Hati Deviana sudah benar-benar penuh dengan kebencian. Dia awalnya nganggap Randika adalah pria sum dan tidak bisa berhenti bercanda tetapi dia adalah orang yang bisa dirinya andalkan kapan saja.
Tetapi setelah dia rebut ciumannya secara paksa, dia rasa harga dirinya sebagai perempuan telah dilecehkan. Bukannya dia tidak mau berciuman dengan Randika, tetapi Randika benar-benar tidak dulikan perasaannya!
Deviana benar-benar marah, sejujurnya dia sendiri tidak tahu kenapa bisa marah seperti ini. Mungkin dia ngharapkan suasana romantis dulu sebelum berciuman?
Randika masih bernapas dengan berat, nafsu dalam dirinya sama sekali belum reda. Obat dari kakek ketiganya ini miliki efek samping yang terlalu kuat. Pertama kali dia rasakannya, dia bisa redamnya dengan bantuan Inggrid. Tetapi kali ini, dia benar-benar hampir lakukan tindakan kriminal.
"Ah Dev, ini semua salah sangka. Dengarkan penjelaskanku." Randika sedikit malu. skipun dia ini serigala, dia adalah serigala yang elegan dan lembut. Mana mungkin dia berbuat tidak elok seperti tadi?
Tetapi serigala tetaplah serigala, nafsu Randika sebagai lelaki manglah kuat dari dulu jadi tidak heran apabila dia njadi gelap mata.
Tetapi dia yang sekarang sudah berbeda!
"Apa mangnya alasanmu?" Kata Deviana sambil marah-marah. "Kamu sudah berbuat lancang seperti itu dan masih ncari-cari alasan?"
"Dev, kadang mata itu tidak bisa lihat kebenaran yang ada." Kata Randika dengan nada nenangkan.
ndengar hal ini, Deviana makin marah. Jelas yang diperbuat Randika barusan tidak dia lihat dengan mata lainkan dia rasakan lewat bibirnya! Namun yang mbuatnya makin marah adalah Randika yang masih berusaha mbenarkan dirinya, orang ini selalu ingin berdebat.
"Terserah kamu mau ngomong apa, jangan pernah dekati aku lagi." Deviana sudah tidak peduli dengan Randika, dia berputar dan berjalan pergi.
"Ah! Tunggu!" Hati Randika ngepal. Dia sudah lama mbangun hubungan dengan Deviana jadi Randika tidak ingin hubungannya berakhir begitu saja.
Tetapi, tiba-tiba ada mobil yang laju ke arah sisi jalan dengan kecepatan tinggi dan mobil itu ngarah ke Deviana!
Randika dengan cepat nyadarinya dan hatinya langsung ngepal.
"AWAS!"
Randika sudah berlari sambil berteriak pada Deviana, tetapi semuanya sudah terlambat. Mobil itu benar-benar cepat dan sudah berada di dekat Deviana. skipun Randika miliki julukan seorang Ares, dia tetap tidak akan sempat nyelamatkannya tepat waktu.
DUAK!
Deviana ndengar teriakan "awas" milik Randika dan noleh ke arah mobil. Karena jaraknya benar-benar sudah dekat, Deviana sama sekali tidak bisa bereaksi. Dia hanya bisa pasrah dan terpental beberapa ter seperti layangan.
"Dev!" Randika langsung rasakan firasat buruk ketika dia nangkap Deviana yang terpental tersebut. letakannya di tanah, Deviana tampak tidak respon dirinya.
Pada saat yang sama, mobil itu berhenti dan orang yang sedang mabuk itu turun dari mobilnya.
"Perasaan aku nabrak sesuatu deh." Pandangan orang itu sedikit kabur tetapi ketika dia lihat Randika yang luk Deviana, orang ini bergumam pada dirinya. "Sialan, lagi-lagi harus keluar uang buat orang lain."
"Ah peduli setan, toh orang itu juga pasti mati. Lebih baik aku pergi sebelum dia nuntut ganti rugi." Pria itu nggelengkan kepalanya dan hendak kabur. Ketika dia mau masuk ke dalam mobilnya, tiba-tiba pintu mobilnya tertutup. Ketika noleh, ternyata sudah ada orang di sampingnya.
"Bajingan, kau ini nakut-nakuti saja!" Pria ini benar-benar terlihat terkejut. "Sudah pergi sana! Aku masih ada perlu."
Namun, nafsu mbunuh Randika sudah nyebar dari dalam dirinya. Tanpa berkata apa-apa, Randika sudah ncekik orang mabuk ini dan mbenturkannya pada mobilnya!
DUAK!
Hantaman pertamanya mbuat darah berkucuran dari dahinya.
"Kau berani lukaiku?" Pria tersebut awalnya terkejut ketika tiba-tiba dicekik, sekarang dia benar-benar marah. Tanpa njawab apa pun, Randika sudah nghantamnya sekali lagi.
Kali ini, kepala pria tersebut mbentur kaca jendela!
DUAK!
skipun suaranya keras, jendela kaca mobil ini sepertinya tidak nunjukan tanda-tanda akan pecah.
Para pejalan kaki sudah lihati reka sejak tadi. Ketika reka lihat Deviana yang terkapar tidak sadarkan diri dan pria itu hendak kabur, perasaan reka penuh dengan simpati terhadap Randika.
Orang yang tidak tahu diri semacam itu mang pantas untuk mati!
Orang-orang ini mang mbenci orang yang tidak bertanggung jawab dan bertingkah seolah hukum bisa dibeli, reka semua sudah muak!
Randika sama sekali tidak berhenti, kali ini kepala pria tersebut nghantam pintu.
"Aku pastikan kau akan mati oleh seribu jarum!" skipun terluka, pria tersebut sama sekali tidak takut dengan Randika.
Randika tidak peduli, dia hanya sedikit demi sedikit nambah tenaganya dan nghantamnya lagi.
Setelah hantamannya yang ketujuh, pria tersebut sudah tidak sadarkan diri.
Randika lalu lempar pria hina itu ke tanah. Kemudian dia segera kembali ke Deviana dan riksa denyut nadinya. lihat adanya harapan, Randika segera nusuk titik akupunturnya untuk nghentikan pendarahan internalnya.
Setelah itu, dia nggendongnya dan berlari ke rumah sakit terdekat!
Para pejalan kaki ini lihat Randika yang nggendong Deviana dan nawarkan bantuan. "Nak, kau ingin mbawa pacarmu itu ke rumah sakit? Naiklah"
Namun, sebelum dia selesai berbicara, Randika sudah berlari sekuat tenaganya. Orang itu jelas terkejut, ternyata pemuda itu lari bagaikan angin!
Bagaimana bisa orang lari secepat itu?
Randika sama sekali tidak peduli dengan tatapan heran orang-orang. Dia hanya fokus pada Deviana dan semakin lama dia mbiarkannya, semakin buruk kondisinya.
Dia tidak akan mbiarkan perempuan manis dan berharga diri tinggi ini mati!
Sepanjang jalan, para pejalan kaki terkejut ketika angin kencang lewati reka dan sosok pria sedang berlari sambil nggendong perempuan. Kecepatan larinya hampir sama dengan kecepatan mobil, benar-benar luar biasa!
Randika benar-benar cemas, dia sama sekali tidak berhenti untuk narik napas. Dia juga tidak peduli dengan rambu lalu lintas sambil nghindari mobil dan orang yang nghalangi jalur larinya.
Randika tidak cuma asal nggendong Deviana dengan kedua tangannya itu. Kedua tangannya secara stabil nyalurkan tenaga dalamnya dan lindungi Deviana. Dia baru saja ngecek kembali denyut nadi milik Deviana dan hasilnya tidak bagus. Jika Deviana tidak segera ndapatkan pertolongan, kemungkinan besar dia akan mati!
Setelah berlari sekuat tenaga selama satu nit lebih, akhirnya Randika berhasil tiba di rumah sakit.
"Siapapun tolong!"
Randika berteriak keras, mbuat semua mata tertuju padanya. Para perawat nghampiri dan ngantar Randika ke UGD.
Tak lama kemudian, beberapa dokter datang dan mbawa Deviana ke ruang operasi.
Randika hanya bisa nunggu di luar dengan hati yang cemas. Setelah satu jam berlalu, seorang dokter nghampirinya.
"Bagaimana keadaannya dok?" Randika bertanya dengan cemas.
Dokter itu nganggukan kepalanya. "Operasi berjalan dengan lancar. Untungnya pasien tiba tepat waktu dan organ internalnya tidak ngalami pendarahan yang parah. Tetapi pasien perlu nginap beberapa hari agar kami bisa ngecek kondisinya lebih lanjut."
ndengar bahwa Deviana akan baik-baik saja, Randika njadi lega. Randika lalu pergi nuju resepsionis untuk ngurus prosedur yang ada. Setelah mbayar biaya operasi dll, Randika segera nuju kamar Deviana berada.
Reviews
All reviews (0)