Keesokan harinya Randika dan Inggrid berangkat bersama nuju kantor. Hal pertama yang Randika lakukan adalah pergi ke ruangan khusus di perusahaan ini yang mproduksi ramuan X.
Namun, Randika sedikit kecewa ketika sesampainya di sana. Ramuan X sama sekali tidak ngalami kemajuan dan masih mbutuhkan waktu.
Randika berharap apabila ramuan X sudah jadi, dia akan nggabungkannya dengan obat rah yang diberikan kakeknya itu. Tetapi karena ramuan X tidak ada kemajuan sama sekali, dia harus lepaskan angan-angannya itu.
Kemudian Randika segera nuju lift dan hendak pergi ke ruangannya. Sesampainya dia di lantai 9, Viona hendak masuk.
"Randika!"
lihat Randika di depannya, Viona tidak bisa nyembunyikan senyumannya. Randika lalu mbalas senyumannya dan keluar dari lift.
"Vi, tunggu!"
lihat Viona yang mau turun itu, Randika langsung nahan pintu lift dengan kakinya.
"Kenapa?" Viona terlihat bingung.
Tatapan mata Randika terkunci di dada Viona, behanya sedikit longgar.
Viona sama sekali tidak tahu dan hari ini dia makai baju berwarna putih jadi orang-orang bisa lihat apa yang dibalik bajunya itu.
"Vi, behamu sedikit longgar." Kata Randika, sekaligus pada saat ini, dia sudah ngulurkan tangannya dan mbantu mbetulkannya.
Viona terkejut, bagaimana bisa dia tidak nyadarinya.
Pada saat ini, kedua tangan Randika sudah berada di balik baju Viona.
Viona sudah tersipu malu, tangan Randika yang besar itu sudah ada di balik bajunya. Setelah Randika mbenarkan posisi dadanya, dia ngencangkan behanya.
"Vi, hanya aku yang boleh lihatnya. Jangan biarkan orang lain lihatnya." Kata Randika dengan senyuman nakal. Setelah itu dia raba dada Viona, tangannya benar-benar penuh dengan kekenyalan.
Viona kembali njadi malu, dia rasa Randika semakin berani skipun ini adalah tempat kerja reka.
Namun, Viona sama sekali tidak lawan. Dia berpikir karena tidak ada orang mungkin sedikit mon sra ini cukup nyenangkan.
"Baiklah kalau begitu, kembalilah bekerja biar tidak ada yang curiga." Kata Randika sambil keluar dari lift. "Berhati-hatilah lain kali."
Ketika Viona sudah pergi, Randika natap kedua tangannya. Pertumbuhan Viona benar-benar bagus, tetapi kalau dibandingkan dengan Inggrid, dia masih kalah. Bagaimanapun juga, Inggrid telah dilatih sendiri olehnya sedangkan Viona masih belum. Mungkin nanti pertumbuhan badan Viona juga lebih bagus kalau dilatihnya?
Wajah Randika benar-benar terlihat sum, dia berpikir lebih cepat niduri Viona maka lebih baik.
Saat masuk ke ruangannya, Randika, seperti biasa, berbincang dan bercanda dengan para ahli parfum lainnya. Setelah itu dia mberikan arahan pada para ahli parfum.
Waktu berlalu dengan cepat, tidak kerasa sekarang waktunya untuk pulang. Randika jelas bersemangat, waktunya mantap-mantap di rumah. Hari ini enaknya permainan apa yang dilakukannya bersama istrinya?
Borgol dan cambuk?
Tidak, Inggrid pasti tidak mau lakukannya.
Tuan dan pelayan?
Terakhir kali baju pelayan ala Jepang yang dipakai Inggrid benar-benar mbuatnya bergairah, malam itu benar-benar mbekas di ingatannya. Apalagi pada saat itu Inggrid yang miliki harga diri tinggi manggilnya tuan dan lakukan apa pun yang dimintanya, mon itu benar-benar nyenangkan. Namun, ngulang hal yang sama kurang narik baginya. Randika mikirkannya sesaat lalu tertawa.
Baiklah, hari ini kita akan bermain perawat dan pasien!
Tetapi dia tidak miliki baju perawat. Jadi dia mutuskan untuk pergi dan mbeli perlengkapannya. Dia juga berpikir sekalian mbeli lingerie sexy buat istrinya, malam ini akan nyenangkan.
Tiba-tiba handphonenya bergetar, tetapi nomor yang nghubunginya tidak terdaftar.
skipun sedikit ragu, Randika mutuskan ngangkatnya.
"Halo, ini benar Randika?"
Suara yang nghubunginya terdengar familiar, Randika berpikir sesaat dan nyadari bahwa yang neleponnya adalah ibunya Christina.
"Iya tante ini Randika." Kata Randika, dia berharap tidak akan dijodohkan lagi.
"Ran, apa anakku sama kamu?" Suaranya benar-benar terdengar cemas.
"Wah enggak tuh tante, kami sudah lama tidak ketemu." Randika rasakan firasat buruk.
"Ah Bagaimana ini? Tante sudah tidak tahu harus ke mana lagi." Suaranya terdengar sedih.
"mangnya ada apa ya?" Tanya Randika.
"Tintin sejak kemarin tidak ada kabarnya."
Randika terkejut, orang yang peduli dengan keluarganya seperti Christina tiba-tiba nghilang? Christina sama sekali bukan tipe yang seperti itu.
"Tante tunggu aku, aku akan segera ke rumah." Kata Randika sambil nutup teleponnya. Dia langsung berangkat nuju rumah ibunya Christina.
Tak lama kemudian, Randika tiba di tujuannya.
"Tante tolong jelaskan detailnya!" Randika terlihat cemas.
Wajah ibunya Christina ini makin terlihat tua. "Kemarin Tintin ngabarin kalau dia mau ke rumah muridnya untuk pelajaran tambahan. Awalnya aku tidak curiga apa-apa, tetapi hari ini seharusnya kita makan siang bersama di rumahku tetapi Tintin tidak datang. Lalu tante telepon handphonenya tetapi handphonenya mati. Tante njadi cemas terus tante telepon sekolahannya. Sekolahannya ngomong kalau Tintin hari ini tidak datang ngajar dan tetangganya juga ngomong tidak lihat anakku itu sejak kemarin malam. Aku pikir mungkin dia nginap di rumahmu jadi tante neleponmu."
"Tante tidak usah khawatir. Aku akan mbawa Christina kembali." Randika berdiri. "Tante sekarang laporkan hal ini pada polisi, aku akan ncarinya."
"Maafkan tante ya, tante sudah repotkanmu." Ibunya ini berusaha nahan air matanya, dia masih belum nyerah.
"Tante tahu alamat murid yang didatangi Christina?" Tanya Randika.
"Seingat tante Tintin sudah beberapa kali ke rumah anak itu. Kalau tidak salah namanya Vero."
"Alamatnya?"
Ibunya berdiri dan njawab. "Sebentar aku akan ncarinya."
Kemudian ibunya ncari di kamar Christina dan setelah beberapa saat dia kembali sambil mbawa secarik kertas.
Ibunya kemudian mberikannya pada Randika. "Aku sekarang akan pergi ke alamat ini, tante tunggu kabar dariku."
Setelah itu, Randika berlari sekuat tenaga ke alamat Vero tanpa berhenti satu detik pun.
Satu-satunya petunjuk adalah murid ini.
Tak lama kemudian, Randika tiba di alamat tersebut dan tiba di sebuah rumah yang cukup besar.
Saat dirinya ngetuk pintu, terdengar suara dari dalam. "Iya sebentar."
Kemudian seorang perempuan mbukakan pintu, perempuan ini berjalan nggunakan tongkat dan kakinya dibalut oleh perban.
Ketika Vero lihat Randika, dia terlihat bingung. "Siapa ya?"
"Apa kamu Vero?" Tanya Randika.
Vero hanya ngangguk.
"Aku ingin bertanya sebentar. Apa kemarin Christina datang ke rumahmu untuk mberikanmu pelajaran tambahan?" Tanya Randika.
"Benar." Vero ngangguk. "Kakiku retak jadi aku tidak bisa datang ke sekolah, jadi bu Christina dengan baik hati mberikan pelajaran tambahan."
"Berapa lama pelajarannya?"
"Kira-kira 2 jam, setelah itu bu Christina langsung pergi."
ndengar kata-kata Vero itu, Randika ngerutkan dahinya.
"Kamu yakin Christina benar-benar pergi?"
"Iya." Vero ngangguk. "Aku sendiri yang ngantar bu Christina keluar dari rumah, setelah itu beliau langsung pulang." Vero natap Randika. "Apakah ada masalah dengan bu Christina?"
"Tidak ada apa-apa. Aku permisi dulu ya."
Setelah pergi dari rumahnya Vero, Randika ngerutkan dahinya. Dia mperhatikan tatapan mata dan gerak-gerik Vero, perempuan itu tampaknya tidak berbohong. Jadi Christina mulai nghilang saat perjalanannya pulang.
Ini sedikit rumit, petunjuknya sangat kurang jadi dia tidak tahu harus mulai dari mana.
Sambil terus berpikir, tiba-tiba ada suara. "Randika!"
Ketika Randika noleh, yang manggilnya ternyata Deviana.
"Kebetulan sekali!" Randika tersenyum.
Reviews
All reviews (0)