Deviana cukup terkejut lihat Randika, dia tidak nyangka temannya ini akan muncul di depannya.
"Bukannya kamu di Jakarta?" Deviana masih ngingat beberapa hari yang lalu Randika minta bantuan darinya. Tanpa diduga ternyata dia sudah ada di sini. Karena masalahnya nyangkut orang terpenting di kota ini, Inggrid Elina, Deviana berpikir bahwa masalah yang dihadapi Randika akan makan waktu berminggu-minggu.
"Iya aku baru saja kembali." Kata Randika sambil tersenyum. "Jangan khawatir dengan masalahku itu, semua sudah beres. Omong-omong kenapa kamu ada di sini? nangkap pencuri lagi?"
ndengar masalah Randika sudah selesai, Deviana ikut rasa lega. ndengar sarkas Randika ngenai nangkap pencuri, Deviana ngerutkan dahinya. "Maksudmu?"
Randika nggelengkan kepalanya. "Kalau bukan nangkap penjahat, jangan-jangan kamu mau nangkap hatiku?"
"Aku sedang ngerjakan tugas." Deviana ndengus dingin. "Tugasku bukan cuma nangkap penjahat asalkan kamu tahu. Hari ini aku nangani kasus orang hilang, aku ke sini untuk ngumpulkan informasi."
Orang hilang?
Randika ngedipkan matanya. "Apa orang hilang itu bernama Christina?"
"Kamu kok tahu?" Deviana ngerutkan dahinya sambil natap Randika. Lalu dia bertanya dengan wajah serius. "Apa kamu penculiknya?"
"Mana mungkin aku berbuat hal malukan seperti itu." Kata Randika sambil nghela napas. "Orang hilang itu adalah temanku, ibunya juga minta bantuanku. Jadi bisa dikatakan aku sedang mbantumu."
"Apakah kamu sudah ngetahui sesuatu?" Tanya Deviana.
"Sama sekali belum." Randika mulai kembali pusing. "Aku hanya bisa mastikan bahwa Christina mulai nghilang setelah dia ninggalkan rumah muridnya. ngenai di mana dia nghilang atau siapa yang nculiknya aku benar-benar tidak tahu."
Deviana kembali ngerutkan dahinya, kasus ini sepertinya akan makan waktu banyak.
"Misalnya kalau kantormu punya akses untuk kara di daerah ini, seharusnya kita bisa ndapatkan petunjuk." Kata Randika.
Deviana nggelengkan kepalanya. "Sayangnya kara di daerah ini sedang rusak, apalagi di daerah ini hanya ada kara lalu lintas. Dan semua kara itu masih dalam tahap uji coba jadi kita tidak bisa berharap banyak."
ndengar kata-katanya Randika nghela napas, satu-satunya harapan telah hilang. Apakah tidak ada jejak Christina sama sekali?
"Kalau begitu aku akan kembali ke kantor dan nyelidiki ini bersama tim investigasi." Kata Deviana.
Randika ngangguk, itulah satu-satunya cara paling logis.
Ketika reka berdua hendak pergi, tiba-tiba ada suara ribut dari seberang jalan.
Deviana noleh dan lihat beberapa orang sedang berdebat hebat. Dilihat dari situasinya, keadaan akan makin buruk. Beberapa orang sudah terlihat ngeluarkan botol kaca di tangannya, sepertinya tidak lama lagi reka semua akan berkelahi. Para pejalan kaki sudah ketakutan dan nghindari reka semua.
"Berkelahi di siang bolong?" Deviana ngerutkan dahinya dan nghampiri reka.
Randika ngikutinya. Dia aslinya tidak peduli dengan apa yang dilakukan orang-orang ini, di benaknya sekarang hanyalah kasus hilangnya Christina. Tetapi, satu-satunya harapan baginya adalah bantuan dari Deviana, jadi mau tidak mau dia harus ngikutinya dan mastikan dia baik-baik saja.
"Sedang apa kalian semua!" Deviana segera berdiri di tengah-tengah keributan. Dia mbentak, "Jika kalian berani berbuat bar-bar, aku akan mbawa kalian semua ke kantor polisi."
"Wah ada hidangan pembuka."
Preman di sebelah kiri natap Deviana dengan mata jahatnya. "Kau mau mbawaku? Silahkan saja aku tidak takut sama sekali."
Para preman di sebelah kiri langsung tertawa semua, bos para preman itu berkata pada preman lawannya itu. "Kalian sungguh beruntung ada polisi yang mbantu kalian, lain kali nasib kalian tidak akan seberuntung ini!"
Bos preman di sebelah kanan rasa terhina. Dia lalu natap polisi yang tiba itu dan berkata dengan nada dingin. "Kau lebih baik pergi dari sini, jangan ngganggu urusan kami."
Deviana benar-benar marah, dia lalu berteriak dengan suara yang keras. "Tidak ada satupun yang akan berkelahi hari ini! Satu pukulan saja maka kalian semua akan nginap di penjara."
Preman yang di sebelah kiri sudah mulai ngayunkan tongkat dan botol kaca di tangan reka. reka lalu natap tubuh sexy Deviana. "Kau bersemangat sekali bu polisi, aku yakin kamu juga cukup bersemangat di atas ranjang!"
"Rio, kita selesaikan dulu masalah kita. Setelah itu, siapapun yang nang bisa mbawa gadis itu sebagai pialanya." Bos preman di sebelah kanan, Wilson, berkata pada Rio dengan nada dingin.
"Cecunguk diam saja, kau tidak berhak ngaturku." Mata Rio masih berusaha nelanjangi Deviana, dia tidak sabar ncicipi tubuh itu.
Pada saat ini Deviana masih berada di tengah-tengah kerumunan orang ini, dia dikepung lebih dari 20 orang.
Namun, pada saat ini tatapan semua orang jatuh pada Randika yang berjalan nghampiri reka.
"Oh? Datang lagi satu orang?" Rio tertawa.
Para preman yang darahnya sudah ndidih mulai tidak sabar. "Sudah kita sarankan kalian berdua minggir atau jangan salahkan kalau kalian terlibat masalah kita!"
Para pejalan kaki sedikit heran dengan Deviana yang berusaha lerai para preman itu.
"Kenapa tidak biarkan reka saling bantai? Toh reka juga preman, sampah masyarakat." Kata salah satu orang pada temannya.
"Jangan-jangan reka berdua ngira kalau reka jadi polisi maka semua orang akan ndengar reka." Kata temannya sambil tertawa.
Keadaan Deviana dan Randika benar-benar buruk di mata orang-orang ini. reka cuma berdua sedangkan para preman itu berjumlah 20an.
"Kedua polisi itu akan mati."
Salah seorang pejalan kaki sudah siap nelepon ambulans. Namun, situasi berjalan di luar dugaan semua orang!
Randika benar-benar sudah dibuat pusing dengan kasus Christina, suasana hatinya sedang tidak bagus. Pada saat ini, para preman ini sudah sok kuat dan sudah ingin tawuran.
"Masih tidak mau pergi? Kuhajar kau!" Para preman sudah tidak sabar lagi, kubu Rio dan Wilson segera ngepung Randika dan Deviana.
Deviana sudah bersiaga. Ketika dia ingin mperingati Randika agar berhati-hati, dia sudah lihat Randika nerjang maju bagaikan singa ngejar mangsanya.
Randika yang sekarang benar-benar buas, kumpulan para preman ini bagaikan karung pasir yang dibuat khusus untuknya.
Ketika tinjunya ngenai salah satu orang, tinju satunya sudah layang dan ngenai dagu orang lainnya. Dalam sekejap 4 gigi sudah layang di udara! Pada saat yang sama, kubu Wilson sudah raung keras dan nerjang maju.
Para preman ini sudah tidak peduli, bagi reka semuanya adalah musuh.
Ketika salah satu dari reka sudah ndekat, dia dengan cepat ndapatkan tinju di wajahnya. Tinju Randika benar-benar bukan sembarangan, preman tersebut langsung layang jauh dan nabrak temannya.
Tidak lama kemudian, Randika sudah berhasil nghajar hampir seluruh preman dari kubu Wilson. Wilson sendiri sudah terheran-heran. Kenapa seorang polisi bisa seganas ini? Namun pada saat ini, Randika sudah tiba di depannya dan nendangnya tepat di dadanya. Dalam sekejap suara rintihan kesakitan terdengar keras dari mulut Wilson.
Randika lalu natap kubu Rio dengan tatapan tajam, tatapannya ini mbuat semuanya rinding.
Dan saat ini Randika sudah nerjang maju.
"Siapapun hentikan orang itu!" Rio sudah ketakutan, para bawahannya satu per satu mulai tumbang.
Namun tidak butuh waktu lama untuk Randika berdiri di depan Rio.
"Tidak! Jangan wajahku, jangan wajahku!" Rio hampir ngompol. Randika lalu mukul Rio tepat di hidung dan Rio tersungkur di tanah.
Pada saat ini, Randika sama sekali tidak berhenti dan sudah berlari untuk mbereskan sisa-sisa preman yang masih berdiri. Di mana pun dia berada, seseorang akan tergeletak.
Seluruh proses ini tidak lebih dari 2 nit. Apabila diperhatikan, sepanjang jalan sudah ada 20 orang lebih tergeletak di tanah sedang kesakitan.
Semua pejalan kaki sudah natap dengan wajah bingung, orang itu ahli bela diri?
lihat para preman yang rintih kesakitan, Randika ngibaskan tangannya. Kalau saja tidak ada orang-orang ini, Deviana mungkin sudah berada di kantornya.
Randika lalu kembali mikirkan Christina sedangkan Deviana ngeluarkan borgolnya. "Kalian semua akan kubawa ke kantor polisi."
Deviana ngerutkan dahinya, bagaimana caranya dia seorang diri mbawa semua penjahat ini?
"Maafkan kami, kami tahu kalau kami salah. Kami tidak akan ngulanginya lagi, tolong lepaskan kami." Rio dengan cepat mohon ampun sambil berlumuran darah. Wajahnya benar-benar nyedihkan. Bahkan air matanya ikut turun sambil terus minta ampun.
Para preman lainnya juga tidak kalah nyedihkan, reka semua berlutut dan minta ampun.
"Omong kosong, sekarang kalian semua cepat berdiri dan berbaris!" Deviana tidak akan luluh dengan aksi tobat para preman ini, dia tahu bahwa ini hanyalah sandiwara.
Randika yang masih sedang berpikir itu natap para preman tersebut. Di salah satu orang, dia lihat sebuah kalung yang nampak familiar.
Kenapa dia rasa pernah lihatnya?
Sambil ngerutkan dahinya, Randika nghampiri Rio. lihat Randika yang ndekat, wajahnya makin ketakutan. "Tolong jangan pukul aku lagi, aku akan nurutimu dan ikut ke kantor polisi."
Namun, Randika maksanya berdiri dan ngambil kalung di lehernya itu. lihat aksi Randika yang kasar itu, Rio sama sekali tidak berani lawan.
Setelah riksa dengan seksama kalung tersebut, wajah Randika semakin muram. Jelas itu adalah kalung milik Christina, dia sering lihatnya makai kalung emas ini.
"Kalian semua cepat pergi dari sini." Kata Randika dengan suara tegas. Para preman ini tidak ragu-ragu nerima pengampunan ini dan lari. Sedangkan Deviana sedikit terkejut ndengarnya dan hanya bisa nggelengkan kepalanya. Dia lalu nghampiri Randika yang sedang nginjak Rio dengan kakinya. "Dari mana kau ndapatkan kalung ini?"
Rio terkejut, dia tidak nyangka cuma dirinya yang tidak diperbolehkan pergi. Matanya sudah ketakutan ketika dirinya diinjak oleh Randika. Rasa sakit segera nyerang sarafnya.
"Jika kau tidak berbicara jujur, mayatmu hari ini akan ngapung di sungai." Kata Randika dengan wajah serius.
"Ampun, ampun. Aku akan mberitahumu segalanya." Rio sudah diambang nangis. Dia sangat ingin hidup dan mberikan cucu pada orang tuanya.
Reviews
All reviews (0)