Font Size
15px

Tetapi semua usaha para polisi itu benar-benar terlambat. Randika milih mobil di barisan paling belakang karena dia bisa kabur dengan cepat, sedangkan para polisi itu masih ada yang sibuk nembak ataupun nunggu perintah dari atasan reka. Jadi Randika miliki awal yang bagus dan mobilnya laju kencang, ninggalkan para polisi itu. Dia juga tidak segan-segan nabrak mobil yang berusaha ncegatnya.

Para polisi akhirnya sudah masuk ke mobil reka masing-masing, aksi kejar-kejaran telah dimulai!

Mobil polisi di paling depan laju kencang dan liuk-liuk sedangkan mobil polisi lainnya berusaha ngejar ketertinggalan reka, hal ini cukup mbuat masyarakat pada bingung. Randika ngendarai mobilnya dengan wajah serius dan tangannya gang erat kemudinya. Bahkan mobil polisi pun bisa dia ubah njadi mobil balap.

Benar-benar cepat, lincah dan tidak kenal takut.

"November 89 ke markas, November 89 ke markas, kami sedang ngejar tersangka. Kirim bantuan ke jalan Ibara dan tutup jalannya."

"Dingerti November 89, bantuan segera datang."

Pemimpin dari unit ini telah ngontak markas untuk minta bantuan sambil unitnya terus mbuntuti Randika dari belakang. ski rasa malu karena target berhasil kabur, fokus utama reka adalah nangkapnya jadi ngepungnya dari depan adalah langkah paling tepat.

Randika ngerutkan dahinya, prioritas utamanya adalah lepas dari kejaran para polisi kalau tidak maka dia tidak akan pernah bisa nyelidiki markas barunya itu.

Ketika mobil Randika laju dengan cepat nuju perempatan, dari arah kiri dan kanannya sudah terlihat mobil polisi yang siap nabraknya dari samping.

Randika nyadari ini lebih awal dan nyebarkan tenaga dalamnya. Tiba-tiba, mobilnya njadi nggila dan suara sinnya jauh lebih keras. Pada saat mobil polisi itu hendak nabraknya dari samping, Randika berhasil laju di tengah-tengah reka.

Alhasil, kedua mobil polisi itu saling nabrak dan mbuat jalanan tertutup total.

Pada saat ini jarak antara Randika dan mobil para polisi semakin jauh dan jauh.

"BAJINGAN!" Pemimpin unit polisi ini rasa kesal dengan bawahannya yang tidak kompeten itu.

skipun reka ngejar sekarang, jarak reka sudah terlalu jauh dan nyingkirkan dua mobil yang ringsek itu juga bukanlah hal yang mudah.

Harapan satu-satunya adalah bantuan yang dikirim markas atau target reka akan kabur.

Pada saat ini, HT miliknya tiba-tiba berbunyi. "Masuk November 89, target berhasil lolos dari pengepungan."

Pemimpin unit itu mbanting HT miliknya.

Setengah jam kemudian, reka semua berkumpul di samping sungai. Pemimpin unit itu ngerutkan dahinya ketika ndengar laporan dari bawahannya.

"Jadi maksudmu orang itu lepas kendali dan jatuh ke dalam sungai?"

Dia lihat mobil polisi yang ngapung di tengah sungai. Saat ini dia tidak punya pilihan selain nyuruh anak buahnya nyelidikinya dan kembali ke markas.

Sedangkan Randika, dia sudah berada di sebuah rumah tak berpenghuni.

"Bulan Kegelapan sepertinya sudah nguasai Jepang, jika aku tidak nyusun siasat bisa-bisa berikutnya aku tidak seberuntung ini." Randika berpikir sambil ngeluarkan jarum akupunturnya.

Jarum tersebut dia tusukan di wajahnya! Ajaibnya, lama kelamaan wajah Randika berubah sedikit demi sedikit.

Setelah beberapa saat, penampilan Randika benar-benar berubah total. Kecuali rambutnya, wajahnya berubah seperti orang Eropa.

Namun, keajaiban ini tidak bisa berlangsung lama jadi dirinya harus berhati-hati.

Setelah selesai berubah, dia ngambil kembali jarumnya dan berjalan nuju pusat kota.

......

Malam hari di Tokyo benar-benar seperti karnaval, lampu-lampu di jalan benar-benar terang. Banyak perempuan cantik yang berkeliaran di ibukota Jepang ini.

Sejujurnya, baik di dalam negeri maupun di luar, trik ndapatkan perempuan berawal dari keberanian. Tidak peduli kau kaya atau tidak, ganteng atau tidak, yang diperlukan pertama adalah keberanian untuk ngawali pembicaraan. Bahkan, aslinya perempuan itu ingin dikejar.

Azumi Bar.

Bar ini terdapat di bagian selatan kota Tokyo, bangunan ini sudah cukup tua. Terlebih, pemilik dari tempat bar ini adalah perempuan.

Perempuan yang miliki bar bukanlah perempuan sembarangan.

Di sini kita bisa ndapatkan narkoba ataupun jasa hubungan badan. Bahkan, jika kita tidak punya malu kita bahkan bisa bercumbu di belakang parkiran.

Azumi Bar mpunyai bagian hitam dan putihnya. Bagi siapapun yang berani berulah maka reka akan dihajar dan dibuat cacat sehingga tidak bisa datang kembali. Bisa dikatakan bahwa polisi sama sekali tidak ngurus kejadian yang terjadi di bar ini dan bahkan reka sudah dibayar agar tidak ikut campur. Oleh karena itu, Azumi Bar benar-benar tempat spesial di Tokyo.

Tentu saja, jika kita tidak ngenal Tokyo maka kita tidak akan ngenal Azumi Bar.

Berjalan masuk ke dalam bar, suara musik yang keras dapat terdengar hingga luar. Di lantai dansa, semua orang berdansa dengan liar dan para perempuan berpakaian sexy dan longgar. Di sudut-sudut bar, terlihat ada beberapa pengawal berbadan kekar.

Bartender di bar ini sibuk layani tamu-tamu yang mabuk ini dan akhirnya dia miliki kesempatan untuk narik napas ketika semua orang sibuk berdansa.

Namun, seseorang tiba-tiba duduk di depannya.

"Satu Frost bir." Kata pria tersebut.

Bartender tersebut ngambilkan botol birnya dari kulkas dan nyerahkannya pada pria tersebut.

Ketika dia hendak pergi, kata-kata pria tersebut mbuatnya berhenti berjalan.

"Aku ncari nona Azumi." Kata pria itu dengan suara pelan.

Bartender itu noleh dengan wajah terkejut.

"Siapa kamu?" Terlihat bahwa bartender itu njadi waspada.

"Kau tidak perlu ngerti siapa aku, aku cuma ingin bertemu dengan Azumi." Pria tersebut makai topi jadi si bartender tidak bisa lihat muka orang itu dengan jelas.

"Nona Azumi tidak ada di sini, bahkan jika dia ada, aku ragu kau bisa nemuinya." Bartender itu mulai nggosok gelasnya dengan kain bersih. "Nona Azumi beda dengan kita, dia selalu sibuk."

"Jika kau mberitahu namaku, aku yakin dia sendiri yang akan datang untuk nemuiku."

Apa?

Secercah rasa tidak percaya lintas di tatapan mata si bartender. mangnya siapa orang ini?

Pada saat ini, dua pengawal berbadan besar nghampiri reka. Si bartender lah yang manggil reka dan dia mberikan sinyal pada reka.

Kedua pengawal ini ngangguk dan berdiri di samping Randika.

"Maaf aku tidak bisa lakukannya. Kau harus minta tolong pada reka berdua." Kata si bartender.

Si bartender lalu ngambil uang yang Randika taruh di atas janya dan pergi. Pada saat ini, salah satu pengawal tersebut berkata pada Randika.

"Kau ingin bertemu dengan nona Azumi?" Orang berbadan kekar ini duduk di samping Randika dan natapnya dengan seksama.

Untungnya Randika sempat belajar Bahasa Jepang ketika dia masih bersama Yuna jadi dia ngerti apa yang dimaksud oleh orang ini. Tetapi, dia sama sekali nghiraukannya dan negak birnya.

Pengawal tersebut ngerutkan dahinya. "Apa maumu?"

"Bawa dia kemari." Kata Randika dengan santai.

Kedua pengawal ini saling natap satu sama lain dan ndengus dingin.

"Nona Azumi bukan perempuan murahan yang kau bayangkan." Pengawal tersebut tertawa. "Kalau kau terus bercanda seperti ini, maka aku terpaksa ngusirmu keluar."

Pengawal tersebut hendak ngambil botol birnya Randika dan ingin lemparnya untuk nakut-nakutinya, tetapi saat tangannya hendak raih, tangannya telah digenggam erat oleh Randika dan sama sekali tidak bisa bergerak.

Orang ini terkejut dan hendak lepaskan diri tetapi tangannya sama sekali tidak bisa bergerak. Mau sekeras apa pun dia berusaha, dia sama sekali tidak bisa nggerakannya.

"Jangan pernah nyentuh barang milik orang lain sembarangan, tanganmu bisa hilang." Kata Randika dengan suara pelan. Kemudian dia lepaskan genggamannya dan pengawal itu ngambil langkah mundur beberapa langkah.

Pada saat ini, tatapan kedua pengawal itu berubah njadi serius.

Pengawal yang tangannya kesakitan itu berkata dengan nada serius. "Buat apa kau ingin bertemu dengan nona Azumi?"

"Kalian tidak perlu tahu." Kata Randika dengan santai.

"Kau sudah sinting, kau tidak tahu hukum apa yang berlaku di sini." Pengawal itu ndengus dingin. "Aku akan nghajarmu atas nama nona Azumi!"

"Ikan teri macam kalian tidak bisa apa-apa." Kata Randika. Dari awal hingga akhir, Randika sama sekali tidak nggerakan kepalanya dan gangi botol birnya dengan santai.

Pada saat ini, pengawal tersebut sudah ngepalkan tangannya dan layangkan tinjunya. Randika sama sekali tidak noleh, dia hanya ngangkat tangan kanannya dan nghentikan pukulan lawannya itu di tengah udara. Dia hanya ndorong orang itu hingga beberapa langkah.

Randika akhirnya letakan botolnya dan noleh ke arah si pengawal sambil berwajah sinis.

Si pengawal itu makin marah ketika lihat wajah Randika yang seperti itu.

Randika masih duduk di kursinya, dia lalu ngulurkan tangan kanannya dan mberi sinyal pada lawannya itu untuk nyerangnya. Kedua pengawal tersebut nerjang maju dari kedua sisinya. reka berdua sudah layangkan tinjunya.

Namun, Randika yang sudah nyebarkan tenaga dalamnya itu masih bersikap tenang. Dua lawan satu bukanlah hal yang repotkan baginya.

SI bartender sudah berdoa dalam hati untuk pengunjungnya itu. Tetapi apa yang terjadi berikutnya benar-benar di luar dugaannya.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 199: Azumi Bar on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.