Font Size
15px

Waktu untuk lakukan uji coba dan penelitian selalu berlalu dengan cepat.

"Vi, tolong ambilkan bahan yang kuminta tadi."

"Vi, ambil dua bahan ini dan tolong campurkan."

"Vi, tolong...."

......

Di bawah arahan Randika, Viona dan orang-orang benar-benar sibuk. Semua bahan yang reka siapkan tidak luput dari mata Randika dan sekarang saatnya penentuan.

Randika ngeluarkan tabung reaksi dan ncampur bahan-bahan tersebut untuk langkah terakhirnya.

Setelah beberapa saat, sebuah cairan semi padat dan hitam muncul di tabung reaksi.

Randika mperhatikan ramuan X itu di dalam tabung reaksinya. Kerutan dahinya benar-benar dalam, nurut ingatannya, kenapa warna ramuan ini benar-benar berbeda dengan sebelumnya?

Ramuan X milik Yuna tidak sehitam ini, kenapa hasil miliknya ini hitam?

Setelah mikirkannya, Randika nuangkan setetes ramuan X versinya ke jarinya. Setelah njilatnya, cairan hitam itu segera luncur ke dalam tenggorokannya.

Ketika ramuan X ini masuki tubuhnya, Randika nutup matanya dan berkonsentrasi pada ramuan X yang masuki tubuhnya itu cukup lama. Tetapi tidak ada efek sama sekali yang dia rasakan.

Gagal!

Randika tidak bisa berkata-kata dan tidak tahu harus berbuat apa. Di tengah depresinya ini, Randika rasakan perutnya sedikit bergejolak dan muncul sejumlah tenaga dalam di dalam lambungnya lalu nyebar ke seluruh tubuhnya dan mberikan sensasi nyegarkan.

Sambil nutup matanya lagi, tenaga dalam yang berbentuk gas itu mbuat seluruh tubuh Randika rasa nyaman dan tiba-tiba, rasa sakit dari luka di dalam tubuhnya itu sedikit reda.

Tut!

Setelah kentut, Randika rasa sedikit lega. Untungnya, kentutnya ini tidak berbunyi dan tidak berbau kalau sampai tidak, terpaksa dia harus ngorbankan salah satu bawahannya sebagai kambing hitamnya.

Randika lalu natap cairan hitam di tabung reaksinya itu, ternyata obat ini tidak gagal sepenuhnya. Masih ada efeknya tetapi sangat kecil, benar-benar kecil.

Dengan rasa semangat ini, Randika bertekad untuk ngeluarkan kemampuannya dan mbuat ramuan X versinya dengan sempurna.

Jadi semua orang sibuk kembali.

Waktu berjalan dengan cepat dan Randika tidak ada henti-hentinya mberikan arahan. Sambil terus ngocok tabung reaksinya, Randika berusaha ngambil bahan dengan tidak noleh. Tiba-tiba dia rasakan kekenyalan luar biasa di tangannya.

Tanpa sadar, Randika remasnya. Hmmm, kenyal dan enak dipegang.

Randika langsung penasaran dengan apa yang diremasnya ini. Ketika dia noleh, dia lihat Viona, yang sudah tersipu malu, berdiri diam dan kaku sambil berusaha nahan desahannya. Ternyata tangannya itu sedang remas pantat Viona!

Viona benar-benar terkejut awalnya dan langsung nutup mulutnya agar tidak ada suara aneh yang keluar. Randika, yang tangannya masih di pantat Viona, mperhatikan sekeliling dan nyadari bahwa orang-orang masih sibuk dan tidak nyadari kejadian ini.

ngambil tangannya kembali, Randika ngatakan. "Baiklah teman-teman, bagaimana kalau kalian istirahat dulu."

Ketika semua orang berbondong-bondong keluar, Randika ncegat Viona. Hari ini Viona makai baju ala peneliti dengan rok berwarna biru. skipun begitu, dada besarnya itu tetap ncungul keluar dari balik jubah labnya.

Ini adalah pertama kalinya Viona tidak makai baju terlalu sexy, tetapi semua itu tetap percuma. Tubuh sexy Viona tidak bisa disembunyikan dengan pakaian sederhana apa pun, benar-benar anugerah Tuhan yang luar biasa.

"Viona" Randika tersenyum nakal dan luk Viona dari belakang. Tangannya yang sudah seperti capit itu sudah remas bokong Viona yang montok.

Viona rasakan sensasi itu langsung njalar ke otaknya, wajahnya sudah rah. "Ran, kita masih ada di laboratorium."

Viona malingkan wajahnya, napasnya sudah terengah-engah dan dia nggigit bibir bawahnya. Wajah nafsu Viona itu justru mbuat Randika ingin nggodanya lebih lanjut.

"Sudah jangan khawatir, tidak ada orang selain kita." Randika berbisik di telinganya. Dia lalu njilat leher putih Viona sambil ngatakan. "Pantatmu benar-benar nggoda."

Viona sudah malu, wajahnya benar-benar rah. Randika mang semakin berani lakukannya terlepas di mana reka berada.

"Vi, pakaian dalam apa yang kamu pakai hari ini?" Randika masih remas pantat Viona. Dari balik rok itu, dia bisa rasakan bahwa Viona sepertinya makai G-string.

Pakaian dalam Viona selalu yang siap bertempur.

Viona nggigit bibirnya, dia mberanikan diri dan berbisik di telinga Randika. "Coba lihat sendiri saja."

Randika terkejut, matanya sudah terbelalak. Viona njadi berani! Randika makin suka dengannya.

"Kalau begitu kita ke kamar mandi." Randika tersenyum nakal. Viona hendak ngiyakan tetapi tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke dalam ruangan. Randika langsung lepaskan tangannya.

"Pak Randika, sepertinya ada yang salah dengan 2 campuran bahan ini."

"Oya? Sini aku lihatnya."

Randika berkedip pada Viona dan ngisyaratkan 'kita lanjutkan ini nanti.'

Namun, pada akhirnya, pertemuan rahasia reka ini sama sekali tidak terwujud, Randika benar-benar sibuk. skipun Randika berhasil mbuat ramuan X versi miliknya lebih baik dari sebelumnya, efek yang dihasilkan masih jauh dari kata berhasil.

Randika benar-benar nghabiskan waktunya demi ramuan X. Saat sore hari, Viona ingin ngajak Randika untuk makan malam bersamanya tetapi beberapa temannya ngajak dirinya duluan.

"Vi, kita sudah lama tidak kumpul-kumpul. Sudahlah lupakan cowokmu itu."

Beberapa perempuan itu tertawa dan nggandeng Viona dengan paksa. ndengar kata 'cowokmu' Viona tersipu malu, apakah orang-orang sudah ngakui dirinya adalah pasangannya Randika?

Randika sendiri langsung keluar dari laboratorium setelah jam pulang. Sudah hampir tidak ada orang di lantai ini, sebagian besar sudah pulang dan hanya sedikit orang yang lembur.

Randika nghirup udara dalam-dalam, berusaha lepaskan penatnya. Tetapi, tiba-tiba dia lihat seseorang berlari ke arahnya.

"Kak Randika, kak Randika!"

ndengar suara ini, kenapa Hannah bisa ada di tempat kerjanya ini?

Orang-orang yang berjalan dan duduk-duduk ndengar teriakan Hannah ini, semuanya noleh ke arahnya. Ketika para lelaki lihat bahwa orang yang berlari itu seorang perempuan cantik, mata reka tidak bisa berhenti lotot.

Kaki panjang dan mulus, dada besar, pantat yang terlihat kenyal dan wajah yang cantik, lelaki mana yang bisa malingkan pandangannya?

Tiba-tiba, sejumlah laki-laki yang awalnya hendak pulang ataupun lagi sibuk, semuanya mandangi dada Hannah yang mantul tidak karuan itu.

Aku tidak tahu siapa orang itu tetapi aku ingin ndekatinya dan nidurinya! Semua lelaki itu mliki pikiran yang sum terhadap Hannah.

Semuanya lalu terdiam, siapakah kenalan perempuan itu? reka akan minta kenalannya itu untuk ngenalkan reka pada perempuan sexy itu.

Yang ngejutkan adalah perempuan itu berhenti di depan Randika!

Randika lalu berkata pada Hannah yang kehabisan napas itu. "Kenapa kamu ada di sini?"

"mangnya aku tidak boleh datang ke perusahaan milikku sendiri? Kakak tahu tidak kalau aku ini salah satu pegang saham tertinggi di perusahaan ini?" Kata Hannah dengan wajah bangga.

"Wow aku benar-benar tidak tahu itu!" Randika lalu tersenyum. "Ternyata kamu ini pandai nghayal ya, awas jangan terlalu sering berkhayal nanti tidak ada yang mau lho sama kamu."

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 180: Ramuan X on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Elven Invasion cover
Trending now

Elven Invasion

Respro ·Action

MagicvsScience HumanvsElves EarthvsForestia MortalvsGod ThisisataleinwhichGoddessLunainordertosaveherplanetandcivilizationstartsainvasiononEarth,Wi...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.