Lima jam kemudian, Randika mbangunkan Christina dan mbawanya turun dari kereta.
skipun sudah larut malam, kembali di kota kesayangannya yaitu Cendrawasih mbuat Christina sedikit tidak percaya. Dia hampir nangis ncium aroma kebebasan ini.
Jika bukan karena Randika, dia sudah akan njadi korban dari praktek perdagangan manusia.
"nangislah kalau kamu mau. Aku ada di sini." Kata Randika. "Jika ada yang ngejekmu maka aku akan mbunuhnya di tempat!"
"Huh, mangnya siapa yang mau nangis." Christina nghapus air matanya. "Aku itu seorang guru jadi aku harus mberikan contoh yang baik."
"Guru atau tidak, kamu tetaplah seorang perempuan yang nyaris ngalami kejadian ngerikan. nangis air mata bahagia bukanlah contoh yang buruk."
Christina lalu berjalan ke arah pintu keluar dengan kepala terangkat, dia tidak akan mbiarkan kejadian ngerikan itu nghantui dirinya.
Sambil tersenyum, Randika manggil taksi dan masuk bersama Christina. "Kamu ingin pulang ke rumah ibumu atau ke rumahmu?"
"Aku ingin bertemu mamaku." Christina sedikit ragu tetapi dia tahu bahwa ibunya itu pasti khawatir terhadap dirinya.
Randika ngangguk dan mberi alamat rumah ibunya itu ke supir taksi.
Setelah sampai di perumahannya, Christina tiba-tiba berkata pada supir taksi. "Pak tolong berhenti di taman itu."
Randika sedikit bingung, kenapa Christina tiba-tiba minta turun di sini?
Setelah mbayar taksi dan turun, Christina berkata pada Randika. "Temani aku sebentar."
ndengar kata-kata Christina itu Randika langsung ngerti. Dia baru saja ngalami kejadian yang seharusnya tidak pernah dialami seorang perempuan. Dia diculik, dijual, dan hampir diperkosa. Perasaannya pasti sedang campur aduk.
Di bawah sinar rembulan, reka berdua berjalan berdampingan nelusuri taman.
Tatapan Christina terlihat kosong ketika lihat bulan di langit. Semua perasaan takut, cemas, marah, malu, bahagia, lega, semuanya bercampur aduk di benaknya.
Randika yang lihatnya terasa sedikit tidak berdaya, hatinya juga terasa sakit.
Randika tahu penghiburan macam apa pun tidak akan mbuat Christina lupakan pengalaman pahitnya ini. Apa yang harus dilakukan Christina adalah ngakui semua itu telah terjadi dan hidup sambil nanggungnya. Bagaimanapun juga, yang terpenting adalah dia selamat.
Randika nggandeng tangan Christina dengan lembut. Christina awalnya sedikit terkejut tetapi tidak nolak digandeng, keduanya lalu berjalan bergandengan layaknya pasangan.
Bagi Christina tidak ada pria lebih baik dari Randika di dunia ini. mang terkadang dia sum, tidak bisa diajak serius dan selalu bercanda. Tetapi dia selalu bisa diandalkan ketika dirinya mbutuhkannya dan belum lagi ketika Randika nyelamatkannya dari pelaku perdagangan manusia itu, Christina nyadari bibir kering Randika yang pecah-pecah itu. Randika pasti telah bersusah payah untuk nyelamatkan dirinya.
Mungkin baginya Randika adalah pangeran berkuda putihnya yang dia tunggu-tunggu selama ini?
Tidak, tidak, mana mungkin itu benar?
Tetapi Siapa di dunia ini yang pergi nyelamatkannya selain Randika?
Yang Christina tidak sadari adalah pikirannya secara tidak sadar selalu mikirkan sosok Randika bahkan di saat dia disekap sebelumnya. Dia tidak nyadari bahwa dia telah jatuh cinta sejak lama dengan Randika.
Randika sendiri masih mikirkan betapa lembutnya dada Christina saat reka berpelukan di motor. Dia bertanya-tanya kapan dia akan rasakan kedua gunung itu dengan tangannya.
Mungkin kejadian ini akan mbuat Christina sedikit trauma dengan lelaki, jadi mimpinya ini mungkin masih akan lama terwujudnya.
reka berdua berjalan tanpa berbicara sama sekali, di mata orang-orang reka bagaikan pasangan muda yang malu-malu.
"Hei, hei, lihat reka. Sudah gede tapi pacarannya seperti anak SMP." Kata seseorang pada temannya.
"Ah cowoknya cupu, kalau aku sama perempuan secantik itu pasti sudah betah di kamar." Jawab temannya.
"Pantes kamu jomblo, otakmu sum gitu." Sekumpulan pemuda ini semuanya tertawa dan berjalan ninggalkan Randika dan Christina.
Randika sendiri dapat ndengar dengan jelas, dia hanya tersenyum pada bocah-bocah itu. Seorang jenteln tidak akan maksa perempuan untuk lakukannya, jika dia berhasil ndapatkan hatinya maka perempuan itu yang akan terus minta pada dirinya!
Christina nyadari tatapan orang-orang yang nganggap dirinya dan Randika berpacaran, mungkin perasaan ini tidaklah buruk.
Tidak lama kemudian, reka berdua sampai di rumah ibunya Christina. Namun, Christina tidak ngebel pintu rumahnya itu.
"Terima kasih untuk hari ini." Christina yang masih nggandeng Randika itu berputar dan nghadap Randika.
"Tidak masalah, asalkan kamu berjanji tidak akan ngulanginya lagi." Kata Randika sambil tersenyum.
Christina tidak berbicara lebih lanjut. Untuk sesaat keduanya hanya saling bertatap-tatapan. Di depan pagar rumah yang lumayan gelap ini, keduanya hanya berdiri diam dan suasana yang ada terlihat romantis.
Orang yang sedang jatuh cinta terkadang sulit ngungkapkan apa yang dia inginkan, reka tidak ingin mpercepat dan nakuti pasangannya. Pada saat ini Christina benar-benar tenggelam di tatapan Randika, dia ingin nyalurkan perasaannya lalui sebuah ciuman. Oleh karena itu, suasana romantis yang hening ini tercipta di depan rumah ibunya. Christina tidak berani langkah lebih lanjut, dia berharap Randika yang biasanya agresif akan mulai duluan.
Randika natap Christina, sepertinya dia mahami arti tatapan perempuan satu ini. Ketika Randika langkah maju, Christina sedikit malu dan nundukan kepalanya. Namun, dalam sekejap dia ngangkat kepalanya sambil nutup matanya. Sepertinya dia sudah bertekad untuk mberanikan dirinya. Kemudian dia luk dan ncium Randika.
"Terima kasih telah nolongku." Suara Christina benar-benar kecil dan pelan, wajahnya sudah rah seperti tomat.
Saat Christina hendak ncet bel, tiba-tiba Randika gang tangannya.
"Ran? Ada apa?" Christina terkejut ketika tangannya digenggam erat oleh Randika. Hatinya yang masih berdebar kencang itu sepertinya makin kencang ketika Randika luknya.
"Tintin, itu bukan caranya berciuman yang benar." Randika lalu tersenyum. "Sini kuajari."
"Ah? Hmm!" Christina tidak sempat berkontar sebelum akhirnya bibirnya tertutup oleh bibir Randika.
Christina cukup terkejut ketika lidah Randika masuki mulutnya, untuk sesaat dia lawan tetapi pada akhirnya dia pasrah dan mulai nikmatinya.
Kedua tangan Christina sudah luk leher Randika dan kedua tangan Randika luk pinggang Christina. reka benar-benar nikmati ciuman panas ini.
reka benar-benar lupa dengan waktu dan tempat hingga reka tidak nyadari bahwa pintu rumahnya itu terbuka dan ibunya Christina keluar sambil berteriak.
"Tintin!"
Suara bahagia ibunya itu nggema di telinga reka berdua. Tetapi ketika ibunya itu lihat Randika dan anaknya sedang asyik berciuman, ibunya ini rasa bersalah.
"Errr, mama cuma dengar ada suara dari luar jadi mama keluar untuk riksanya. Maaf telah rusak mon kalian, sudah lanjutin aja. Mama masuk dulu nanti kalau sudah selesai bel saja ya." Ibunya Christina ini sendiri senang lihat anaknya bersraan dengan Randika. Sepertinya cucunya tidak lama lagi akan lahir.
Kedua orang ini benar-benar malu, Christina dengan cepat lepaskan diri dari pelukan Randika.
"Ma cukup!"
Wajah Christina benar-benar rah. mang awalnya dia ragu ncium Randika tetapi dia ngumpulkan keberanian untuk nyalurkan perasaannya itu. Tetapi dia tidak nyangka bahwa ibunya akan keluar dan lihat reka berciuman! Jelas suasana romantis itu sudah buyar.
Randika sendiri rasa malu. skipun kulitnya tebal, dia masih punya rasa malu bersraan di depan orang tua. Bisa jadi ibunya Christina itu akan njadi rtuanya suatu saat nanti.
"Ah tante, aku pamit dulu ya. Lain kali aku akan datang berkunjung." Randika maksakan diri untuk tersenyum dan lari dari rumah itu. Bahkan dirinya bisa tersipu malu.
"Aduh maafkan tante ya. Tante benar-benar tidak tahu kalau kalian sedang ciuman." Ibunya itu lalu natap anaknya. "Lain kali bawa saja anakku ini ke hotel atau kalian ingin lakukannya di kamar kabari saja, nanti tante pura-pura pergi."
"Ma! Ngomong apa mama itu? Sudah hentikan!" Christina benar-benar malu, wajahnya benar-benar rah.
"Aduh Tin kamu ini bodoh atau apa? Jangan biarkan pria sebaik Randika itu lepas, nanti nyesel lho kalau dia punya pacar." Ibunya itu lalu tersenyum dan rangkul anaknya. "Sudahlah masuk dulu, nanti mama ajarin cara rayu yang benar seperti mama dulu rayu papamu."
.........
Randika sudah berlari cukup jauh. Sebelum ini ibunya Christina nyuruh dirinya mbawa anaknya itu ke hotel. Orang tua semacam itu mbuat Randika tersenyum pahit, antusias seperti itu cukup ngerikan.
Setelah nyelesaikan masalah Christina seharian, akhirnya Randika bisa pulang ke rumah.
Total lebih dari 12 jam dia ncari dan ngejar Christina hingga ke desa Sukasari. Sekarang waktu sudah nunjukan jam 12 malam, benar-benar sudah larut malam. Sepertinya dia akan langsung tidur.
Tetapi seharusnya istrinya itu sedang terlelap di tempat tidur. Ketika dirinya mikirkan Inggrid yang tidur dengan piyamanya, darah Randika segera ndidih dan dia siap bertempur sekali lagi.
Randika tertawa di dalam hati dan langsung nuju ke kamar Inggrid di lantai 2, dia siap berhubungan badan lagi dengan istrinya. Tetapi sesampainya di kamar Inggrid, suara canda dan tawa terdengar dari dalam.
Randika sedikit terkejut, dia ngintip dulu sebelum masuk. Ternyata suara itu adalah Hannah dan Inggrid yang sedang berbincang di atas kasur.
Kenapa adik iparnya ada di sini?
Randika sedikit kecewa. Karena ada Hannah di sini maka dia sama sekali tidak bisa nyentuh istrinya itu.
Sambil terus ngintip dari celah pintu, Randika mperhatikan keadaan.
Tetapi matanya justru jatuh pada leher putih istrinya itu, dia tidak sabar njilatinya. Belum lagi dada Inggrid yang tidak makai beha itu, sepertinya istrinya juga tidak sabar tidur dengannya. Namun, skipun Randika ingin ngintip lebih lanjut, dia tidak bisa njulurkan kepalanya ke dalam.
"Kak, di mana kakak ipar?" Hannah penasaran kenapa Randika tidak terlihat hari ini.
"Dia mang sedikit misterius. Terkadang aku sendiri tidak tahu dia ke mana, tetapi tenang saja, dia pasti pulang kok hari ini." Kata Inggrid sambil tersenyum.
Hannah mulai ngeluarkan tipu muslihatnya. "Kakak kok yakin begitu? Jangan-jangan kak Randika itu sedang nggoda dan selingkuh sama perempuan lain. Kakak mana tahu apa yang dia lakukan bukan?"
ndengar hal ini, Randika ngerutkan dahinya. Sepertinya Hannah lagi-lagi berbicara buruk tentangnya, sepertinya dia perlu mberikan adik iparnya itu sebuah pelajaran.
Namun, kata-kata Inggrid mbuat hati Randika sedikit lega. Istrinya itu benar-benar tidak ngecewakannya, sepertinya dia harus mberinya hadiah.
"Han, aku tahu betul kok seperti apa Randika itu. skipun dia terlihat genit, dia benar-benar lelaki yang baik. Aku percaya dengannya dan skipun dia suka nghilang, aku yakin dia punya alasan yang baik." Kata Inggrid sambil tersenyum manis.
Reviews
All reviews (0)