Font Size
15px

Bersamaan dengan suara itu, muncul figur seseorang di video.

Alis Randika berkedut, Shadow!

Benar, orang yang berada di chat video ini adalah Shadow.

Hati Randika langsung ngepal, bagaimana bisa Shadow ngetahui posisi Yuna yang baru?

Tatapan mata Randika ngandung niat mbunuh, wajahnya sudah sedingin es. "Di mana Yuna?"

"Oh? Bukannya ada pertanyaan yang lebih bagus? Misalnya kenapa bisa aku yang ada di chat ini?" Shadow tersenyum.

nyadari tatapan dingin Randika, Shadow ngatakan. "Ketika aku ninggalkan kota Cendrawasih, rasa sakit dikalahkan olehmu itu sungguh amat nyakitkan. Oleh karena itu, aku ndedikasikan hidupku untuk ncari cara untuk balas dendam. Aku juga yakin pasti tuan akan ngirim orang untuk ncariku."

Randika tidak mbalasnya, tatapannya makin tajam dan dia berkata dengan nada serius. "Kau mang layak disebut mata-mata terbaik."

"Aku rasa tersanjung dipuji olehmu." Shadow mbalasnya sambil tersenyum skipun ekspresinya itu terlihat seperti orang mati.

"Biarkan aku lihat Yuna." Kata Randika.

"Karena tuan berkata demikian." Shadow lalu nggerakan karanya dan sosok Yuna yang terikat muncul dari balik layar.

lalui video ini, wajah syok Yuna tidak bisa disembunyikan. Sepertinya dia sendiri heran kenapa musuhnya bisa ngetahui lokasi markas barunya ini.

Setelah beberapa saat, karanya bergerak kembali.

"Setelah lihatnya apakah ada permintaan tuan yang lain?" Tanya Shadow dengan wajah tanpa ekspresi.

Randika sudah dipenuhi dengan aura mbunuh. "Kau benar-benar hebat, tidak percuma aku latihmu secara langsung."

"Aku tidak mbantahnya." Nada suara Shadow berubah njadi dingin. "Anak bernama Aline ini apakah bawahan tuan juga?"

"Apa kamu juga akan mbunuhnya?" Randika bertanya dengan nada dingin. Aura mbunuhnya bahkan bisa terlihat dari balik layar.

"Tidak, mana mungkin aku mbunuhnya." Shadow nggelengkan kepalanya tetapi senyuman jahat mulai muncul di wajahnya. "Karena dia adalah adik Yuna jadi bisa dikatakan bahwa dia adalah bawahanmu. Jadi aku akan nyiksanya, mbuatnya sekarat dan mohon ampun atas nyawanya, lalu aku akan mbunuhnya!"

"Sepertinya tubuh tuan terluka lagi ya? Tuan sampai mbuat markas baru untuk mbuat ramuan obatmu lagi." Setelah Shadow berkata demikian, tatapan Randika makin tajam. Jika markas barunya ini telah ditemukan oleh Shadow, tidak diragukan lagi Bulan Kegelapan akan rintahkannya untuk nghancurkan markasnya lagi. Jika ramuan X ini tidak diproduksi, akan sangat sulit baginya untuk ngontrol kekuatan misterius dalam tubuhnya.

Shadow mbungkuk. "Untuk nghormati kerja sama kita dulu, aku sendiri yang akan nghancurkan markas baru kita ini."

Aura mbunuh Randika sudah tidak bisa diredamnya lagi, dengan nada marah dia ngatakan. "Ketika kita bertemu nanti, kau akan berharap bahwa kau tidak pernah dilahirkan."

"Aku nantikan pertemuan kita lagi tuanku." Setelah itu Shadow njentikkan jarinya, dan tiba-tiba, suara jeritan tragis orang terdengar. Suara kaca yang pecah, suara benda jatuh, suara kobaran api bisa terdengar dari balik layar.

Kemudian Shadow ngeluarkan pisaunya dan nebas karanya. Tiba-tiba layar komputer Randika njadi hitam legam.

DUAK!

Randika tidak bisa nahan dirinya, dia ninju dan nghancurkan komputernya.

BEDEBAH!

Randika benar-benar mbenci Shadow dan Bulan Kegelapan. Dia tidak sabar nari di atas mayat reka.

Belum pernah ada orang yang berani berkhianat sedemikian rupa pada dirinya.

Kalian mang yang pertama tetapi aku akan pastikan kalian lah yang terakhir!

Setelah beberapa saat, Randika berhasil nenangkan dirinya. Sekarang pertanyaan terbesarnya adalah apa yang harus dia lakukan?

Yuna dan Aline sudah disekap oleh Shadow, jadi kemungkinan besar reka berdua berada di markasnya. Sedangkan markas barunya sendiri sudah dihancurkan dan ramuan X masih belum bisa diproduksi.

Apakah dia harus nunggu ramuan X buatan tim di perusahaan Cendrawasih baru nyelamatkan Yuna dan Aline?

Setelah berpikir dengan serius, Randika mutuskan akan pergi ke Jepang sendirian untuk ncari Yuna dan adiknya sekaligus ncari sisa data ramuan X di markas barunya itu.

mang hal ini sedikit berisiko tetapi Randika tetap harus pergi.

Lawannya telah nghancurkan harapannya dan nyekap bawahannya, bagaimana mungkin dia bisa berdiam diri?

Setelah mbulatkan tekad, Randika dengan cepat san tiket pesawat dan langsung berangkat ke bandara.

Pada saat yang sama, Randika nelepon Inggrid.

"Halo?"

"Sayang, aku perlu pergi sentara waktu. Tidak lama kok, mungkin setengah bulan." Kata Randika.

Inggrid sama sekali tidak njawab, kemudian dengan nada lembut Inggrid njawab. "Kalau begitu berhati-hatilah, jangan lupa mbawaku oleh-oleh!"

Randika sedikit terharu, Inggrid tidak bertanya apa-apa tentang alasannya pergi. Sedangkan perihal oleh-oleh itu, sepertinya istrinya itu ingin dirinya pulang dengan selamat tapi malu-malu untuk ngatakannya secara langsung.

"Baiklah." Sebelum nutup teleponnya, Randika nambahkan. "Aku akan rindukanmu. Aku sayang kamu."

Di ruangannya, Inggrid tidak bisa berhenti tersenyum ketika ndengar kata-kata manis Randika ini. Hatinya tidak bisa lebih hangat lagi daripada ini.

Randika sendiri akhirnya telah sampai di bandara dan akhirnya masuk ke dalam pesawatnya.

Tidak lama kemudian akhirnya pesawatnya lepas landas. Randika duduk di samping jendela, dia mperhatikan awan putih yang layang-layang. Tetapi pikiran Randika masih tetap fokus pada masalah Shadow.

Shadow sekarang bekerja sama dengan Bulan Kegelapan dan sangat sulit berhadapan dengan keduanya, apalagi reka miliki teknologi kloning.

Saat dirinya masih berada di dunia bawah tanah, kekuatan Randika bisa tergolong terkuat di dunia. Bahkan dia sampai ndapatkan julukan Dewa Perang. Namun, setelah hidup damai dan berhadapan dengan ikan teri selama ini, Randika sedikit takut berhadapan dengan orang yang berada di daftar Dewa ataupun 12 Dewa Olimpus.

Lagipula, dulu ada seorang wanita berambut pirang di sisinya setiap dia bertarung. Tetapi itu adalah lain cerita, sekarang dia harus fokus terhadap dirinya sendiri.

Di tengah-tengah lamunnya, sepertinya penerbangannya kali ini juga tidak bisa damai. Setelah terbang selama satu jam, pesawat sudah jauh berada di atas tanah. Pada saat ini, tiba-tiba beberapa orang berdiri dan berjalan nuju bagian VIP.

Randika duduk di kelas ekonomi jadi dia sama sekali tidak peduli dengan reka.

Seorang pramugari hanya ngira orang-orang tersebut hanya ingin pergi ke toilet dan tidak nghentikan reka.

Namun, dua di antara reka segera misahkan diri dan njaga pintu masuk bagian VIP. Kemudian kedua orang ini berteriak pada semua penumpang. "Pesawat ini sudah kami bajak, kalian semua akan njadi sandera kami. Jangan bergerak dan jangan coba-coba bertingkah layaknya seorang pahlawan."

Setelah ndengar ancaman tersebut, beberapa penumpang natap kedua orang tersebut. reka ncuekinya dan kembali ndengarkan musik.

reka rasa kedua orang itu sedang mabuk.

Si pramugari ngerutkan dahinya dan ngatakan. "Pak, jika Anda bercanda seperti itu terus, aku akan laporkan kejadian ini sebagai tindakan teroris."

Kedua pria itu ndengus dingin dan salah satu dari reka ngeluarkan pistol dari balik celana reka dan nembakannya ke kursi yang kosong.

DOR! DOR!

ndengar suara tembakan itu, semua penumpang njadi panik. Pesawat reka beneran dibajak!

"Kalian semua jangan bergerak! Duduk diam dan dengarkan perintah kam!" Kata si pelaku dengan nada dingin. Pada saat yang sama, teman-temannya ngeluarkan senjata reka yang disembunyikan di bagasi pesawat lalu mbidik ke arah penumpang.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 194: Perjalanan ke Jepang on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.