Font Size
15px

rasa resah, Randika nelepon sekretaris Inggrid.

"Halo, apa Inggrid sedang lembur di kantor?" Suara Randika ngandung rasa cemas.

"Benar, tapi sejam yang lalu Bu Inggrid sudah pulang." Jawab si sekretaris.

Hati Randika mulai ngepal. Jika istrinya itu sudah pulang sejam yang lalu, seharusnya dia sudah lama berada di rumahnya. Hanya ada satu kesimpulan, Inggrid tertimpa masalah lagi.

Randika dengan cepat nghubungi handphone Inggrid. skipun berdering, tidak ada jawaban sama sekali.

Randika ncobanya lagi tapi hasilnya tetap sama.

Inggrid terlibat masalah apa?

Randika ngerutkan dahinya, dia tidak dapat nemukan petunjuk apa pun. Seharusnya dia sama sekali tidak nyinggung siapapun akhir-akhir ini. Jadi siapa yang ncari gara-gara dengannya?

Perusahaan Cendrawasih juga sedang tidak berada dalam konflik dengan perusahaan lain. Jadi Randika sama sekali tidak kepikiran siapa pelakunya.

Tidak, tidak, tidak, Randika harus berpikir apa yang aneh hari ini.

Yang dia bisa tahu adalah Inggrid hari ini berangkat sendirian makai mobilnya karena supirnya tidak bisa datang. Berarti besar kemungkinan pelaku nyadari ini dan ngambil kesempatan.

Randika langsung kepikiran dengan dua keluarga yang ada di Jakarta itu. Tetapi setelah kedatangan kakek keduanya, bisa dikatakan bahwa masalah dengan keluarga itu sudah selesai dan kedua keluarga itu sudah tidak ngusik Inggrid lagi.

Setelah berpikir begitu lama, Randika nghela napas dalam-dalam. Prioritas pertama adalah nemukan Inggrid dulu bukan diam renung.

Pada saat ini, Hannah turun ke lantai bawah setelah ganti baju dan lihat kakak iparnya itu sedang berdiri diam di depan ja makan. Dia tidak bisa nahan dirinya untuk bertanya. "Ada apa kak?"

"Kakakmu nghilang."

Hannah terkejut. "Maksudnya kakak apa barusan!?"

Pada saat ini, Ibu Ipah juga ikut khawatir. "Apa nona terlibat masalah lagi?"

Randika dengan berat hati ngangguk. "Kemungkinan besar iya, sekarang yang harus kita lakukan adalah nemukan lokasinya."

"Kota ini terlalu besar, mustahil kita bisa nemukannya dalam semalam." Hannah sudah panik.

"Itu lebih baik daripada diam saja." Randika sendiri ngerti dengan situasi ini. Jika tidak ada petunjuk, ncari Inggrid sama seperti ncari jarum di tumpukan jerami.

Sialan, siapa lagi yang ncari gara-gara dengan dirinya.

"Jangan khawatir nak, kita akan nemukannya." Ibu Ipah berusaha nghibur.

"Benar, ayo kita cari kak Inggrid bersama-sama." Hannah dengan cepat ganti baju sekali lagi.

Randika benar-benar cemas dan pusing. Dia sudah kehilangan istrinya itu sekali dan tidak ingin hal ini terulang lagi. Bila perlu kota ini dia hancurkan demi nemukan jejak istrinya itu.

Ketiga orang ini dengan cepat naik mobil dan berkendara nuju kota. Tetapi reka tidak tahu harus ke mana.

Randika berpikir sebentar dan ngatakan. "Kita lebih baik nelusuri jalur pulang Inggrid dari kantor. Mungkin kita bisa nemukan sesuatu."

markirkan mobilnya, reka bertiga mulai berjalan kaki nelusuri jalan yang dipakai Inggrid untuk sampai ke rumah. Bila perlu, reka akan berjalan sampai perusahaan di mana Inggrid bekerja. Selama perjalanan, Randika terus nerus nelepon handphone Inggrid skipun tidak terjawab.

Setelah hampir 10 nit, ketiga orang ini sudah berada di dekat perusahaan Cendrawasih tetapi masih tidak nemukan jejak apa pun. Ibu Ipah dan Hannah sudah panik tidak karuan.

Hati Randika sendiri sudah ngepal, tetapi dia tidak boleh nyerah. Pada saat ini, tiba-tiba teleponnya terangkat.

Hati Randika kembali bersinar, harapan untuk nemukan istrinya telah kembali. Dengan cepat dia nempelkan HPnya di telinganya.

"Di mana kamu?"

Namun, suara lelaki bersendawa terdengar dari balik telepon. Hati Randika kembali redup.

"Hiks, ini siapa ya?" Suara lelaki itu terdengar terbata-bata dan tidak jelas.

"Ini Randika, kamu siapa? Di mana Inggrid!" Suara Randika semakin naik. "Kenapa kamu bisa ngangkat telepon ini? Di mana Inggrid?"

Hannah dan Ibu Ipah dengan cepat berdiri di depan Randika, namun pada saat ini, lelaki yang ngangkat teleponnya itu tiba-tiba nutup teleponnya.

Tut, tut, tut.

Randika dengan cepat rasa kecewa ketika ndengar suara telepon terputus itu.

"Kak sudahlah tidak usah khawatir. Kita coba pergi ke kantornya dulu, mungkin kakak ada di sana."

Hannah berusaha nipu dirinya, dari tatapan matanya dia sudah terlihat khawatir.

Pada saat ini, sekumpulan orang mabuk sedang berjalan nghampiri reka.

Para pejalan kaki, lihat orang yang sudah mabuk berat itu, dengan cepat nghindari reka. reka takut dengan apa yang akan dilakukan orang-orang yang sudah mabuk itu.

"Hei, Roy, hik, ngapain kamu barusan? Hik." Orang mabuk itu tidak bisa berhenti cegukan.

Kumpulan orang mabuk ini terus berjalan dengan terpincang-pincang sambil terus cegukan. "Tidak ngapa-ngapain, hik."

reka lewati kelompoknya Randika sambil terus bercanda. Randika sama sekali tidak mpedulikan reka sampai akhirnya seseorang berkata pada temannya yang mabuk. "Aku hanya, hik, ngambil HP jatuh dan, hik, ada orang yang nelepon HP itu. Suara orangnya marah-marah jadi kututup langsung."

Temannya itu tertawa. "Bajingan, matamu masih bisa lihat HP yang kecil itu?"

Roy rasa tersinggung dan mbalas. "mangnya kau kira, hik, aku lemah sepertimu? Ngambil HP jatuh seperti itu aku masih bisa! Tahu tidak? Nama orang itu lucu sekali, kalau tidak salah Randika seperti penyanyi Kangen Band itu!"

Randika, dengan pendengaran supernya, tiba-tiba noleh dan ngejar kumpulan orang mabuk itu.

"Ulangi lagi kata-katamu." Randika dengan cepat riksa Roy dari atas ke bawah, di tangannya itu terlihat HP dengan casing berwarna pink.

HP itu benar-benar familier, Randika yakin itu adalah HP milik Inggrid!

"Hei! Apa maumu bocah?" Orang-orang mabuk ini negak kembali bir yang ada di tangannya. Dia hendak lepaskan diri dari genggaman Randika namun tidak berhasil. Pada saat ini, teman-temannya sudah ndatangi Randika satu per satu.

"Hei kau ingin mati bocah?"

skipun pandangannya reka sedikit kabur, reka masih berhasil ngepung Randika di tengah-tengah reka. Ketika para pejalan kaki lihat reka, semuanya segera rasa kasihan pada Randika. Tindakan orang mabuk benar-benar tidak terduga dan mudah main pukul.

Randika benar-benar tidak peduli dengan situasinya, dia hanya peduli dengan keberadaan Inggrid. "Aku tanya kamu sekali lagi, di mana kamu nemukan HP itu?"

Namun, para pemabuk ini tertawa bersama-sama.

"Hei bocah, hik, kau kira kami akan bilang, hik, begitu saja?"

"Fitnah tanpa bukti itu sama saja dengan kejahatan. Pergi sana sebelum, hik, kami nuntutmu."

Seorang dari reka nghabiskan birnya dan letakan botol kosongnya di tanah. Di tatapan matanya itu, Randika seperti bergerak terus tanpa henti.

Teman-temannya juga mulai kesulitan berdiri. Tiba-tiba, dari arah belakang, seseorang sudah layangkan botol birnya pada bagian belakang kepala Randika.

"Mati kau."

Semua pejalan kaki sudah nutup mata reka, pemuda itu sudah tamat riwayatnya. Mungkin apa yang reka bisa lakukan adalah nelepon ambulans.

Tetapi kejadian yang terjadi benar-benar di luar dugaan semua orang. Botol bir itu tidak ngenai kepala Randika. Randika sendiri sudah nghilang dan berdiri di samping orang yang nyerangnya. Dia lalu ncengkeram erat pergelangan tangannya.

Seluruh tubuh si pemabuk ini benar-benar terangkat dan terbanting keras di tanah.

Kali ini, semua teman-temannya yang mabuk itu njadi marah. reka semua mulai layangkan botol reka tepat ke arah Randika.

"Dasar bocah!"

Ketika pemabuk itu nerjang, dadanya sudah nerima sikutan Randika. Orang tersebut terhuyung-huyung yang pada akhirnya terjatuh dan kepalanya mbentur dengan keras, dalam sekejap dia sudah tidak sadarkan diri.

Pemabuk lainnya juga ikut nerjang dan sudah tak sadarkan diri sambil luk botolnya, rupanya dia tersandung botol temannya yang ditaruh di tanah sebelumnya.

Di lain sisi, Randika sudah bagaikan serigala yang masuk ke dalam kandang ayam. Dia dengan cepat ngendalikan situasi. Dalam 2 nit, yang masih sadarkan diri hanyalah pemabuk yang mungut HP Inggrid, teman-temannya sudah tidak sadarkan diri semua.

Para pejalan kaki yang lihat hal ini sudah kehabisan kata-kata. Pemuda itu benar-benar sakti!

Wajah Randika terlihat datar, isi pikirannya masih kacau dan cemas terhadap Inggrid. Kalau saja orang ini mau njawab pertanyaannya, semua orang yang dia hajar itu masih bisa berdiri.

Roy natap Randika dengan ekspresi ketakutan, saking takutnya dia muntahkan isi perutnya.

"Apa maumu!" Roy sudah sadar bahwa riwayatnya sudah tamat. Tanpa berkata apa-apa, Randika ngangkatnya dan nghantamkannya ke bawah. Dalam sekejap Roy sudah rintih kesakitan.

"Di mana kamu mungut HP itu?" Randika bertanya dengan nada dingin.

"Ak Aku" Roy tidak bisa nghentikan rasa takutnya.

Randika lalu ngangkat tangannya. "Masih mau kuhajar?"

Para pejalan kaki sudah nelepon ambulans dan njelaskan situasinya. Ketika reka lihat Randika nyiksa salah satu dari pemabuk yang tersisa, reka sama sekali tidak berani ncegahnya.

"Jangan! Tolong ampuni aku!" Kata Roy.

"Di mana kamu mungut HP itu?" Tanya Randika sekali lagi.

"Di gang sebelah sana." Kata Roy sambil nunjuk gangnya.

Randika ngambil HP Inggrid dari Roy dan langsung berjalan nuju gang tersebut.

Ibu Ipah dan Hannah dengan cepat ngikutinya, reka bertiga langsung ncari petunjuk ketika sampai di gang tersebut.

Jika HP Inggrid ditemukan di sana, kemungkinan besar Inggrid lewati gang ini. Mungkin saja ada petunjuk yang bisa njelaskan keberadaannya.

Setelah setengah jam berlalu, wajah Randika terlihat lemas, reka sama sekali tidak nemukan apa pun.

Di saat reka bertiga rasa lemas, tiba-tiba reka ndengar suara orang tertawa dari belakang reka.

Randika noleh dan lihat boneka ginseng muncul dari dalam tanah.

Jadi selama ini ia bersembunyi di dalam tanah?

Randika yang masih terkejut itu tiba-tiba lihat boneka ginseng manjat celananya dan duduk di pundaknya.

Pada saat ini, Ibu Ipah dan Hannah lihat boneka imut itu duduk dengan santainya di pundak Randika.

Randika natap boneka ginseng yang nampaknya berusaha berbicara padanya. Tiba-tiba pertanyaan ini terlintas di benaknya. "Apa kamu tahu di mana Inggrid berada?"

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 184: Hilangnya Inggrid on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.