"Ada apa ya?" Si kepala desa sudah nghampiri Randika dan natapnya. Di desa ini, selain dari pemain dari bisnis perdagangan manusia ini, orang luar yang datang ke desanya dalam sebulan nyaris ncapai 0.
"Apa ada orang yang njual perempuan datang ke desamu ini?" Randika bertanya dengan santai, di saat yang bersamaan, dia natap sang kepala desa lekat-lekat.
Tubuh si kepala desa ini sedikit getaran awalnya. Ketika dia hendak njawab, Randika nambahkan. "Santai saja, aku bukan polisi. Aku ke sini untuk ncari seseorang."
Kepala desa itu nghela napas lega, tapi Randika bisa tahu dengan jelas dari reaksi si kepala desa ini bahwa dia berada di jalur yang benar.
"Nama penjualmu itu apakah bernama Santoso?" Tanya Randika.
Si kepala desa nganggukan kepalanya. "Benar, dia mbantu kita ncarikan perempuan untuk dijadikan istri bagi desa ini."
"Aku ke sini hanya ingin bertemu dengan Santoso." Kata Randika sambil tersenyum.
Ketika ndengar Randika ingin bertemu dengan Santoso, kepala desa nganggap Randika adalah teman dari Santoso.
Christina masih terikat di dalam ruangan gelap di rumah kepala desa. Dia ndengar ada suara langkah kaki yang ndekat, apakah ini akhir dari dirinya?
Pada saat ini, anak si kepala desa masuk ke dalam ruangan dan lihat Christina nangis.
"Kenapa nangis?" Si anak ini njadi cemas. "Kamu tidak perlu takut."
Tapi Christina sama sekali tidak mperhatikan pria itu, justru tangisannya semakin njadi-jadi. Dia nundukan kepalanya dan air mata mulai ngucur deras.
"Sudahlah berhenti nangis, aku kurang suka lihatmu nangis." Hati si anak ini mulai luluh, dia lalu berusaha ndudukan Christina dengan benar.
"Sebentar lagi kau akan njadi keluarga desa ini, bersabarlah ya!" Si anak itu ngusap air mata Christina. Tetapi ndengar kata-katanya itu, Christina semakin nangis. Dia berpikir sudah tidak akan pernah bertemu dengan ibunya lagi.
Pada saat ini, Randika sudah berada di depan rumah kepala desa. Dan Santoso penasaran dengan sosok orang yang datang ini.
"Pak kepala desa, siapa orang ini?"
"Tenang saja, aku ke sini untuk bertemu denganmu." Kata Randika dengan santai. "Mana perempuan yang hari ini mau kau jual itu?"
"Perempuan? Perempuan apa?" Santoso rasakan firasat buruk. Kenapa orang asing ini tahu bahwa dia njual perempuan?
Randika hendak nyiksa orang tersebut tetapi dia ndengar suara tangisan teredam dari dalam rumah. skipun kecil, suara itu berhasil ditangkap oleh telinga Randika.
Christina!
Dalam sekejap Randika sudah ndobrak masuk dan lihat seorang pria sedang gang kedua tangan Christina sambil berusaha lepaskan bajunya. "Sudah tenang saja, tidak usah malu begitu dengan suamimu. Setiap hari kita akan berhubungan badan hingga punya anak."
"Dasar pria laknat!"
Randika benar-benar murka. Bahkan si anak kepala desa itu belum noleh, Randika sudah layangkan pukulannya dan mbuat seluruh tubuh si anak tersebut layang dan mbentur tembok dengan keras.
Christina, yang nutup matanya dan sudah pasrah itu, terkejut ketika ndengar suara yang mirip dengan Randika. Ketika dia mbuka matanya dan lihat sosok orang yang layang, dia berpikir bahwa semua ini nyata.
Christina ngangkat kepalanya dan lihat sosok Randika, hatinya segera ngepal.
"Jangan khawatir, aku sudah ada di sini." Randika dengan cepat lepaskan ikatannya Christina dan luknya. Dia luk sosok perempuan yang hampir hilang dari hidupnya itu.
"Aku pikir aku sudah tidak bisa lihatmu lagi. Aku benar-benar takut kehilanganmu." Christina sudah tenggelam dalam air matanya. Dia rasa pelukan Randika ini adalah tempat terhangat dan ternyaman yang pernah ada.
"Kau ini siapa? Berani-beraninya nyentuh barang daganganku!" Pada saat ini, Santoso sudah masuk ke dalam dan lihat pemandangan ngejutkan ini.
Namun, Randika nampaknya tidak ndengarnya dan masih terus luk sekaligus nenangkan Christina.
"Sudah berhentilah nangis, aku akan mbawamu pulang. Atau kamu ingin di rumah ini selamanya?" Kata Randika sambil ngusap air mata Christina.
Christina ngangguk dan dirinya digendong oleh Randika, reka berdua lalu berjalan keluar dari rumah gelap itu. Pada saat ini, Santoso sudah marah-marah.
"Hei mau ke mana kalian? Itu barangku yang kau curi! Berani-beraninya kau berbuat seperti itu, aku akan .."
Sebelum dirinya bisa ngancam Randika, dia sudah terpental jauh berkat tendangan Randika. Kata-katanya itu berubah njadi ringkikan kesakitan. Seluruh tubuhnya nyebarkan rasa sakit dan mbuatnya pingsan.
Sambil terus nggendong Christina, Randika ludahi tubuh Santoso.
Di satu sisi, si kepala desa hanya lihat semua ini dari samping dengan wajah ketakutan.
"Kamu mau jalan sendiri?" Tanya Randika dengan nada lembut.
Christina masih nangis pelan, tetapi tawaran Randika itu segera dia terima. Namun karena belum makan sejak kemarin, kaki Christina masih lemas dan akhirnya dia mutuskan untuk duduk terlebih dahulu. Sedangkan Randika, dia ndatangi Santoso dan nendangnya hingga terbangun.
"Kau! Apa maumu!" Wajah Santoso ini benar-benar sudah ketakutan.
Randika hanya natapnya dengan ekspresi datar, dia benar-benar marah. Mau itu Christina ataupun orang lain, orang di hadapannya ini berani njual sesamanya manusia hanya demi uang. Sifat busuk ini benar-benar muakkan!
Terlebih lagi, dia berani nyentuh dan njual perempuan milik Ares!
Tanpa berkata apa-apa, Randika ngangkat Santoso dengan tangan kanannya.
"Aku peringatkan, kau tidak ingin berurusan dengan orang-orang yang berdiri di belakangku. reka bisa mbunuhmu dengan mudah!" Kata Santoso dengan nada dingin.
Tangan kiri Randika nggenggam erat tangan kanan Santoso. Dengan santai, Randika nariknya hingga bahunya copot dari sendinya!
"Kenalkan aku dengan reka." Kata Randika dengan pelan.
Kemudian dia mbawa Santoso ke dalam rumah dan ngambil tali yang ngikat Christina sebelumnya. Dia lalu lilitkannya di leher Santoso.
Randika ncekiknya hingga dia sekarat. "Katakan siapa bosmu itu atau kamu akan mati di sini."
"Baiklah."
Santoso tidak miliki pilihan, dia hanya bisa mberitahu informasi yang Randika inginkan agar terus hidup. Setelah lepas dari lilitan tali tersebut, Randika nendangnya dan nindihnya. Kali ini dia ngambil tangan kirinya yang masih utuh itu dan matahkannya.
Rasa sakit luar biasa langsung mbuat Santoso rasa ingin mati. Tetapi rasa bencinya terhadap Randika mbuatnya terus tersadar.
"Aku akan ngingat wajahmu itu, ketika bosku ndatangimu aku akan nari di atas mayatmu sambil rkosa perempuanmu itu! Tidak ada orang yang bisa lolos dari kejaran kami!"
"Berisik!"
Randika lalu nyumpal mulut Santoso dengan baju. Dalam sekejap Santoso sudah tidak bisa berbicara dan hanya bisa nahan rasa sakitnya.
Sedangkan untuk masalah bosnya, itu adalah masalah lain. Selama bosnya itu tidak ngapa-ngapain maka Randika tidak akan nyentuhnya.
Randika natap tajam Santoso dan berencana mbuatnya kapok dengan dunia perdagangan manusia. Profesi ini benar-benar haram dan tidak manusiawi. Sebagai sesama makhluk hidup, bisa-bisanya reka njual sesama reka demi uang? Sudah berapa banyak orang yang sudah dijual oleh orang ini?
"Aku rasa kamu sudah tidak butuh kakimu itu." Kata Randika dengan pelan. Kemudian dengan santainya dia ngangkat kakinya dan nginjak kedua tulang kering Santoso. Tulang-tulangnya itu benar-benar njadi serpihan.
"Mmm! Hmmm!"
Santoso hanya bisa berteriak kesakitan, Randika benar-benar tidak mberi ampun. Setelah matahkan tangannya dan ncopot bahunya dari sendinya, Randika mastikan bahwa orang ini tidak bisa berjalan lagi.
Tidak ada pengampunan yang layak untuk orang semacam ini!
Reviews
All reviews (0)