Font Size
15px

"Kenapa?" Deviana natap Randika dengan wajah bingung.

"Kalung ini punya Christina, aku pernah lihat dia makainya." Kata Randika. "Dan tadi pria berengsek ini makainya."

Kali ini, tatapan tajam Deviana jatuh pada Rio.

Di bawah tatapan tajam dua orang, Rio ingin nangis darah. mangnya ada apa dengan kalung itu?

"Di mana kau ndapatkan kalung itu?" Tanya Deviana dengan nada dingin. "Jangan coba-coba berbohong atau temanku ini akan nyakitimu lagi."

Rio njawab dengan senyuman pahit. "Kalung itu aku dapat dari bosku tadi malam."

"Bosmu?" Tatapan mata Randika benar-benar dingin. "Bagaimana dia bisa ndapatkannya? Jelaskan padaku."

Dengan tubuh getaran, Rio njawab. "Kemarin malam aku dan teman-teman sedang jalan-jalan di sekitar sini. Terus kami lihat ada wanita cantik jalan sendirian dan jalanan terlihat sepi. Teman-temanku mutuskan untuk nculiknya."

"Apa?" Deviana tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Kasus penculikan mang jarang terjadi di kota ini, tetapi dia tidak nyangka bahwa proses penculikan akan terjadi hanya karena ada kesempatan bukan dengan perencanaan detail.

Randika lalu bertanya. "Lalu?"

Nada suara Randika benar-benar nyeramkan bagi Rio, dia njadi ragu dan berhenti berbicara. Randika njulurkan jari telunjuknya dan naruhnya di atas dada Rio, Rio rasa tulangnya akan patah.

"Setelah kita ngikatnya, kita ingin mperkosanya tetapi wanita itu mberontak terus. Terlebih dia lukai salah satu temanku jadi kita kirim wanita liar itu ke bos sebagai hadiah. Oleh karena itu bos mberikanku balasan berupa kalung emas ini."

Dengan tubuh basah oleh keringat, Rio mperhatikan ekspresi Randika. Dia takut ceritanya tidak dapat muaskan orang ngerikan itu.

Tapi tanpa diduga, jari telunjuk Randika terangkat dan telapak tangannya berada di dadanya. Dengan dialiri sedikit tenaga dalamnya, rasa sakit segera nyebar di seluruh tubuh Rio.

"AH!!"

Suara rintihan kesakitan ini tidak dapat terdengar, Randika dengan cepat nutup mulutnya dengan tangan kirinya.

"Bagaimana keadaan perempuan itu?" Tanya Deviana.

"Aku tidak tahu. Aku sama sekali tidak tahu keadaannya senjak kuberikan pada bos." Ekspresi Rio benar-benar kesakitan, dia sama sekali tidak bisa nggerakan tangan Randika yang ada di atas dadanya.

"Tunjukan jalannya." Kata Randika sambil nendangnya.

Rio berdiri sambil nahan rasa sakitnya, rasa benci mulai nuhi hatinya. Dia ingin nggunakan kesempatan ini untuk kabur. Tetapi, dari belakang Randika berbisik padanya. "Jika aku tidak lihat wajah bosmu dalam setengah jam, nyawamu akan layang dari dunia ini."

Singkat, padat dan jelas, ancaman Randika benar-benar mbuat Rio tidak berani berbuat macam-macam.

Rio rasa bahwa ancaman itu nyata dan mbawa kedua orang ini ke markas bosnya.

Deviana ngabari kantornya dan nolak bantuan yang akan dikirimkan. Kemungkinan besar dia akan nemukan markas perdagangan manusia, jadi dia tidak boleh mbuat orang-orang tersebut waspada. Kejahatan seperti ini benar-benar tersembunyi dan biasanya miliki mata di kepolisian.

Setengah jam kemudian, Rio mbawa Randika dan Deviana ke bangunan terpencil di bagian barat kota. reka dibawa ke distrik yang dikenal sebagai Sin City kota Cendrawasih. Tempat ini dipenuhi oleh prostitusi, tempat perjudian ilegal, sarang narkoba dll. Tingkat kejahatannya rupakan yang tertinggi daripada tempat lain.

Para aparat penegak hukum sudah nutup reka terhadap tempat ini tetapi pelaku kejahatan yang bertindak terlalu lewat batas seperti mbunuh atau rencanakan serangan teroris maka reka tidak akan sungkan-sungkan nangkap dan njarakan.

"Ini tempatnya" Rio noleh dan mpersilahkan Randika untuk masuk. Namun, Randika ngangkat tangannya dan namparnya dengan keras. Seluruh tubuh Rio berputar bagaikan sedang nari balet dan jatuh pingsan tanpa bisa berkata apa-apa.

Setelah itu Randika dan Deviana masuk bersama-sama.

Berjalan di gedung terbengkalai ini, kedua orang ini segera dihadang oleh 2 orang preman dengan tongkat bisbol di tangannya.

"Siapa kalian?" Ketika dua preman ini lihat kedua orang asing ini, tatapan reka justru jatuh pada tubuh sexy milik Deviana. Karena Deviana tidak ingin identitasnya sebagai polisi mbuat kegaduhan di distrik ini, dia makai baju santainya yang sederhana. Namun kemolekan tubuhnya masih tidak dapat dia sembunyikan.

Kedua mata sum itu terus natap dada dan pantat Deviana. Sayangnya, kedua mata itu harus terpejam beberapa saat.

DUAK!

Keduanya ndapatkan pukulan bertenaga dari Randika, dalam sekejap reka sudah pingsan tak sadarkan diri.

Randika ngibaskan tangannya dan nggeledah kedua preman itu. Deviana lalu berjongkok dan hendak mborgol reka.

"reka ini cuma ikan teri, ikan kakapnya ada di dalam. Lebih baik kamu nyimpannya buat orang yang lebih layak makainya." Kata Randika sambil nggeledah.

Deviana ngangkat kepalanya dan nyadari bahwa Randika sama sekali tidak noleh ke arahnya. Dari mana Randika tahu apa yang akan dilakukannya tanpa noleh?

skipun masih banyak pertanyaan tentang Randika yang nggenang di hatinya, Deviana nyusul Randika yang sudah berjalan agak jauh darinya.

Di dalam gedung terbengkalai ini, terdapat beberapa preman di dalamnya.

"Giliranku, flush sekop!" Seorang preman ngeluarkan 5 kartu sambil rokok.

"Bajingan, kartumu bagus-bagus daritadi!" Lawannya murka karena kartunya dari tadi jelek.

"Kalah ya kalah, jangan banyak alasan." Preman itu matikan rokoknya dan sudah tidak sabar ngambil uang teman-temannya itu.

Selain dari empat orang yang sedang bermain kartu itu, beberapa orang lainnya sedang asyik minum. Di tengah-tengah ja terdapat banyak jenis alkohol, makanan, cemilan.

Kelompok lainnya terlihat hanya sedang ngobrol sambil rokok.

Ketika Randika dan Deviana masuk, reka sama sekali tidak dulikannya.

Randika hanya berdiri diam sambil mperhatikan reka, para preman itu sama sekali tidak ncurigai dirinya.

"Full tujuh!"

"Tuh kan, kamu pasti curang. Dari tadi kamu dapat 5 kartu terus, kamu pasti curang."

"Lha? Kamu sendiri yang ngocok kartunya bukan? Kok malah nuduh aku curang? Sudah sini mana uangmu!"

Deviana ngerutkan dahinya, dia rasa bingung. Kenapa pemandangan ini mirip seperti kantornya?

Tapi perbandingan ini sedikit tidak sopan, teman-temannya tidak akan berjudi dan mabuk-mabukan di tempat kerja.

Randika lalu nghampiri preman yang sedang asyik minum. "Aku ncari bosmu."

"Bos ada di lantai dua, naik sendiri saja sana." Preman itu lanjut minum birnya.

Deviana terkejut ndengarnya, dia tidak tahu harus tertawa atau rasa kasihan pada si bos.

Di lain sisi Randika sama sekali tidak peduli, dia berjalan lewati kerumunan penjahat ini dan berjalan ke lantai 2.

Deviana ngekorinya sambil terheran-heran, reka sama sekali tidak dicegat oleh orang-orang ini!

Ketika reka sudah naiki tangga, preman yang gangi botol birnya itu ndadak teringat sesuatu. "Siapa tadi ya? Aku tidak pernah lihat orang itu dan dia ncari si bos."

"Aduh ikan teri seperti kamu itu tidak tahu apa-apa. Kalau dia ncari bos, berarti dia sedang ncari narkoba jadi biarkan saja. Sudah minum lagi sini, hari ini kita akan cahkan rekor minum terbanyak kita sebelumnya!"

Pada saat ini, Randika dan Deviana sudah di lantai 2. Saat reka masuk ke dalam ruangan, reka lihat seorang pria gemuk sedang nggulung kertas. Pria gemuk itu nunduk dan nghisap yang sepertinya heroin di atas ja.

HISS

Pria itu rasa dirinya sudah layang di atas awan. Dia sama sekali tidak nyadari Randika yang duduk di hadapannya.

"Sialan, barang ini selalu nendang."

Setelah sekian lama, pria itu akhirnya mbuka matanya dan nyadari ada sosok aneh di hadapannya.

Pandangannya yang masih kabur itu mbuatnya berpikir dia masih berhalusinasi.

Namun dalam sekejap, setelah dia dapat lihat dengan jelas, pria itu ngeluarkan pistolnya dan mbidik ke arah Randika,

Klik!

Bos para preman ini nembakan pistolnya tetapi ternyata tidak ada pelurunya. Pada saat ini, Randika ngangkat tangannya dan peluru mulai berjatuhan dari genggaman tangannya.

"Apa kamu nculik seseorang kemarin?" Tanya Randika dengan wajah datar.

"Siapa kamu?" Bos ini berwajah tenang, selama hidup di dunia kejahatan tidak ada yang dia takuti.

Namun yang njadi pertanyaannya adalah kenapa bawahannya itu semua mbiarkan penyusup ini masuk ke dalam ruangannya? Apa reka semua sudah dia kalahkan?

Dan pada saat ini, suara di lantai bawah makin gaduh dan semua preman yang mabuk itu mulai bernyanyi bersama.

Suasana benar-benar gaduh dan riah sedangkan bos reka di lantai 2 hanya bisa natap Randika dengan topeng tenangnya sambil nahan rasa takutnya.

Deviana berdiri di depan pintu, dia bertugas untuk mastikan tidak ada pengganggu.

"Kalau kau berbohong atau jawabanmu tidak muaskanku, aku akan ncabut nyawamu itu." Kata Randika dengan wajah dingin.

"Kau mau mbunuhku? Hahaha." Bos ini tiba-tiba tertawa dan suara tawanya itu nggema keras.

"Sudah banyak orang yang ngancam mbunuhku dan reka semua tidak ada yang berhasil. Kau kira aku takut?"

Randika nggelengkan kepalanya. "Percuma kamu pura-pura sombong begitu tapi pada akhirnya manggil anak buahmu."

Bos itu terlihat terkejut, lawannya ini tahu dia sudah manggil bantuan?

Dalam sekejap, para preman yang sedang asyik mabuk-mabukan di bawah segera naik ke lantai 2 sambil mbawa senjata reka.

"Bos! Ada apa?"

"Bos! Kau baik-baik saja?"

Para preman ini segera ndobrak masuk dan nyadari sosok Randika.

"Dev, bersembunyilah." Kata Randika pada Deviana.

Deviana segera bersembunyi di pojok ruangan sedangkan Randika berdiri sambil terus natap si bos. Si bos itu lalu berkata dengan nada arogan. "Aku suka nyalimu yang besar itu. Benar kemarin aku nculik seorang perempuan dan tubuhnya benar-benar sesuai dengan seleraku! Hahaha."

Aura mbunuh Randika segera nyebar ketika ndengar kata-kata itu. Bos para preman itu rasakan firasat buruk dan mbentak bawahannya. "Ngapain diam? Cepat bunuh penyusup itu!"

Tetapi sosok Randika yang ada di hadapannya itu nghilang dan ninggalkan jejak teriakan kesakitan.

"Ah!"

"Arghh!"

"Tidak!!"

Teriakan itu tidak lama, hanya butuh 5 detik dan keadaan kembali sunyi senyap.

Dalam sekejap pula, Randika sudah berada di belakang bos tersebut.

"Hari ini kita akan bersenang-senang." Kata Randika sambil tersenyum dan mbenturkan kepala pria gemuk itu ke atas ja.

Bos preman ini berteriak kesakitan, dia lalu bersumpah akan mbunuh Randika. Deviana, tahu apa yang akan terjadi berikutnya, segera nutup matanya.

Randika lalu njambak rambut si bos dengan satu tangan dan mukulnya hingga hidungnya patah.

"Di mana perempuan yang kau culik kemarin?" Tatapan Randika sudah bagaikan pembunuh berdarah dingin. "Jika kau tidak berbicara, aku akan mbunuhmu sekarang juga!"

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 171: Petunjuk (2) on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Nightwatcher cover
Similar genre

Nightwatcher

Paperboy ·Harem

Inthisworld,thereis:Confucianism;Taoism;Buddhism,Demons,andMagicians.XuQi’an,a...Readmore Inthisworld,thereis:Confucianism;Taoism;Buddhism,Demons,a...

Data-Driven Daoist cover
Trending now

Data-Driven Daoist

CatVI ·Action

Theycalledhimtrash—untilhestartedtreatingtheDaolikeaDataset.Whendemonsslaughterhisnewfamily,computerscientistJohan—nowrebornasYuHan—survivesbypurew...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.