Randika lalu mbawa Inggrid pulang ke rumah. Tentu saja, kejadian barusan benar-benar mbuat Inggrid ketakutan dan tidak bisa lepas dari pelukannya Randika.
"Sayang, kamu tidak usah khawatir. Biarkan masalah ini yang aku urus." Kata Randika sambil ngelus rambut Inggrid.
"Sayangnya ini beda Ran." Inggrid natapnya dengan tatapan yang penuh ketakutan. "Kali ini kamu mbunuhnya, keluarga Alfred tidak akan lepaskan kejadian ini."
"Dia sudah nculikmu dan mau mperkosamu dua kali. Jika aku tidak mbunuhnya, bisa-bisa dia akan lakukannya lagi. Aku tidak bisa mbiarkan itu terjadi lagi." Randika luk erat Inggrid. "Jika aku tidak bisa lindungi istriku, suami macam apa aku?"
Inggrid rasa tersentuh dengan kata-kata itu, dia hendak mbalas Randika tetapi Randika nempelkan jari telunjuknya di bibirnya. "Sudah kamu tidak usah khawatir tentang keluarga Alfred lagi. Biarkan aku ngatasinya dengan caraku sendiri."
lihat Randika yang penuh percaya diri, Inggrid nganggukan kepalanya.
Sesampainya di rumah, Ibu Ipah dan Hannah benar-benar senang lihat Inggrid pulang dengan selamat. Ibu Ipah dengan cepat masak sedangkan Hannah tidak bisa berhenti nangis di pelukan kakaknya.
Setelah makan malam dan mandi, Inggrid masuk ke dalam kamarnya. Dia lalu disusul oleh Randika.
Setelah matikan lampunya, reka berdua hanya tiduran di kasur. Randika raih tangan kecil Inggrid dari balik selimut. Namun, dia nyadari bahwa Inggrid tidak bisa berhenti bergetar.
"Sayang, kamu masih takut?" Tanya Randika dengan nada lembut.
Inggrid ngangguk. Dia mbuka mulutnya tetapi tidak ngatakan apa-apa. Alasan karena Randika begitu percaya diri nentang keluarga Alfred karena dia sama sekali tidak tahu sebesar apa kekuatan keluarga aristokrat tersebut. Pengaruh yang dimiliki keluarga Alfred benar-benar terlalu ngerikan, orang biasa sama sekali tidak bisa ngerti hal ini.
skipun keluarga Alfred sedang berdiam diri, skipun Randika miliki penatua yang nolongnya di Jakarta waktu itu, masalah kali ini benar-benar terlalu serius. mbunuh salah satu keturunannya sama saja nyulut api peperangan. Jika keluarga Alfred mutuskan untuk mbunuh Randika, reka akan nggunakan seluruh kekuatannya untuk mastikan Randika terbunuh.
Inggrid masih tidak bisa sepenuhnya percaya bahwa masalah ini akan selesai dengan damai.
"Enakan?" Tanya Randika sambil luk Inggrid.
rasakan hawa hangat dari tubuh Randika, Inggrid rasa dirinya lebih baikan dan lebih tenang. Setelah ngangguk perlahan, Inggrid mbalas pelukan Randika itu.
Malam hari ini, Inggrid tertidur di pelukan hangat Randika.
.........
Besoknya.
Mungkin karena kejadian kemarin terlalu nakutkan dan nguras energinya, Inggrid benar-benar tertidur lelap.
Randika terbangun terlebih dulu dan ncium Inggrid di dahinya. Sambil berhati-hati tidak mbangunkannya, Randika keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah.
"Pagi nak Randika." Ibu Ipah yang lihat Randika turun nyambutnya dengan senyuman. Ibu Ipah sudah restui hubungan nona mudanya dengan Randika. Sepertinya Randika mpunyai kekuatan yang tidak bisa dijelaskan dengan logika, oleh karena itu Randika benar-benar bisa diandalkan dalam situasi apa pun.
"Ibu Ipah masak apa pagi ini?" Tanya Randika sambil tersenyum. "Aku sangat lapar pagi ini."
"Tenang saja, ibu masak banyak kok hari ini." Kata Ibu Ipah sambil tersenyum. "Aku harap ayam bumbu rujak sama sayur bening yang ibu masak ini cukup untukmu."
ndengar nu sarapannya ini, Randika tidak bisa berhenti neteskan air liurnya. Setelah kejadian semalam, energi fisik dan batinnya benar-benar terkuras.
Duduk di ja makan, waktu sudah nunjukan pukul 8 pagi. Selain Randika dan Ibu Ipah, Hannah dan Inggrid belum pada bangun. Hannah sepertinya sama terkurasnya dengan Randika sehingga telat bangun.
Pada saat ini, pagar depan rumahnya tiba-tiba terbuka. Randika yang nyadarinya langsung natap ke arah pagar. Ada sosok beberapa orang yang berpakaian sedikit unik dan terlihat persis seperti orang-orang yang telah dihajarnya di Jakarta.
Keluarga Alfred?
Randika ngerutkan dahinya dan nyadari bahwa orang-orang ini hendak nerobos masuk. Ketika para bawahan keluarga Alfred ini hendak masuk, tiba-tiba secara bersamaan reka ngambil langkah mundur.
"Tidak ada satupun dari kalian yang bisa masuk ke rumah ini." Kata Randika dengan nada dingin, dia lalu ngambil satu langkah maju. Langkah kakinya benar-benar mantap, mbuat lawannya itu ngambil langkah mundur.
Situasi masuki jalan buntu, kedua belah pihak sama-sama tidak nunjukan tanda-tanda nyerang. Saat para suruhan itu natap tembok, Randika berkata dengan nada dingin. "Kalian ncariku?"
Wajah para suruhan ini njadi muram, salah satu reka njawab. "Apa kau telah mbunuh tuan muda kemarin malam?"
"Jadi kalian adalah pengawal milik anak laknat itu?" Kata Randika sambil natap tajam reka.
"Kami adalah bawahan langsung milik keluarga Alfred, jika kau mbunuh salah satu anggota keluarga reka maka masalah ini lebih besar daripada yang kau duga." Orang tersebut natap Randika. "Aku sarankan kau datang ke Jakarta dan ngakui perbuatanmu pada tuan besar, atau kau akan nerima konsekuensinya!"
Randika sedikit tertawa, sejak kapan keluarga Alfred punya selera humor?
"Apa yang akan terjadi kalau aku ikut denganmu?" Tanya Randika.
"Kau akan nerima hukuman dari tuan besar kami."
"Aku rasa hukuman itu akan berat." Randika ndengus dingin. "Kalau begitu, apa yang akan terjadi kalau aku tidak ikut dengan kalian?"
"Hanya ada kematian pada orang yang berani nyinggung keluarga Alfred!"
"Kalau begitu hasilnya sama-sama mati, jadi buat apa aku ikut dengan kalian? Kalian ini mang bodoh." Wajah Randika njadi serius. "Kau rasanya butuh operasi otak, kebodohanmu itu sudah tidak tertolong lagi. Belum lagi kalian telah mbiarkan tuan muda kalian mati begitu saja. Kalau aku jadi kau, aku sudah pasti ngundurkan diri dari pekerjaanmu itu."
"Kau!"
Beberapa orang sudah rasakan darah reka ndidih. Sedangkan Randika hanya nguap, "Sudah katakan saja pada bosmu itu bahwa semua kejadian ini bukan salahku tetapi salah anaknya yang bejat dan tidak bermoral itu. Lain kali jika kalian ncariku, bel pintu rumahku. Kalau kalian nerobos lagi seperti ini, aku akan mastikan kalian akan rangkak keluar dari sini."
ndengar kata-kata penghinaan Randika ini, semua suruhan keluarga Alfred ini sudah tidak bisa nahan diri. Beberapa dari reka sudah maju dan berusaha nangkap Randika!
Tetapi Randika tiba-tiba ikut nerjang dan ngulurkan kedua tangannya. Dia berhasil nangkap pergelangan tangan dua orang. Sambil remasnya, Randika ngayunkan kedua orang tersebut hingga mirip angin puting beliung dan lepas reka hingga terbang dan terbentur di tanah dengan keras.
"Serang dia."
Pemimpin kelompok ini rintahkan bawahannya untuk nyerang Randika.
Randika kembali berhasil nangkap seseorang dan langsung nghancurkan salah satu kakinya hingga tidak bisa berdiri seumur hidupnya. Setelah lempar orang tersebut, Randika lompat dan ndarat tepat di tengah 3 orang. Dengan cepat dia nghantam dada reka dan nendang reka hingga terpental.
Di saat yang sama, Randika nghindari serangan ndadak dari arah belakangnya. Serangan dari pemimpin kelompok ini mang berbeda dengan anak buahnya.
Setelah nghindar, Randika layangkan pukulan yang pada akhirnya dihadang dengan kedua tangan si pemimpin kelompok itu. Lebih dari 10 langkah mundur, kekuatannya benar-benar tidak ada apa-apanya dengan Randika.
Tak lama kemudian, semua orang sudah terkapar kesakitan di tanah dan hanya Randika dan si pemimpin kelompok lah yang berdiri.
"Aku tidak takut dengan keluarga Alfred." Randika natap tajam si pemimpin. "Aku ingin kau kembali ke tempat asalmu dan mberi bosmu sebuah pesan : Mau berapa pun kalian ngirim orang, aku akan mbunuh reka semua!"
Reviews
All reviews (0)