Font Size
15px

Markasnya telah selesai dibangun!?

Randika rasa bahagia di dalam hatinya, hal ini benar-benar kabar gembira. Bagaimanapun juga, pusat dari kekuatannya berasal dari markasnya yang ada di Jepang ini. ngembangkan dan mbuat ramuan X dengan kekuatannya sendiri benar-benar sesuatu yang sulit baginya.

Randika ngangguk puas. "Aku sudah ncoba mbuat ramuan X di tempatku. Aku akan mberikan detail informasi perkembangannya padamu. Kamu bisa mpelajarinya sehingga perkembanganmu lebih cepat lagi."

"Siap." Yuna terlihat serius.

"Bagaimana Bulan Kegelapan?" Tanya Randika.

"Tidak ada kabar." Yuna ngerutkan dahinya. "Setelah dia kabur dari Indonesia, dia nyembunyikan dirinya dengan baik. Bawahanku sama sekali tidak bisa nemukan jejaknya di mana pun."

"Tetap waspada."

Randika dan Yuna berbincang-bincang beberapa saat dan setelah mbicarakan beberapa strategi, reka ngakhiri percakapan reka.

Malam harinya, Inggrid pulang. Randika mbantu Inggrid letakan barang-barangnya.

"Hmm? Pasti ada maunya hingga kamu berbuat manis seperti ini." Inggrid senang dengan tindakan kecil Randika ini.

Randika lalu berbisik di telinga Inggrid. "Kamu akan tahu nanti malam."

Wajah Inggrid langsung tersipu malu, Hannah yang ada di samping langsung nggelengkan kepalanya. "Kak, tolonglah jangan saling nggoda di depanku! Aku lapar nih, aku makan nanti makananmu."

Randika hanya tertawa ketika ndengarnya.

Malam itu, dari kamar di lantai atas, terdengar suara rintihan perempuan bagaikan suara kucing kawin. Suaranya benar-benar terdengar erotis. Pada saat yang sama, samar-samar terdengar suara lelaki yang bersemangat. "Terus goyang pinggangmu sayang, sini kubantu sedikit. Ah Mantap sekali sayang, aku keluarin di dalam ya!"

Hannah samar-samar bisa ndengar rintihan kedua kakaknya itu. Malu dan marah, dia ngeraskan volu HPnya hingga maksimal.

.............

Keesokan harinya, Randika mbuka matanya dengan perasaan bahagia. Dia natap Inggrid yang masih bugil tidur pulas di sampingnya. Kemarin malam benar-benar luar biasa, teknik yang dia ajarkan sebelumnya telah dikuasai Inggrid dengan sempurna. Hal ini mbuatnya keluar lebih cepat dan Inggrid bisa nemukan gaya paling enak baginya.

Sepertinya Inggrid berbakat di atas ranjang.

Turun ke lantai bawah, Randika bertemu dengan Hannah yang berwajah murung. Wajahnya sepertinya nunjukan dia telah begadang semalaman. rasa penasaran, Randika pun bertanya. "Han, kamu habis main apa sampai mukamu ngantuk gitu?"

"Kakak sendiri mangnya bisa tidur?" Kata Hannah dengan wajah cemberut.

"Hah? Jelas bisa lha, bukannya kemarin malam anginnya enak dan dingin? Kakak tertidur pulas sampai-sampai tidak kencing di tengah malam." Kata Randika.

"Ya apa mau tidur, suara kalian berdua seperti kucing kawin gitu. Berisik tahu!" Hannah tersenyum pahit, sepertinya dia nginap di sarang cinta kakaknya ini benar-benar kesalahan.

Randika terkejut ketika ndengarnya, dia tidak nyangka suara reka berhubungan badan akan terdengar sampai luar.

"Han, jangan khawatir. Aku jamin suara kita nanti tidak akan sekeras itu lagi." Kata Randika sambil nahan rasa malu.

Hannah hanya nghela napas dan bersiul. "Aku bisa saja tidur bersama kak Inggrid biar bisa tidur pulas sih."

lihat ancaman tersembunyi dari adik iparnya itu, Randika sama sekali tidak berdaya. Inggrid benar-benar ncintai adiknya jadi apabila Hannah mintanya, bisa-bisa Inggrid tidak akan sekamar selama Hannah ada di sini.

Mau bagaimana lagi, hubungannya dengan Inggrid sedang panas-panasnya jadi bisa dikatakan sekarang adalah masa bulan madunya. Tidak ada salahnya luapkan cinta reka lalui hubungan badan bukan?

Setelah sarapan, Randika dan Inggrid berangkat kerja bersama-sama. Randika tidak sabar tiba di laboratoriumnya, dia perlu ngerjakan ramuan X ini.

Dia rasa bahwa dia berada di langkah terakhir untuk nyempurnakan ramuan ini, tetapi dia masih belum nemukan faktor terpenting bagi langkah terakhir itu.

Jika markasnya yang terdahulu tidak dihancurkan oleh Bulan Kegelapan dan Harimau, mungkin data dan para peneliti yang sudah ngembangkan ramuan X sejak lama itu bisa cahkan masalah yang dia hadapi sekarang.

mikirkan hal tersebut, Randika sedikit rasa sedih.

lihat ramuan X di tabung reaksinya ini, dia masih rasa tidak puas dengan hasilnya. Randika dan timnya sudah ngalami kegagalan lebih dari 100x dan masih saja belum dapat nyempurnakannya. skipun dirinya dulu ikut dalam ngembangkan ramuan X, pengetahuannya tergolong sedikit dan tidak ncakup seluruh formula.

Setelah beberapa jam kerja, Randika masih tidak ngalami kemajuan dan kepalanya sudah benar-benar pusing.

Pada saat ini, HP Randika tiba-tiba bunyi.

Ketika dia lihat nomornya, ternyata itu adalah Yuna.

"Ran, dari data yang kamu kirim kemarin ada kemajuan."

Randika langsung ceria kembali, "Baguslah kalau begitu, percepat langkah kalian."

"Baik, mungkin tidak butuh waktu lama lagi untuk nyempurnakan ramuan X ini."

ndengar hal ini mbuat Randika bernapas lega. Dengan adanya ramuan X, dia bisa ngeluarkan kekuatan penuhnya selama persediaan masih ada. Pada saat itu, tidak akan ada orang yang bisa ngancam dirinya!

Pada saat yang sama di Jakarta, di kediaman keluarga Alfred.

Ivan duduk di kursinya sambil rokok cerutunya dan seseorang berjas hitam berdiri di hadapannya.

Orang tersebut terlihat santai dan salah satu tangannya berada di saku celananya. Dia natap kepala keluarga aristokrat ini dengan santai.

"Jadi mana uang yang kau janjikan itu?" Tanya pria itu.

"Asalkan kau mbuktikan kemampuanmu dan nyelesaikan masalahku, uang bukanlah masalah." Jawab Ivan.

"Serahkan masalah itu padaku, tetapi aku butuh jaminan. Beri aku setengahnya sekarang dan setengah lagi setelah misi selesai."

Ivan ngerutkan dahinya, pengawalnya yang ada di sampingnya ikut marah. "Persetujuan yang kita sepakati lewat telepon dulu sudah jelas, selesaikan misimu dulu baru."

Namun, sebelum pengawal itu selesai berbicara, pria misterius itu sudah nghunuskan pisaunya tepat di leher si pengawal.

"Sejak kapan semut berani berbicara di depan singa?" Setelah berbicara seperti itu, si pengawal itu sudah dia banting dan terlempar hingga natap tembok.

Pengawal ini hanya bisa raung kesakitan sambil nyesali karena ikut campur dengan urusan atasannya.

Sejujurnya dia sendiri tidaklah selemah itu, lawannya saja yang terlalu hebat. Dia sama sekali tidak bisa ngimbangi kecepatan bergeraknya, tahu-tahu dia sudah terlempar dan natap tembok.

Orang ini kuat!

Ivan yang cemberut njadi sedikit senang, dia dengan cepat ngatakan. "Baiklah, aku akan mbayar setengah."

Tak lama kemudian, pelayannya berjalan dan nghampiri Ivan lalu mberikan HP pada pria misterius tersebut.

"Password HPnya adalah 5640." Kata Ivan. "Bawa HP itu terus dan ketika waktunya tiba, aku akan neleponmu."

"Dan juga." Ivan natap tajam pria itu. "Aku tidak ingin kau nghilang ataupun tidak ngangkat ketika HP itu bunyi. Seluruh kekuatan keluarga Alfred akan ngejarmu jika kau berkhianat!"

"Jangan khawatir, aku tidak akan langgar janjiku. Telepon saja aku ketika waktunya tiba." Pria itu kemudian pergi dari hadapan Ivan.

Ketika orang tersebut pergi, Ivan berkata pada pelayannya. "Terus sebarkan perekrutan ini dan carilah pembunuh-pembunuh terbaik lainnya."

"Siap."

Pelayannya itu langsung berjalan keluar dari ruangan, ninggalkan Ivan sendirian.

"Sebentar lagi. Sebentar lagi kau akan mati!" Tatapan mata Ivan benar-benar penuh dengan api kebencian.

...........

Randika sama sekali tidak ngetahui gerak-gerik dari keluarga Alfred. Dia masih sibuk bereksperin dan tidak diragukan lagi, dia ngalami kegagalan.

Karena suasana hati yang jelek dan kepalanya yang pusing, Randika mutuskan keluar dari gedung dan ncari udara segar.

Cahaya matahari benar-benar terasa enak, sambil berjalan dia nghirup udara segar ini dalam-dalam.

mbuang jauh-jauh masalah ramuan X dan masalah hidup lainnya, Randika benar-benar nikmati mon sunyi ini sendirian. Tanpa sadar, dia sudah berjalan cukup jauh dari perusahaan Cendrawasih.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 192: Pergerakan di Balik Kegelapan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.