Beberapa jam kemudian, akhirnya pesawat reka berhasil ndarat di ibukota Jepang yaitu Tokyo.
Sesudahnya reka turun, Serena mberi ciuman panas pada Randika agar dia tidak lupakan dirinya. Setelah itu reka berdua berpisah sambil tersenyum.
Randika berjalan ke pintu keluar dan ketika dia lihat para polisi yang berbaris di pintu keluar, dia rasakan firasat buruk.
Dia ngerutkan dahinya, dia rasa bahwa para polisi ini sedang berjaga dan nunggu dirinya.
Perasaan ini benar-benar muncul tiba-tiba, ini semacam bentuk sinyal bahaya setelah hidup bertahun-tahun di tengah bahaya.
Sangat misterius tetapi nyata. Semacam firasat seperti ini telah nyelamatkan dirinya berkali-kali.
Namun, setelah berpikir sejenak sepertinya firasatnya ini terlalu berlebihan. Randika lalu neruskan perjalanannya nuju pintu keluar dengan wajah yang santai. Namun, tiba-tiba dua polisi nghampirinya.
"Namamu Randika?" Polisi tersebut ngeluarkan kertas berisikan gambar dan nama dirinya.
Beberapa polisi sudah mulai ngepungnya dan ngeluarkan borgolnya.
"Apa salahku?" Randika bertanya dengan bahasa inggris yang fasih.
"Markas telah netapkan Anda sebagai buronan." Polisi itu tidak kalah fasihnya dengan Randika skipun Jepang terkenal miliki Bahasa inggris yang cukup jelek.
"Anda sebaiknya nuruti kami dan tidak miliki pemikiran yang aneh."
Randika nghela napasnya dan natap para polisi yang ngepungnya. Sambil tersenyum dia ngatakan. "Bukannya atasanmu seharusnya sudah mperingati kalian supaya mbawa orang lebih?"
Sesudahnya Randika berkata demikian, tidak lebih dari 1 detik, Randika ngulurkan tangannya dan semua polisi tersebut terpental satu per satu. Polisi yang ncegatnya pertama kali sudah ringkuk kesakitan sambil gangi poster buronannya.
Setelah mbereskan reka semua, Randika lompat bagaikan kelinci dan berlari nuju pintu keluar!
Sepertinya rencana dirinya untuk datang ke negara ini sudah sampai di telinga Shadow. Sesampainya dia ndarat, para polisi sudah ngepung seluruh bandara. Randika benar-benar rehkan kekuatan yang dimiliki Shadow dan Bulan Kegelapan. Sepertinya reka sudah nguasai seluruh Jepang. Kalau tidak, mana mungkin reka bisa ngerahkan polisi dan ngepung dirinya sesaat dia ndarat?
Dalam situasi seperti ini, biasanya akan berakhir dengan akhir yang buruk. Jika diperumpamakan sebagai permainan catur, Bulan Kegelapan sudah gang kendali permainan ini sejak dia ndarat di Jepang. Sekarang tergantung Randika, jalan dan cara apa yang akan dia tempuh akan nentukan akhir dari ga reka ini.
"Tersangka kabur." Salah satu polisi yang terkapar ngeluarkan HT-nya sambil ngeluarkan pistolnya. Dia mbidik dan nembak Randika yang sedang berlari!
Dor! Dor!
Polisi tersebut ngeluarkan beberapa tembakan tetapi semua tembakannya sama sekali tidak nyentuh Randika. Suara tembakannya ini mbuat semua orang njadi panik, semuanya mulai lari semburat.
Para polisi yang baru tiba dan lihat Randika yang hendak kabur, semuanya mulai ngeluarkan pistol reka dan mbidiknya.
"Berhenti atau kami akan nembak."
Namun, Randika sama sekali tidak dulikannya. Tertangkap oleh reka berarti sama saja dengan jatuh di tangan Bulan Kegelapan. Apabila itu terjadi, nyawanya benar-benar akan habis. Jadi satu-satunya jalan adalah mbuka jalan yang penuh darah!
Para polisi berusaha nahannya tetapi reka ditendang Randika dengan begitu mudah.
Sesudahnya mbereskan beberapa polisi, masih banyak lapisan pertahanan. Beberapa nembakan senjatanya dan Randika nghindarinya. Di saat yang sama, matanya nganalisa situasi yang dia hadapi. Sepertinya Bulan Kegelapan tidak main-main demi nangkap dirinya, orang itu ngerahkan seluruh polisi di Tokyo untuk nangkap dirinya.
Berdasarkan penglihatan Randika, hampir semua tempat penuh dengan polisi. Mau itu di lobi, parkiran, tempat makan bahkan pintu keluar, semuanya penuh dengan polisi.
Namun, Randika sama sekali tidak takut dan nerjang langsung ke arah kerumunan polisi.
Dor! Dor! Dor!
Suara senjata letus beberapa kali, Randika bergerak bagaikan angin dan nghindari semua peluru yang nuju dirinya dan nerjang langsung ke arah reka!
Tangan kanannya ngepal dan nghantam wajah seorang polisi, dalam sekejap dia terpental dan nabrak rekan-rekannya.
Randika berputar di lantai dan loncat untuk nghindari terjangan polisi yang nyerangnya dari belakang. Saat dia ndarat, dia layangkan sebuah pukulan yang mbuat polisi itu pingsan. Di saat yang bersamaan, Randika berhasil ngambil senjatanya sesaat setelah polisi itu hendak tumbang.
lihat aksi Randika yang bagaikan hantu tersebut, para polisi ini nggunakan taktik lautan manusia untuk nangkap Randika. Randika berlari, lompati reka, nggunakan reka sebagai pijakan dan sekarang pintu keluar sudah ada di depannya!
Namun, tiba-tiba bulu kuduknya berdiri.
Sudah lama dia tidak rasakan perasaan seperti ini, situasi seperti ini, sama seperti sebelumnya, adalah bentuk dari insting yang terasah setelah hidup di tengah bahaya.
Tanpa berpikir panjang, Randika berputar di udara dan jatuh tepat di tengah-tengah kerumunan polisi. Pada saat ini, suara tembakan yang mbahana terdengar.
DOR!
DOR!
DOR!
.......
Lebih dari 20 tembakan telah ditembakan dari jarak yang jauh dan tinggi, nembus udara, lewati kerumunan dan ngarah pada Randika!
Bulan Kegelapan mang luar biasa, bukan hanya polisi tetapi dia juga nggunakan jasa penembak jitu!
Terlebih, para penembak jitu ini berpencar dan miliki jalur tembakan yang berbeda-beda jadi nghindarinya sedikit sulit.
Untungnya, pada saat ini, Randika sudah ndarat di lantai dan, bergerak bagaikan angin, dia berlari berkelok-kelok untuk nghindari semua peluru yang nuju dirinya!
Dia berhasil ngelak dari semua peluru dan untuk peluru yang terakhir, karena dia tidak sempat nghindarinya, dia nembakan senjata yang dia bawa dan peluru reka bertemu di udara.
Randika natap dingin seluruh penembak jitu yang tersebar itu. Bulan Kegelapan benar-benar nyiapkan sambutan yang luar biasa!
Saat Randika mulai berlari kembali nuju pintu keluar, semua polisi itu berusaha ncegahnya. Pada saat yang sama, saat dia berlari, pistol yang ada di tangannya ngarah ke atas. Peluru yang Randika tembakan ngarah tepat ke salah satu penembak jitu.
Penembak jitu tersebut sedang sibuk ncari sudut untuk nembak mati targetnya. Namun, dia tiba-tiba lihat sebuah peluru nuju dirinya.
Gawat!
Namun reaksinya benar-benar terlambat, peluru sudah bersarang di kepalanya.
Randika benar-benar cepat, tidak butuh waktu lama untuknya nghabisi para polisi yang berusaha ncegatnya.
Sesaatnya dia sampai di gerbang pintu keluar, Randika disambut oleh hujan peluru dari para penembak jitu dan polisi.
Para polisi yang berlindung di balik mobilnya itu nembak secara mbabi buta. Namun, setelah nghabiskan seluruh pelurunya, reka nyadari bahwa sosok targetnya telah nghilang!
Apa yang terjadi?
Semua orang terkejut, dan pada saat ini, suara jeritan terdengar.
Para polisi itu noleh satu per satu dan nemukan bahwa Randika sudah berada di bagian paling belakang dari reka. Setelah mukul pingsan si polisi, Randika masuk, ngambil mobil tersebut dan kabur dari situ.
"Tangkap dia!"
Para polisi itu segera masuk ke dalam mobil reka masing-masing sambil nembaki mobil yang dikendarai oleh Randika.
Reviews
All reviews (0)