Font Size
15px

Suara motor yang saling beradu semakin nyaring, terlebih motor bobrok Randika suara sinnya sudah bagaikan guntur. Ketiga belas pembalap ini masih neruskan perjuangan reka.

Pinpin masih ada di posisi pertama sedangkan Randika ngekorinya dengan ketat.

"Bajingan, orang itu masih tidak lepas pegangan gasnya?"

Pinpin terus mantau Randika dari kaca sampingnya. Tekanan yang dia rasakan semakin besar tiap detiknya dan rasa ragu mulai muncul dari dalam hatinya.

Sebelum ini, ketika pertama kali Pinpin lihat sosok Randika di kacanya, reka sudah lewati sebuah tikungan. Ketika dia sedikit nekan remnya, dia lihat sosok Randika yang terus macu motornya tanpa ngerem sama sekali. Jarak di antara reka berdua langsung nipis drastis dan satu kesalahan akan mbuat Pinpin terbalap.

Randika benar-benar mberikan tekanan batin bagi dirinya.

"Bagaimana caranya dia ngimbangiku dengan motor seperti itu?"

Pertanyaan itu terus nerus nggenang di hati Pinpin, dia nduga bahwa pria tersebut pasti lakukan suatu trik pada motornya sehingga bisa nyusul dirinya. Namun, beberapa ratus ter ke depan hanyalah jalan lurus jadi seharusnya motor miliknya bisa mbuat jarak yang cukup jauh dengan pembalap tersebut.

Randika natap motor di depannya itu makin njauh dirinya, tetapi ekspresinya tetapi biasa-biasa saja. Dia berkendara secepat ini murni untuk nyelamatkan Christina.

Pinpin mulai lesat jauh, yang dia tidak tahu adalah Randika sama sekali tidak nganggap dirinya rival.

Namun, setelah beberapa tikungan Randika berhasil nyusul Pinpin lagi.

"Ya ampun, pembalap misterius itu lagi-lagi sudah ndekati Pinpin! Jarak reka berdua benar-benar setipis kertas!" Ronald sudah kehabisan kata-kata. Siapa pembalap misterius itu sebenarnya? Bagaimana dia bisa secepat itu?

Pinpin tidak perlu ndengar informasi itu dari earphonenya, dia bisa lihat sendiri bahwa Randika benar-benar tepat di belakangnya.

dan yang akan reka lalui berikutnya benar-benar rumit, sebentar lagi akan ada lubang besar di jalan dan hanya bisa dilalui dengan cara lompat. Setelah itu reka akan disambut dengan tingkungan tajam.

Biasanya orang-orang akan nghindari tempat ini dan nggunakan jalur alternatif, tetapi karena ini perlombaan yang macu adrenalin, panitia nggunakan lubang ini sebagai jalur lintasan. Tentu saja reka sudah nyiapkan beberapa tindakan pencegahan agar tidak terjadi apa-apa.

Pinpin nggertakan giginya dan macu motornya. Motornya tiba-tiba raung keras dan seluruh motor tersebut layang di udara. Namun, Pinpin rasa dirinya tertutupi oleh awan. Ketika dia noleh ke atas, dia langsung terbeku!

lihat ke atasnya, pembalap misterius itu lompati dirinya dan lewati dirinya dengan mudah.

Pinpin benar-benar seperti orang bodoh, bagaimana caranya orang itu bisa lompat setinggi itu?

Pada saat ini, motor Randika yang masih layang itu njatuhkan beberapa sekrup. Sepertinya motor tersebut sudah di ambang batasnya.

Karena reka dalam kecepatan tinggi, sekrup yang ndarat di helm Pinpin nancap di kacanya. Pinpin sendiri lihat Randika berhasil ndarat dan laju kencang di depannya.

Namun hal ini mbuat dirinya ngalami kesialan. Dia gagal nghitung kecepatannya dan terjatuh di dalam lubang.

DUAK!

Sepeda motornya dan Pinpin sendiri terjatuh cukup keras di lubang tersebut. Dalam sekejap dia langsung pingsan sambil terus berpikir kenapa lawannya itu bisa loncat setinggi itu.

"GILA! Pembalap misterius itu berhasil nyalip Pinpin yang terjatuh di lubang!" Ronald benar-benar terkejut.

"Pin, masuk pin! Hei, kau dengar suaraku?"

Pelatihnya Pinpin njadi cemas, anaknya itu tidak njawab sama sekali.

Semua rencana reka njadi kacau, seharusnya para dia sebentar lagi akan wawancarai timnya dan Pinpin karena berhasil njuarai perlombaan ini. Sekarang mungkin berita tajuk utamanya adalah "pembalap misterius datang dan mbuat malu para profesional." Atau "Tidak berdaya, para profesional hanya bisa malu dikalahkan oleh pembalap misterius."

......

Desa Sukasari adalah desa miskin yang ada di dalam pegunungan. Karena akses jalan yang sulit dan air bersih yang susah dicari, mbuat desa ini miskin sekali. Belum lagi masalah keturunan yang mbuat pusing desa ini. Bisa dikatakan bahwa para perempuan dari desa ini kebanyakan milih untuk nikah dengan orang dari luar desa untuk ngubah nasib reka. Sedangkan para lelaki, reka tidak bisa ninggalkan desa reka dan susah untuk reka ncari pasangan.

Hal utama penyebab semua ini adalah uang. Alasan kedua adalah para perempuan desa ini tidak mau nikahi sesama penduduk desa. reka semua benar-benar terlalu miskin. Oleh karena itu, para penduduk di desa ini mutuskan untuk mbeli perempuan.

Para penduduk lelaki ncari uang di kota dan setelah beberapa tahun, reka akan mbeli perempuan untuk lanjutkan keturunan reka. lalui bantuan para pemain di dunia perdagangan manusia, orang-orang desa ini mbeli dan njadikan perempuan itu untuk neruskan keturunan reka.

-Rumah kepala desa-

Di dalam rumah tanpa lampu ini, Christina terikat baik di kakinya dan tangannya. Mulutnya ditutupi oleh sebuah lakban jadi sulit baginya untuk berteriak minta tolong.

Christina natap orang-orang yang ada di luar lalui jendela. Dia terus berusaha lepaskan diri sambil berteriak. Namun, tiba-tiba pintu rumahnya terbuka dengan keras. "Diam atau akan kubunuh kau!"

Pria itu marah dengan Christina yang berisik itu. Sosoknya yang bengis itu berhasil nciutkan nyali Christina.

Pria itu kemudian keluar dan kembali berbincang dengan temannya.

lihat ke luar jendela, Christina sekarang hanya bisa lihat wajah-wajah pria tidak dikenalnya. Tatapan matanya sekarang benar-benar penuh dengan keputusasaan. ngingat kejadian semalam, dia mulai nangis.

Dia tidak nyangka akan njadi korban penculikan dan perdagangan manusia, hidup ini benar-benar kejam.

Di saat depresi seperti ini, yang muncul di benaknya hanyalah sosok Randika yang tersenyum padanya.

Pada saat ini, di luar jendela, ada tiga orang sedang berbincang.

Salah satu dari reka makai baju biru lusuh dengan luka nyeramkan di pipinya. Satunya lagi adalah pria kejam yang tadi ndobrak masuk dan ngancamnya. Dan satu lagi adalah pria paruh baya yang sedang rokok.

Pria paruh baya ini adalah kepala desa dari desa Sukasari. Dia telah ngalami pengalaman hidup yang pahit selama hidupnya, saat-saat nyenangkan adalah ketika para penduduk desanya ini mbawa pulang wanita cantik dari hasil transaksi reka.

reka sepertinya sedang berbicara ngenai Christina.

"Pak kepala desa, Anda tidak tahu betapa susahnya saya mbawa perempuan secantik itu ke sini? Dan sekarang Anda ragu untuk mbelinya?" Orang kejam yang ngancam Christina tadi rupanya adalah pemain di dunia bisnis perdagangan manusia.

"Pak saya sarankan jangan." Orang berbaju biru itu berkata pada kepala desa. "Harganya terlalu mahal, kita tidak akan mampu mbelinya."

"Sepertinya kalian ini masih ragu-ragu." Penjual itu lalu tersenyum. "Coba kalian lihat dulu ke dalam. Perempuan itu putih, sexy, cantik dan terlebih dia berasal dari kota jadi dia adalah orang yang terpelajar. Nilai jualnya mang tinggi tetapi coba perhatikan kualitasnya sebagai seorang wanita, tidak heran dia itu mahal. Aku hanya akan lepasnya dengan harga 75 juta, tidak boleh kurang."

"Aku sendiri harus mbayar mahal untuk mbawanya ke sini. Jika bukan karena parasnya yang cantik itu aku tidak mungkin nawarkannya padamu duluan. Dan sekarang kalian berpikir perempuan ini mahal? Kalau kalian ragu-ragu seperti ini terus, jangan harap aku mau berbisnis dengan kalian lagi." Penjual manusia ini benar-benar tidak mau ngalah, Christina benar-benar sin penjual uang kelas atas baginya.

"Sudahlah ayah, aku benar-benar ingin nikahi perempuan itu." Anak sang kepala desa yang ndengar ini diam-diam dari jauh segera nimbrung. Apa ayahnya itu buta? Perempuan yang di dalam rumahnya itu benar-benar perempuan tercantik yang pernah dilihatnya. Kulit putih mulusnya itu benar-benar berbeda dengan para perempuan di desa ini.

Terlebih lagi, tubuh sexy milik Christina itu benar-benar nggairahkan. Anak ini benar-benar ingin niduri Christina, jika ayahnya tidak mbelikannya maka dia akan bunuh diri bersama perempuan itu!

Kepala desa itu ngerutkan dahinya. "75 juta? Bisakah kau nguranginya sedikit?"

"Maaf hargaku tidak bisa ditawar untuk barang kali ini." Penjual itu juga ncari untung.

"Yah, aku sudah bekerja dan ngumpulkan uang 50 juta bukan? Biarkan aku minjamnya dari penduduk lain ketika reka pulang."

Setelah mikirkannya sesaat, kepala desa itu ngangguk. "Baiklah kalau begitu, aku akan mberimu 50 juta dulu dan sisanya akan diberikan ketika kau datang ke sini lagi sambil mbawa perempuan lainnya."

"Waduh tidak bisa itu. Aku tidak bisa berbisnis dengan cara seperti itu, jika kau nginginkan perempuan itu maka kau harus mbayar penuh. Jika aku lunak seperti itu, mau makan pakai apa aku?" Penjual itu nggelengkan kepalanya. "Lagipula banyak alasan yang bisa kalian gunakan untuk ngulur ataupun kabur bersama barangku. Jika seperti itu, pada siapa aku harus nagih?"

Di dunia bisnis seperti ini, para pemain harus waspada dan tidak mpercayai siapapun.

"Tapi hanya 50 juta saja yang kami punya." Kata sang kepala desa.

"Aku tidak peduli, kalau kau tidak bisa mbayar maka aku akan njualnya kepada orang lain." Penjual itu langsung malingkan wajahnya. Dia sepertinya hendak mbawa Christina pergi dari desa ini.

"Ah! Tunggu!" Anak sang kepala desa itu segera ncegatnya. Dia kemudian berkata pada ayahnya. "Yah, aku benar-benar suka dengan perempuan itu. Bagaimana kalau kita berhutang dulu sama penduduk di sini? Nanti kita balikan kalau kita sudah ada uangnya."

"Mau pinjam ke siapa?" Kepala desa ini juga sudah pusing. "Kita harus lepas perempuan itu."

Si anak langsung berlutut. "Jangan yah! Aku benar-benar ingin bersama perempuan itu."

Penjual itu ndengus dingin. "Aku tidak peduli kau suka atau tidak. Kalau kalian tidak nunjukan uangnya, aku akan pergi dari sini. Banyak klien lain yang ingin mbelinya."

"Yah, bukannya ayah punya kalung giok dari peninggalan kerajaan kuno?"

Sang kepala desa langsung terkejut. "Itu adalah peninggalan nenek moyang kita, mau ditaruh mana muka ayah nanti?"

"Yah reka semua sudah mati, lagipula ini juga untuk aku. Aku bersumpah akan nggantinya ketika aku kembali ke kota nanti. Aku mohon yah." Si anak ini sudah berlutut di kaki ayahnya.

Sambil nghela napas, sang kepala desa ngangguk. "Kalau begitu tunggu di sini sebentar, aku akan ngambil kalungnya."

Ketika ndengar kata-kata kalung giok, si penjual itu rasa senang. Kalau benar kalung itu berasal dari zaman kerajaan, harganya akan sangat tinggi!

"Jika kamu nambahkan 5 juta bersamaan dengan kalung itu, maka perempuan itu bisa njadi milikmu." Jawab si penjual. "Tapi kami harus mastikan dulu keaslian kalung itu sebelum terjadinya kesepakatan."

Si anak itu langsung njawab. "Setuju."

Pada saat ini, terdengar suara motor yang berisik di pintu masuk desa. Si pengendara motor itu adalah Randika.

"Selamat sore, siapa si kepala desa dari desa ini?"

Randika langsung berteriak dan ncari orang yang bertanggung jawab.

Kebetulan rumah kepala desa tidak jauh dari pintu masuk jadi teriakan Randika itu langsung masuk di telinga sang kepala desa.

"Iya dengan saya sendiri." Kata sang kepala desa.

Randika lalu berhenti dan markir motornya.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 174: Desa Sukasari on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.