Font Size
15px

Sesampainya di kamar, Deviana nampak berbaring di kasur.

Ketika dirinya lihat Randika masuk, Deviana ndengus dingin dan malingkan wajahnya.

lihat temannya ini masih energik, Randika rasa lega dan berjalan nuju sisi kasur.

"Masih marah sama aku?" Tanya Randika sambil tersenyum.

Deviana sama sekali tidak njawab, dia masih tidak mau natap Randika.

"Aku akui bahwa aku salah karena nciumnya secara paksa. Aku sepertinya telah lukai hatimu. Jadi biar impas bagaimana kalau kamu bisa nciumku secara paksa?" Kata Randika.

"mangnya siapa yang mau berciuman denganmu?" Kata Deviana sambil marah-marah.

"Oh yakin? Ini penawaran satu kali dalam hidupmu lho." Randika tersenyum ketika akhirnya bisa lihat wajah temannya itu. "Kamu yakin tidak ngambil kesempatan ini? Jangan nyesal lho kalau nanti aku sudah pulang."

"Kamu ini ya" Deviana nghela napas. Dia sama sekali tidak berdaya apabila berhadapan dengan Randika. Sejak awal kali reka bertemu, dirinya selalu dipermainkan oleh Randika.

"Dev, aku tidak nyangka kamu berhati murni seperti itu. Bukankah aku pernah sampai rabamu?" Tanya Randika.

Deviana kehabisan kata-kata, perkataan Randika itu benar jadi kenapa kok sekarang dia marah?

"Itu berbeda." Kata Deviana dengan nada marah.

"Apanya yang beda?" Randika nampak bingung.

"Pokoknya beda!" Deviana malingkan wajahnya.

Randika ngangguk dan nggeser kursinya hingga bertatapan muka dengannya. "Aku sepertinya paham maksudmu. Maksudmu dulu itu aku mberi peringatan sebelum rabamu sehingga hatimu siap sedangkan hari ini hatimu sama sekali tidak siap begitu?"

Kata-kata Randika ini tepat sasaran, Deviana hanya bisa tersipu malu dan tidak njawabnya.

"Aku sedikit tidak paham denganmu." Randika nggelengkan kepalanya dan nghela napas. Dia lalu lihat buah-buahan yang ada di samping kasur. Tanpa berkata apa-apa, dia ngambilnya lalu ngupas sebuah apel dengan pisau.

"Karena aku tidak mberitahumu kalau aku ingin nciummu jadinya kamu marah-marah, setelah itu kamu malah tertabrak mobil. Ah." Randika nghela napas. "Semua itu tidak sepadan, aku hampir saja kehilanganmu."

Setelah ngupas dan motong apel itu njadi beberapa bagian, Deviana masih tidak mau berbicara. Randika lalu nyerahkan apel itu. "Sudah makan apel ini dulu biar enakan, setelah itu kamu mau marah lagi tidak apa-apa."

Deviana mang rasa lapar, dia mang berniat makan siang ketika bertemu dengan Randika sebelumnya. lihat apel itu sudah terkupas rapi, amarah Deviana sedikit reda.

Tetapi ketika Deviana hendak ngambil apel itu, Randika segera ngambilnya kembali.

"Aku cukup sedih kamu tidak mau makan apel yang sudah susah payah aku potongin ini." Randika ngambil satu dan makannya. "Padahal rasanya enak."

ndengar kata-kata Randika itu, Deviana kembali marah dan ngeluarkan suara "Huh" lalu malingkan wajahnya.

Randika tersenyum, tangannya kembali ngambil sepotong apel. "Sejujurnya masalah ini juga bukan sepenuhnya salahku. mang aku sebelumnya itu gelap mata tetapi kecantikanmu itu benar-benar mbuatku tidak sadarkan diri. Untuk sesaat aku tenggelam dalam kecantikanmu itu."

Randika muji Deviana sambil ngakui kesalahannya, hal ini mbuat amarah Deviana sedikit reda. Semua orang senang apabila dipuji, khususnya perempuan yang suka dipuji kecantikannya.

"Aku bersyukur bahwa orang yang nepuk pundakku itu kamu, kalau tidak bisa-bisa masalah ini makin besar." Randika nggeser kursinya lagi. Ketika reka bertatapan, Deviana hendak malingkan wajahnya lagi. Tetapi, ketika dia lihat senyuman Randika itu, di tangannya sudah ada sepotong apel.

"Jangan bilang kamu tidak mau makan, air liurmu sudah netes." Kata Randika dengan senyuman hangat.

Deviana sedikit ragu-ragu awalnya lalu dia ndengus dingin. Dia ngambil apel itu dan makannya.

"Apel itu bukan diriku, buat apa kamu ngunyahnya keras-keras seperti itu?" Kata Randika sambil tertawa.

"Apel ini adalah kamu, aku ingin makanmu hidup-hidup." Sambil marah-marah, Deviana terus makan apelnya.

"Hmmm kata-katamu itu boleh juga, bagaimana kalau setelah keluar dari rumah sakit kamu bisa nikmati diriku ini di hotel?"

ndengar kata-kata ini, Deviana sedikit bingung. Kenapa bawa-bawa hotel?

Setelah berpikir sejenak, kata-katanya tadi mang terdengar erotis!

Sambil terbatuk-batuk, Deviana nggelengkan kepalanya.

"Akhirnya kamu sudah tidak marah lagi." Randika tersenyum ketika Deviana makan apel yang dipotongnya dengan lahap.

"Hah? Siapa bilang aku sudah tidak marah?" Deviana tetap ngunyah makanannya.

lihat sikap malu-malu Deviana ini, entah Randika harus tertawa atau nangis. Karakter Deviana mang dewasa tetapi ketika dirinya diperlakukan dengan lembut, dia njadi bingung dan bersikap sok kuat.

"Jadi apa yang bisa dilakukan pria hina ini untuk mbuat perempuan secantik malaikat ini njadi dirinya yang dulu?" Randika duduk kembali di kursinya.

"Aku ingin bertanya padamu." Kata Deviana.

Bertanya? Wajah Randika terlihat bingung.

Untuk sesaat, Randika sama sekali tidak berbicara.

Deviana penasaran kenapa Randika sama sekali tidak bicara.

Tetapi tiba-tiba, Randika njentikan jarinya. "Oh! Aku ngerti."

"Hah? ngerti apa?" Tanya Deviana. Tetapi dia lihat Randika tiba-tiba berdiri dari kursinya dan nghampiri dirinya, kedua tangannya dipegang oleh Randika dan wajah reka sudah berdekatan.

"Hei! Apa yang mau kamu lakukan?" Deviana sedikit ketakutan.

"Tentu saja nciummu." Setelah berkata seperti itu, Randika nempelkan bibirnya di bibir kecil milik Deviana. Dalam sekejap, otak Deviana sepertinya berhenti berfungsi. Setelah beberapa detik, serangan lidah Randika benar-benar mbangunkan dirinya.

Ketika dirinya ingin lepaskan diri, kedua tangannya ditahan oleh Randika.

Perawat yang ingin ngantar obat ngintip dari samping dan rasa iri dengan keduanya. Kapan dia akan punya pacar yang seberani itu?

Pada saat ini, ciuman reka sudah berlangsung selama 1 nit dan akhirnya Randika lepaskan kuncian mautnya.

"Bagaimana?" Tanya Randika sambil tersenyum. "Kali ini aku mberi tahumu sebelum aku nciummu jadi seharusnya kamu tidak marah seperti sebelumnya."

"HAH!" Deviana benar-benar marah, logika macam apa itu?

Randika duduk di kursinya lagi dan mulai makan sepotong apel.

"Jika kamu masih bingung, anggap saja ciumanku ini barusan hadiah dari nyelamatkan dirimu." Kata Randika sambil tertawa.

Deviana ndengus dingin, tetapi Randika tiba-tiba berbisik di telinganya. "Aku tahu kamu barusan nikmatinya, jadi jika kamu ingin neruskannya aku bersedia."

"mangnya siapa yang mau nciummu!" Deviana malingkan wajahnya sambil mbentak di telinga Randika.

Randika hanya nggelengkan kepalanya sambil berdiri dari kursinya. "Padahal aku tahu kamu nikmatinya."

"Siapa yang bilang!" Deviana kembali nggigit apelnya. Ketika dia lihat sosok Randika yang hendak pergi, entah kenapa hatinya terasa sakit.

Dia lalu njilat bibirnya dan sensasi bibir Randika masih bisa dia rasakan. Sepertinya dia nyukai sensasi itu.

Ah! Apa yang kamu pikirkan Deviana? Bukankah seharusnya kamu marah?

Deviana dengan paksa mbuang jauh-jauh pemikiran itu, tetapi dalam hatinya dia tahu bahwa dia tidak bisa marah dengan Randika.

Pokoknya, jika Randika berbuat seperti itu lagi tidak akan ada kata ampun!

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 190: Logika Tidak Masuk Akal on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

All MILFs are Mine cover
Similar genre

All MILFs are Mine

Night_phantom ·Harem

*Caution* *TABOOCONTENT* *STRONGSEXUALCONTENT* THISCONTENTISVERYHARMFULFORANORMALPERSON'SMIND. __________________________________ LeonisaMILFlover,...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.