Randika ngulurkan tangannya pada Hannah. "Bisa berdiri?"
Hannah ncoba rasakan kakinya dan nggeleng dengan sekuat tenaga.
"Baiklah kalau begitu, aku akan nggendongmu." Kata Randika sambil nghela napas. Kejadian aneh selalu nghampirinya ketika dia pergi berdua dengan adik iparnya ini.
Hannah juga tidak sungkan-sungkan, dia langsung naik ke punggung Randika dan luk lehernya dengan erat.
"Kenapa kamu kok berat?" rasakan beban yang cukup berat di punggungnya, Randika keceplosan bertanya.
Berat badannya mang mbuat Hannah sedikit kepikiran. Tetapi pertanyaan Randika ini benar-benar tidak sopan untuk ditanyakan ke seorang perempuan. Pertanyaan seperti ini sama seperti, kapan nikah, berapa usiamu sekarang, berapa gajimu.
Dan tentu saja, Hannah makin cemberut. "Berat apanya, kakak saja yang lemah."
"Hahaha sepertinya aku nginjak ranjau." Randika mbetulkan posisi tangannya yang ada di paha mulus adik iparnya itu. Sensasi dada yang nempel di punggungnya itu juga benar-benar enak, Hannah mang cuma kalah sedikit dengan Inggrid.
"Huh terserah." Hannah makin cemberut.
"Kalau begitu mau ke mana kita? Pulang saja?" Tanya Randika.
"Sudah susah-susah datang ke sini dan kak Randika malah ingin pulang? Aku masih ingin lihat-lihat tahu." Kata Hannah sambil sedikit marah.
"Ya, ya, kalau begitu mau ke mana kita tuan puteri?" Randika nghela napasnya, adik iparnya ini sepertinya belum puas bermain.
"Hmmm" Hannah berpikir sebentar lalu tiba-tiba dia tersenyum. "Bagaimana kalau ke taman bermain? Aku sudah lama tidak pergi ke sana."
Randika lalu berjalan nuju tempat reka parkir sambil ngatakan. "Han, seharusnya kamu sudah tidak apa-apa, kamu mau turun dulu mungkin?"
"Tidak, aku masih trauma." Hannah dengan cepat nggelengkan kepalanya. Dia masih belum puas nyiksa kakak iparnya yang bertanya tentang berat badannya itu, setidaknya penyiksaan ini berakhir ketika dia masuk ke dalam mobil.
Han, kamu kan pakai rok hari ini, nanti dalamanmu kelihatan lho. Lebih baik jalan saja."
"Tidak usah khawatir, aku makai celana pendek di balik rok khusus hari ini." Kata Hannah sambil tersenyum.
...
Sepanjang siang hari ini, Randika nemani Hannah dengan segala macam kegilaannya. Di taman bermain, dia nemani adik iparnya itu naik roller coaster, gua hantu, kincir ria dll. Ketika reka selesai ncoba semua wahana, waktu sudah nunjukan pukul 5 sore.
Namun, Hannah tidak nunjukan tanda-tanda ingin pulang. Dia ngatakan dengan wajah yang antusias. "Kak, ayo kita pergi karaoke."
Dalam perjalanan reka ke karaoke, Hannah sudah nelepon dan ngajak teman-temannya. reka akhirnya nyanyi dan bersenang-senang seperti orang gila selama 3 jam.
Akhirnya, setelah penyiksaan seharian ini, Hannah nampak kelelahan dan berniat untuk pulang.
Setelah berpamitan dengan teman-temannya dan naik ke dalam mobil, Hannah nghela napas lega.
"Ah nikmatnya!"
Randika hanya bisa geleng-geleng sambil ngemudi nuju rumah.
"Kak, apa kakak bersenang-senang hari ini?" Hannah yang duduk di samping itu natap wajah Randika.
"Iya kakak senang." Randika ngangguk. Dalam hatinya dia sudah kewalahan, baginya tiduran di rumah bersama istrinya adalah liburan yang paling dia inginkan.
Kecepatan ngemudi Randika tidak cepat, dia nampak ngemudi sambil ngobrol. Setelah 15 nit berkendara, mobilnya sudah hendak naiki jembatan. Asalkan dia lewati jembatan itu, reka akan tiba di mana perumahan reka berada. Namun, saat ini kecepatan mobil Randika tiba-tiba semakin pelan dan akhirnya berhenti total.
"Kenapa kak?" Hannah terlihat bingung.
"Bensinnya habis." Randika nampar dahinya. "Sepertinya kita harus ndorong mobil ini ke rumah."
"Aku tidak mau keluar dari mobil ini." Hannah tersenyum dan masang sabuk pengamannya.
Randika lalu keluar dari mobilnya. "Kalau begitu aku jalan kaki saja."
"Ah kak! Terus gimana ini mobilnya?" Hannah terkejut dengan tanggapan Randika.
Lalu senyuman nakal naik di bibir Hannah.
"Kak, gendong aku ke rumah." Kata Hannah sambil tersenyum.
"Tidak, kakak sudah capek hari ini." Dengan cepat Randika nolak.
"Kalau begitu malam ini aku tidur sama kak Inggrid!" Kata Hannah sambil tersenyum nakal.
Randika, yang sudah berjalan beberapa langkah, tiba-tiba berputar dan sambil masang ekspresi malas ngatakan. "Cepat naiklah."
"Kak Randika mang terbaik!" Hannah, bagaikan kelinci, langsung lompat dengan riang ke punggung Randika.
Randika akhirnya hanya bisa nerima nasibnya dan berjalan nuju rumah reka. Untuk mobilnya lebih baik Ibu Ipah yang ngurusnya.
Mobil-mobil wah lewati jembatan dan natap seorang lelaki sedang nggendong pasangannya di tepi jembatan. Dasar anak muda, sukanya par kesraan dengan cara aneh!
"Sekarang aku cukup tahu kenapa kak Inggrid mau nikahi kak Randika." Hannah berkata sambil tersenyum. "Kegunaan kakak itu banyak!"
"Yek salah, kakakmu nikahiku karena aku ganteng tahu." Jawab Randika.
"Ganteng apaan!" Hannah tertawa keras. "Kalau kakak ganteng, cewek-cewek di kolam renang itu sudah suka sama kakak dari awal."
Sialan benar juga, apa diriku ini kurang ganteng ya? Tetapi definisi ganteng orang-orang itu beda, jika para perempuan itu ncicipi teknikku di tempat tidur, aku yakin reka akan tergila-gila padaku.
lihat Randika yang renung, Hannah rasa canggung. "Kak kenapa diam saja?"
"Aku sedang bingung mau lemparmu ke dalam sungai atau tidak."
"Jika kakak berani berbuat seperti itu, aku akan selalu ada di sisi kak Inggrid selama 2 bulan." Kata Hannah sambil ncubit punggung Randika.
"Kalau begitu aku akan maksanya tidur di kamarku."
"Hahaha kakak tahu sendiri kan kak Inggrid itu seperti apa." Hannah tertawa dan tiba-tiba terdiam. Dia luk erat punggung kakak iparnya itu. "Aku sedikit iri dengan kak Inggrid bisa nemukan suami sebaik kak Randika. Kak Randika bisa diandalkan dan gagah, benar-benar seorang pria sejati. Aku takut kalau tidak bisa nemukan pasangan yang benar."
"Di sekolahmu bagaimana?"
"Semua laki-laki di sana manja-manja dan ngincar tubuhku saja, tidak ada yang benar-benar ncintaiku. reka hanya ngandalkan uang orang tua reka untuk ndapatkan apa yang reka mau, aku benar-benar jijik dengan lelaki seperti itu."
Randika akhirnya berhasil nyeberangi jembatan ramai itu dan berkata dengan nada lembut. "Terima kasih pujianmu itu."
Bahkan sejujurnya, Hannah benar-benar ncintai kakak iparnya itu. Dia makin lama makin nyukai keberadaan Randika di dalam hidupnya. Oleh karena itu Hannah ingin dimanja oleh Randika, dia maksanya untuk pergi dengannya ke kebun binatang, ke taman bermain dan nggendong dirinya tidak lain karena ingin berduaan dengan kakak iparnya ini. Tanpa sadar Hannah tenggelam dalam dunianya sendiri.
Randika sendiri tidak terlalu mikirkan Hannah sebagai perempuan. Bagaimanapun juga, Hannah adalah adik iparnya. skipun dia tetap nikmati empuknya dada dan paha yang dia pegang itu, semua itu hanya dalam batasan wajar.
Keduanya berhasil pulang dengan selamat.
"Kita sudah sampai yang mulia." Kata Randika.
Hannah tersenyum dan lompat turun dari punggung Randika.
"Terima kasih ya kak." Hannah lalu berlari ke atas.
Randika nggelengkan kepalanya dan pergi nemui Ibu Ipah untuk ngurus mobil Hannah yang kehabisan bensin. Dia sendiri berniat untuk mandi, hari ini benar-benar hari yang ras keringatnya jadi dia sudah tidak tahan.
Dua puluh nit kemudian, Randika keluar dari kamar mandi dan Ibu Ipah sudah selesai ngurus masalah mobil.
"Bu, Inggrid belum pulang?"
"Belum tuh nak." Ibu Ipah nggelengkan kepalanya. "Ibu kira nona sedang bersamamu."
Tiba-tiba Randika rasakan firasat buruk, jangan-jangan istrinya itu nghilang lagi.
Waktu sudah nunjukan pukul 9 malam, sangat jarang Inggrid lembur sedemikian rupa.
Reviews
All reviews (0)