lihat suruhan keluarga Alfred itu pulang dengan terseok-seok, Randika kembali ke dalam rumah. Pada saat ini Inggrid sedang berjalan nuju lantai bawah.
"Ada apa?" Tanya Inggrid dengan nada serius.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya habis nghirup udara segar." Kata Randika dengan wajah tersenyum. "Ah Ibu Ipah, apa sarapannya sudah siap? Aku benar-benar lapar."
lihat Randika yang ngubah topik, Inggrid masih sedikit penasaran tetapi dia mbiarkannya.
Setelah sarapan, Inggrid dan Randika berangkat bersama nuju kantor. Setibanya di sana, Randika langsung berangkat nuju laboratoriumnya dan neruskan ramuan X.
Setelah dirinya sendirian, Randika mulai rasa cemas di hatinya. Apa yang terjadi semalam benar-benar di luar dugaannya. Dia tidak nyangka bahwa Hans akan tiba-tiba kembali ke kota ini dan nculik Inggrid lagi. Kematiannya benar-benar tidak bisa dihindari, bahkan jika dia harus nyinggung keluarga Alfred.
Sudah dapat dipastikan bahwa keluarga Alfred tidak akan lepaskan masalah ini begitu saja dan sekarang tujuan Randika adalah nyembuhkan dirinya agar dapat bertarung kapan saja dan di mana saja.
Jika bukan karena kekuatan misterius dalam tubuhnya, Randika bisa ngeluarkan kekuatan penuhnya yang mbuat dirinya dijuluki Ares sang Dewa Perang dari 12 Dewa Olimpus.
Sayangnya, Randika akhir-akhir ini hanya bertarung dengan para semut. Jika dia bertemu dengan sesama 12 Dewa Olimpus atau dikepung ahli bela diri dari daftar Dewa lebih dari 10 orang, ngacu terhadap pertarungannya dengan kloning Bulan Kegelapan, dengan kondisinya yang sekarang maka semua itu akan njadi pertarungan yang nyulitkan.
Sesampainya di laboratorium, timnya dan Viona sudah bekerja. Viona mang masih seorang ahli parfum, tetapi ketika Randika mutuskan bahwa dia perlu ngerjakan ramuan X maka secara otomatis mbuat Viona ngikuti dirinya. Hal ini juga sedikit legakan hati Randika.
Terlebih lagi, figur tubuh Viona mbuat dirinya dan laki-laki lain tidak bisa lepaskan mata reka. Viona makai rok ketat yang pendek dan sepatu hak sehingga nonjolkan pantatnya.
Di tubuh bagian atas, Viona makai baju keja putih yang mbuat pakaian dalamnya transparan, wajahnya makai make up yang tidak terlalu tebal, lipstik rah cerah, dan semua itu ditutup dengan senyuman manis yang mampu mbuat para lelaki ingin nindihnya.
Belum lagi kaki panjangnya yang mulus tertutupi oleh stocking jala itu benar-benar nggoda, sepertinya permainan guru dan murid akan njadi favorit bagi laki-laki yang ada di laboratorium.
Viona lalu mperhatikan Randika, dia natap pria idamannya itu dengan tatapan manis dan hati yang hangat. Dia berpakaian sedikit berani seperti ini hanya untuk Randika jadi jika Randika tidak nyukainya maka usahanya ini sama saja dengan percuma.
"Vi, tolong ambilkan aku kopi." Kata Randika.
Ketika Viona mberikan kopinya, mata Randika sudah bekerja dan nyadari bahwa semua orang masih sibuk bekerja dan tidak ada yang natapi reka. Dengan cepat Randika remas pantat Viona dan tangan satunya nerima kopi tersebut.
Viona sedikit terkejut dan langsung tersipu malu, Randika lalu ngambil kembali tangannya dan nulis di atas kertas.
Viona mperhatikannya dan Randika hanya nuliskan satu kata yaitu toilet!
mikirkan artinya, Viona rasa sudah tidak bisa nahan dirinya lagi dan tidak sabar bertemu dengan Randika. lihat Randika berkedip padanya setelah dia pergi dari ruangan, Viona terlihat malu-malu. Setidaknya dia harus mberi sedikit jeda biar tidak ada orang yang curiga.
Randika senang dengan kemajuan ramuan X serta kemajuan hubungannya dengan Viona.
Sentara itu di Jakarta.
"Apa?"
Ivan, kepala keluarga dari keluarga Alfred, ndengarkan laporan dari anak buahnya dari balik telepon. Sepertinya seluruh tubuhnya benar-benar terkejut oleh laporan ini.
"Ulangi lagi kata-katamu." Nada tidak percaya bisa terdengar dari suara Ivan.
"Tuan, tuan muda telah mati."
Suara anak buahnya itu terdengar pelan, dia aslinya segan mberi kabar buruk seperti ini.
"Siapa pelakunya?" Ivan maksa dirinya untuk tetap tenang dan bertanya setenang mungkin.
"Randika dari kota Cendrawasih."
DUAK!
Ivan benar-benar marah, dia sudah mbanting HPnya dan mbanting semua barang yang ada di atas ja. Bahkan sampai ja itu dia banting, rasa kesal di dalam hatinya masih belum hilang. Ivan lalu nendang pot bunga yang ada di sampingnya.
"Aku akan mbunuhmu!"
Semua orang yang ada di dalam ruangan tidak berani berkontar. Pertama kalinya reka lihat tuan besar reka marah sedemikian rupa.
"Panggil keluarga inti yang lain untuk rapat!" Ivan berkata pada anaknya yang ada di samping. ndengar kata-kata ayahnya ini, dia langsung mbungkuk dan pergi.
Tak lama kemudian, pertemuan ndadak keluarga Alfred akhirnya dimulai. Pertemuan ini bukanlah yang pertama, ini adalah pertemuan ndadak reka yang kedua yang hanya berjarak beberapa hari. Yang pertama diadakan via telepon karena banyak anggota keluarga inti yang sedang tidak ada di rumah. Yang njadi persamaannya adalah topik reka yaitu masalah ngenai orang yang bernama Randika.
"Hans telah mati." Ivan natap pada semua orang yang hadir. Orang-orang yang hadir adalah para penatua dan petinggi dari keluarga Alfred.
"Apa? Anakmu mati?"
"Kenapa bisa? Apa dia dibunuh?"
Kabar ini benar-benar mbuat reka semua geram. Hans adalah keturunan dari sang kepala keluarga, dengan kata lain dialah kandidat penerus kepala keluarga dari keluarga aristokrat ini. Jika benar bahwa Hans telah dibunuh oleh orang, ini adalah penghinaan terbesar yang pernah diterima oleh keluarga ini!
Kejadian ini benar-benar nampar wajah keluarga Alfred apabila sampai terdengar oleh orang luar, reka harus mikirkan masalah ini dengan serius.
Untuk sesaat, darah semua orang ndidih dan ingin nguliti hidup-hidup orang yang telah nyinggung keluarga reka ini.
"Orang yang mbunuhnya adalah Randika, pemuda yang nyerang Hans sebelumnya." Pada saat ini Ivan berbicara kembali setelah terdiam sesaat. Dalam sekejap, semua orang yang hadir terdiam.
Setelah kesunyian beberapa saat, seseorang akhirnya angkat bicara. "Orang yang ada di balik Randika itu benar-benar tidak bisa kita singgung."
"Tetapi belum pernah ada orang yang berani ngusik keluarga kita sebelumnya." Seseorang mbalas. "Sejak kapan kita diam dan patuh dengan orang lain?"
Berbicara ngenai kekuatan yang ndukung Randika dari belakang itu, semua orang di keluarga Alfred benar-benar tidak berani berurusan dengannya. Sepertinya kejadian reka sebelumnya dengan kakek Randika di rumah keluarga Laibahas itu mbuat reka rasakan teror yang telah terlupakan.
"Bagaimanapun juga, Randika harus mati untuk nebus dosanya!" lihat debat keluarganya yang semakin keluar jalur, Ivan ngutarakan pendapatnya. Tatapan matanya benar-benar dipenuhi dengan api kebencian.
"Si tua bangka itu mang kuat dan kita tidak bisa apa-apa terhadapnya. Tetapi bulan depan akan ada event besar, si tua bangka itu pasti tidak akan punya waktu untuk ngawasi kita, jadi pada saat itu Randika akan mati di tangan kita!" Kata Ivan.
skipun orang-orang ini tidak tahu event apa yang dimaksud oleh Ivan, reka tidak berani mbantah ataupun berkontar setelah lihat api kemarahan dari dalam diri Ivan. Terlebih, jika keluarga Alfred nggunakan seluruh aset dan kekuatan reka, bahkan dunia pun bisa reka taklukan.
......
Randika tiba-tiba bersin, sepertinya ada yang sedang mbicarakan dirinya?
"Vi, tolong ambilkan sampel di lantai atas ya." Kata Randika pada Viona. Selama beberapa nit nunggu di toilet, Viona tidak datang dan hal ini mbuat Randika sedikit sedih.
Sepertinya Viona tidak ingin hubungannya ini ketahuan jadi mungkin Viona berusaha nahan dirinya.
Tetapi setelah lihat pantat Viona yang lewati dirinya itu, Randika dengan hati-hati remasnya sekali lagi. Viona sedikit terkejut dan tersipu malu, dia sudah tidak bisa nghitung sudah berapa kali Randika nggoda dirinya. Randika makin lama makin berani skipun reka masih ada di dalam tempat kerja reka dan banyak mata yang ngawasi.
Tetapi, sepertinya ketegangan ini mbuat Viona semakin terangsang.
Pada saat yang sama, ramuan X ngalami kemajuan sedikit. Randika natap cairan berwarna abu-abu itu di tabung reaksinya. Setelah diperiksa, sepertinya ini sedikit lebih baik daripada sebelumnya.
Perkembangan ramuan X ini sudah berada di jalur yang benar, alangkah baiknya apabila dia masih mpunyai waktu beberapa bulan tetapi situasi dirinya ini mbuat dirinya tidak punya waktu yang cukup.
Seharian ini Randika dan timnya benar-benar sibuk dan pada saat jam makan siang, Randika ingin ngajak Viona makan bersama tetapi dia nyaksikan dengan matanya Viona dibawa pergi oleh teman-temannya.
"Vi, ada promo makan 5 gratis 1! Kita langsung cabut!" Temannya itu tidak nerima kata tidak.
Lagi-lagi hati Randika njadi sedih ketika lihat Viona dibawa pergi.
Di tengah keterpurukannya, Randika mutuskan untuk makan sendirian karena dia sedang ngidam makan iga penyet.
Setibanya di depan restoran, ketika dia hendak mbuka pintu, Randika tiba-tiba rasakan seluruh tubuhnya njadi kaku. Dalam sekejap, tenaga dalam di dalam dirinya bergejolak bagaikan tsunami. Energi tersebut hendak lahapnya hidup-hidup dalam sekali gerak.
Keringat segera mbanjiri dirinya dari atas ke bawah. Tubuhnya benar-benar berkeringat sedangkan tubuhnya sendiri kedinginan seperti sedang di kutub utara.
lihat bahwa dirinya hendak lepas kendali, Randika dengan cepat ngambil dan minum obat yang didapatnya dari kakek ketiga. Sesudahnya obat itu masuk ke dalam tubuhnya, ia langsung bekerja dengan cepat. Pada saat ini, energinya yang bergejolak itu bertemu dengan energi yang berasal dari obat, tsunami tersebut langsung njadi surut.
Whoa!
Randika nghembuskan napas dalam-dalam. Untungnya saja dia berhasil ngendalikan tubuhnya, kalau tidak bisa-bisa dia pingsan di tempat ini.
Efek samping dari obat ini mulai nendang, Randika tidak bisa nahan nafsunya yang mulai nguasai dirinya. Setiap perempuan yang dilihat sudah bagaikan perempuan sexy yang ngundang dirinya untuk berhubungan badan.
Sambil terhuyung-huyung, Randika berusaha ncari tempat yang teduh dan jauh dari orang-orang. Nafsu birahinya yang besar ini bisa-bisa mbuatnya gelap mata dan nyerang perempuan.
Tanpa disengaja, Deviana sedang di dekat sana untuk ncari tempat makan siang. lihat sosok yang dikenalnya, Deviana mutuskan untuk nyapa Randika. Tetapi cara berjalan dan tangan yang ncengkeram erat dadanya itu, mbuat Deviana penasaran apa yang sedang terjadi pada Randika.
"Hei, kamu tidak apa-apa?" Deviana berhasil nghampiri Randika dan gang pundaknya. Ketika Randika berputar, Deviana sedikit ketakutan lihatnya.
Wajahnya Randika benar-benar rah dan lehernya sudah berwarna pink. Belum lagi, tatapan matanya itu terlihat tajam sekali dan napasnya terlihat berat.
"Ran kamu kenapa?" Deviana bingung apa yang harus dia lakukan. "Apakah kamu"
Namun, sebelum dia dapat selesai bertanya, Randika luknya dengan kedua tangan.
"Ah! Apa yang kamu lakukan!?"
Ketika Deviana hendak lepaskan diri, Randika sudah ncium bibirnya!
Dalam sekejap Deviana terkejut dan bingung, dia tidak percaya dengan tindakan Randika ini.
skipun Randika sum dan pernah rabanya, sebelumnya Randika tidak pernah seperti ini. Kali ini Randika benar-benar maksa dirinya untuk berciuman.
Deviana yang berharga diri tinggi rasa dirinya dilecehkan, dengan cepat dia ndorong Randika.
Setelah nginjak kaki Randika beberapa kali, akhirnya Randika lepaskan bibirnya dan Deviana manfaatkan kesempatan ini untuk lepaskan dirinya.
"Aku tidak nyangka kamu lelaki seperti ini." Kata Deviana dengan wajah jijik.
Reviews
All reviews (0)