Setelah ngumpulkan para pramugari di bagian belakang pesawat, para teroris ini mbawa seluruh pramugari tersebut ke kabin kelas pertama agar dapat ngawasi reka lebih leluasa.
Di kabin orang kaya ini, ada 8 teroris yang berjaga.
"Berisik!" Salah satu teroris berteriak pada perempuan yang sedang nangis. Suara tangisnya itu cukup keras dan mbuatnya jengkel.
Perempuan tersebut terkejut dan ngusap air matanya.
"Kalau kau nangis lagi, aku tidak akan segan-segan mbunuhmu." Kata teroris tersebut sambil ngarahkan senapannya ke perempuan tersebut.
Semua penumpang yang lain sama sekali tidak berkontar. Beberapa penumpang sudah mancarkan aura kemarahan reka ketika lihat hal ini. Tetapi, ketika teroris itu nodongkan senjatanya, reka sama sekali tidak berani untuk bergerak sembarangan.
Kalau pun reka berhasil njatuhkan satu orang ini, masih ada 7 teroris lainnya dan itu sudah cukup mbuat kabin ini njadi lahan pembantaian.
rasakan kekuatan dan kekuasaan yang absolut ini, teroris tersebut berkeliling sambil gang senjatanya dan ngerutkan dahinya ketika lihat seorang anak kecil.
"Kalian berdua cepat berdiri!"
Ibu dan anak, yang luk ibunya dengan erat, tersebut terkejut. Anak kecil tersebut ketakutan dan mulai nangis.
"HUA!"
Tangisannya yang keras itu langsung nggema ke seluruh kabin. Dalam sekejap hati ibu tersebut ngepal dan takut akan nasibnya.
"Sayang, cup-cup, sudah jangan nangis ya."
Ibunya itu dengan cepat nenangkan anaknya yang masih berusia 2 tahun tersebut. Tetapi lihat anak dan ibunya itu sama sekali tidak berdiri, teroris tersebut ndengus dingin dan narik paksa tangan si anak.
"Tidak! Lepaskan anakku!" Sang ibu langsung narik tangan anaknya dan ingin rebutnya kembali.
Teroris tersebut mukul sang ibu dengan senapannya hingga berdarah.
Ibu yang terjatuh di lantai itu berkata sambil nangis. "Ambil saja aku, kembalikan anakku!"
Para penumpang yang lain sama sekali tidak berdaya, reka ingin mbantu ibu itu tetapi reka tidak punya keberanian untuk lakukannya. reka lihat teroris tersebut ngangkat anak kecil tersebut dan tersenyum jahat sambil nodongkan senjatanya tepat di samping kepala anak kecil itu. Semuanya rasa bahwa mungkin ini adalah akhir dari anak kecil tersebut.
Para teroris yang lain sempat geleng-geleng dengan temannya satu itu, reka mutuskan untuk ncuekinya.
lihat anaknya ditodong senjata, tangis ibu tersebut makin keras dan mohon ampun untuk anaknya. Tetapi pada saat ini, tirai pintu antar kabin terbuka.
Beberapa teroris nyadari hal ini dan mbidik senjata reka ke arah tersebut.
"Halo!" Randika tersenyum dan nembakan senjatanya.
Dor! Dor! Dor!
Ketika pelurunya lesat, peluru tersebut langsung bersarang tepat di dahi reka. Ketiga teroris lainnya terkejut ketika ndengar tembakan ini dan berdiri. Yang reka terakhir ingat adalah rasa sakit di dahi reka ketika tiba-tiba pandangan reka njadi gelap.
Dalam sekejap, 7 teroris sudah mati terbunuh dan tinggal seorang lagi yang nyekap seorang anak kecil.
"Jangan bergerak!"
Teroris tersebut natap Randika dengan kaki yang bergetar. Senapannya sama sekali tidak beranjak dari kepala si anak.
"HUA!"
Tangisan anak kecil itu semakin njadi-jadi ketika teroris tersebut ncengkeramnya dengan erat.
Randika hanya ngerutkan dahinya dan teroris itu berkata dengan nada dingin. "Buang senjatamu atau akan kubunuh anak kecil ini!"
Kejadian seperti ini selalu nyulitkan bahkan untuk tim kesatuan khusus polisi. Jika kita nuruti dan mbuang senjata kita, maka penjahat akan mpunyai kendali atas nyawa semua orang. Tetapi jika kita tidak mbuang senjata, sandera akan mati.
Hati si ibu langsung ngepal, Randika sendiri hanya tersenyum. "Kalau aku tidak mau?"
"Kalau begitu darah anak kecil ini adalah dosamu!" Teroris itu tersenyum jahat, tetapi tiba-tiba, dia rasakan hawa dingin dari arah belakangnya. Dia sama sekali tidak tahu kapan orang itu sudah nyelinap ke belakangnya.
"Kalau begitu aku akan mbunuhmu duluan." Randika nggelengkan kepalanya sambil matahkan leher teroris tersebut. skipun dia masih belum bisa nggunakan seluruh kekuatannya, kecepatannya masih tidak tertandingi dan hanya beberapa orang di dunia yang bisa ngimbanginya.
Lehernya yang patah itu hanya bisa lotot tidak percaya, sejak kapan orang ini sudah dibelakangnya.
Randika berhasil ndapatkan anak kecil tersebut sebelum teroris itu nibaninya. Tiba-tiba anak kecil itu berhenti nangis dan natap Randika dengan kedua bola matanya yang besar.
Anak kecil itu sepertinya bisa mahami bahwa Randika adalah orang yang baik dan seketika itu dia mulai tertawa. lihat senyuman anak kecil ini, suasana hati Randika yang muram itu mbaik sedikit dan dia hendak tersenyum.
Namun pada saat ini, tanpa peringatan apa-apa, anak kecil ini mulai pipis!
Bajingan!
Randika terkejut rasakan air pipis yang hangat di sepatunya dan segera njauhkannya dari dirinya. Semua air pipis itu lalu nggenang di lantai.
Untungnya saja Randika bisa respon semua ini dengan cepat, sepatunya hanya basah sedikit.
Randika nghela napas ketika anak kecil itu selesai ngeluarkan pipisnya. Adegan lucu ini mbuat suasana tegang kabin ini njadi sedikit lebih lepas dan orang-orang mulai tertawa.
Randika, sambil nggendong anak kecil itu, ngembalikannya pada ibunya.
"Terima kasih, aku benar-benar berterima kasih padamu!" Ibu itu tidak bisa berhenti ngucapkan rasa terima kasihnya sambil luk anaknya.
Semua orang bertepuk tangan pada Randika tetapi Randika sendiri hanya berjalan nuju kokpit pilot.
Randika berhasil ngamankan seluruh anggota teroris ini tanpa mbiarkan reka mberitahu keadaan reka pada teman-temannya jadi informasi ngenai pesawat ini diambil alih kembali belum sampai di kokpit.
Randika nekan tombol bel di pintunya dan suara bos dari para teroris itu terdengar. "Ada apa?"
"Anak buahmu sudah mati semua." Kata Randika dengan santai. "Buka pintunya, ini semua sudah berakhir."
Tidak ada jawaban sama sekali untuk beberapa saat, lalu si bos itu berkata dengan nada datar. "Yang mati biarlah mati. Lagipula reka sudah nyerahkan nyawa reka untuk kemakmuran organisasi kami. Nyawa reka tetap hidup di hatiku!"
Randika mbalasnya sambil nghela napas. "Buka atau kudobrak."
"Hah? Jangan berkata omong kosong seperti itu, jika kau bisa ndobraknya kenapa kau mintaku untuk mbukakannya?" Si bos teroris ini sepertinya tidak percaya dengan kekuatan Randika. "Aku akan mbunuh kedua pilot ini jika pesawat ini sudah sampai ke tujuan, jadi aku harap omong kosongmu itu dapat nyelamatkan reka."
Randika nggelengkan kepalanya dan letakan tangannya di pintu.
Pintu kokpit ini benar-benar anti peluru dan ledakan, hampir mustahil untuk ndobrak masuk.
Di atas pintu, tangan Randika mulai nyalurkan tenaga dalamnya. Di bawah serangan tenaga dalamnya, pintu tersebut seakan-akan sudah tidak kuat nahan kekuatannya dan mulai bergetar. Sepertinya pintu itu akan ledak kapan saja.
Si bos yang berada di dalam terkejut ketika lihat pintu itu bergetar. Masa musuhnya itu bisa ndobrak masuk ke dalam sini?
Di tengah dia masih berpikir, pintu kokpit ini terjatuh ke belakang dan sosok Randika langsung masuk dengan santai.
lihat sosok musuhnya yang tenang itu, dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya dan bahkan rokok yang dia hisap terjatuh.
Dia sudah pernah mbunuh para prajurit terkuat tetapi dia belum pernah lihat musuh yang sekuat ini. Apa dia masih bisa dibilang manusia?
Reviews
All reviews (0)