Santoso berteriak keras sebelum akhirnya pingsan, sedangkan si kepala desa yang lihat ini dari samping masih bergetaran tanpa henti.
Randika natap tajam si kepala desa. Untuk para penduduk desa ini, Randika tidak bisa berbuat apa-apa. skipun aslinya rekalah yang salah karena mbeli dari Santoso, reka tidak bisa disalahkan karena itulah cara reka untuk neruskan keturunan reka.
Sedangkan untuk Santoso, Randika sudah mastikan bahwa dia akan nggunakan kursi roda seumur hidupnya. Itulah pelajaran yang diberikan oleh Randika.
Tindakan Randika masih terbilang baik karena dunia sama sekali tidak maafkan pelaku perdagangan manusia. Para pelaku tersebut akan dieksekusi apabila tertangkap.
"Semua sudah selesai." Randika nghampiri Christina dan mbantunya berdiri.
Sambil nggandeng tangannya, Randika ngatakan. "Aku akan mbawamu pulang."
Christina hanya ngangguk pelan dan rasakan hatinya nghangat. Dia nyukai Randika yang penuh perhatian seperti ini.
Ketika reka sampai di sepeda motor bobroknya itu, Randika bertanya. "Kamu mau duduk di depan atau belakang?"
Christina mperhatikan sepeda motor tersebut, dia ngerutkan dahinya. Sepeda motor itu terlihat akan hancur berserakan. Lampunya sudah tidak nyala, debu dan lumpur sudah nyelimuti hampir semua bagian dan terlebih tidak ada sandaran kaki untuk penumpang di belakang.
"Apa motormu ini masih aman?" Christina jelas terlihat khawatir.
"Santai saja." Randika nyalakan motornya dan posturnya dibuat-buat seperti di drama TV.
"Naiklah, akan kuberikan kamu pengalaman terbaik dalam hidupmu." Kata Randika sambil tersenyum.
.....
Keduanya ini langsung nuju Kota Gunung Agung.
Pemandangan gunung sedikit demi sedikit mulai nghilang. Christina duduk di belakang sambil luk Randika dengan kedua tangannya.
Diam-diam, Christina nempelkan wajahnya di punggung Randika. Dia rasa punggung pria ini sangat lebar dan kekar, inilah punggung pangeran berkuda putihnya.
ngingat pertemuan pertama reka, Christina salah sangka dengan kebaikannya. Hal ini sebenarnya bukan salah dirinya, salahnya Randika tiba-tiba ngatakan bahwa dirinya butuh operasi dada.
ngingat semua kebaikan Randika dan senyumannya mbuat Christina tersipu malu. Dia mbenamkan wajahnya di punggung Randika sambil tersenyum.
"Ran, kenapa kamu tahu aku ada di sini?" Jelas pertanyaan ini terngiang-ngiang di benak Christina.
"Pertanyaan bodoh!" Randika ngendarai motornya sambil tersenyum. "Tentu saja aku tahu, aku sudah masang pelacak universal di tubuhmu. Mau pergi ke mana pun kamu, aku selalu bisa nemukanmu. Contohnya jika kamu pergi ke toko lingerie untuk mbeli pakaian dalam yang sexy atau kamu sedang mandi di rumah, aku bisa tahu semuanya."
ndengar perumpamaan Randika itu, Christina sedikit rasa malu. Randika mang tidak bisa diajak serius sedikitpun tetapi dirinya tidak marah karena dia tahu Randika berusaha mperingan suasana.
"Jika aku tidak masang pelacak itu, bagaimana bisa aku tahu kamu di mana?" Randika lalu noleh dan ngatakan. "Mulai dari hari ini, kamu tidak boleh mberikan pelajaran tambahan saat malam hari. Apalagi kalau rumah muridmu itu dekat di bagian barat kota."
"Baiklah." Christina setuju dengan saran Randika yang sangat rhatikan dirinya itu.
Pada saat ini, motornya sedikit layang karena terkena lubang. Dari awal, motornya ini sudah hampir tidak bisa mpertahankan bentuknya. Oleh karena itu, saat terkena lubang ini motornya ini tidak bisa berhenti bergetar. Randika dan Christina rasa pusing dan ingin muntah karenanya.
Beberapa ratus ter ke depan penuh dengan lubang jadi keadaan berguncang ini akan bertahan beberapa waktu. Ketika motor ini naik turun, bahkan plat nomor di belakang hampir copot. Sekrup yang nahannya tidak kuat dengan getaran yang kuat itu dan akhirnya plat tersebut lepas dan terjatuh di tanah.
Christina sudah was-was. Dari awal dia sudah ragu dengan motor yang nakutkan ini dan sekarang dia rasa bahwa motor ini akan hancur sebentar lagi. Terlebih lagi, motornya yang tidak bisa berhenti naik turun ini mbuatnya takut dan makin erat luk Randika.
"Jangan khawatir, motor ini kuat kok." Randika berusaha yakinkan Christina dan dirinya sendiri! Namun, motornya tiba-tiba ngenai batu yang cukup besar dan keduanya layang cukup tinggi.
"Ah!"
Christina sudah nutup matanya dan berteriak, kedua tangannya semakin erat luk dan kedua dadanya nempel di punggung Randika.
Apa!?
Randika langsung rasakan kekenyalan seperti bakpau itu di punggungnya, sungguh perasaan yang nyenangkan. skipun terhalang oleh baju, dia masih bisa rasakan kelembutan dan kekenyalan dada Christina. Mungkin perjalanan ini sepadan jika dia bisa rasakannya langsung dengan kedua tangannya.
Jika dia bisa ndorong dan nindih Christina di tempat tidur dan lihat kedua gunung itu dengan matanya, mungkin reka juga bisa lakukan roleplay guru dan murid seperti film-film Jepang.
Stop Randika! Kamu masih nyetir, jangan kehilangan fokus! Semua imajinasimu akan terbuang jika kalian jatuh ke dalam jurang.
Motor reka masih bertemu dengan beberapa lubang dan motornya yang naik turun itu masih terus berlangsung. Kedua dada Christina akan nempel ketika motornya itu bergetar, dia benar-benar takut motornya ini akan hancur. reka terus naik turun tanpa henti dan Randika terus rasakan kelembutan dada Christina di punggungnya.
Randika dalam hati rasa senang, bahkan di tempat terpencil seperti ini dia bisa rasakan kasih sayang sang Pencipta!
"Ran, pelan sedikit nyetirnya."
Christina sudah tidak kuat lagi, dia sudah ketakutan dan luk erat Randika seperti koala.
"Tidak bisa, jika kita pelan-pelan bisa-bisa kita ketinggalan kereta." Kata Randika. "Tapi tentu saja aku tidak keberatan bermalam denganmu di hotel. Bagaimana?"
Christina tersipu malu dan tidak njawab pertanyaan Randika.
Motor ini masih laju dengan cepat, reka masih dihalangi beberapa lubang lagi sebelum akhirnya tiba di jalan yang rata. Randika sendiri berharap lubang ini tidak pernah habis.
Saking senangnya, Randika bahkan bernyanyi. "Nempel, nempel, puncak gunungnya nempel, kenyal-kenyal sekali!"
"Hmm? Kamu nyanyi apa?" Christina samar-samar ndengar nyanyian Randika.
"Ah! Bukan apa-apa, bukan apa-apa. Aku hanya sedikit kepikiran pekerjaan yang cocok untukmu selain njadi guru." Kata Randika.
"Apa mangnya?"
"Terapis pijat." Jawab Randika sambil tersenyum.
Christina bingung, maksud Randika ini apa? Dia benar-benar tidak ngerti maksudnya.
Randika lalu noleh padanya dan tersenyum. "Aku yakin banyak orang yang akan ngantri karena cara mijatmu yang unik."
Christina makin bingung dan bertanya. "Kok bisa?"
"Orang lain mijat nggunakan tangannya sedangkan kamu nggunakan kedua dadamu itu." Randika ngangguk. "Benar-benar nyaman."
Christina langsung nyadari maksud Randika itu dan langsung lepaskan pelukannya itu. Dia segera malingkan wajahnya.
"Kamu ini ya! Jangan berpikiran sum seperti itu!" Kata Christina sambil marah-marah.
Pada saat ini, reka sudah tiba di jalan aspal yang rata. Perjalanan penuh lubang itu telah selesai, Randika kembali njadi lemas.
Setelah berkendara selama satu jam, akhirnya reka tiba di Kota Gunung Agung. Sesaatnya reka sampai di stasiun, motornya akhirnya sudah tidak tahan lagi. Seluruh motor hancur berserakan dan tidak bersisa!
Motor itu sudah lampaui kemampuannya dan kali ini dia ingin beristirahat dengan tenang.
"Sudah jangan diperhatiin lagi, ayo cepat kita naik ke kereta." Randika narik Christina yang masih longo lihat kendaraan yang baru saja dia naiki hancur njadi debu.
Reviews
All reviews (0)