Font Size
15px

"Tidak apa-apa sayang, dia masih lama kok pulangnya." Kata Randika sambil tersenyum. Di saat yang sama, dia juga rasakan efek obat kakeknya itu mulai bekerja. Sesuai kata-kata kakek ketiganya, tubuhnya mulai panas dan nafsunya mulai muncak. Randika serasa ingin mbuka bajunya.

Randika luk Inggrid dari belakang dan nggigit kuping Inggrid. Dia lalu ngeluarkan satu tarikan napas hangat ke telinganya. Inggrid tidak berdaya, hal ini mbuatnya sedikit tergoda juga.

"Sayang jangan khawatir, lagipula sudah seminggu kita tidak lakukannya." Kata Randika sambil tangannya sudah berenang di tubuhnya Inggrid.

Inggrid awalnya ragu-ragu, kemudian dia ncium Randika. Di saat kedua bibir itu bertemu, lidah reka langsung bermain. Namun, hari ini Randika begitu liar dan ini mbuat Inggrid makin sesak napas.

Randika, yang masih berdiri di belakangnya Inggrid, berusaha ngeluarkan semua nafsu birahinya yang numpuk. Dia seperti lampiaskan semua kerinduannya dalam satu ciumannya ini.

Inggrid sendiri sedikit kewalahan, desahannya tidak bisa berhenti terdengar, wajahnya sudah sangat rah dan pikirannya sudah layang.

Teknik Randika benar-benar luar biasa. Tidak butuh waktu lama mbuat Inggrid basah seperti air terjun.

Tangan kanan Randika bergerak dengan cepat, dia segera lepas pengait beha Inggrid dan bertemu dengan gunung yang lebih indah daripada gunung yang ada di desanya.

"Ahnn! Hmm!" Inggrid hanya bisa ngeluarkan desahan erotis dan nutup matanya.

Randika tidak bisa berhenti raba dan njepit putingnya Inggrid. Tangan kirinya juga sudah nyelip ke dalam celana dalam Inggrid yang basah. Cuma butuh waktu 1 nit Randika berhasil mbuat Inggrid orgas.

Bersamaan dengan ini, panas di tubuh Randika sudah tidak tertahankan. Dia sudah tidak tahan lagi. Dia langsung nindih Inggrid di sofa dan lepas semua pakaiannya.

lihat Randika lepas celana dalamnya, Inggrid semakin tersipu malu. "Di sini?"

Inggrid sedikit malu, tetapi Randika berkata sambil tertawa. "Sayang, bahkan dapur juga bisa njadi sarang cinta kita."

Inggrid benar-benar malu.

Randika sudah lucuti semua pakaian Inggrid dan sekarang reka berdua sudah telanjang. Inggrid nutup matanya sambil nutupi dadanya, posenya bagaikan domba yang siap dimakan.

lihat tubuh yang lezat itu, hewan buas dalam diri Randika sudah raung keras. Tangannya sudah mulai ngangkat kaki Inggrid.

"Sayang, ngapain malu?" Kata Randika.

Inggrid sudah tidak bisa natap Randika karena saking malunya. ndengar kata-kata Randika, dia sedikit mbuka matanya.

Randika sudah tidak tahan lagi. Pengaruh obatnya itu benar-benar mbuatnya gila. Dia dengan cepat ngangkat kedua kaki Inggrid dan gangnya lalu mulai masukan pucuknya.

"Aku mulai!" Randika mberi peringatan pada Inggrid.

Inggrid ndesah ketika Randika makin masuk ke dalam dirinya, matanya terus tertutup.

Penetrasi itu berlangsung selama sepuluh nit dan setelah itu Randika ingin berganti posisi, dia ingin Inggrid yang ada di atasnya.

Sambil berpegangan di sofa, Inggrid mulai nurunkan pinggulnya dan mulai ngendarai Randika.

Posisi ini mberikan kuasa pada Inggrid untuk ngatur tempo dan pergerakannya, gerakan pinggul Inggrid benar-benar luar biasa!

Kedua tangannya berada di samping pinggang Inggrid sambil terkadang mbantunya agar bisa masuk makin dalam. "Bagaimana sayang? Enak?"

Inggrid tidak punya waktu untuk njawab. Dia sibuk ndesah dan ngendarai Randika, setiap tusukan mbuatnya ngalami sedikit orgas. Dari semua posisi, posisi ini benar-benar paling nikmat baginya.

Randika yang lihat reaksi istrinya itu makin nyukainya.

Kali ini Randika ingin nusuknya dari belakang. Pada saat yang bersamaan, obatnya ini mulai bekerja. Randika tidak nyadarinya tetapi tenaga dalam Inggrid yang diibaratkan Yin sudah ngalir ke dalam tubuhnya. Kedua tenaga dalam reka bersikulasi di dalam tubuhnya, harmonisasi Yin dan Yang ini nyentuh bagian luka di dalam tubuhnya.

Jika diperhatikan lebih baik, luka di dalam tubuhnya terlihat makin mbaik. Inilah tode harmonisasi Yin dan Yang yang dikatakan oleh kakeknya.

Hubungan badan ini terus berlangsung. Randika makin ganas nusuknya yang mbuat Inggrid kehilangan kesadarannya 3x. Kenikmatan itu mbuat dirinya berkeringat deras di seluruh tubuhnya, hal ini malah mbuat Randika semakin terangsang.

Setelah sekian lama berganti posisi, nusukannya dalam-dalam, nggunakan jepitan dada, diemut dll, akhirnya Randika ngalami orgas.

Bersamaan dengan itu Randika lepas Inggrid dan keduanya sudah tertatih-tatih.

Randika lalu tiduran sambil luk Inggrid.

"Bagaimana rasanya sayang?"

Inggrid hanya bisa natap Randika. Sepertinya dia sama sekali tidak punya tenaga untuk berbicara. Jadi dia hanya berbaring di atas dada Randika dengan tubuh telanjangnya.

Pada saat ini, pintu rumah tiba-tiba terbuka dan orang tersebut segera masuk ke ruangan tamu.

"Kak, aku pulang!"

Suara Hannah terdengar keras, senjak kakaknya ke Jakarta Hannah jadi manja dan selalu kangen dengan kakaknya.

Tetapi lihat tidak ada jawaban, Hannah njadi bingung. Kakaknya belum pulang?

Randika dan Inggrid sudah panik tidak karuan. Inggrid yang tidak punya tenaga itu segera ngambil pakaiannya dan makainya dalam keadaan panik.

Randika sudah tidak bisa berkata apa-apa, 1 detik lagi adiknya akan lihat kedua kakaknya ini telanjang.

Pada saat ini, Hannah sudah lihat keduanya di atas sofa. Dalam sekejap, dia bisa tahu apa yang sedang dilakukan kedua orang dewasa itu.

"Tidak!!"

Suara teriakan itu nggema hingga ke pelosok rumah. Randika hanya nutupi bagian bawahnya dengan tangannya. Dan ketika Hannah berteriak, dia terdorong oleh Inggrid yang panik dan terjatuh di lantai.

Randika sudah ingin nangis darah, hilanglah wibawanya sebagai kakak ipar.

Hannah dengan wajah rahnya segera mbalikan badan. "Kak, kenapa kalian lakukan hal sum di tempat seperti ini?"

Inggrid sudah tersipu malu, dia rasa sudah tidak punya wajah untuk lihat adiknya.

"Ini semua salahmu." Inggrid mukul pelan dada Randika. Jika Randika tidak maksanya lakukan di sofa, reka berdua pasti sudah lakukannya di kamar.

"Sudah tenang saja, biar aku yang ngurusnya. Bawa bajumu dan naik ke atas duluan." Kata Randika sambil ncium dahi Inggrid.

Inggrid lalu berlari ke atas sambil masih telanjang. Randika lalu natap Hannah dan berkata sambil makai celananya. "Han, kamu bisa noleh sekarang."

Ketika Hannah berputar badan, wajahnya benar-benar rah dan ekspresinya masih terlihat terkejut. Adegan barusan benar-benar mbuat dirinya bingung.

Namun, Hannah nyadari Randika hanya makai celana saja dan tubuh bagian atasnya masih tidak makai apa-apa. Mau tidak mau dia berteriak lagi.

"Kak! Kau mang sum!"

"Hah? mangnya kenapa aku tidak pakai baju? Bukannya pas kita berenang kamu lihatku telanjang dada? Kenapa kamu mpermasalahkannya sekarang?" Randika tidak berdaya, dia dengan cepat makai bajunya.

Kata-katanya mang ada benarnya, Hannah sudah pernah lihat dirinya telanjang dada, terus kenapa perempuan ini tiba-tiba malu-malu gitu?

Hannah masih tersipu malu, dia dengan cepat mbentak kakak iparnya itu. "Kak, kenapa kalian lakukannya di sini?"

Randika tertawa dan ngusap rambut Hannah. "Aku dan kakakmu itu suami istri. mangnya ada hukum yang larang untuk tidak lakukannya di rumah? Hubungan badan itu hal yang maklum, bahkan bisa dikatakan itu bukti cinta kita berdua. Suatu saat nanti kamu juga akan lakukannya, atau kamu sudah pernah?"

"HAH! Bisa-bisanya kakak bertanya seperti itu!" Hannah sudah benar-benar marah. Kenapa orang sesum Randika ini bisa jadi kakak iparnya?

"Maksudku adalah kenapa kalian lakukannya di sofa di ruang tamu? Kenapa kok tidak di kamar kalian saja?" Kata Hannah dengan tatapan tajam.

"Ngapain harus di kamar?" Randika ngedipkan matanya. "Justru ncoba di seluruh ruangan rumah lebih narik dan nggairahkan."

Hannah sudah tidak tahu harus berkata apa, dia rasa tidak berdaya. Sambil dipelototi Randika bersama senyumannya itu, Hannah makin geleng-geleng.

"Kalau begitu, pikirkan perasaanku juga dong." Hannah mberikan perlawanan terakhir.

"Tentu saja kami khawatir. Tetapi aku tidak nyangka kamu pulang cepat." Randika terlihat nyesal. "Lain kali aku akan berusaha nyelesaikannya lebih cepat lagi."

Hannah sudah pusing, pada akhirnya kakaknya ini tidak tahu malu. Sambil nggertakan giginya, Hannah nghentakan kakinya, dan dengan muka cemberut berjalan nuju tangga.

Saat dia berjalan, Randika berkata padanya. "Han, kamu juga nanti akan lakukannya kok. Apa kamu mau aku kenalin beberapa orang biar bisa cepat rasakannya?"

Hannah makin marah ketika ndengarnya, dia hanya natap tajam Randika dan let. Dia lalu bergegas kembali ke kamarnya.

Randika hanya tertawa dan kembali ke kamar istrinya untuk mantap-mantap!

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 168: Obatnya Bekerja dengan Baik on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.