Font Size
15px

Semua orang mulai bersorak ketika singa itu terbangun. Di dalam kandang, singa Afrika itu terlihat gagah dengan surainya yang lebat.

"Wow kak, bukankah singa itu terlihat keren?" Hannah tidak bisa berhenti tersenyum.

"Iya keren." Randika njawabnya dengan setengah hati. Dalam hatinya dia ngingat-ingat kembali rasa daging singa yang tahu dia makan dulu.

Saat dirinya masih berkeliling dunia, Randika pernah makan daging singa beberapa kali. Yang paling mbekas di ingatannya adalah ketika dia berhasil selamat dari terkaman seekor singa jantan saat dirinya bersembunyi dikejar musuhnya. Saat itu dia sedang dikejar oleh puluhan orang dan belum makan selama 2 hari jadi daging yang dibakar seadanya itu benar-benar lezat.

Dan lagi ketika dia diundang makan oleh seorang pangeran, lagi-lagi Randika ncicipi olahan daging singa yang enak.

Pikiran Randika masih terjebak nostalgia sedangkan para pengunjung lainnya sibuk ngeluarkan handphone reka dan mfoto singa tersebut.

Sepertinya singa Afrika ini belum pernah lihat orang berkumpul sebanyak ini, ia terlihat sedikit cemas. Sepertinya si raja hutan ini mulai berpatroli dan sedikit cemas ketika dirinya lihat kilatan cahaya handphone ketika difoto.

Singa itu ngeluarkan raungan teredam. Jika ini di alam, suara ini rupakan suara ngamuk dan tanda siap-siap untuk nyerang. Tetapi kali ini, suara ini nandakan ketidak berdayaannya.

Tiba-tiba, singa jantan itu mbuka mulutnya dan ngaum keras!

Raungan yang super keras itu mbuat beberapa pengunjung terkejut dan sedikit takut.

lihat para makhluk yang di depannya itu ketakutan, singa jantan ini terlihat puas. Sepertinya aumannya berhasil nghentikan tindakan reka. Ketika ia hendak kembali ke bawah pohon untuk tiduran, tiba-tiba para manusia di hadapannya itu bersorak.

"Wow aumannya benar-benar dahsyat!" Kata salah satu orang. "Aku sampai sedikit ngompol!"

"Ma, aku takut." Seorang anak terlihat nangis di pelukan ibunya.

"Share suara aumannya di dia sosial ah." Banyak orang yang berhasil rekam aumannya tadi.

....

lihat manusia-manusia itu bersorak dan kembali mfoto dirinya, singa jantan itu terlihat bingung. Kenapa makhluk-makhluk itu tidak lari ketakutan?

Randika sendiri rasa bosan.

"Aku ke toilet bentar ya." Kata Randika pada Hannah.

Hannah tidak ndengarnya, perhatiannya benar-benar terfokus pada singa tersebut.

Singa jantan dari Afrika ini benar-benar tidak berdaya dengan perubahan alam yang ndadak ini, ia sudah tidak sabar lagi. Ia mbungkukan badannya dan nerjang ke depan. Semua pengunjung terkejut. Namun, jarak reka benar-benar jauh karena adanya parit. Jadi reka benar-benar aman.

"Hahaha! Mangkanya belajar matematika sana!"

"Singa Afrika benar-benar beda."

Para pengunjung ini mulai bersorak dan besar kepala, reka tahu bahwa singa itu tidak bisa nyentuh reka. Singa yang tadinya hendak lompat itu kembali ke daerah pohonnya.

"Ayo lagi!"

Seorang pengunjung seperti nantang singa itu.

Singa jantan ini cuma bisa natap para makhluk di depannya itu. Situasinya sekarang benar-benar mbingungkan.

Pada saat ini, seorang pengurus tampak hendak mberikan singa itu makan lagi.

Dia lemparkan ayam utuh ke daerah pohon di mana singa itu berada. Singa itu tampak tidak tertarik dan maling wajahnya. Dia justru njauhi makanannya itu dan masuk ke dalam area pepohonan.

"Lha sudah kenyang?"

"Gak seru ah."

Semua pengunjung itu sedikit kecewa singa itu nghilang. Tetapi pada saat ini, seorang pengunjung terkejut dan nunjuk ke arah kandang. "Hei! Sepertinya singa itu pingsan!"

"Pingsan?"

Semua pengunjung natap area pepohonan dan nemukan singa jantan itu hanya tergeletak tidak bergerak di sana. Sepertinya ia benar-benar pingsan.

Si pengurus singa ini sendiri rasa ada yang aneh. Ketika ndengar orang-orang ngatakan singanya itu pingsan, si pengurus ini ragu harus berbuat apa. Si pengurus ini mbuka pintu kandang, dia berniat untuk ngecek situasi.

Si pengurus ini sendiri tidak berani terlalu dekat dengan singa liar ini. Dia mbawa sebuah tongkat untuk mberinya jarak. lihat singa itu tergeletak begitu saja, si pengurus ini berjalan perlahan ndekatinya. Ketika dia berjarak 10 langkah, singa Afrika ini tiba-tiba berdiri!

Gawat!

SI pengurus benar-benar terkejut, tetapi pada saat ini, singa yang didatangkan dari Afrika itu sudah nerjang dengan kecepatan penuh dan lompat di udara dan ndarat di depannya!

Semua para pengunjung sudah berteriak ketakutan. Si pengurus itu sudah terjatuh dan tertindih, tetapi singa itu belum nerkam dirinya. Malahan, ia lihat para pengunjung dan berlari nuju pintu kandang yang terbuka!

Pada saat ini, para pengunjung kebun binatang ini nyadari pintu kandang yang tidak tertutup, reka langsung panik tidak karuan. Hannah sendiri masih bingung dengan apa yang telah terjadi, terkadang mang orang masih tidak dapat percaya dengan apa yang dia lihat dan berdiri kaku di tempatnya.

Singa jantan itu berhasil keluar dan ngaum ke arah para pengunjung. Semua orang langsung lari berhamburan tanpa peduli apa pun.

"Lari!!"

"Hei jangan dorong-dorong!"

Situasi benar-benar kacau, orang-orang berlarian tidak mpedulikan sesamanya. Hannah juga akhirnya terbangun dari linglungnya dan hendak berlari. Namun pada saat ini, singa jantan itu sudah natapnya lekat-lekat.

lihat orang-orang yang dirasa dagingnya keras, ia lihat kaki mulus Hannah yang terlihat empuk.

Ditatap predator papan atas, Hannah rasa tidak bisa bernapas dan kakinya getaran.

"Kak Randika!"

Hannah tidak berani bergerak sama sekali, tetapi mulutnya sudah berteriak nama kakak iparnya. Namun, Randika masih tidak muncul juga.

Ketika para pengunjung lihat singa itu ndekati Hannah secara perlahan, sebagian rasa lega sebagian rasa khawatir. Manusia mang makhluk egois, di situasi seperti ini barulah warna sejati tiap-tiap orang keluar semua. reka semua aslinya lega bukanlah reka yang diincar oleh singa tersebut.

Kantor pusat kebun binatang ini sudah ngetahui keadaannya dan ngirim seseorang. Tetapi kejadian ini terlalu ndadak dan orang-orang yang berlarian mbuat bantuan susah ncapai tujuan. Hannah benar-benar dalam situasi gawat.

"Kak Randika!"

Hannah sudah nangis sambil getaran. Dia rasa tidak berdaya ketika singa itu sudah semakin dekat dengannya. Namun pada saat ini, sebuah suara muncul dari arah belakangnya. "Sudah tidak usah berteriak seperti itu, aku sudah ada di belakangmu."

Hannah terkejut dan rasa lega ketika Randika berjalan ke depannya dan lindungi dirinya.

"Kok bisa singa ini sampai lepas." Randika sedikit kesal dengan situasi yang manas ini. Dia natap singa itu dan berjalan ndekatinya.

Para pengunjung yang masih berkeliaran dekat situ rasa takjub dengan Randika.

Orang itu benar-benar gila!

Apa orang itu sudah bosan hidup sampai ngorbankan nyawanya?

Singa jantan itu natap Randika, mulutnya sudah penuh air liur. Kemudian dia ngaum dan bersiap untuk nyerang.

Randika masih berwajah tenang, dia ngeluarkan kedua tangannya dari saku celananya dan ngepalkan tinjunya. Tindakannya ini mbuat para pengunjung yang lihatnya semakin nganggapnya gila. Dikira ini di Roma dan di dalam koloseum?

Singa jantan itu tidak peduli dan ngeluarkan cakarnya dan nerjang ke arah Randika. Mulutnya terbuka lebar, siap nerkam mangsanya!

"Tidak!"

Para pengunjung sudah ketakutan dan nutup mata reka. Sepertinya adegan berdarah tidak terhindarkan lagi. Tetapi para pengunjung yang mbuka mata reka tampak terkejut.

Apa yang reka lihat benar-benar keajaiban.

Rupanya ketika singa itu lompat dan hendak nerkam Randika, dia sudah layangkan tinjunya dan ngenai dahi si singa. Tinjunya itu mbuat singa tersebut terpental.

DUAK!

Singa jantan yang besar itu terjatuh dan terguling, namun pada saat itu juga, dia sudah berdiri kembali.

Para pengunjung itu semakin bersemangat, apa orang ini masih manusia.

"Thor!"

Seseorang tidak bisa tidak mbandingkannya dengan superhero kesukaannya.

"Bodoh, jelas-jelas dia itu Thanos!"

"Sejak kapan Thanos suka lawan singa? Thor kan pernah bertarung di koloseum jadi dia itu Thor!"

Yang jelas semua orang terkagum-kagum oleh Randika. Jika ini jaman dahulu, jaman di mana peradaban belum maju maka lawan singa ataupun beruang dengan tangan kosong masih masuk akal. Tapi sekarang adalah jaman modern, di mana hewan-hewan buas tidak bisa ditaklukan tanpa bantuan senjata api. nantang hewan-hewan buas seperti itu benar-benar ncari mati.

Tetapi, orang di depan reka ini benar-benar nghantam seekor singa dengan tinjunya. Jika reka tidak lihatnya dengan kedua mata kepalanya sendiri, reka semua mungkin tidak akan percaya.

Singa jantan itu sendiri sedikit terkejut, tetapi rasa percaya diri dan keberaniannya tidak mbuat raja hutan ini njadi ciut. Ia kembali nerjang Randika dengan kecepatan penuh. Randika lagi-lagi dengan mudah ninjunya hingga singa itu terkapar kembali.

Setelah mbuatnya terkapar, Randika langsung ndatanginya. Pukulan demi pukulan dia layangkan pada wajah si singa.

Pukulan pertamanya mbuat singa itu ngaum marah.

Pukulan keduanya mbuat singa itu ngaum ketakutan.

Pukulan ketiganya mbuat singa itu ngaum seperti minta ampun. Hewan ini sudah tidak bisa nahan rasa sakitnya.

Pada saat ini, bantuan dari kantor kebun binatang sudah tiba. reka mbawa senjata laras panjang dengan peluru bius di tangan reka.

Ketika reka tiba di lokasi, mata reka terbelalak. Kenapa seorang manusia terlihat nindih si singa? Bukannya seharusnya si singa berada di atasnya?

reka semua saling bertatap-tatapan, reka hanya bisa lihat seorang pemuda berhasil mbuat singa itu pingsan. Seseorang akhirnya mbidik Randika sambil ngatakan. "Pak tolong hentikan, kalau tidak berhenti Anda saya tembak."

"Kalian datang ke sini bermaksud untuk mbantuku atau si singa?"

"Kedua nyawa kalian tidak kalah penting."

Para pengunjung sudah tidak bisa berhenti mbicarakan hal nakjubkan ini.

Randika hanya nghela napas dan berjalan njauhi si singa. "Aku sudah njinakan singamu itu, dia tidak akan berani berulah lagi."

Para petugas kebun binatang itu masih bingung dengan apa yang terjadi. Ketika reka ndekati si singa, reka lihat si singa itu berdarah dan tidak mau bergerak sama sekali.

Ibu, aku ingin kembali ke padang rumput!

Singa itu sudah berurai air mata, sang raja telah dikalahkan hingga njadi kucing. Jika ada singa betina yang lihatnya, reka akan nolak untuk kawin dengannya.

Randika berjalan dengan santai dan tidak noleh ke belakang. Beberapa orang sudah berlarian dan minta foto dengannya, Randika benar-benar tampan!

Setelah beberapa nit, Randika nghampiri Hannah yang sedang jongkok.

"Kenapa kamu?" Randika nampak bingung. Kenapa adiknya ini berjongkok?

"Kak, kakiku lemas." Kata Hannah sambil tersenyum.

Randika nampar dahinya. Sepertinya adik iparnya benar-benar ketakutan tadi. Yah wajar jika seorang perempuan kelas atas seperti Hannah ketakutan seperti ini ketika berhadapan dengan situasi berbahaya seperti tadi.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 182: Koloseum on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Nightwatcher cover
Similar genre

Nightwatcher

Paperboy ·Harem

Inthisworld,thereis:Confucianism;Taoism;Buddhism,Demons,andMagicians.XuQi’an,a...Readmore Inthisworld,thereis:Confucianism;Taoism;Buddhism,Demons,a...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.