. Apakah akhirnya kau kangen kepadaku setelah sebulan nghilang?" Suara perempuan ini sangat ceria dan dia fasih berbahasa inggris.
"Ssttt Yuna, bisa kau kurangi volu suaramu? Aku tidak mau suamimu ndengar aku telah nghubungimu." Balas Randika dengan bahasa inggrisnya yang tidak kalah hebat.
"Hmmm perkataanmu barusan terdengar ambigu. Lupakanlah, bagaimana kabarmu adik ipar? Apakah kau baik-baik saja?"
"Adik ipar? Aku kakaknya tahu!"
ndengar balasan Randika, Yuna pun tertawa terbahak-bahak. lihat Yuna yang begitu liar ketika tertawa mbuat Randika tidak bisa tidak nghembuskan napas.
"Bisa-bisanya adikku nikah denganmu."
"Kenapa kamu terdengar seperti nyesal begitu? Apa kau nyesal tidak bisa bersamaku? Kalau mau kamu sama adikku saja, namanya Aline. Dia masih muda dan bujang, kalau kamu mau aku akan ngirimnya ke kasurmu dan akan kubuat dia tidak bisa nolakmu dengan ramuan obatku."
"Kamu tidak ndengar apa yang barusan kau katakan? Bisa-bisanya seorang kakak njual adiknya seperti itu. Aku benar-benar heran kenapa adik harimau bisa milihmu sebagai pasangannya."
"Yah dia aslinya tidak sekuat dirimu, orang yang kusuka sebenarnya adalah kamu lho Randika. Sejak malam kau ngajarkanku betapa jantannya seseorang lelaki padaku, aku nyadari bahwa selama ini aku sudah jatuh cinta padamu. Bagaimana? Mau aku ceraikan saja adikmu dan kita bisa lanjutkan malam bergairah itu? Apakah kamu suka roleplay? Aku mau kok jadi pelayan dan kamu njadi majikanku, pasti kehidupan seharian kita akan dipenuhi hal-hal nggairahkan." Yuna ngatakan semua hal ini dengan mata yang dipenuhi oleh nafsu dan napas terengah-engah. Di akhir kalimatnya pun dia njilat bibirnya seolah-olah nemukan hidangan lezat.
"Ha? Malam yang mana? Aku cuma nyelamatkanmu dari kejaran para pembunuh itu saja bukan? Bisa-bisanya kamu salah kaprah seperti itu?"
"Yah setidaknya aku berusaha lagipula aku tahu bahwa cintaku padamu cuma sepihak kok jadi tidak ada salahnya ncoba. Tapi serius Randika, adikku sangat cantik dan masih berusia 18. Tubuhnya lebih berkembang dari punyaku dan terlebih dia belum pernah bersama seorang laki-laki."
ndengar kata-kata Yuna, mbuat Randika mbayangkan hal-hal yang aneh di kepalanya. Mungkin orang-orang tidak tahu tetapi daya imajinasi Randika sangatlah tinggi jadi dia bisa mbayangkan bagaimana paras adik Yuna tersebut.
"Tolong Yuna, bisa kita serius sedikit? Aku benar-benar butuh bantuanmu." Khawatir orang-orang pada kembali ke rumah, Randika minta Yuna untuk fokus pada perbincangan reka yang asli.
"Oke, oke, ternyata kamu tidak cuma ingin ngasih kabar. Apakah ada yang bisa hamba bantu tuan?" Walaupun kata-katanya sedikit bercanda, ekspresi Yuna njadi lebih serius karena mungkin Randika dalam keadaan berbahaya.
"Aku butuh ramuan X, stok persediaanku hampir habis. Bisakah kamu ngirimnya dari markas?"
ndengar hal ini, wajah Yuna njadi putih pucat dan mberikan tatapan tidak berdaya.
"Apakah kau baik-baik saja? Apakah kau terluka? Jangan bergantung terhadap ramuan X itu terus-terusan Randika, ramuan tersebut miliki dampak tersendiri pada tubuhmu. Kamu harus bisa ngendalikannya tanpa ramuan ini." Yuna benar-benar terlihat serius.
"Jangan khawatir. Aku mbutuhkan ramuan tersebut untuk sentara waktu saja. Pada akhirnya aku akan ncari solusi tepatnya karena Indonesia terkenal akan alamnya dan aku yakin bahwa ilmu pengetahuan obatku akan mbantuku nemukan solusi yang tepat.
"Baguslah kalau begitu. mang Indonesia terkenal akan produk alamnya yang penuh khasiat. Untuk masalah ramuan X akan aku atur agar bisa ngirimkannya padamu."
.
Setelah selesai berbicara dengan Yuna, Randika segera ngambil sebuah botol kecil dari tasnya. Tanpa ragu, dia langsung nghabiskannya dalam sekali teguk.
Setelah minumnya, wajahnya mulai berkedut, tangannya segera ncengkram dadanya erat-erat seakan-akan dia terkena penyakit jantung. Keringat mulai mbasahi seluruh tubuhnya dan napasnya terengah-engah. Sesekali dia akan ngerang teredam berusaha tidak mbuat suara yang terlalu keras agar tidak diketahui oleh orang yang ada di rumah.
Lima nit kemudian, perlahan Randika mulai tenang kembali dan tubuhnya benar-benar basah oleh keringat. Apabila orang lihatnya sekarang mungkin reka akan ngira bahwa Randika telah kecebur kali.
"Sialan, tidak minumnya selama 10 hari efeknya sangat keras terhadap tubuhku. Kalau tidak segera nemukan solusinya mungkin aku tidak akan bertahan lama."
Randika yang sudah tenang kembali segera nuju kamar mandi untuk mbersihkan badannya dan makai baju baru untuk bersiap makan siang.
.
Pada saat ini, Inggrid telah tiba di suatu kediaman besar. Kalau orang lihatnya dengan seksama, maka tempat ini pastilah kediaman orang penting karena ketatnya penjagaan yang ada.
Inggrid pun diantar nuju suatu ruangan bawah tanah yang gelap. Setelah itu dia hanya berdiri diam di depan seseorang dan mberikan sertifikat pernikahannya.
"Aku sudah nuhi pengaturanmu untuk ndapatkan sertifikat pernikahan dengan pria itu. Sekarang, waktumu untuk nuhi janjimu."
Setelah ngatakan ini, figur orang tersebut berbalik dan berkata lalui topengnya, "Kerja yang bagus, sekarang ikutilah bawahanku dan kamu akan nerima uangmu senilai 300 miliar tersebut."
Walaupun sosoknya nyeramkan, suara yang terdengar adalah suara perempuan dan suara yang keluar dari balik topeng itu agak suram sehingga orang akan rinding ketika ndengarnya.
"Setelah aku nerima uangku, aku akan pergi dan aku harap kita tidak akan bertemu lagi." Selama hidupnya, Inggrid jarang takut terhadap orang tetapi hari ini entah kenapa dia takut terhadap sosok bertopeng ini. Insting wanita ini ngatakan bahwa orang ini berbahaya dan dia ingin segera pergi.
"Baiklah, ikutilah bawahanku dan dia akan nunjukan di mana uangmu."
Setelah Inggrid Elina pergi, sosok perempuan bertopeng ini segera masuk ke sebuah ruangan yang ada di baliknya.
Setelah masuk ke ruangan tersebut, wanita itu lepas topengnya dan sosok wanita muda berusia sekitar 20 tahun dengan wajah mungilnya dapat terlihat dengan jelas. Namun, tatapan matanya sedikit ngkerut ketika dia lihat ke sebuah sudut ruangan yang gelap.
"Pergilah dan katakan kepada Tuan Bulan Kegelapan bahwa fase pertama bisa dimulai."
Reviews
All reviews (0)