Dalam sekejap semua pria kekar itu sudah terkapar tidak sadarkan diri, Randika benar-benar tidak mberi reka ampun. Hampir semua tulang yang terkena pukulan ataupun tendangannya itu patah, bisa dikatakan bahwa reka tidak akan bisa segarang itu lagi seumur hidup reka.
Sekarang hanya Hans, Randika dan Inggrid yang masih miliki kesadaran di ruangan ini. Randika sudah natap tajam Hans yang duduk di kursi rodanya.
Tetapi, yang mbuat Randika terkejut adalah sosok orang yang tiba-tiba muncul di sofa. Sosok tersebut terlihat nguap dan bosan.
Randika ncuekinya dan berjalan nghampiri Inggrid.
"Kekuatan yang luar biasa." Pada saat yang sama, pria misterius itu ngangkat kepalanya dan mperlihatkan wajahnya. Wajahnya miliki luka yang tak terhitung jumlahnya dan matanya cuma ada satu!
Benar-benar wajah seorang penjahat!
Randika tidak njawab, dia lepaskan borgol milik Inggrid dan luknya.
Pria misterius itu tidak senang karena Randika ncuekinya, baru pertama kali ada orang yang searogan itu di dalam hidupnya.
"Aku adalah Wang Da dari daftar para Dewa!"
Orang misterius itu berdiri dan berkata dengan nada dingin. "lihat kemampuanmu itu, kau juga pasti salah satu ahli bela diri sama sepertiku. Aku cuma tidak tahu namamu ada di daftar mana."
Randika berputar dan natap Wang Da, dia berkata dengan nada tenang. "Kamu bertanya tentang asal-usulku? Kau cuma perlu cukup tahu saja bahwa aku telah mbunuh banyak orang sepertimu."
Wajah Wang Da terlihat serius sekaligus dingin.
"Oya? Aku tidak sabar mbuktikan mulut besarmu itu."
Di saat Wang Da selesai berbicara, sosoknya tiba-tiba nghilang. Lampu di ruangan VVIP ini tiba-tiba mati dan dalam sekejap kamar ini njadi gelap gulita.
Randika masih berdiri di tempatnya dan sama sekali tidak bergerak. Satu nit berlalu, dua nit berlalu. Pada saat ini, Randika ndadak ngulurkan tangannya di depannya. Di depannya sudah ada pedang dengan kilatan dingin yang hendak nusuknya tepat di dadanya!
Tetapi dengan tangan Randika yang sudah siap, dia njepit ujung pedang itu dengan jempol dan jari telunjuknya. Pedang itu sama sekali tidak bisa bergerak!
Wang Da benar-benar terkejut, dia ngangkat kepalanya dan natap wajah Randika yang datar. Firasatnya benar-benar buruk.
Randika lepaskan genggamannya dan Wang Da terpental beberapa langkah ke belakang. Wang Da manfaatkan kesempatan ini untuk nghilang lagi ke dalam kegelapan.
Randika masih berdiri diam di tempatnya, dia lalu berkata dengan nada datar. "Bergeraklah lebih cepat, aku sudah bosan bermain dengan orang lemah sepertimu. Aku akan mberimu dua kesempatan lagi."
ndengar kata-kata Randika itu, wajah Wang Da mulai terlihat marah. Pertama kali dalam hidupnya dia dipandang rendah seperti itu!
Ketika dia lihat aksi Randika sebelumnya, Wang Da hanya berpikir bahwa lawannya ini hanya jago berkelahi. Dia sangat yakin bisa mbunuhnya dengan satu tangan. Namun pada saat ini, serangan terbaiknya tidak bisa nyentuh Randika sama sekali, Wang Da rasakan tekanan yang belum pernah dia rasakan.
Spesialisnya adalah serangan diam-diam dari balik kegelapan, tetapi masalahnya adalah lawannya bisa ngetahui di mana dia berada dan arah serangannya dari awal!
Wang Da nenangkan dirinya dan ngatur pernapasannya. Dia nghilangkan hawa kehadirannya dan ncari titik lemah Randika dari balik kegelapan. Pada saat yang sama, Randika tidak bergerak sama sekali malahan dia nutup matanya!
Dia benar-benar rehkanku!
Amarahnya sudah luap-luap, darahnya ndidih dan ototnya negang. Wang Da sudah berubah njadi anak panah yang lesat dengan cepat. Pedangnya dia genggam terbalik sehingga tidak akan mantulkan cahaya.
Dengan ini Randika tidak bisa lihat arah datang serangannya, apalagi matanya tertutup.
Mati kau!
Pada saat ini, Randika mbuka matanya, berputar badan dan natap mata Wang Da secara langsung. Kemudian dia ngangkat tangan kanannya dan nembakan tenaga dalamnya yang mbuat Wang Da terpental di udara.
Wang Da berputar-putar di udara, karena serangan ini dia terbentur keras di tembok. natap Randika dengan kedua matanya, Wang Da benar-benar ketakutan.
"Sekali lagi." Kata Randika dengan nada datar.
lihat sosok Randika yang sekarang, Wang Da berpikir bahwa dia sama sekali tidak mpunyai kesempatan walaupun diberi 100x kesempatan. Lawannya ini benar-benar kuat dan jauh lebihi dirinya!
Sepertinya perkataan Randika yang sudah mbunuh banyak orang seperti dirinya bukanlah omong kosong. Jika dia nginginkannya, mungkin dia sudah benar-benar mati daritadi.
Tapi Wang Da tidak nyerah! Dia kembali bergerak dari balik kegelapan.
Satu nit, dua nit telah berlalu dan dia sama sekali tidak bergerak. Cahaya bulan dari arah jendela tiba-tiba tertutup oleh awan, semakin nggelapkan ruangan ini.
Pada saat ini, Wang Da benar-benar nyatu dengan kegelapan. Dia langsung nerjang ke arah Randika dengan kecepatan penuh.
Whush!
Pertama Wang Da seolah-olah nyerang dari belakang. Namun pada saat yang sama, dia berputar di tengah udara sambil lempar pedangnya ke arah belakang kepala Randika. Dia sendiri bersalto di udara dan berusaha nebas Randika dari belakang apabila Randika berputar dan nghadang lemparan pedangnya itu.
Tetapi Randika sudah ngerti trik kotor seperti ini. Bukannya nghindar, dia bergeser dan keluar dari jalur pedang tersebut. Pada saat yang sama, Randika ngangkat kepalanya dan natap mata Wang Da yang ada di udara.
Wang Da nyadari tatapan tajam Randika itu. Lawannya ini bahkan tahu trik andalannya?
Di tengah keterkejutannya, pergelangan tangannya telah dicengkeram erat oleh Randika dan tenaga dalamnya sepertinya tidak bisa nyebar.
Terbanting keras di lantai, Randika berkata pada Wang Da. "Sudah kubilang, orang sepertimu sudah kubunuh berkali-kali."
Ketika Wang Da ingin larikan diri, pergelangan tangannya itu sudah diinjak oleh Randika dan hancur berkeping-keping!
"Kau Siapa kau?" Wang Da natap lawannya dengan keringat dingin ngalir deras.
"Kau ingin tahu daftar mana aku berada?" Randika natap Wang Da dan berkata dengan nada dingin. "Aku berada di daftar 12 Dewa Olimpus."
Dua belas Dewa Olimpus?
Mata Wang Da terbelalak ketika ndengarnya. Bisa-bisanya dia bertemu dengan orang ngerikan seperti itu di Indonesia?
Randika sama sekali tidak mberinya kesempatan untuk berbicara. Dia hanya mukulnya dan mbunuhnya.
Kemudian, dengan jarinya yang mbentuk pistol, dia nembakan secuil tenaga dalamnya untuk nyalakan lampu.
"Sekarang giliranmu." Randika natap Hans.
Hans, yang nyadari anak buah terkuatnya itu telah mati, benar-benar berwajah pucat. Tatapan mata Randika benar-benar ngerikan dan penuh dengan amarah. Nyawanya sudah berakhir!
"Keluargaku tidak akan mbiarkanmu lolos begitu saja." Hans natap Randika dengan dingin.
"Aku tahu."
Setelah berkata seperti itu, Randika ngangkat tangannya.
Tiba-tiba, tubuh Hans yang awalnya tegang rasa seluruh tenaganya mulai nghilang dari tubuhnya.
Hans dari keluarga Alfred telah mati!
Randika lalu mbawa Inggrid dan pergi dari hotel ini. Ada lubang besar tepat di tenggorokan Hans yang duduk di kursi rodanya. Darah terus ngucur deras dan tangannya sudah nggantung di udara
Saat Randika keluar dari gedung, cahaya bulan benar-benar indah.
Reviews
All reviews (0)