Semua orang njadi panik, beberapa teriak histeris, beberapa berdoa agar dirinya selamat, beberapa berusaha larikan diri ke kabin lain. Tetapi semua itu percuma, para pembajak itu sudah ngepung tiap pintu kabin jadi tidak ada jalan keluar.
"Semuanya tutup mulut kalian!" Teriak salah satu dari reka. "Kalau tidak kami akan mulai nembaki kalian satu per satu hingga terdiam.
Pada saat yang sama, beberapa anggota pembajak ini ndatangi kabin kelas pertama. Tanpa berkata apa-apa, reka ngeluarkan senjata reka dan mbidik ke arah penumpang.
"Jangan ada yang bergerak! Pesawat ini sudah kami bajak!" Teriaknya.
Semua penumpang di kelas pertama ini terkejut. Salah satu teroris ini lihat seseorang ada yang berlari nuju kokpit pilot untuk mberitahu situasinya dan dia berhasil nembaknya sebelum hal itu terjadi.
Beberapa penumpang berusaha bertingkah layaknya pahlawan, pada saat ini, beberapa teroris yang sudah nyamar di tengah para penumpang kelas pertama ini berdiri dan nghajar orang-orang yang nekat tersebut.
Rencana pembajakan ini sudah reka siapkan berbulan-bulan jadi pelaksanaannya benar-benar sempurna.
Tidak butuh waktu lama bagi para teroris ini ngontrol situasi kecuali kokpit pilot.
Salah satu orang berjenggot nyandera para pramugari, sambil mbidik reka, dia minta para pramugari tersebut duduk di bagian paling belakang pesawat.
Setelah ngamankan reka, pria tersebut mbawa salah satu yang paling senior untuk ngikuti dirinya. reka akan nuju kokpit pilot.
Dalam tugasnya di dalam kokpit pesawat, pilot dibantu oleh seorang ko-pilot. Selama penerbangan berlangsung senjak pintu terakhir ditutup untuk lepas landas hingga pintu pertama dibuka setelah ndarat, pilot dan ko-pilot akan ngikuti jalur-jalur penerbangan yang telah didaftarkan dan terprogram lalui bantuan sistem navigasi pesawat serta ngikuti informasi yang diberikan oleh nara kontrol lalu-lintas di bandar udara maupun petugas pelayanan lalu lintas penerbangan di sepanjang perjalanan.
Pramugari itu berhenti di depan pintu kokpit dan ngebel pintunya sambil ngatakan. "Apakah kalian ingin minum?"
Di dalam pesawat, hanya seorang pilot dan wakilnya lah yang boleh berada di kokpit pilot. Tempat sakral ini rupakan pusat pengendali pesawat. Jika kapten pesawat itu tidak mbukakan pintunya dari dalam maka para pramugari ataupun orang lain tidak bisa masuk. Oleh karena itu, para teroris ini mbutuhkan bantuan pramugari ini untuk mbuat si pilot mbuka pintu reka.
Sesuai rencana reka, para pilot itu tidak ncurigai apa pun dan mbuka pintu reka dari dalam. Begitu pintu terbuka, tiga teroris langsung nyerbu masuk dan nodongkan senapan reka.
"Jangan bergerak!" reka mbidik ke arah si kapten pesawat dan wakilnya.
Orang yang berjenggot tadi masuk dan berkata pada kedua pilot tersebut. "Bawa pesawat ini ke tempat ini."
Bersamaan dengan itu, pria tersebut ngeluarkan peta dan nunjuk ke sebuah pulau.
Tentu saja, kedua pilot itu nolaknya. Tetapi, pria berjenggot itu berkata dengan nada dingin. "Jika kalian nolak, kami akan mbunuh penumpang kalian satu per satu tiap 1 nit."
Salah satu teroris ndorong si pramugari tadi masuk ke dalam kokpit dan nodongkan senjatanya di kepala si pramugari.
Sang kapten rasa tidak berdaya.
Seluruh proses pembajakan ini berjalan dengan cepat, cuma butuh 15 nit bagi para teroris ini ngendalikan seluruh pesawat.
Di kabin ekonomi, tempat Randika berada, para teroris ini ngawasi seluruh keadaan dengan tatapan waspada. Pada saat ini, reka sudah ngetahui bahwa anggota reka berhasil nguasai kokpit dan reka ikut senang.
Para penumpang pesawat ini sudah was-was dan rasa tidak berdaya. reka terus berdoa agar bisa kembali dengan selamat, seorang ibu luk anaknya dengan erat dan seorang pebisnis terlihat berkeringat dingin di seluruh tubuhnya.
Pada saat ini, Randika sudah berhenti lamun dan miliki kesadarannya kembali. Tiba-tiba pesawatnya sudah dibajak!
Sambil ngerutkan dahinya, Randika nghela napasnya. Dia aslinya tidak ingin berurusan dengan para teroris ini tetapi kalau pesawatnya dibajak, berarti tujuan reka akan berubah dan dia sama sekali tidak bisa mbuang waktunya.
"Benar-benar repotkan." Randika berdiri, dan dalam sekejap, seorang teroris langsung mbidiknya.
"Siapa suruh kau berdiri?" Teroris tersebut berwajah dingin. "Duduk atau kutembak."
"Tunggu sebentar." Randika ngangkat kedua tangannya dan berkata dengan santai. "Bisakah aku ngambil obatku di tasku?"
"Aku tidak peduli dengan penyakitmu, duduk atau kutembak!" Teroris tersebut sudah kehilangan kesabaran, para penumpang juga lototi Randika dan ikut cemas.
Randika hanya tersenyum. "Kalau begitu"
Sesudahnya tersenyum, sosok Randika nghilang bagai ditelan asap. Teroris yang berjaga di kelas ekonomi ini langsung terkejut dan bingung. Di tengah kepanikannya, reka mbidik para penumpang dan ngancam akan mbunuh reka apabila Randika tidak nunjukan dirinya.
Tetapi pada saat ini, Randika sudah berdiri di depan 2 teroris dan mberikan reka pukulan keras tepat di wajah. Pukulan itu benar-benar cepat dan tidak dapat ditahan, kedua orang tersebut hanya bisa terpental dan tidak sadarkan diri di lantai.
Salah satu dari reka sudah mbidik Randika dan nembak ke arahnya, tetapi Randika lebih cepat satu langkah darinya. Randika sudah mbengkokan bagian larasnya dan peluru hanya bisa nembak ke bagian atas.
"Bedebah!"
Pada saat yang sama, dua teroris lainnya nyadari kedua temannya sudah jatuh pingsan dan langsung mbidik senjata reka ke Randika!
Tetapi pada saat ini, Randika nggunakan badan teroris yang di depannya itu sebagai tang dan semua peluru yang lesat ke arahnya masuk ke dalam badan teroris tersebut.
Pada saat yang sama, Randika ngambil senapan yang ada di tangan teroris tersebut. lihat kedua teroris yang nembaknya itu kehabisan peluru, Randika lompat dan nembakkan dua peluru. Kedua peluru tersebut dengan akurat masuk ke dalam dahi kedua teroris tersebut.
Hanya dalam sekejap, Randika berhasil mbasmi 5 teroris yang berjaga di kelas ekonomi pesawat ini.
Para penumpang lihat aksi Randika dengan hati yang ngepal dan mata yang terbelalak. Bahkan penumpang yang duduk di samping Randika itu sudah tidak bisa nutup mulutnya yang nganga.
Randika ngambil senapan serbu para teroris ini dan berjalan nuju kelas pertama. ngintip dari balik tirai, ada dua orang yang berdiri di depan tirai ini. ngandalkan serangan diam-diam, Randika nghantam bagian belakang kepala reka dengan senapannya dan ngakhiri hidup reka dengan mudah!
Di dalam kabin ini, beberapa teroris langsung njadi waspada ketika ndengar suara tubuh jatuh dan lihat sosok Randika yang berjalan masuk. Namun, sebelum reka bisa nembak, Randika sudah mbidik reka dan nembak reka tanpa ampun! Setiap satu peluru akan bersarang di dahi reka, benar-benar akurat!
Hasil ini mbuat Randika ngangguk puas. Sejujurnya, peluru dan senjata api bukan rupakan senjata utamanya tetapi bukan berarti dia tidak bisa nggunakannya. Dia hanya tidak ingin bergantung pada senjata seperti ini.
Tetapi ketika dia nggunakannya, cukup satu peluru untuk mbasmi satu orang.
Semua penumpang kelas ekonomi ini sudah lototi Randika dengan tatapan tidak percaya. Pemuda yang datang itu nghabisi para teroris ini hanya dalam satu tarikan napas!
Sambil ngambil senjata yang baru, yang pelurunya penuh, Randika berjalan nuju bagian kabin kelas pertama.
Di saat dia berjalan, para penumpang hanya terdiam. Sepertinya reka masih tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.
Randika sama sekali tidak peduli, waktu adalah segalanya bagi dirinya yang sekarang.
Reviews
All reviews (0)