Font Size
15px

Awalnya, bos preman ini masih bersikap sok tangguh skipun hidungnya sudah patah. Dia nolak untuk berbicara pada Randika. Tetapi seiring berjalannya waktu, siksaan Randika mbuat dia akhirnya nyerah.

"Aku lebih baik mati daripada mberitahumu!"

Senit kemudian. "Wanita itu sudah nerima bibitku dan ngandung anakku! Jangan harap dia masih perawan! Hahaha."

Tiga nit kemudian. "Tidak! Hentikan, aku sudah tidak kuat."

Lima nit kemudian. "Maafkan aku, aku sama sekali tidak bermaksud. Jangan! Tolong jangan pukul aku lagi!"

Enam nit kemudian bos preman ini sudah sekarat dan Randika ndapatkan apa yang dia mau. Bos preman ini tidak nyentuh Christina sama sekali karena dia terus mberontak sampai-sampai nendang si bos ini di kemaluannya. Di tengah kemarahannya, si bos ini nghajarnya sampai pingsan dan njualnya ke temannya yang lakukan bisnis perdagangan manusia.

Sekarang temannya itu seharusnya sedang ncari pelanggan yang mau mbeli Christina.

Setelah ndengar tempat teman si bos preman itu berada, hati Randika sedikit ngepal.

Desa Sukasari di Kota Gunung Agung!

Ternyata Christina sampai dibawa ke desa terpencil di kota sebelah, benar-benar tempat yang cocok untuk lakukan bisnis haram dan gelap seperti perdagangan manusia. Yang mbuatnya ngerutkan dahi adalah tidak ada jalan tol ataupun bandara di kota tersebut. Satu-satunya jalan adalah naiki kereta ke kota Gunung Agung lalu berjalan kaki ke desa Sukasari.

Setelah ndapatkan informasi tersebut, Randika lihat jam dan nyadari bahwa kereta yang akan mbawanya itu akan pergi sebentar lagi.

Deviana ingin ikut tetapi dicegah oleh Randika.

"Kamu lebih baik tinggal di sini dan nangkap orang-orang ini. Aku akan ngurus sisanya." Kata Randika.

"Kalau begitu berhati-hatilah." Deviana sendiri aslinya tidak tahu kenapa dirinya ingin bersama Randika, tetapi setelah ndengar kata-kata Randika, dia sadar bahwa kata-katanya itu masuk akal.

Ketika Randika sudah pergi, Deviana ngeluarkan HT-nya dan lapor sekaligus minta bantuan markasnya untuk ngirim beberapa mobil agar ke-20an orang ini bisa segera ndekam di penjara untuk waktu yang lama.

......

Di dalam kereta, Randika duduk sendirian di dekat jendela. skipun pandangan matanya lihat pemandangan, isi pikirannya benar-benar hanya ada Christina. Dia berharap bahwa dirinya masih dapat nyelamatkan tepat waktu.

"Ah? Kenapa pong? Tumben sekali telepon aku?"

Namun pada saat ini, seorang pria yang duduk tidak jauh dari Randika tiba-tiba ngangkat teleponnya. Suaranya benar-benar keras! Ketika pria itu mbuka mulutnya, seluruh gerbong bisa ndengar apa yang dia katakan.

Randika ngerutkan dahinya, pria itu sama sekali tidak mpunyai sopan santun.

"Kau ingin ngajakku cangkruk? Pasti ada maunya nih bukan? Sudah cepat katakan saja tidak usah sungkan."

Orang-orang yang ada di gerbong ini mulai kesal tetapi reka sama sekali tidak negur orang itu. reka berharap telepon itu segera cepat selesai.

"Mau ngambil uangmu? Pong, kamu sendiri tahu aku habis kena musibah apa." Pria itu benar-benar tidak peduli dengan orang lain, suaranya yang keras itu benar-benar mbuat orang jengkel.

"Jangan gitu dong Pong, kita kan sudah berteman lama. Kamu tahu sendiri aku minjam uangmu untuk apa, pasti akan kubayar kok. Hanya saja uangku dari pekerjaanku itu belum cukup untuk mbayarmu."

Beberapa orang sudah mulai ngeluarkan earphone reka dan ngeraskan volu lagu reka. ndengar jilatan seorang yang sering berhutang bukanlah topik yang enak didengar. Sedangkan untuk seorang ibu yang baru saja nidurkan bayinya, dia harus kembali nenangkan bayinya yang tiba-tiba nangis.

"Sudah percaya aku, bulan depan aku balikan semua oke? Bulan depan uangku akan cair jadi sabar saja."

"Kalau begitu bagaimana kamu ke rumahku bulan depan? Kita akan makan sambil minum-minum dan bernostalgia tentang masa lalu!" Suara pria ini makin lama makin keras, tetapi ndengar percakapannya ini orang-orang rasa sedikit lega. Akhirnya telepon pria itu akan selesai, pikir reka.

Tetapi nampaknya harapan reka itu sia-sia. "Omong-omong kenapa kau tiba-tiba nagih? Apa kamu sedang dalam masalah?"

Sepertinya percakapan reka masih lama.

Seorang pria sudah tidak tahan dan negurnya. "Suaranya bisa kecil sedikit tidak pas telepon?"

Pria yang sedang telepon itu ngerutkan dahinya dan berkata pada pria itu. "Suka-sukaku kan untuk berbicara? Toh tidak ada larangan nerima telepon dan salah sendiri dengerin teleponnya orang."

Semua orang yang ndengar alasan tersebut njadi kesal. Apa orang ini lakukannya dengan sengaja?

"Suaramu itu benar-benar keras, lihat sampai bayi yang tertidur saja sampai bangun. Kau ini tidak punya sopan santun ya?" Pria yang negur itu tidak mau mundur.

"Oh? Kalau begitu kenapa reka tidak komplain? Sopan santun? Aku kasih tahu ya, bertelepon adalah hakku dan tidak ada yang bisa larangku lakukannya. Aku tidak peduli kamu rasa terganggu, kalau kau rasa terganggu tuntut saja aku." Pria yang sedang bertelepon itu ndengus dingin.

Ibu yang mbawa bayinya itu sudah tidak tahan. Dia berdiri dan pindah ke gerbong lain.

"mang itu hakmu, tetapi suaramu itu sangat keras." Kali ini seorang perempuan juga ikut marahinya.

"Kalau begitu jangan dengarkan toh, gampang bukan? Gitu aja kok susah." Pria itu natap perempuan tersebut dan kembali berbicara dengan temannya. Sepertinya topik reka berubah jadi tentang sepakbola.

"Suaramu kayak hentakan kaki gajah gitu, mana mungkin kita bisa pura-pura tidak ndengarnya?"

"Kalau begitu jangan salahkan aku, salahkan telingamu." Jawab pria itu.

Perempuan itu hendak nampar pria tidak sopan itu, sepertinya kata-kata saja tidak cukup.

Tetapi temannya di sampingnya nahannya. "Sudah cuekin saja, percuma berdebat dengan orang keras kepala."

Namun tiba-tiba pria tersebut nutup teleponnya. Dia lalu berdiri dan natap orang-orang yang sepertinya mbenci dirinya.

"Kalian ini ya benar-benar tidak tahu diri. Apa salahnya aku ngangkat telepon? Apa salahnya berbicara dengan suara keras? Jika aku ingin berbicara keras maka itu adalah hakku."

Bersamaan dengan itu, pria tersebut ngeluarkan handphonenya dan hendak nelepon lagi.

"Jika kau masih ribut, aku akan mbenamkan kepalamu di toilet."

Suara tersebut berhasil mbuat semua orang njadi terdiam.

Saat pria tersebut noleh, ternyata Randika sedang natapnya dengan tatapan dingin.

"Kau kira aku takut?" Pria itu berdecak. "Kau tidak bisa maksaku untuk diam."

Kemudian teleponnya itu terangkat dan pria itu berkata dengan keras. "Halo? Ini ."

Semua orang sudah muak dengan perilaku pria bajingan itu, tetapi pada saat ini, suara pria tersebut hanya sampai salam pembuka, tidak ada kelanjutannya.

Ketika reka noleh ke arah pria tersebut, reka semua lihat seorang pemuda sudah lempar handphone orang tersebut ke tengah-tengah gerbong.

Orang tersebut terkejut sekaligus njadi marah. "Kurang ajar!"

Randika lalu nahan pukulan lemah itu dengan satu tangan. Randika lalu lintir tangan pria tersebut dan dia langsung rintih kesakitan.

Tapi orang itu masih tidak nyerah, tangan satunya langsung layangkan pukulan. Namun usahanya benar-benar sia-sia, Randika berhasil nangkapnya dan lintir kedua tangannya.

"Aku akan laporkanmu kalau kau tidak lepaskanku." Pria itu masih tidak nyerah.

Randika sudah malas berurusan dan lepaskannya. Ketika pria itu hendak berdiri, Randika njambaknya dan nghantamkan kepalanya ke kursi!

Kursi dari kereta ini terbuat dari besi jadi bisa dikatakan kursi ini keras. Ditambah lagi, suasana hati Randika sedang buruk karena khawatir dengan Christina jadi dia kurang bisa ngontrol tenaganya. Jadi gigi dan hidung orang tersebut njadi berantakan.

Semua orang terkejut, reka tidak nyangka Randika akan berbuat sejauh itu.

"Satu suara lagi darimu dan kepalamu akan tenggelam di toilet kereta ini."

Pria itu sudah ketakutan bukan main, hidungnya terus ngucurkan darah. Dia natap Randika yang wajahnya dingin tersebut, rasa takut sekaligus benci njadi satu.

Dia mbuka mulutnya dan hendak ngatakan sesuatu tetapi orang tersebut langsung nutup mulutnya. Dia hanya berdiri dan berjalan nuju kursinya dalam keadaan diam.

lihat orang itu sudah tidak berisik lagi, Randika kembali sibuk mikirkan Christina.

Dia berharap temannya itu tidak apa-apa.

Setelah 5 jam nunggu di kereta, akhirnya Randika tiba di kota Gunung Agung.

Setelah turun dari kereta, angin dingin langsung nerpa dirinya. Randika lalu bertanya dengan orang lokal dan ngetahui bahwa perjalanannya masih jauh. Desa Sukasari masih berada di pedalaman gunung, jika tidak ada transportasi maka Randika harus berjalan sekitar 2 jam dari tempatnya ini.

Randika ngerutkan dahinya, dia tidak punya waktu selama itu. Dia mperhatikan sekitarnya dan nyadari ada toko sepeda motor.

Namun, toko ini sepertinya toko bobrok. Sebagian besar motor adalah motor bekas dan tertutup debu. Orang yang seperti pemiliknya itu sedang mperbaiki sepeda motor di samping toko.

"Ada motor bagus?" Tanya Randika.

Pemilik toko itu ngangkat kepalanya dan njawab. "Silahkan pilih bos, semuanya bagus-bagus kok."

lihat semua sepeda motor yang nyedihkan ini, Randika kehabisan kata-kata. "Apa tidak ada motor yang bagusan sedikit dan lebih cepat?"

Kali ini pemilik toko ngajak Randika ke dalam dan nunjukan sebuah motor.

"Bagaimana kalau ini? Motor ini baru selesai diperbaiki kemarin." Kata si pemilik toko.

Randika lalu rhatikan sepeda motor itu. skipun ada beberapa bagian terlihat karatan, sepertinya motor ini paling oke daripada motor-motor lainnya.

"Tolong siapkan motor ini untukku." Kata Randika.

Pemilik toko itu tersenyum. "Baiklah."

Pada saat ini, di kota Gunung Agung sedang ada perlombaan lintas alam untuk sepeda motor.

Kota Gunung Agung mang terkenal dengan jalanannya yang curam dan nanjak, cocok sebagai tempat untuk perlombaan ini. Kota ini bergantung pada event-event seperti ini.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 172: Kota Gunung Agung on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

All MILFs are Mine cover
Similar genre

All MILFs are Mine

Night_phantom ·Harem

*Caution* *TABOOCONTENT* *STRONGSEXUALCONTENT* THISCONTENTISVERYHARMFULFORANORMALPERSON'SMIND. __________________________________ LeonisaMILFlover,...

Data-Driven Daoist cover
Trending now

Data-Driven Daoist

CatVI ·Action

Theycalledhimtrash—untilhestartedtreatingtheDaolikeaDataset.Whendemonsslaughterhisnewfamily,computerscientistJohan—nowrebornasYuHan—survivesbypurew...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.