Randika nelusuri kota ini tanpa mikirkan apa-apa, dia nikmati kesendiriannya ini.
Namun tiba-tiba, ada suara yang manggilnya dari belakang.
"Randika!"
Ketika noleh, Randika nyadari bahwa Christina lah yang manggil dirinya.
Christina lambai dengan senyuman manis di wajahnya. Sepertinya dia senang berjumpa dengan Randika.
"Benar-benar kebetulan." Randika nghampirinya dan mbalas senyumannya.
"Tumben kamu di sini?" Christina bertanya dengan nada imut.
"Aku kerja terlalu keras dan kepalaku benar-benar penuh, jadinya aku jalan-jalan untuk nyegarkan diri." Randika nggelengkan kepalanya.
Hari ini Christina tidak terlalu berdandan, dia makai baju ala kadarnya. Tetapi sosoknya yang seperti ibu rumah tangga ini tidaklah buruk, Christina pasti akan njadi istri yang baik kelak.
"Kalau kamu?" Randika balik bertanya.
"Aku sedang nemani ibuku belanja." Jawab Christina sambil tersenyum.
"Apa? Mamamu juga ada di sini?" Randika terlihat sedikit panik.
"Iya." Christina nganggukan kepalanya dan lihat Randika yang tiba-tiba njadi tegang itu.
"Kalau begitu aku cabut dulu ya, aku ada urusan lain." Randika ingin cepat-cepat pergi, dia tidak tahan dengan seribu pertanyaan dan antusias ibunya Christina itu.
Kekuatan mak comblang seorang ibu benar-benar ngerikan!
"Tintin, bantuin mama bawa barangnya. Eh, ada nak Randika!" Namun semuanya sudah terlambat, suara ibunya Christina sudah terdengar dari belakangnya.
Randika noleh dan maksakan dirinya tersenyum. "Ah tante selamat siang, aku kebetulan ada urusan pekerjaan di daerah ini dan sekarang sudah waktunya untuk kembali. Jadi aku pergi dulu ya."
"Aduh kalau masalah pekerjaan tante tidak bisa berkata apa-apa." Ayu, ibunya Christina, tersenyum pada Randika. "Tapi bukannya kamu sudah janji untuk makan bersama kita? Bagaimana kalau kita makan siang dulu, tante akan masak makanan terbaik yang akan pernah kamu makan."
"Ah tante tidak usah repot-repot gitu."
"Aduh kalau demi nantu tante rela kok."
lihat gelagat Randika, Christina mberanikan dirinya. Dia nggenggam erat Randika sambil tersipu malu.
lihat tindakan Christina ini, Randika natapnya. Sepertinya perempuan ini ingin dirinya nyetujui undangan ibunya.
Randika rasa ragu dan bingung, namun pada saat ini, Ayu sudah mberikan tas belanjanya pada anaknya. Sehingga tangan kirinya Christina gang tas belanja dan tangan kanannya gang tangan Randika.
"Sudah ngikut saja kamu, enak kok masakan tante ini."
Dengan hati yang enggan, Randika nuruti dan berjalan sambil berpengangan tangan dengan Christina.
Randika ngintip Christina dari sudut matanya, perempuan itu terlihat senang ketika berjalan bersama dengannya.
Randika benar-benar tidak berdaya, sepertinya kabur bukanlah pilihan yang baik.
Sesampainya di rumah, Ayu langsung bersiap untuk masak.
"Tin, kamu duduk dan temani Randika saja. Serahkan urusan dapur pada mama."
lihat ibunya mulai sibuk di dapur, Randika sedikit rasa tidak enak. "Apakah mamamu itu tidak butuh bantuan?"
"Sudah biarin saja mamaku itu." Christina dengan cepat tertawa ketika lihat wajah sungkan Randika.
"Omong-omong, nanti kamu harus mbantuku."
Setelah naruh barang-barangnya, Christina duduk di sebelahnya Randika.
"Aku tidak bisa mbantumu terlalu banyak, semua tergantung dirimu sendiri."
"Setidaknya tolong beritahu pertanyaan apa yang akan ditanyakannya." Randika tersenyum pahit. Ayu benar-benar mandang dirinya sebagai nantunya, apalagi setelah dirinya terpegok sedang berciuman dengan anaknya di luar rumahnya.
"Seharusnya pertanyaannya tidak terlalu sulit jadi seharusnya tidak ada masalah." Kata Christina sambil berusaha nenangkan Randika.
Randika ngulurkan tangannya dan gang kedua tangan Christina, dia lalu berkata dengan nada serius. "Kita hanya bisa lalui ini bersama."
"Kami ini alay banget ya, kita kayak mau pergi perang begini." Kata Christina sambil tertawa.
Ayu kebetulan mau ngambil piring dan nyadari anaknya sedang berpegangan tangan dengan Randika, hal ini mbuat dirinya senang.
Dia sangat nyukai calon nantunya ini, dia ngakui kemampuan anaknya ncari calon suami yang baik.
"Tin, biarkan Dika makan cemilan dulu." Kata Ayu sambil kembali ke dapur.
Dika?
Dalam sekejap, Randika rinding bagaikan berada di kutub utara dan badannya tidak bisa berhenti getar beberapa waktu.
Bahkan kakeknya tidak pernah manggil dia seakrab itu.
lihat reaksi Randika, Christina justru tertawa. "Salahmu sendiri manggilku Tintin, jadi kalau kamu punya panggilan jangan salahkan aku."
Randika tidak berdaya. "Itu. Tidak sama."
Apakah itu bisa disamakan? Bagaimanapun juga, Christina adalah anaknya jadi wajar dia mberi nama panggilan sedangkan dirinya? Hal ini mbuat dirinya pusing.
Tak lama kemudian, Ayu manggil reka berdua untuk makan siang.
Ketika sesampainya di ja makan, Randika terkejut ketika lihat makanan yang begitu wah. Hampir ada 10 macam makanan seperti bebek peking, ayam cabe kering, gura asam manis, lumpia udang dll. Randika sama sekali tidak bisa nahan air liurnya, bau tiap makanan benar-benar sedap!
"Ayo, ayo, duduk dan jangan sungkan. Tin, ambilkan Dika sendok garpunya." Ayu mpersilahkan Randika duduk.
Randika lalu duduk dan nerima sendok garpu dari Christina, dia lalu duduk di samping Randika.
Randika hanya natap makanan-makanan lezat ini, karena dia tamu, dia sungkan ngambil makanan duluan.
"Tin, ambilkan nasi buat Dika." Kata Ayu sambil nendang kaki anaknya itu.
Sambil nahan rasa sakit, Christina ngambilkan nasi dan lauk buat Randika. Randika sendiri was-was, dia hanya bisa nurut.
"Ayo dimakan semuanya ya, tante buat makanan ini susah payah lho." Ayu tersenyum dan ikut naruh makanan di piring Randika.
Wow sebanyak ini?
Wajah Randika berkedut, sepertinya ibu satu ini ingin mikat hatinya lalui makanan.
lihat Randika yang kewalahan seperti ini, Christina hanya bisa tertawa.
Ayu lalu natap Randika sambil ngerutkan dahinya. "Kenapa kamu tidak makan? Apa kamu tidak suka dengan masakan tante?"
"Ah? Tidak, tidak, masakan tante benar-benar enak." Randika dengan cepat ngambil sendok garpunya dan mulai lahap. Dia nyadari bahwa Ayu natapnya sambil tersenyum, senyuman itu benar-benar ngerikan.
"Aduh tante jangan ngeliatin aku gitu terus dong, tante juga ikut makan ya." Kata Randika.
Ayu hanya nggelengkan kepalanya dan berkata sambil tersenyum. "Dika, bagaimana progresmu sama Tintin? Apa sudah ada kemajuan? Kalian sudah berhubungan badan belum?"
Randika yang sedang ngunyah hampir muntahkan makananannya.
"Uhuk, uhuk!" Randika tersedak sedangkan wajah Christina di sampingnya benar-benar rah.
Ibu yang satu ini benar-benar tidak tahu kata sungkan!
skipun kulit Randika sangat tebal, ini masih kalah tebal dengan ibu rumah tangga satu ini.
Di hadapan wanita cantik, kata "malu" tidak ada di kamus Randika. Tetapi di depan ibunya Christina ini, dia sedikit malu karena pertanyaan yang diajukan selalu mbahas topik sensitif. Randika rasa kalah dan tidak berdaya.
"Maaf tante Kami belum sampai ke situ." Randika berusaha nata kata-katanya. Inilah alasan dia malas untuk datang ke rumah ini, bukannya makan malah dia diinterogasi.
"Pelan sekali hubunganmu! Bukannya anak muda jaman sekarang berhubungan badan setelah reka bertemu?" Ayu nghela napasnya.
"Ma" Christina sudah tidak tahan lagi, kenapa ibunya malah ingin anaknya berhubungan badan sebelum nikah?
"Hahaha maaf, maaf, sudah ayo cepat dimakan." Ayu juga sadar bahwa dia tidak boleh nakut-nakuti Randika, kalau tidak nantu idamannya ini akan pergi! Biarlah anaknya ngatur kecepatan hubungannya dengan sendirinya.
Randika nghela napas lega di hatinya, akhirnya dia bisa makan dengan perasaan tenang.
Ketiga orang ini nggerakan sendok garpu reka, Ayu tetap sesekali bertanya, Randika terus-nerus nikmati makanan wah ini dan Christina sendiri makan dengan wajah rahnya.
Namun, tiap detiknya selalu ada lauk dan nasi yang dituangkan oleh Ayu di piringnya jadi piringnya Randika selalu penuh.
"Tante makasih perhatiannya, nanti aku bisa nambah sendiri kok. Nanti lauknya habis malah tante tidak dapat apa-apa."
Namun, semua ini percuma karena piring Randika tetap penuh sepanjang waktu.
Ayu hanya berkata sambil tersenyum. "Dika, kapan kamu akan nikah? Minggu ini atau minggu depan?"
Minggu ini atau minggu depan?
Alis Randika tidak bisa berhenti berkedut. Bahkan jika dia ingin nikah, waktu yang dibutuhkan tidak secepat itu. Orang normal saja akan nyiapkan acara penting ini dalam hitungan bulan dan ibu ini ingin dirinya nikah kurang dari 7 hari?
Randika sudah kehabisan kata-kata sentara Ayu tidak bisa berhenti bertanya. "Aku harap sih kamu cepat mberikan tante cucu buat ditimang, kamu inginnya anak laki atau perempuan?
Keringat dingin di dahinya mulai keluar. "Tante, aku sama sekali belum pernah mbahas ini dengan Christina"
"Tidak masalah, tidak masalah. Lebih baik dibahas secepat mungkin jadi kalian ada gambarannya. Apa kamu mau bantuan tante untuk ngatur pernikahan kalian?"
Randika natap Christina yang diam seribu bahasa di sampingnya. Randika diam-diam nendang kaki Christina, minta bantuan. lihat wajah dan tatapan mata minta tolong Randika, Christina tidak bisa berhenti tertawa.
"Ma sudahlah, biarkan kita makan dulu. Nanti setelah makan baru kita bicara." Kata Christina.
Randika, yang rasa seperti tahanan diinterogasi ini, rasa bahwa Christina hanya ngulurkan waktunya saja, bisa-bisa setelah makan dia akan dibombardir lebih dahsyat lagi.
Setelah makan dirinya harus segera kabur!
"Baiklah, baiklah," Ayu tersenyum dan natap Randika. "kita makan dulu setelah itu kita lanjutkan pembicaraan kita tadi."
Setelah beberapa saat akhirnya acara makan siang ini telah selesai.
"Sudah kamu duduk saja, biarkan tante yang ncuci piringnya." Kata Ayu. Tetapi Randika dengan cepat ngatakan. "Tante maaf, aku ada urusan kerja jadi harus pergi sekarang."
"Lha ngapain buru-buru?" Ayu tidak mau nyerah tetapi Christina ngerti maksud Randika dan berkata dengan nada serius. "Sudahlah ma, Randika lagi sibuk. Dia juga sudah janji akan datang lagi."
"Iya tante nanti aku datang lagi kok. Aku benar-benar perlu kembali bekerja sekarang." Randika nambahkan.
"Kalau begitu baiklah, janji lho ya."
"Iya tante tidak usah khawatir." Balas Randika.
Berjalan keluar nuju pagar bersama Christina, Randika nghembuskan napas lega.
"Bagaimana rasanya dioli mamaku?" Tanya Christina.
Randika lalu berbisik padanya. "Selama kamu ngandung anakku, dia tidak akan pernah ngol lagi."
Christina langsung tersipu malu. "Ran serius aku ini."
"Hahaha, sudah ya aku benar-benar harus kembali kerja."
"Baiklah, hati-hati di jalan." Kata Christina, di dalam hatinya dia sebenarnya sedih lihat Randika pergi.
Namun, bukannya lambaikan tangan tetapi Randika mberinya ciuman perpisahan. Christina sama sekali tidak nghindar ataupun nolaknya, setelah reka selesai berciuman Christina tersenyum manis.
Setelah selesai makan siang di tempat ngerikan itu, Randika sudah malas untuk kerja lagi. Perkembangan ramuan X benar-benar mbuatnya pusing jadi lebih baik dirinya ngandalkan Yuna untuk saat ini.
Sesampainya di rumah, Randika masuk ke kamarnya dan ngontak Yuna.
Tetapi setelah nunggu lebih dari 2 jam, Yuna sama sekali tidak masuk ke dalam chat video reka.
Randika rasakan firasat buruk.
Pada saat ini, tiba-tiba ada seseorang masuk di chat video reka dan berkata dengan nada yang datar. "Sudah lama kita tidak bertemu tuanku."
Reviews
All reviews (0)