Font Size
15px

Setelah selesai ngurusi beberapa dokun ngenai rawat inap Deviana, waktu sudah nunjukan pukul 3 siang. Randika sudah rasa malas balik ke kantor jadinya dia langsung pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, Randika bertemu dengan Hannah yang sedang malas-malasan nonton TV di ruang tamu.

Dalam sekejap, mata Randika terbuka lebar karena pakaian yang dipakai oleh Hannah. Bajunya dia gulung hingga di bawah behanya, mperlihatkan pusarnya. Belum lagi behanya itu berwarna ncolok sehingga terlihat dengan jelas. Di saat yang sama, celana yang dipakai super pendek hingga Randika tidak bisa mbedakannya dengan celana dalam.

"Ah kak Randika! Sini kita lihat TV sama-sama." Hannah noleh dan nyadari Randika yang berdiri longo, dia lalu ngundang Randika untuk nonton TV bersama-sama.

Bagi Randika lihat adik iparnya jauh lebih seru daripada TV yang isinya sinetron dan acara tidak jelas lainnya.

Tetapi Randika tetap duduk di sofa dan Hannah masih berpenampilan tidak senonoh itu. Bahkan dia ngambil remote TV dengan kakinya!

"Han, percuma kalau kamu berpakaian sexy gini tetapi tingkah lakumu mirip laki gitu." Mata Randika kembali nelanjangi Hannah skipun dia sedikit jijik dengan tingkah laku adiknya itu. Randika benar-benar terpaku pada pusar yang nampaknya sedap itu!

"Kak tolong, sepertinya orang yang berpikiran sum cuma kamu deh." Kata Hannah sambil tersenyum.

"Ah? Masa aku di matamu seperti itu?" Randika segera tidak terima. "mangnya di mana lagi kamu bisa ketemu laki-laki sejati semacam aku?"

"Hahaha benar juga. Laki-laki lain lembeng semua." Hannah tersenyum dan natap Randika. "Kak, apakah aku sexy?"

Randika kembali mperhatikan Hannah dari atas ke bawah, orang bodoh pun mana yang akan berkata tidak?

"Iya tetapi kakakmu jauh lebih sexy." Kata Randika, dia rasa bahwa pertanyaan adiknya itu adalah jebakan.

Hannah rasa marah ketika Randika mbandingkan dirinya dengan kakaknya, dia langsung cemberut.

Randika mperhatikan kaki panjang dan mulus adik iparnya itu. "Han, sepertinya kakimu yang waktu masih sakit, mau aku pijat?"

"Pijat?" Hannah natap Randika dan tersenyum dalam hatinya. Sepertinya kakak iparnya ini tidak bisa lari dari pesonanya.

Hannah benar-benar ndambakan kasih sayang dari Randika.

"Yahhh.. boleh deh, tapi yang enak mijatnya!" Hannah segera bergerak dan nempatkan kedua kakinya di atas paha Randika.

"Tapi jangan minta yang aneh-aneh setelah kamu mijatku, aku tahu kakak pasti punya pemikiran yang aneh." Kata Hannah sambil tersenyum.

Randika lalu mijat kaki mulus Hannah secara perlahan.

"Han, bagaimana toko bajumu?" Randika bertanya sambil terus mijat, kaki adik iparnya ini benar-benar enak dipegang!

"Semuanya berjalan dengan baik." Hannah rasa nyaman ketika kakinya dipijat. Tetapi kadang kakak iparnya ini jahil dengan nggelitik kakinya jadi dia sedikit nahan rasa tawanya.

"Eh kak, hentikan! Geli tahu, aku ini mudah geli." Hannah rasa kakaknya ini terus nggodanya.

"Geli?" senyuman nakal mulai naik di mulut Randika. "Kok bisa kamu mudah geli seperti ini?"

Setelah berkata seperti itu, pijatan Randika jadi ajang nggelitik Hannah hingga minta ampun.

"Kak! Cukup! Hahaha, hentikan! Hahaha" Hannah tidak bisa berhenti tertawa. Randika mperhatikan Hannah yang tidak bisa berhenti tertawa dan gang erat perutnya itu. Lama kelamaan tangan Randika rayap ke paha Hannah.

"Sudah kak! Hahaha, cukup! Aku sudah tidak tahan!" Hannah tidak pernah tertawa sebanyak ini sebelumnya.

Randika rasa paha adiknya benar-benar enak dan mulus, benar-benar perasaan yang nyenangkan.

"Sudah diamlah, kakak kan cuma mijatmu agar capekmu hilang." Kata Randika sambil tersenyum.

"Ini sudah bukan pijat, ini sudah penyiksaan!" Hannah tidak bisa berhenti tertawa.

Namun tiba-tiba, Randika mulai mijat paha adiknya itu.

Hannah akhirnya berhenti tertawa, setelah tertawa begitu lepas napasnya njadi terengah-engah. Ketika kakaknya mulai mijat pahanya, sensasi nikmat mulai nguasai dirinya. skipun pahanya ini tergolong besar, semua ini karena dia rajin olahraga dan latih otot pahanya.

lihat Randika tidak berkontar apa-apa tentang pahanya yang besar, hati Hannah terasa lega. Ejekan dari orang yang disukainya mungkin akan benar-benar lukai hatinya.

Sambil ngambil apel dari ja, Hannah bertanya. "Kenapa kakak sudah pulang? Apa pekerjaanmu sudah selesai?"

Setelah nggigit apelnya, Hannah ngunyah dan nunggu Randika njawab. Tetapi anehnya, kakak iparnya itu hanya natap dirinya.

"Hmm? Kenapa kak? Ada sesuatu di mukaku?" Kata Hannah dengan wajah bingung.

"Han, minta segigit ya." Kata Randika sambil nggigit apelnya.

"Ah!" Hannah terkejut dan apel yang di tangannya sudah tergigit oleh Randika.

lihat hal ini, Hannah njadi tersipu malu. Bukannya ini sama dengan ciuman tidak langsung?

Randika lalu tersenyum. "Han, buat apa mpermasalahkan hal kecil seperti itu?" Randika dapat nebak isi pikiran Hannah. "Bukankah kita sudah keluarga?"

Hannah sendiri masih mproses semua hal ini di otaknya, setelah berpikir sejenak, mang hal kecil seperti ini bukanlah hal aneh di antara keluarga.

"Lagipula aku sudah tidak lapar lagi." Hannah masih sedikit malu. "Kamu nggigitnya sudah cukup mbuatku tidak mau makan lagi."

"Kalau begitu apelnya aku makan ya?" Randika nghampiri tangan Randika sambil tersenyum lebar.

lihat wajah Randika yang berdekatan dengan dirinya, Hannah njadi panik dan ingatannya tentang Randika dan Inggrid berhubungan badan terlintas di benaknya. Apakah kakak iparnya ini berusaha mangsa dirinya?

"Ah kak! Jangan dekat-dekat!" Hannah ndorong Randika, dia takut bahwa dirinya akan dipaksa berhubungan badan.

Randika bingung, kenapa adik iparnya ini tiba-tiba panik?

Sambil makan apelnya, Randika neruskan pijatnya dan Hannah nikmatinya sambil nonton TV.

Setengah jam kemudian, Randika rasa ngantuk dan naik ke lantai atas. Setelah lihat sosok Randika yang naik, Hannah nghembuskan napas lega.

Randika nutup pintu kamarnya dan ngambil HPnya. Ternyata ada panggilan tidak terjawab dari kakek ketiga.

"Ada apa kek?" Randika terdengar bingung, jarang sekali kakeknya ini nelepon dirinya duluan.

"Ran, kakek cuma ingin nyampaikan saja biar kamu tidak bingung. Kakek dan para kakek lainnya akan pergi sekitar 1 bulan." Kata kakek ketiga.

"Mau pergi ke mana kalian?" Randika makin bingung. Kakek ketiganya ini paling sayang dengan kebun obatnya jadi dia hampir tidak pernah pergi dari rumahnya. Belum lagi semua kakeknya akan pergi bersama?

"Kami mau ncari barang berharga di reruntuhan." Kata kakek ketiga. "Kami akan nginap di tempat itu selama sebulan jadi kami tidak bisa dihubungi. Kamu jaga diri baik-baik ya."

"Baik kek, kakek jangan khawatir." Jawab Randika.

Randika tidak terlalu mpermasalahkan hal ini. Lagipula, para kakeknya ini mang misterius. skipun Randika tahu kakek-kakeknya ini bukan orang sembarangan, dia tidak pernah lihat kakeknya ini makai seluruh kekuatannya.

Randika ngunci pintu kamarnya dan nyalakan komputernya. Dia langsung nghubungi Yuna.

Tak lama kemudian, sosok Yuna tampil di balik layar.

Dadanya yang besar masih tetap sama dan kata-kata vulgarnya masih terdengar.

"Ran, kenapa sih kamu tidak pernah nghubungiku?" Yuna terlihat sedih.

"Hahaha maaf, bagaimana kabar markas kita?" Tanya Randika, dia tidak ingin berbasa-basi.

lihat wajah serius Randika, Yuna langsung njawab. "Markas kita telah selesai."

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 191: Para Kakek yang Pergi on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Nightwatcher cover
Similar genre

Nightwatcher

Paperboy ·Harem

Inthisworld,thereis:Confucianism;Taoism;Buddhism,Demons,andMagicians.XuQi’an,a...Readmore Inthisworld,thereis:Confucianism;Taoism;Buddhism,Demons,a...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.