Font Size
15px

"Kak, ceritakan apa yang sebenarnya terjadi saat kakak di Jakarta?" Hannah tiba-tiba bertanya. "Aku penasaran."

Wajah Hannah terlihat serius.

Inggrid tersenyum dan pikirannya tidak bisa nahan dirinya untuk tidak kembali ngingat masa lalu itu.

"Sebenarnya hari itu aku benar-benar terkejut bagaimana Randika bisa nemukanku." Inggrid mulai njelaskan. "Sebelum keluarga Alfred mintaku kembali untuk nikahi anaknya yang bernama Hans. Tetapi diam-diam Hans datang ke Cendrawasih dan mau mbawaku kembali dengan paksa. Waktu itu Randika nyelamatkanku darinya. Besoknya, aku diam-diam kembali ke Jakarta untuk nyelesaikan pernikahan omong kosong itu."

"Terus, terus?" Hannah semakin penasaran. "Aku dengar kejadian hari itu benar-benar kejadian malukan bagi keluarga kita jadi aku tidak bisa terlalu banyak bertanya. Tapi sepertinya kedua keluarga Alfred dan keluarga kita sama-sama telah mundur dari kesepakatannya kan?"

Inggrid lalu tersenyum. "Benar, kabar aku berusaha nggagalkan pernikahanku itu pasti sudah terdengar di telinga kepala keluarga Alfred. Apalagi Randika nghajarnya sampai dirinya njadi kasim, jadi masalahnya semakin besar. Aku waktu itu takut reka akan ndobrak masuk rumah kita dan nuntut keadilan. Namun, waktu aku berdebat dengan ayah, Randika datang."

Inggrid ngangkat sedikit kepalanya. Randika, sosok yang dia cintai, tiba-tiba datang dan nyelamatkan dirinya. "Kakak iparmu itu ngatakan bahwa dia akan mbawaku pulang. Di depan keluarga inti kita dan di depan ayah, dia benar-benar mbawaku pulang bersamanya. Han, pada waktu itu ayah benar-benar mau njualku ke keluarga Alfred."

Pada kalimat terakhir Inggrid itu, nada suaranya benar-benar dingin tetapi akhirnya kembali lembut. "Jadi pada waktu itu, aku milih untuk pergi bersama Randika karena aku tahu bersamanya aku bisa bahagia. Jika waktu itu aku nuruti ayah, mungkin aku akan terkurung dan tidak pernah bebas lagi."

Hannah mperhatikan ekspresi kakaknya itu, ekspresi kakaknya terlihat lembut dan seperti gadis jatuh cinta saat mbicarakan Randika.

"Kemudian orang-orang dari keluarga Alfred datang. Karena anaknya dihajar babak belur, Randika dan keluarga Alfred bertengkar hebat. Banyak dari bawahan reka ninggal dan para elit reka dikalahkan. Bahkan bawahan ayah yang paling hebat pun tidak berdaya di hadapan Randika. Tetapi kita waktu itu benar-benar dikepung terlalu banyak orang, kakak iparmu benar-benar sudah di ujung tanduk. Aku rasa dia akan mati pada waktu itu dan aku hanya bisa nangis. Tetapi tiba-tiba...."

Hannah ndengarnya dengan wajah serius. Walaupun dia sudah ndengar cerita versi Randika, dia pikir kakak iparnya itu hanya ngada-ada. Ketika ndengar dari kakaknya ini, dia bisa mbayangkan betapa gagah, berani, percaya diri Randika pada saat itu.

Randika sendiri masih nguping dari luar, kepalanya terlihat ngangguk puas. Sepertinya kejadian hari itu benar-benar lekat di hati Inggrid.

Ketika Inggrid selesai nceritakan semua kejadian hari itu, Hannah bertepuk tangan. Sepertinya kakak iparnya itu mang orang yang luar biasa.

"Kak, siapa orang tua itu?" Hannah penasaran. "Sepertinya ayah dan paman Ivan benar-benar takut sama dia."

"Aku juga tidak tahu." Inggrid nggelengkan kepalanya. "Tetapi ayah dan keluarga Alfred tidak berniat untuk mpermasalahkan pernikahanku ini lagi. Jadi nurutku ini adalah hasil paling bagus."

reka lalu berbincang-bincang ngenai masa lalu reka. Lalu tiba-tiba Hannah bertanya ngenai topik yang sedikit sensitif. "Kak, bagaimana rasanya saat kakak lakukannya dengan kak Randika di sofa?"

Dalam sekejap wajah Inggrid njadi rah, tetapi Hannah terus natapnya dengan wajah penasaran sekaligus serius.

"Hmmm yah begitulah." Inggrid rasa malu dan nyalahkan Randika. Jika saja Randika tidak terlalu nafsu, maka reka berdua tidak akan kepergok adiknya.

Randika yang ndengar pertanyaan Hannah ini sudah nggelengkan kepalanya. Apa pantas bertanya seperti itu pada kakaknya?

"Aku rasa kakak pasti keenakan sampai lupa waktu dan tempat bukan? Aku sendiri tidak heran kak Randika sampai kayak gitu, punya kakak besar sih." Kata Hannah sambil tersenyum, dia lalu ngulurkan tangannya dan raba dada kakaknya. "Punya kakak benar-benar besar!"

"Han! Sudah ah, kamu kok ketularan kakak iparmu sih!" Inggrid tersenyum dan mbalas Hannah. "Nih, punyamu juga besar."

"Hahaha kakak ngomong apa sih, punya kakak jelas lebih besar!" Hannah lepaskan diri dan mulai mbenamkan kepalanya di dada kakaknya.

Dadanya yang digesek-gesek oleh kepala Hannah itu mbuat Inggrid rasa sedikit aneh. "Han, sudah jangan aneh-aneh."

"Hmm? Kenapa mangnya kak? Bukannya dulu aku sering tertidur di dadanya kakak saat kecil? Kenapa sekarang tidak boleh?"

Inggrid lalu tersenyum. "Kalau begitu, gantian kakak yang tidur di atasmu! Sini kakak lihat seberapa jauh perkembanganmu."

Setelah itu Inggrid dan Hannah saling berguling-guling di kasur sambil terus tertawa. reka berdua saling raba, mastikan siapa yang lebih besar. Pemandangan ini mbuat siapapun yang ngintip akan salah sangka.

Tes, tes, tes.

Randika yang mimisan itu bersorak dalam hatinya. "Terus! Pelorot terus celananya! Ayo Hannah, sedikit lagi aku bisa lihat puting kakakmu! Aduh minggir sedikit dong, tidak kelihatan nih!"

Di dalam kamar, kedua kakak adik itu terus raba satu sama lain. Piyama reka njadi longgar dan dada Inggrid ataupun Hannah terkadang akan mperlihatkan putingnya. Hal ini mbuat Randika sedikit bersemangat.

"Aduh, Hannah itu ternyata tidak jauh berbeda dengan Inggrid." Randika lototi dada adik iparnya itu.

Pada saat ini, Hannah yang sedang bertarung dengan kakaknya itu lihat pintu kamarnya sedikit terbuka. Pada saat yang sama, sebuah kepala terlihat sedikit demi sedikit masuk.

"Ah!"

Dalam sekejap Hannah berteriak ketakutan, dia langsung nutup dirinya dengan selimut.

Ketika Inggrid noleh, dia lihat sosok Randika yang masuk ke dalam kamar sambil mimisan.

"Ah, jadi begini, aku baru saja pulang dan tidak enak ngganggu kalian jadi aku nunggu di luar. Tenang saja aku tidak lihat apa-apa kok."

Inggrid natapnya dengan tajam. "Malam ini kamu tidur di kamarmu sendiri! Aku mau tidur sama adikku."

TIDAK!!

Dalam sekejap wajah Randika njadi pucat dan natap Inggrid dengan perasaan sedih. Teganya istrinya itu ngusir dirinya. Apa bedanya tidur di sofa kalau Inggrid tidak tidur di sampingnya?

Hannah hanya tertawa dan berkata dengan nada ngejek. "Dengar sendiri kata-kata kakakku, kak Randika tidur sendiri sana!"

Hannah mang mbenci dirinya, pikir Randika.

Randika keluar dari kamar dengan kepala nunduk dan Hannah langsung mbentaknya. "Tutup pintunya rapat-rapat!"

Bersabarlah Randika!

.....

Keesokan harinya, Inggrid bangun dan langsung nuju lantai bawah.

Dia benar-benar terkejut lihat sosok Randika. "Kamu kenapa?"

Randika benar-benar seperti seorang gelandangan, wajahnya las dan rambutnya acak-acakan.

"Aku tidak sempat nghisap energi feminimmu jadi tentu saja aku tidak sehat."

"Maksudmu apa?" Kata Inggrid sambil mbantu rapikan rambut Randika.

Randika lalu noleh dan berbisik di telinganya. "Apa Hannah masih tidur?"

"Iya, kenapa?"

"Kalau begitu ayo kita lakukan sekali saja. Olahraga di pagi hari bisa mbuatmu sehat dan bugar!"

"Tidak mau." Inggrid malingkan wajahnya, ngintip ekspresi sedih Randika, dia nambahkan. "Nanti malam aku akan mberikannya padamu."

"Sungguhan?" Randika langsung ndapatkan rona wajahnya lagi.

Inggrid sudah tersipu malu dan ncium Randika. "Tolong sabar ya sayang."

...

Setelah sarapan, Randika berangkat nuju kantor bersama Inggrid. Setelah tiba di perusahaan, Randika langsung riksa kemajuan ramuan X.

Penelitian dan perkembangan ramuan X sudah berjalan beberapa waktu dan nurut perhitungannya, seharusnya perkembangannya ini sudah nghasilkan beberapa kemajuan. Dan sebelumnya hasilnya itu hampir nyerupai ramuan X jadi Randika harus riksanya sendiri.

Saat tiba di laboratorium, Randika mulai ngarahkan dan pembuatan ramuan X kembali dimulai.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 179: Hari Ini Kamu Tidur Sendiri on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.